Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 38. Akhir Camping Untuk Aira


__ADS_3

Happy Reading 😊***


Beberapa kali Aira mengerjapkan kedua matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya. Setengah jam sudah dia pingsan. Aira mengamati tempat dimana dia berada sekarang. Sepertinya dia berada di dalam sebuah gubuk di tengah hutan. Terlihat dari sebuah lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan. Menunjukkan bahwa tempat itu tak terjangkau aliran listrik.


Tangan dan kaki Aira diikat dengan tali yang kencang. Semakin terasa sakit jika dia berusaha melepaskan diri dari jerat tali itu.


"Sial!" umpatnya setelah gagal melepaskan tali di tangannya. "Siapa mereka? Kenapa repot-repot menculikku?" gumam Aira. "Tadi mereka bilang bos mereka. Jadi ada yang sengaja melakukan semua ini padaku. Tapi siapa?" fikirannya sibuk mencari jawaban tentang lertanyaan yang timbul di hatinya. Tak mungkin ada orang yang menculik dirinya dengan tanpa alasan.


"Apa dia sudah bangun?" Aira mempertajam pendengarannya ketika mendengar suara para penculik.


"Biar gue lihat." Aira menutup matanya, pura-pura belum sadarkan diri. Dia masih ingin mendengar percakapan mereka.


"Belum sadar bos."


"Baiklah. Kita paksa dia bangun. Ambilkan air! Bos menyuruh kita mengambil gambar saat eksekusi. Jadi dia harus sadar."


'Eksekusi seperti apa yang akan mereka lakukan padaku? Apa rencana mereka?"


Aira masih menutup matanya saat ketiga penculik itu masuk. Bos mereka menyiram Aira dengan air dari dalam gelas. Aira segera membuka matanya.


"Siapa kalian?"


"Lo nggak perlu tahu siapa kami. Yang lo harus tahu adalah lo harus melayani kami disini."


"Cih." Aira meludahi bos penculik yang mendekatinya.


Bos penculik itu mengusap wajahnya yang terkena ludah Aira. Mengikatnya dengan penuh nafsu.


"Lumayan. Manis seperti kamu cantik."


"Siapa bos kalian?"


"Itu nggak penting."


Beberapa kali Aira mengerjapkan kedua matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya. Setengah jam sudah dia pingsan. Aira mengamati tempat dimana dia berada sekarang. Sepertinya dia berada di dalam sebuah gubuk di tengah hutan. Terlihat dari sebuah lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan. Menunjukkan bahwa tempat itu tak terjangkau aliran listrik.


Tangan dan kaki Aira diikat dengan tali yang kencang. Semakin terasa sakit jika dia berusaha melepaskan diri dari jerat tali itu.


"Sial!" umpatnya setelah gagal melepaskan tali di tangannya. "Siapa mereka? Kenapa repot-repot menculikku?" gumam Aira. "Tadi mereka bilang bos mereka. Jadi ada yang sengaja melakukan semua ini padaku. Tapi siapa?" fikirannya sibuk mencari jawaban tentang lertanyaan yang timbul di hatinya. Tak mungkin ada orang yang menculik dirinya dengan tanpa alasan.


"Apa dia sudah bangun?" Aira mempertajam pendengarannya ketika mendengar suara para penculik.


"Biar gue lihat." Aira menutup matanya, pura-pura belum sadarkan diri. Dia masih ingin mendengar percakapan mereka.


"Belum sadar bos."


"Baiklah. Kita paksa dia bangun. Ambilkan air! Bos menyuruh kita mengambil gambar saat eksekusi. Jadi dia harus sadar."


'Eksekusi seperti apa yang akan mereka lakukan padaku? Apa rencana mereka?"


Aira masih menutup matanya saat ketiga penculik itu masuk. Bos mereka menyiram Aira dengan air dari dalam gelas. Aira segera membuka matanya.

__ADS_1


"Siapa kalian?"


"Lo nggak perlu tahu siapa kami. Yang lo harus tahu adalah lo harus melayani kami disini."


"Cih." Aira meludahi bos penculik yang mendekatinya.


Bos penculik itu mengusap wajahnya yang terkena ludah Aira. Menjilatnya dengan penuh nafsu.


"Lumayan. Manis seperti kamu cantik."


"Siapa bos kalian?"


"Itu tidak penting."


Dua anak buah preman itu kemudian membantu Aira berdiri dengan tangan dan kaki masih diikat. Kemudian membopong Aira dan di bawa ke sebuah ranjang bambu yang ada di dalam gubuk itu.


Satu preman melepaskan tali di kaki Aira untuk diikat pada ranjang tersebut, hal yang sama dilakukan pada tangan Aira. Kini Aira mempunyai kesempatan untuk melawan. Disaat mereka lengah, dengan gesit Aira menonjok dan menendang tubuh preman tersebut hingga keduanya terhuyung.


"Dasar anak buah tidak berguna!" teriak bos mereka galak. Kemudian dia mendekati Aira. Dengan cepat Aira berdiri dan bersiap menyerang bos preman itu.


Bos preman maju dan berusaha menendang Aira. Dengan sigap Aira menangkis tendangannya, memiringkan tubuhnya, memegang kaki bos preman dan menghempaskannya ke dinding. Bos preman yang tidak menyangka aksi Aira terkejut dan menabrak dinding.


Kedua anak buahnya segera menyerang Aira. Keduanya bersama-sama menyerang Aira dengam pukulan dan tendangan. Tubuh Aira yang lemah dan kepalanya yang pusing membuatnya keluwalahan menahan serangan dari ketiga preman setelah Bos preman ikut menyerangnya.


"Menyerah saja cantik." kata bos preman saat Aira terdorong hingga jatuh ke lantai. Memegangi perutnya yang terasa sakit terkena tendangan. Buru-buru Aira bangkit dan kembali menyerang.


"Siapa yang menyuruh kalian hah?"


"Itu bukan urusanmu. Yang perlu kamu tahu adalah hari ini kamu akan mati di tangan kami setelah kami puas menikmati tubuhmu."


Amarah Aira memuncak saat mendengar bahwa ada yang menginginkan nyawanya. Aira yakin jika orang itu mengenalnya. Selama ini banyak yang tidak menyukai Aira. Tapi Aira yakin mereka tidak akan sampai menginginkan nyawanya.


Aira kembali menyerang. Wajah dan tubuhnya kini terdapat banyak memar di beberapa bagian. Sudut mulutnya berdarah.


"Akh" pekik Aira saat kakinya ditendang keras oleh bos preman. Membuatnya jatuh di lantai. Dia sudah tidak sanggup berdiri. memandang para preman dengan tatapan penuh kebencian.


"Hahahaha. Sudah menyerah sekarang? Ikat dia!"


Kaki dan tangan Aira kembali di ikat. Dia dibaringkan kembali di ranjang.


"Karena kamu akan mati. Baiklah aku akan berbaik hati memberitahumu siapa yang menyuruh kami." Aira hanya diam. Tatapan matanya tajam.


"Makanya di kehidupan selanjutnya kamu tidak boleh merebut pacar orang lain."


"Bella... "gumam Aira.


"Benar. Dialah yang menyuruh kami. Kami sangat beruntung bertemu gadis baik hati itu. Mendapatkan uang banyak. Plus gadis cantik seperti kamu."


"Brengs*k kalian!"


"Jangan bicara kasar sayang." Bos preman mendekati Aira. Menyentuh dagunya dengan tangannya yang kasar. Aira mengelak. Tapi dengan keras dagu itu ditarik. Menimbulkan rasa sakit. Bos preman mendekatkan wajahnya hendak mencium Aira.

__ADS_1


Brak!


Pintu terbuka lebar. Menampilkan sesosok laki-laki dengan tubuh tegap. Pandangan matanya setajam mata elang. Siap menguliti apa saja yang terlihat olehnya. Kedua tangannya terkepal menahan amarah. Dadanya naik turun menandakan amarah yang menggebu.


"Siapa lo? Jangan ikut campur urusan kami!" bentak Bos preman.


"Sekarang menjadi urusanku karena kamu mengganggu gadisku. Lepaskan dia kalau kalian tidak mau berakhir secara mengenaskan."


"Hahaha. Lo datang seorang diri. Sedangkan kami bertiga. Itu artinya Lo datang untuk menyerahkan diri."


"Kamu baik-baik saja Ra?"


"Aku baik mas. Terima kasih sudah datang." Aira tersenyum pada Elang. Dia sangat bersyukur Elang datang saat yang tepat. Dia yakin Elang dapat menyelamatkan dirinya.


"Kalian malah reunian disini. Kalian itu mau mati. Semua akan semakin mudah sekarang." Bos preman berfikir jika Elang ikut mati, akan ada orang yang dapat dijadikan kambing hitam.


"Jangan banyak omong!" Elang segera menyerang bos preman dengan bogem mentahnya. Perkelahian kembali terjadi. Suara Tendangan, tangkisan, teriakan dan pukulan terdengar nyaring di kesunyian hutan.


Elang dengan amarah menggebu menyerang ketiga preman itu dengan tanpa ampun. Dalam sekejap, ketiga preman itu sudah jatuh dan tak bisa bangun. Elang segera melepaskan tali yang mengikat Aira dan mengikat ketiga preman itu. Setelah memastikan bahwa preman itu tidak dapat melarikan diri, Elang menghampiri Aira yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Elang segera menarik Aira dalam pelukannya.


Aira menangis untuk pertama kalinya di dalam pelukan seseorang. Menumpahkan segala ketakutan yang mengganggunya. Kelegaan karena dia baru saja terlepas dari bahaya yang bisa merusak masa depannya. Bahaya yang bisa saja menjadi alasan kematiannya.


"Mereka jahat mas." Elang menepuk punggung Aira dengan lembut.


"Tenang Ra. Sekarang kamu aman. Mas ada disini."


"Terima kasih sudah datang untuk Aira mas."


"Kamu adalah segalanya untuk mas, Aira."


"Terima kasih." Aira semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasa aman dalam pelukan laki-laki di depannya itu.


"Siapa yang melakukan semua ini Ra?"


"Bella mas. Bella yang menyuruh mereka untuk membunuhku. Kenapa dia jahat mas? Dia bahkan meminta mereka menghancurkanku mas." tangan Elang terkepal mendengar apa yang akan dilakukan para preman pada Aira. Dia melepaskan pelukannya dan memukul preman-preman itu sekali lagi. Dia berusaha keras meredakan kemarahannya. Setelah merasa tenang, dia kembali mendekati Aira.


"Ayo kita keluar."


"Kakiku sakit mas."


Elang kemudian meletakkan tangannya di belakang punggung Aira dan di balik lutut Aira. Mengangkat gadis itu dengan mudah. Bagi Elang, Aira sangat ringan. Dengan tenang, dia membawa Aira pergi.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😁...


...Jadi pembaca budiman Ea😎,...

__ADS_1


...jangan yang gaib👻...


...Maaf Typo bertebaran🙏...


__ADS_2