
Siang ini, Mikaila menjemput Aira untuk pergi ke rumah baca. Beberapa hari yang lalu, Aira menanyakan tentang rumah baca. Tapi, baik Mikaila maupun Melati sangat sibuk Akhir-akhir ini, jadi baru siang ini mereka bisa membawa Aira kesana.
Melati sendiri sudah menunggu di rumah baca. Naira yang tidak sengaja mendengar percakapan Melati dan Aira saat dia melewati ruang guru tadi membuatnya bersemangat dan merengek pada Daddynya untuk ikut ke rumah baca.
Dan disanalah mereka sekarang. Naira duduk manis di pangkuan Aira di bangku luar ruang kelas. Anak-anak disana sedang menerima pelajaran tambahan. Setiap anak di rumah baca "Bintang Aira" dimasukkan ke dalam sekolah umum sesuai tingkatan kelas masing-masing.
"Rumah baca ini adalah impianmu Ra." kata Mikaila. Aira menoleh kepadanya. "Dulu tempatnya bukan disini. Di kawasan kumuh di kolong jembatan. Dan lima tahun lalu, rumah baca ini menjadi hadiah dari kak Elang untuk kelulusan kita." Mikaila menceritakan kenangan saat dulu mereka masih menempati rumah petak sederhana di pinggir sungai untuk memberi pelajaran pada anak-anak jalanan.
Aira mendengarkan dengan serius. Ia tidak menyangka jika para remaja yang dilihat dari Fotonya seperti anak-anak yang sesuai nama grup mereka, Berandal Sekolah mempunyai kegiatan positif seperti ini. Tidak ada yang akan menyangka tugas mulia seperti itu dijalankan oleh lima orang siswa paling bandel di sekolah. Ini seperti lelucon untuk orang yang tidak mengetahuinya secara langsung.
"Mbak Melati tolong bantuin saya mengatur buku kas." kata Mbak Tia. Orang yang mereka percayai mengurus anak-anak jika mereka tidak disana.
"Oke mbak." Melati berdiri dan berlalu setelah berpamitan pada Aira dan Mikaila.
"Onty Mika."
"Ada apa genit?"
"iih Onty. Panggilnya kok gitu sih."
"Abisnya kamu genit sih."
"Onty, Beliin aku es krim dong."
"Boleh. Ayo." kata Mikaila. "Ra, kamu ikut apa mau tinggal disini?" lanjutnya.
"Aku disini saja ya."
Mikaila mengangguk dan berjalan menggandeng tangan Naira. Kini, tinggal Aira disana. Memperhatikan anak-anak di dalam yang sedang sibuk belajar. Ada yang mengerjakan tugas, ada pula yang hanya membaca buku mengulangi pelajaran yang mereka dapat di sekolah.
"Ehm. Ra." Aira menoleh saat ada orang yang memanggilnya. Dia dapati elang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Boleh bicara sebentar?" Aira mengangguk. Kemudian berdiri untuk mengikuti laki-laki yang berjalan di depannya. Berbicara disini tidak baik.
Elang membawa Aira ke halaman belakang rumah baca. Berdiri di atas jembatan yang berada di atas kolam ikan. Elang berhenti di tengah-tengah. Aira berdiri tak jauh dari sana.
"Ada yang harus aku bicarakan secara pribadi Ra." ucap Elang.
"Iya."
"Sebelumnya, Aku ingin meminta maaf Ra. Aku tahu mungkin ini sudah sangat terlambat. Tapi, aku sungguh-sungguh. Maaf aku tidak menemukanmu dengan cepat. Aku tidak menyadari bahwa kamu masih hidup." Elang menghela nafas.
"Tidak apa-apa kak. Ini semua memang sudah ditakdirkan."
"Maafkan juga karena aku tidak bisa menjaga cinta kita."
"Aku mengerti. Bahagialah dengan keluarga kecil kakak."
"Terima kasih Ra. Aku harap kamu juga bahagia dengan tuan Arka." Elang mengatakannya dengan berat hati.
Aira mengangguk. Dia juga berharap demikian. Bahagia dengan orang yang mencintainya sepertinya tidak buruk.
__ADS_1
"Aku tahu ini salah. Tapi, aku harus mengatakannya. Aku masih sangat mencintai mu Ra. Dari dulu cinta ini hanya untukmu."
"Kakak adalah kakak iparku sekarang. Jadi aku harap kakak dapat mencintai kak Safna."
"Aku tahu Ra. Aku sadar sekarang statusku sudah menjadi seorang suami dan ayah. Tapi perasaan ini tidak bisa bohong."
"Ini salah Kak."
"Ya. Sekarang aku tidak boleh egois. Banyak hati yang akan tersakiti jika aku memaksakan kehendakku." Elang menjeda. "Aku tidak akan memaksakan kehendakku Ra. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa ada bahu kakak iparmu ini jika kamu mengalami kesusahan. Kapan saja kamu membutuhkan bantuan, jangan ragu ubtuk datang padaku."
"Terima kasih."
"Mm."
Suasana kembali hening.
"Boleh aku minta satu hal dari kamu Ra?"
"Apa kak?"
"Bolehkah aku memeluknya untuk yang terakhir kali?"
Melihat Aria mengangguk. Elang segera merengkuh tubuh itu. Tubuh yang selama ini ia rindukan. Menghirup aroma harum yang menenangkan dari tubuh Aira. Dari dulu bau itu tidak berubah.
Setelah puas, Elang melepaskan Aira.Dan mengucapkan terima kasih pada Aira.
"Aku hanya bisa berdo'a semoga kamu bahagia hidup bersama tuan Arka. Dia laki-laki yang baik. Aku yakin dia akan bisa membahagiakanmu di masa depan."
"Terima kasih kak."
Tidak dapat dipungkiri jika kata-kata yang Elang ucapkan maupun dirinya ucapkan membuat hatinya sesak. Aira juga masih mencintai Elang. Tapi keadaan sungguh tidak mendukung keduanya untuk bersatu.
Aira terpaku untuk waktu yang cukup lama. Hatinya seperti dibawa pergi oleh Elang sekarang. Melihat laki-laki itu berjalan menjauhinya, membuatnya sadar bahwa mereka memang tidak bisa bersatu.
"Kamu baik-baik saja Ra?" suara Melati menyadarkan Aira dari fikirannya yang kacau.
"Em. Aku baik Mel."
"Kamu bisa berbagi masalah denganku Ra. Kita masih sahabat."
"Ya. Terima kasih Mel."
Aira masih belum ingin beranjak. Dia masih butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang. Jika Naina ada disini, dia bisa menceritakan semua yang dia rasakan dalam hatinya. Sayang disini gadis itu tidak ada. Tapi ada Melati. Gadis ini juga baik. Tapi, apakah gadis ini bisa menjaga rahasianya?
"Bagaimana cinta menurutmu Mel?" bibir Melati berkedut saat mendengar pertanyaan Aira. Semua orang boleh percaya jika Aira mencintai Arka, tapi Melati dan Juna tahu betul jika itu suatu kebohongan. Dan ia yakin, saat ini Aira sedang galau memikirkan perasaannya pada Elang. Tadi dia melihat mereka berdua berpelukan lama. Melihat Ekspresi Aira, Melati yakin jika Aira juga masih mencintai Elang. Sama dengan Elang.
"Cinta itu perasaan yang sangat rumit Ra. Dari dulu aku belum mendapatkan jawabannya."
"Maksudmu?"
"Kadang cinta membuat seseorang yang lemah menjadi kuat. Tapi kadang juga membuat seseorang yang lain yang kuat menjadi lemah. Kadang karena cinta, orang melakukan hal yang tidak masuk akal untuk mendapatkannya. Tapi ada pula cinta yang membuat seseorang merasa puas hanya dengan melihat orang yang dicintai bahagia meskipun bukan dengan dirinya."
__ADS_1
"Apa kamu percaya cinta sejati?"
"Aku percaya. Semua orang pasti pernah merasakannya. Cinta sejati membuat orang mampu menjadi apapun sesuai kondisi yang sedang dibutuhkan oleh orang yang dicintai."
"Jika kamu harus memilih, kamu lebih memilih dicintai atau mencintai?"
"Kalau diminta memilih diantara keduanya, aku akan memilih dicintai. Akan menyakitkan hidup dengan orang yang tidak mencintai kita. Aku sudah melihatnya secara langsung lima tahun ini. huh... " Melati membuang nafas kasar.
Sudah cukup baginya untuk mengerti seperti apa bentuk rumah tangga yang Elang lalui dengan Safna lima tahun ini. Dengan Safna yang hidup dengan Elang yang tidak mencintainya. Mendapatkan raga tanpa hati.
Di sisi lain, Elang pun sama menderitanya. Hidup dengan orang yang tidak dicintainya. Harus berpura-pura bahagia di depan publik demi putri mereka. Elang bahkan menahan segala perasaannya dengan hidup berdampingan dengan wanita yang paling ia benci dalam hidupnya.
"Begitu?" Melati mengangguk pasti.
"Iya. Tapi... Jika aku boleh egois, aku akan lebih memilih keduanya. Hidup dengan orang yang mencintai kita mungkin terlihat baik. Menerima perlakuan penuh cinta dari pasangan kita. Tapi, hati kita tidak akan tenang dan nyaman. Sebab, tidak ada cinta di hati kita. Dan jika kita memilih hidup dengan orang yang kita cintai walaupun orang itu tidak mencintai kita juga bukanlah pilihan yang baik. Hidup dengan orang yang tidak mencintai kita akan membuat hati dan fikiran kita terluka. Jadi, jika bisa aku akan berusaha mendapatkan keduanya. Mencintai orang yang mencintai kita." jelas Melati. Aira hanya diam dan berfikir.
"Aku akan memperjuangkan cintaku dengan sepenuh hatiku." lanjut Melati sambil memandang Aira lekat. Dia sadar sahabatnya itu sedang dalam keadaan yang galau.
"Jika cinta itu memang sudah tidak bisa diperjuangkan?"
"Menyerah. Mungkin melihat orang yang kita cintai bahagia adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan. Berbesar hati menerima takdir adalah yang yang paling baik."
'Mungkin cinta ini memang harus cukup sampai disini.' batin Aira
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Lima belas🍃...
...🌸Pada malam ke Lima belas, ia akan didoakan oleh para Malaikat dan Para Pemanggul (pemukul) Arys dan Kursi 🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...