
🥀Rasa cinta itu tidak dapat diminta. Dia mu cul tanpa diduga. 🥀
Satu Minggu sudah Naira dirawat di rumah sakit. Semua orang bergantian menjaga dan merawat Naira. Namun Elanglah yang akan menjaga Naira saat malam hari.
Dan hari ini, Naira ingin ditemani oleh Aira. Kangen katanya. Padahal setiap hari gadis itu selalu menyempatkan diri untuk menjenguk keponakan cantiknya yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Namun Naira belum merasa puas.
Pagi-pagi sekali Aira sudah datang ke rumah sakit. Elang bilang jika ia ada rapat penting yang harus ia hadiri.
Naira makan makanannya dengan lahap dengan Aira yang telaten menyuapinya. Elang sampai heran dibuatnya. Padahal hari-hari sebelumnya butuh tenaga ekstra untuk dapat memindahkan isi piring ke dalam mulut kecil itu. Namun pagi ini dengan mudahnya suapan demi suapan yang diberikan Aira segera disambut oleh Naira.
“Hari ini sarapannya enak ya sayang?” tanya Elang heran.
“Iya dad. Enak banget.”
“Padahal makanannya sama deh kayak kemarin. Kemarin kamu Bilang makanannya nggak enak. Tapi hari ini kamu makannya lahab banget.”
“Soalnya yang nyuapin orang spesial dad. Kalau Daddy disuapin sama Onty cantik pasti lasa makannya juga enak”
“Uhuk-uhuk” Elang tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Naira.
“Daddy mandi dulu. Keburu siang.” Kata Elang gugup. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa dia membawa handuk dan baju gantinya.
“Daddy kenapa onty? Aneh banget.”
Aira tidak bisa menjawab. Dia sendiri bingung harus berkata apa. Sebab dia juga merasa tidak nyaman mendengar perkataan Naira. Dulu, dia sering menyuapi Elang jika laki-laki itu sedang sibuk di kantor dan sedang dikejar pekerjaan. Dialah yang akan menjadi tangan cadangan Elang untuk memenuhi perut laki-laki pekerja keras itu. Ingatan kejadian itu masih jelas dalam fikiran Aira. Saat itulah cinta keduanya sedang hangat-hangatnya.
Tak lama setelah menyelesaikan ritualnya di dalam kamar mandi, Elang keluar dengan celana dan kemeja yang melekat di tubuhnya. Elang berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan cara menggosok-gosokkan handuk kecil yang dia bawa. Setelah dirasa cukup kering, Elang meletakkan handuk itu pada tempat handuk yang tersedia.
Laki-laki itu dapat dengan jelas melihat kedua wanita di ruangan itu sedang bercanda. Perasaannya tenang. Melihat dua orang wanita yang paling dia cintai bersama membuatnya tidak ingin beranjak dari sana. Tapi, pekerjaannya tidak akan selesai jika dia tetap tinggal disana.
Elang segera menyisir rambutnya yang Sedikit basah. Setelah rambutnya rapi, diikatkannya dasi di lehernya. Kemudian memakai jasnya. Setelah itu, tak lupa dia memakai jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
“Ra, titip Naira ya.” Aira hanya mengangguk untuk mengiyakan. Pesona laki-laki itu sungguh menggoda dengan rambut yang setengah basah. Aira menelan ludahnya dengan susah payah melihat penampakan Elang sedari laki-laki itu keluar dari kamar mandi.
“Maaf jadi ngrepotin kamu.” Lanjutnya.
“Tidak apa-apa mas. Dia kan juga keponakanku.”
“Baiklah. Aku pamit dulu.”
“Hem. Hati-hati.”
“Ya” jawabnya. Kemudian pandangannya beralih pada sang putri. “Nai, jangan nakal. Jangan ngrepotin Onty Aira.” Pesan Elang sebelum mengambil tas kerjanya.
“Iya Dad. Nai kan nggak nakal. Nai juga nggak pelnah ngelepotin. Iya kan Onty?”
“Iya. Mana pernah Nai ngrepotin.” Aira mengangkat tangannya dan meminta Naira melakukan fi five dengannya. Melihat kedekatan keduanya itu Elang tersenyum.
“Kalian itu emang cocok.”
“Iya dong Dad.” Senyum Naira terpancar begitu indah. Ceria dan manis. Seperti yang biasa ia dapatkan dari anaknya itu. Sepertinya, kehilangan ibu sperti Safna tidak akan berdampak padanya. Mengingat ibunya itu selalu cuek terhadapnya.
“Baiklah. Daddy berangkat dulu.” Elang mencium kening Naira. Aira mengamati kedekatan antara ayah dan anak itu. Diam-diam ia mengagumi laki-laki yang berada sangat dekat dengannya itu.
“Sebentar mas.” Elang berhenti. Aira bangun dan menghampiri Elang. Kemudian berdiri di depan laki-laki itu. Membenarkan dasi yang terpasang miring akibat dipakai dengan tanpa bercermin.
Elang memperhatikan Aira dari jarak yang begitu dekat. Wajah gadis itu masih sama seperti dulu. Manis dan cantik. Dan dia tidak akan pernah bosan walaupun harus melihatnya sepanjang waktu. Rasanya sangat rindu mencium pipinya yang mulus. Keningnya yang menenangkan jiwa. Tapi sayang semua itu hanya bisa ia pendam dalam kenangan. Keadaan sudah sangat berbeda setelah lima tahun berlalu.
__ADS_1
“Maaf mas. Tadi dasinya Miring.” Aira tersenyum canggung. Menyadari posisinya yang terlalu dekat dengan laki-laki yang masih menjadi pelabuhan cintanya. Aira segera kembali duduk di tepi ranjang Naira.
“Cari uang yang banyak Dad. Aku dan Onty cantik menunggu Daddy pulang.”
Mendengar kalimat yang diucapkan Naira, kedua dewasa yang ada disana saling berpandangan. Kalimat itu sudah seperti kalimat yang dilontarkan oleh seorang Istri yang mengantar suaminya berangkat kerja.
“Ah iya.” Elang segera pergi untuk menghindari situasi canggung yang semakin meremas hatinya.
Setelah kepergian Elang, Naira dan Aira kembali bercanda. Mereka berdua memiliki sifat yang hampir sama. Namun, tak berselang lama Naira merasa mengantuk efek dari obat yang dia minum setelah sarapan.
Sambil menunggu Naira bangun, Aira duduk di sofa sambil melakukan video call dengan Naina. Menanyakan keadaan di panti selama dia tidak ada disana. Apalagi, temannya itu harus ke kafe dan mengurusi online shop mereka hanya berdua dengan Romi. Syukurlah semua berjalan lancar. Kedua temannya di panti asuhan itu bisa diandalkan.
“Hai. Aku ganggu?” sebuah suara mengagetkan Aira tepat ketika dia mengakhiri panggilannya. Ia segera menoleh ke arah pintu.
“Ah tentu saja tidak Mel. Mari sini.”
Melati tersenyum sebelum dia berjalan ke arah Aira yang berdiri di depan sofa.
“Naira tidur?”
“Hem. Abis minum obat tadi.” Aira mengangguk. “Duduk sini. Temenin aku. Kita ngobrol bareng. Udah lama kita nggak ngobrol.” Aira menarik tangan Melati dan mengajaknya duduk.
“Hari ini kamu free?”
“Tidak juga. Tapi aku tadi izin untuk memesan gaun untuk pernikahanku.”
“Aku masih nggak nyangka lho Mel, kamu benar-benar jadi sama Juna. Udah mau nikah malahan.”
“Ya Ra. Aku juga nggak nyangka. Kami bahkan tidak pernah pacaran.”
“Iya. Lima tahun dia gantungan aku.” Melati mendengus. Mengingat perjalanan cintanya yang tak mudah. “Dia kasih perhatian, tapi tidak mau menegaskan hubungan kami. Rasanya tuh lima tahun hidup tanpa status yang jelas.” Curhatnya.
“Huh tu anak emang masih aja gitu. Gengsinya tingkat tinggi.”
“Hem. Andai saja tidak ada kejadian itu, pasti sampai sekarang hubungan kami masih jalan di tempat.”
“Kejadian apa yang mampu membuat runtuhnya ego sang Arjuna?”
Mengalirlah cerita tentang lamaran itu dari mulut kecil Melati. Aira tertawa puas mendengarnya. Ia tak menyangka teman culun yang telah berubah di depannya itu mampu melakukan hal yang membuat Juna kelimpungan dan mati gaya.
“Aku turut bahagia untukmu dan Juna Mel.”
“Aku harap kamu juga akan segera mendapatkan kebahagiaanmu Ra. Aku tahu lima tahun ini juga berjalan tidak mudah untukmu.”
“Mel, apa kamu dulu ikut mengantar jenazah Elisya?”
“Ya. Hari itu adalah hari paling kelabu dalam hidupku. Bukan hanya dalam hidupku. Tapi dalam hidup kami semua. Saat itu kami rasa langit akan runtuh. Semua orang mengalirkan air matanya di pemakaman.”
“Beberapa hari yang lalu, aku sempat kesana. Rasanya seperti lelucon membaca Namaku tertulis pada batu nisan.”
“Iya. Ini jadi terasa lucu. Kami menangisi jenazah yang ternyata bukan kamu.”
“Elisya pasti sudah tenang sekarang. Namaku sudah diganti dengan namanya. Keluarganya juga sudah mengetahui kabar tentangnya. Walaupun aku tahu bagaimana perlakuan keluarganya padanya, tapi Elisya sangat menyayangi mereka.” Aira menghela nafas lega. “Maafkan aku Mel. Pasti air matamu sampai habis saat itu.”
“Hehehe. Bukan air mataku saja yang habis tau. Semua orang menagis sampai air matanya kering. Sambil guling-guling. Meraung-raung.” Kata melati mendramatisir keadaan.
“Ih lebay deh.”cibir Aira mendengar kelakar sahabatnya.
__ADS_1
“Tapi Aku bahagia kamu masih bisa bersama kami hingga saat ini. Kamu tahu, kak Elang tidak hidup dengan benar selama ini.”
“Mengapa? Dia bahkan mempunyai putri yang sangat manis. Dan Yang aku lihat dia hidup dengan baik.”
“Itu hanya tameng Ra. Kak Elang selalu menyembunyikan kesedihannya di depan semua orang. Tapi aku tahu, separuh jiwanya telah pergi saat kepergianmu lima tahun lalu.”
Aira memikirkan dalam-dalam perkataan Melati. Dia pun merasa seperti itu. Sejak kecelakaan yang dialaminya, hidupnya tidaklah mudah. Merasa mencintai seseorang tanpa tahu siapa orangnya. Merindu, tapi tidak tahu kepada siapa rindu itu tertuju.
Tak terasa, air mata Aira menetes karenanya. Kini ia yakin bahwa selama ingatannya hilang, cintanya tidak pernah hilang. Cinta itu masih milik orang yang sama. Rindu itu masih untuk sosok yang sama.
Tapi apa gunanya itu sekarang. Keadaan telah berubah seiring berjalannya waktu. Elang memiliki Naira di sisinya, dia pun memiliki Arka yang begitu mencintainya.
“Kak Elang masih sangat mencintaimu Ra.”
Melati menyadarkan Aira dari fikirannya.
“Semua itu tidak ada gunanya untuk saat ini Mel.”
“Kenapa?”
“Keadaannya sudah berubah. Meskipun kami masih saling mencintai, banyak hati yang harus kami jaga. Ada hubungan yang tidak boleh kami rusak. Naira masih sangat kecil. Dia membutuhkan ibunya seperti apapun kak Safna. Di posisiku ada mas Arka. Dia yang telah setia menungguku hingga kini. Aku tak mungkin tega menyakitinya.”
“Jika itu memang keputusan yang kamu anggap benar. Aku akan selalu mendukungmu Ra.”
“Terima kasih. Kamu dan Juna memang pasangan yang serasi. Paling mengerti diriku.”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Dua puluh Satu🍃...
...🌸Pada malam ke dua puluh satu, Allah SWT akan membangunkan untuknya sebuah rumah dari cahaya🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1