Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 29. Tembakan Masih Gagal


__ADS_3

Seorang gadis berseragam PRAMUKA dengan rambut berkuncir kuda yang khas sudah sampai di sebuah ruang VIP kafe Y. Di kedua telinganya terpasang headphone yang terhubung dengan handphone miliknya yang berada di atas meja. Sesekali dia menyedot jus jambu miliknya.


"Sudah lama Ra?" Elang masuk ke ruang VIP itu dan duduk di depan Aira. Aira melepas headphone dari telinganya. Mematikan lagu dalam handphone nya.


"Apa mas? Maaf tadi kesumpetan telinganya." Elang mengelus kepala Aira. Inilah yang membuat Aira merasa menjadi wanita bila berada di dekat Elang. Laki-laki di depannya ini selalu memperlakukan Aira dengan manja tanoa Aira minta.


"Kamu sudah lama datang?"


"Oh. Baru saja kok. Baru duduk sepuluh menit. Mas kenapa pesan ruang VIP?"


"Kalau jam istirahat seperti ini di luar sesak Ra."


"Benar juga.Tapi kan jadi boros mas."


"Katanya tadi mau menguras dompetku?"


"Itu urusan nanti. Sekarang kita pesan makan dulu. Genderang di Perutku dari tadi sudah berbunyi."


"Kamu belum pesan dari tadi?"


"Nunggu mas lah. Masak aku makan duluan sih. Iya kalo mas datang. Kalo nggak datang? siapa nanti yang mau bayaran makanan Aira. Ini kan tempat mahal." Sekali lagi Elang mengusap kepala Aira. Aira mencebik.


"Hahaha. Mana mungkin aku nggak datang Ra." Seorang pelayan masuk dan mencatat pesanan Keduanya. Kemudian setelah selesai dia keluar ruangan.


"Mas nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berdua sama kamu."


"Jangan gombal."


"Beneran Ra."


Aira menyesap jusnya lagi. Menghentikan bibirnya yang berniat tersenyum mendengar gombalan Elang. Menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang mulai merah karena malu.


Tak berapa lama makanan dan minuman yang mereka pesan telah terhidang di atas meja. Tak menunggu lama, isi dalam piring-piring itu telah berpindah tempat ke dalam dua perut yang siap menampung mereka.


"Jalan-jalan yuk Ra."


"Emang mas nggak kerja?"


"Ini Sabtu Ra. Dimana-mana kantor juga libur."


"Iya ya. Tapi ini waktunya ke rumah baca mas."


"Benar juga. Ya sudah kita kesana saja."


"Oke. Nanti kita ketemu disana. Aku nggak bawa baju ganti hari ini."


"Kita jalan-jalan dulu di Mall. Sambil cari baju buat mas dan kamu."


"Mas yang traktir ya?"


"Beres."


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Mereka sudah sampai di dalam Mall yang merupakan milik keluarga Elang. Mereka kesana dengan mengendarai mobil Elang. sedangkan motor Aira masih di parkiran kafe.


Di dakam mall, Elang memberanikan diri memegang tangan Aira. Menautkan Jari-jari miliknya dengan jari tangan mungil milik Aira. Mengisi penuh bagian kosong diantara jari itu. Mengalirkan kehangatan pada pemiliknya.

__ADS_1


"Boleh?" Elang memandang Aira penuh harap.


"Hem" jawab Aira dengan anggukan kepala. Keduanya tersenyum saling menatap penuh cinta. Bunga-bunga bermekaran di sekitar mereka. Riuhnya suasana Mall yang ramai akhir pekan bahkan tak membuat mereka hanyut dalam dunia mereka yang seakan hanya ada mereka berdua disana dan waktu bersedia berhenti berjalan untuk memberi waktu pada mereka berdua untuk saling mengagumi.


"Ehm. Sampai kapan kita akan berdiri di tengah sini mas?" Aira menyadari bahwa mereka nerada tepat di tengah-tengah lantai satu Mall besar tersebut. Tanpa menjawab Elang menarik tangan Aira yang masih ia genggam untuk pergi masuk ke dalam toko baju yang ada di dalam Mall. Awalnya Elang mengajak Aira untuk pergi ke butik di mall itu. namun bukan Airs jika tidak menolak.


"Mau ke butik saja?"


"Nggak. Kita cari baju biasa saja mas."


"Kenapa?"


"Baju di toko biasa merakyat mas."


"Kamu aneh Ra. Biasanya cewek-cewek suka pakaian branded?"


"Mas lupa sedang jalan dengan cewek jadi-jadian?"


"Di mataku kamu tidak pernah seperi itu Ra. Kamu adalah gadis manis yang menarik."


"Bohong."


"Benar."


"Sudah berapa banyak gadis yang percaya dengan kata-kata rayuan mas?"


"Belum ada satupun. Bahkan ini pertama kali mas mencoba merayu seorang gadis."


"Aku nggak percaya. Umur mas berapa?"


"Mas suah tua?"


"Bukan tua Ra. Matang. Walaupun mas sama kamu beda tujuh tahun mas masih terlihat muda kok untuk jadi suami kamu."


"Mas ngelantur."


"Kalau suami ngelantur. Pacar masih boleh kan Ra?"


"Emmm gimana ya?" Aira mengetuk-ngetuk dagunya seperti sedang berfikir keras. Ya, dia memang sedang berfikir keras sekarang. Dia memang merasa nyaman berada di dekat Elang. Apalagi laki-laki itu selalu memberi perhatian padanya.


"Aira... Nggak nyangka ketemu lo lagi disini." suara seseorang membuat Aira menoleh ke sumber suara yang baru saja mengajaknya bicara."


"Hai Bel. Mau Shoping?"


"Nggak nyangka gue. Ternyata lo playgirl juga."


"Apa maksud lo sebenarnya?"


"Di sekolah lo godain Juna. Tadi malah dua cowok. dan Sekarang beda lagi cowoknya."


"Siapa Ra?" tanya Elang sambil memindai gadis yang membuat Aira tidak nyaman.


"Teman sekolah mas. Udah nggak usah di Dengerin. Kita jalan lagi yuk mas." Aira menarik Elang untuk pergi. Namun suara Bela menghentikan langkah Elang.


"Cih. Dasar murahan!"

__ADS_1


Elang berbalik. Menatap tajam Bela dan kedua kawannya. Atmosfer terasa tipis sekarang. Ketiga gadis itu merasa sesak nafas secara mendadak.


"Berani sekali kamu mengucapkan kata-kata yang seharusnya cocok untuk kalian bertiga sendiri."


"Mas." Aira memegang lengan Elang. Mencoba meredakan amarah Elang. Elang menatapnya sekilas. Kemudian kembali menatap tajam ketiga gadis di depannya. Terutama Bela.


"Apa yang sudah Aira kasih sama kakak? Tubuhnya?" Bela melipat kedua tangannya di depan dada. Melirik sinis. Mengejek Aira.


"Diam kamu!" bentak Elang.


"Kita pergi mas. Nggak usah di Dengerin ucapan tidak bermutu Bela."


"Kakak mempunyai wajah tampan. Tidak pantas bersama Aira. Jika mas mau aku bisa menemani kakak." Bela Tersenyum menggoda pada Elang. Wajah Elang memang tampan. Membuat Bela semakin iri pada gadis yang selalu ia sebut dengan wanita jadi-jadian.


"Wajah cantik jika tidak disertai hati yang cantik adalah hal yang sia-sia. Punya mulut tapi hal kotor yang keluar dari mulut, membuatmu lebih cocok untuk kehilangan mulut itu."


"Siapa kamu berani sekali mengejekku? Aku adalah putri tunggal Dirga Perwira. Pemilik Hotel Bella Internasional."


"Baiklah. Tunggu dan lihat kehancuran hotel yang kamu banggakan."


"Mas. Jangan. Kita tidak boleh seperti itu. Selain keluarganya. Akan banyak keluarga yang akan menderita."


"Aku bisa menampung semua karyawan hotel itu."


"Cih sombong."


"Kau dengar itu Ra. Dia begitu sombong. Pantas untuk diberi sedikit pelajaran moral."


"Sudahlah mas. Kalau mas seperti itu sama saja mas seperti dia."


"Huft." Elang menghela nafas panjang. Mencoba menghilangkan emosi yang menguasai hatinya. Memandang Bela dengan tatapan mengancam.


"Hari ini kamu bisa lolos karena Aira. Lain kali jika aku mendengar kamu mengucapkan kata-kata kotor pada Aira, jangan harap ada kesempatan kedua untuk menyelamatkan keluargamu."


Elang membawa Aira pergi dari sana. Mereka keluar dari Mall. Mood mereka sudah hancur setelah kejadian tadi. Mereka berdua membeli baju di tempat lain dan memberi kabar bahwa tidak bisa ke rumah baca untuk hari itu.


"Kayaknya aku pernah lihat cowok yang sama Aira tadi." kata Dira.


"Siapa?"


"Aku juga sepertinya tidak asing" tambah Megan. Elang memang terbilang baru masuk dalam perusahaan AMT Globalindo. Dan baru beberapa kali masuk majalah dan Televisi. Jadi masih belum banyak yang tahu siapa dirinya.


Bela tidak tahu jika laki-laki yang bersama Aira tadi adalah investor terbesar untuk hotel milik keluarganya. Jika Aira tidak bisa menghentikan Elang melaksanakan niatnya, dapat dipastikan hotel bintang lima yang menjadi kebanggaan keluarga Bela akan hancur dalam sekali jentikan jari.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😍...


...Maaf banyak Typo bertebaran 🙏...


...Jangan lupa like 👍vote 😎dan rate ⭐lima...

__ADS_1


...Ramaikan juga kolom komentarnya🗨...


__ADS_2