Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 22. Hukuman Aira


__ADS_3

Aira sampai di gerbang sekolahnya sepuluh menit setelah gerbang itu di tutup. Pak Hendro, satpam sekolah sudah hafal dengan kebiasaan Aira. Gadis manis itu memang sering terlambat.


"Pst Pst pak Hendro yang guantengnya sampai langit ke tujuh. Bukain gerbangnya dong!" kata Aira setelah membuka helm fullface nya.


"Maaf Non. Bapak nggak berani."


"Huh baiklah." Aira melepas helmnya dan mengambil handphone dari dalam tasnya. Kemudian duduk dengan santai di atas motornya sambil bermain game kesukaannya. Sang cacing amazon.


Aira cekikikan sendiri ketika melihat cacing di dalam layar handphone miliknya menggeliat mencari mangsa. Beberapa kali Aira berseru heboh saat lawannya menyerangnya. Dia berusaha melawan dengan menggunakan taktik agar cacingnya tidak menjadi santapan bagi cacing lawan.


"Aira Salsabila!" teriak seseorang dari balik gerbang.


"Hadir pak!" jawab Aira lantang sambil mengangkat tangan kanannya tanpa melihat pada orang yang memanggil namanya. Dan saat tangannya terangkat, cacing miliknya hilang kendali dan berakhir menjadi mangsa sang lawan dari game nya.


"Huh!" Aira mendesis sambil memukul jok motornya keras. "Kena makan kan jadi nya!" gerutunya.


"Aira!"


"Iya bapak guru. Aira hadir." Aira menoleh pada guru yang menjabat sebagai guru BP di sekolahnya.


"Masuk kamu!"


"Oke." Aira segera menaiki motornya dan menjalankan motor hijau itu ke parkiran. Setelah memastikan motor kesayangannya mendarat dengan nyaman, Aira segera berjalan santai menuju ruang kelasnya.


Lorong kelas sudah sepi. Tentu saja. Para siswa sudah berkumpul di dalam kelasnya masing-masing untuk menerima pelajaran dari guru yang mengajar. Saat hendak melangkah menuju lorong terakhir sebelum kelasnya, tas ranselnya ditarik oleh seseorang.


"Ish. Siapa sih yang tarik-tarik tas gue. Jail amat." Aira berusaha menarik tubuhnya. Namun suara deheman menghentikan tindakannya.


"Mau kemana?"


"Hehehe bapak. Saya mau masuk kelas. Kan sudah masuk pak." Aira nyengir saat melihat pak Dono yang menarik tas miliknya.


"Kamu lupa kalau kamu harus menerima hukuman dari saya?"


"Udah tua belum pikun juga ternyata." gumam Aira dalam hati.


"Keliling lapangan lima kali."


"Lapangan basket kan pak?"


"Lapangan sepak bola."


"Lapangan Voli aja ya pak."


"Nggak ada tawar menawar."


"Ayolah pak."


"Kamu nggak bosan tiap hari bapak hukum? bapak saja sudah bosan hukum kamu."


"Kalau bapak bosan ya sudah bapak tidak usah hukum saya. Gampang kan?"


"Gampang gundulmu! Kamu sudah melanggar peraturan."


"Dikit pak."

__ADS_1


"Sudah sana kerjakan! Apa mau bapak tambah sama membersihkan toilet."


"Tidak pak. Keliling lapangan sudah cukup. Ya sudah saya terima hukumannya."


"Ya sudah cepat sana. Tunggu apa lagi?"


"Titip ya pak. Tolong dijaga dengan segenap jiwa bapak. Terima kasih." Tanpa rasa bersalah Aira melepaskan tas ranselnya dan menyerahkannya pada sang guru. Aira segera berlari ke lapangan yang akan dia kelilingi.


"Dasar bocah semprul. Nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua." Pak dono menggelengkan kepalanya melihat kelakuan satu murid kesayangannya yang paling sering dia hukum itu.


Pak Dono segera mengikuti gadis yang sudah berlari mengelilingi setengah lapangan sepak bola itu. Pak Dono menunggu Aira berlari mengelilingi lapangan. Memastikan jumlah hukuman Aira tidak kurang setengah putaran pun. Dia ingat bahwa murid tomboynya itu sering menipunya dengan mengkorupsi jumlah hukumannya.


Setelah lima kali putaran, Aira menghampiri pak Dono yang dari tadi mengawasinya di depan salah satu kelas. Dengan cengiran yang membuat guru BP itu jengkel. Tangannya menengadah meminta tas yang dari tadi di pegang oleh Sang guru.


"Terima kasih Pak." ucap Aira saat tasnya sudah berada di tangannya.


"Besok diulangi lagi ya."


"Itu perintah?" tanya Aira dengan mata polosnya.


"Bukaaan" Pak Dono geram sampai berteriak menghadapi muridnya yang tidak mengerti akan sindirannya.


"Katanya tadi saya suruh mengulanginya besok. Jadi apa tidak nih nyuruh saya telat besok?"


"Terserah kamu lah Aira Salsabila." Pak Dono pergi meninggalkan murid yang dari tadi menguji kesabarannya.


Aira yang merasa haus setelah mengukur lapangan dengan langkah kakinya segera menuju kantin untuk membeli minum. Dia segera mengambil teh kemasan yang berada di dalam kulkas yang berada di kantin.


Teh dingin di botol itu habis seketika dengan sekali tegukan.


Aira mengeluarkan Handphone dan headsetnya. Kemudian duduk santai di kantin sambil mendengarkan lagu-lagu Dari handphone miliknya.


"Aduh duh duh telinga gue mau copot." Aira menjerit kesakitan saat seseorang menarik telinganya dengan keras. Aira menghentikan niatnya untuk memberi pelajaran pada pelaku penarikan telinganya saat mengetahui yang menarik telinganya adalah pak Dono.


Dilihatnya guru paruh baya itu berdecak melihat kelakuan muridnya itu.


"Mau apa kamu?" tanya Pak Dono saat melihat Aira mengangkat tasnya dan berniat memukulnya dengan tas itu.


"Hehehe pak Dono. Nggak mau apa-apa kok pak." kata Aira canggung saat melihat guru itu melotot.


"Bukannya masuk kelas malah malas-malasan di kantin."


"Maaf pak. Tadi kan Aira haus setelah mengukur lapangan yang luas itu. Bapak sih tidak memberi Aira air minum. Seharusnya bapak tanggung jawab dong."


"Baiklah. Bapak akan tanggung jawab."


"Benar pak? Kebetulan tadi minumannya belum dibayar. Jadi bapak yang bayar kan?" tanya Aira penuh harap.


"Bapak akan tanggung jawab mengantarkan kamu sampai kelas." Aira kecewa.


"Tidak usah pak. Bapak tidak usah repot-repot. Saya sudah tahu jalannya."


"Kalau kamu tahu jalannya. Kamu tidak akan tersesat sampai ke tempat ini. Ayo cepat kembali ke kelas."


"Santai pak. Saya bayar dulu. Nanti dikira saya mencuri lagi." Aira segera berjalan menuju kasir dan membayar minuman yang telah dia habiskan.

__ADS_1


Pak Dono mengikuti Aira dari belakang. Takut jika gadis di depannya itu berjalan ke arah yang lain. Dengan santai Aira berjalan melewati lorong menuju ke kelasnya dengan pak Dono seperti pengawalnya.


"Selamat pagi." sapa Aira saat sudah berada di depan kelasnya. Semua orang yang berada di dalam kelas itu menoleh ke asal suara yang membuat konsentrasi mereka terpecah.


Bu Nina, guru yang sedang mengajar pelajaran Geografi di depan kelas geleng-geleng kepala melihat cengiran khas Aira. Gadis itu terlalu santai menghadapi hukuman yang diterima. Semua guru rasanya sudah bosan dan bingung untuk menghukum gadis tomboy itu.


"Ini sudah siang Aira." ucap guru cantik itu.


"Hehehe iya ya bu." Aira menggaruk tengkuknya. Kemudian setelah dipersilahkan untuk masuk, Aira segera masuk dan mendudukkan dirinya di samping Mikaila.


Pak Dono yang tadi mengantar Aira juga segera pamit kepada Bu Nina.


Aira yang sudah duduk di kursinya segera mengeluarkan peralatan belajarnya. Memperhatikan penjelasan Bu Nina yang sudah kembali menerangkan pelajaran. Bu Nina sendiri memilih mengabaikan kesalahan Aira. Daripada mengurusi siswa yang memang suka terlambat itu, lebih baik memberikan ilmu kepada belasan siswa yang serius untuk belajar.


Hanya beberapa menit saja gadis berkucir kuda itu serius belajar. Rasa kantuk segera menyerang kedua matanya. Dengan keras ia usahakan kelopak matanya untuk tetap terbuka. Mikaila yang sadar jika teman sebangkunya mengantuk segera menyenggol lengan Aira.


"Ra. Bukan waktunya ngantuk sekarang." katanya lirih.


"Gue ngantuk Mik."


Juna yang mendengar pembicaraan kedua gadis di depannya segera menncondongkan tubuhnya ke depan. Dia tidak ingin Aira sampai di hukum untuk kedua kalinya. Dia mencoba mengajak Aira untuk berbicara agar gadis itu tidak sampai tertidur di kelas.


"Tanks Na." ucap Aira saat mereka berjalan ke kantin.


"Mn. Itu tidak gratis." Juna menyeringai.


"Cih. Pamrih." Aira berdecih. Bisa-bisanya temannya sendiri memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


"Gue mau lo temenin gue ke pesta ulang tahun sepupu gue." Mendengar permintaan Juna, alis mata Aira terangkat.


"Kenapa?"


"Jadi pacar pura-pura gue." bisik Juna.


"Ck. Dasar."


"Malam ini gue jemput jam Tujuh."


"Gue belum setuju."


"Gue tidak menerima penolakan."


*


*


*


...Maaf banyak Typo πŸ™...


...Terima kasih sudah mampir 😍...


...Jangan lupa like πŸ‘ VOTE πŸ˜‡...


...dan Rate 🌟lima...

__ADS_1


__ADS_2