Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 58. Memori Of Berandals Sekolah


__ADS_3

Sudah satu bulan mereka pulang dari liburan. Kini, para Pelajar setara SMA sedang melaksanakan Ujian Nasional. Aira dan teman-temannya juga sedang melakukan ujian. Ini adalah hari terakhir ujian mereka.


Mereka sekarang sedang berkumpul di kantin setelah selesai mengerjakan lembaran-lembaran berisi soal ujian. keenamnya merasa lega.


Tak beda seperti para remaja yang sedang asik ngobrol di kantin, di kantor dewan guru juga sedang menggosipkan anak didik mereka yang beberapa bulan lagi akan resmi lulus dari sekolah. Siapa lagi kalau bukan berandal sekolah yang dibicarakan.


Pak Dono yang sudah jadi langganan mereka yang paling banyak bercerita. Mengenang seberapa parah kelakuan mereka selama hampir tiga tahun ini. Pak Dono kini sedang menceritakan kejadian satu minggu yang lalu. Saat Aira dan teman-temannya ketahuan merencanakan bolos setelah jam istirahat pertama.


Flash Back on....


Siang itu pak Dono sedang berpatroli memeriksa kelangkapan dan kerapihan Siswa-siswi di SMA Bakti Nusa. Rambut kepanjangan untuk cowok, rok kependekan untuk cewek, kancing seragam yang tidak dikancingkan, rambut diwarnai, semua kena hukum.


Dan pada saat pak Dono sedang berjalan di kantin, tanpa sengaja telinganya yang tajam mendengarkan pembicaraan yang janggal. Dan Pak Dono kenal betul siapa saja pemilih suara yang kini tengah dia dengar dari balik dinding tempat asal suara para remaja bandel itu.


"Kita ke angkringan aja. Sudak lama kita nggak kesana." suara gadis yang pak Dono kenal sebagai Aira.


"Betul. Setelah ini kan pelajarannya pak Butet. Sering pegel telinga gue denger dia bicara." kali ini suara Ridwan yang pak Dono dengar.


"Ho'o. Tapi kita mendingan jalan ke mall aja." suara Mikaila terdengar.


"Eh Ogeb. Lo mau ditangkep satpol PP hah? Jam sekolah pake seragam mau kelayapan." Juna menimpali.


"Iya Beib. Pulang sekolah aja kita kesana. Sudah kan kita nggak jalan kan?" Wildan tersenyum lebar menemukan ide terbaru untuk nge-date.


"Huuu!" Wildan seketika dihujani pilus yang sejak tadi menemani mereka mengatur rencana.


"Oke. Kita ke Angkringan aja." putus Mikaila. Mereka tak sadar jika rencana mereka sudah terbongkar. Mereka masih terus memikirkan cara agar dapat keluar dari sekolah. Pasalnya, pagar belakang sekolah yang biasa mereka lewati, satu bulan yang lalu tiba-tiba saja terpasang beling yang membuat mereka ngeri.


"Gue nanti pura-pura sakit. Trus Wildan Nganterin gue." Mikaila berbinar mengutarakan rencananya. Wildan mengangguk mengiyakan.


"Kalo gue nanti bilang kalo nenek gue yang udah mati, mati lagi. Kan nggak bohong." seru Ridwan. Kali ini dia sendirian, tidak dengan selirnya.


"Mel, lo nanti pura-pura sakit perut. Biar gue antar." usul Juna.


"Aku nggak ikut-ikutan ya. Bentar lagi ujian."


'Nah yang ini nih murid bener.' seru hati di balik tembok.


"Alah Mel. Sekali aja. Janji yang terakhir!" si setan Aira mengacungkan dua jarinya yang diangguki yang lainnya.


"Ya sudah deh. Aku nurut aja." Melati menyerah. Imannya ternyata terkalahkan oleh ajakan setan tampan dan cantik di sekitarnya.


'Aduh! Kenapa mesti nurut!! lagi-lagi hati di balik dinding bergejolak. Merutuki sikap yang diambil Melati. Siswa paling taat diantara keenamnya.


"Kalo lo gimana Ra?" tanya Juna.

__ADS_1


"Gue.... "Aira masih berfikir. "Aha! Gue kan lagi dapet nih. Gue bilang aja gue nggak bawa ganti."


"Oke Deal." Mikaila mengulurkan tangannya ke tengah. Wildan menimpali di atasnya. Lalu Juna, Ridwan. Aira memberi isyarat Melati untuk memberikan tangannya sebagai persetujuan. Akhirnya, setelah tangan Melati mendarat, tangan Aira berada di bagian paling atas. Namun, sebelum mereka mengangkat keenam tangan itu bersama, sebuah tangan hitam besar menimpali keenamnya. Berada di bagian paling atas.


"Deal!" keenam remaja yang ketahuan sedang merencanakan bolos siang itu menoleh ke arah suara besar di sebelah mereka.


"Hehehe pak Dono." Kelima Berandal sekolah Senior kompak sambil nyengir. Melati sebagai Juniornya kini berwajah pucat. Pertama kali mencoba bolos sudah gagal.


"Sudah Deal rencananya?"


"Rencana apa pak?" tanya Aira pura-pura tidak tahu.


"Kalian pikir saya tidak tahu?" Wajah Sangar pak Dono tidak berarti di depan mereka.


"Tidak. Memang bapak tahu apa? Juna pura-pura tidak mengerti.


"Berdiri kalian!" keenamnya berdiri.


Kini, keenamnya sedang berjalan ke kantor BK sambil menjewer telinga temannya sendiri. Banyak siswa yang tertawa melihat aksi keenamnya.


"Ra! Jangan keras-keras Telinga gue bisa copot!" Juna merasakan telinga miliknya kesakitan ditarik Aira yang berada paling depan.


"Pak Dono jewer gue juga sekeras itu tauk! Enak aja gue turunin level!" sungut Aira.


"Kalo lepas ganti aja telinga kelinci. Ato telinga sapi sekalian. Biar puas." Mikaila mendesis mendengar jawaban yang Juna berikan.


"Beib jangan keras-keras dong." rengek Wildan.


"Solidaritas Beib. Juna tarik telinga gue juga keras."


"Au au!" jerit Wildan saat merasa tarikan yang diberikan Mikaila semakin keras.


"Sory ya Mel, gue kepaksa jewer telinga lo. Ntar lo boleh kok jewer gue balik." jiwa playboy Ridwan masih aktif. Membuat keempat temannya yang lain mendengus.


"Iya nggak apa-apa kok Rid. Emang aku salah."


"Nggak sakit kan?" tanya Ridwan sebelum suara jeritannya melengking di sepanjang koridor setelah telinganya ditarik keras oleh Wildan.


"E buset dah Wil! Dendam lo ama gue?" protes Ridwan. Pak dono yang mendengar gerutuan mereka dari tadi hanya geleng-geleng kepala.


"Sukurin. Lagian siapa suruh Godain Melati." seru Juna sambil menjulurkan lidahnya.


"Sudah-sudah. Kalian ini dihukum malah heboh sendiri." suara Pak Dono menghentikan gerutuan keenam remaja itu. Mereka kini pasrah digiring sebagai terpidana kasus pembolosan berencana.


Flash Back off...

__ADS_1


"Walaupun mereka sering membuat ulah, tapi tanpa mereka sekolah ini akan sepi." ucap pak Dono.


"Ya pak. Mereka siswa-siswa hebat." puji Bu Nina.


"Saya suka senyum-senyum kalau melihat video Mereka waktu camping kemaren."


"Benar Bu. Jadi kepengen kembali jadi anak SMA." tutur pak Anto. Guru Sosiologi.


"Iya. Walaupun ada masalah mengenai Bella. Untung saja sekolah ini tidak terkena imbas ya." kata Bu Mei.


"Benar. Saya tidak menyangka ada anak senekat Bella." yang lain manggut-manggut.


"Team Basket saya bakal kehilangan pemain-pemain tangguhnya." ucap pak Angga. Guru oleh raga.


"Iya pak. Pencak juga tahun ini kita cuma juara dua. Andai saja Aira masih boleh ikutan. Padahal lawan tahun ini tidak setangguh tahun kemaren." ungkap Pak Wira, selaku guru pencak silat.


"Yang saya masih tidak mengerti, kenapa Melati bisa kesasar jadi salah satu dari mereka?"


"Menurut saya itu malah lebih baik. Melati jadi lebih bisa mengekspresikan diri. Dia kan selama ini tidak punya teman."


"Benar. Dia juga sering dibully."


"Sekarang tidak akan ada yang berani melakukannya. Siapa yang berani lawan berandal sekolah?" ucap Pak Dono menirukan suara Aira ketika mengatakan kalimat terakhir.


"Hahahaha" gelak tawa guru menggema. Kejadian-kejadian yang telah lalu akan menjadi kenangan yang akan mereka ingat. Tentang berandal sekolah yang selalu membuat pusing dengan tingkahnya. Namun di sisi lain selalu membanggakan mereka dengan prestasi yang dihasilkan dibalik kenakalan mereka.


Masa-masa itu akan berakhir untuk Aira dan teman-temannya. Berganti murid-murid baru yang akan menuliskan kisah mereka di hati para guru.


Dan di hati para Guru, Setiap murid itu istimewa. Memiliki kelebihan dan kekurangan. Hukuman dari guru adalah salah satu bentuk dari kasih sayang yang diberikan. Omelannya mengandung nasihat yang akan berguna di masa depan. Kemarahannya mengandung do'a yang terselip untuk kemajuan anak didiknya.


Ada mantan pacar, tapi tak ada yang namanya mantan guru. Ada mantan karyawan tapi tak ada mantan murid. Begitu indah hubungan antara guru dan murid. Saling merendahkan di lain waktu, namun memujinya di lain kesempatan.


Oh Guru....


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😉...


...Maaf Typo bertebaran🙏...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2