Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 40. Perintah Elang


__ADS_3

Dokter yang dipanggil mang Ujang sudah tiba dan sedang memeriksa Aira di dalam kamar. Elang dan semuanya diminta untuk keluar agar memudahkan dokter Nilam untuk memeriksa keadaan Aira.


"Kak Elang, ini Melati. Teman kami." Mikaila memperkenalkan Melati pada Elang saat mereka duduk di sofa yang berada di depan kamar yang ditempati Aira. Melati mengulutkan tangannya pada Elang.


"Melati."


"Elang."


Keduanya saling berjabat tangan. Mikaila menjelaskan bahwa Melati adalah teman baru mereka saat camping ini. Dia juga menceritakan apa saja yang terjadi saat Camping pada Elang sesuai permintaan laki-laki di depannya. Mikaila juga menunjukkan beberapa video yang dia rekam maupun yang direkam sahabatnya yang lain. Elang memperhatikan dengan seksama Verita dan juga video yang dia tonton.


"Juna dan lain pasti khawatir saat ini." ucap Mikaila saat Elang sudah mengembalikan handphone miliknya.


"Aku sudah memberitahu lokasi tempat ini pada panitia. Tapi Juna dan yang lain tidak bisa kesini."


"Kenapa kak?"


"Mereka diberi tugas untuk mengabarkan pada keluarga kalian mengenai kejadian ini."


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Aira Kak?"


"Aira diculik."


"Apa?!"


"Ada seseorang yang menginginkan nyawa Aira."


"Siapa kak?"


Sebelum sempat menjawab pertanyaan Mikaila, pintu kamar terbuka. Elang segera berdiri saat melihat dokter keluar dari dalam kamar. Dia segera menghampiri dokter muda itu. Melati dan Mikaila segera masuk ke dalam kamar. Melihat keadaan Aira.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua luka dan memar sudah saya obati. Tapi kakinya masih perlu penanganan lebih lanjut. Saya khawatir tulang kakinya retak."


"Baiklah dok. Saya akan segera membawanya ke rumah sakit."


"Itu bagus. Baiklah. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan dokter. Terima kasih banyak."


Dokter Nilam diantar oleh mang Ujang keluar. Elang segera masuk ke dalam kamar Aira. Ketika melihat Elang masuk, Mikaila dan Melati segera minggir dan memberi ruang untuk Elang mendekat.

__ADS_1


"Ra, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit." Elang duduk di tepi ranjang. Memandang sendu gadis yang terbaring lemah itu.


"Kenapa mas? Bukannya tadi sudah diobati dokter?"


"Kata dokter, tulang kaki kamu dikhawatirkan retak. Jadi perlu dibawa ke rumah sakit untuk memeriksanya." Aira merenung. Kakinya memang terasa sangat sakit sekarang.


"Ck. Preman itu membuat kakiku jadi seperti ini."


"Kakimu akan baik-baik saja. Hanya luka kecil."


"Tapi ini sakit mas." ucap Aira manja. Mikaila mengernyit bingung. Dia tidak pernah melihat sisi Aira yang manja seperti itu. Melati yang baru mengenal Aira dan Elang bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu diantara mereka berdua. Kini diapun tahu hati dan rindu Aira untuk siapa.


"Setelah diobati nanti tidsk akan terasa sakit lagi. Kamu mau kan ke rumah sakit?" Tanya Elang dengan penuh perhatian. Membuat kedua gadis di belakangnya ikut baper. Elang seperti membujuk pacarnya yang sedang merajuk.


"Baiklah." Elang tersenyum sambil megusap kepala Aira lembut.


"Mikaila dan Melati mau menemani Aira di rumah sakit atau pulang?" Elang menoleh pada dua gadis di belakangnya. "Kemungkinan Aira hanya sebentar di rumah sakit di sini. Setelah mendapatkan pengobatan, aku akan memindahkan Aira di rumah sakit di ibukota." lanjutnya.


"Kami menemani Aira saja Kak." kata Mikaila diangguki oleh Melati.


"Baiklah kalau begitu. Tapi malam ini kalian harus istirahat disini. Biar aku dan mang Ujang yang mengantar Aira. Besok, kalian akan diantar mang Ujang jika mau menjenguk Aira."


"Baiklah kak."


"Baik tuan muda."


"Ra cepat sembuh ya. Besok kami akan menemanimu di rumah sakit." kata Mikaila sebelum mengikuti Siti.


Setelah Mikaila dan Melati keluar, Elang kembali duduk di sisi ranjang Aira. Mengenggam tangan gadis itu. Mengusap pelan punggung tangannya. Keduanya hanya diam. Saling bicara dengan sentuhan mereka.


"Tuan muda, mobilnya sudah siap." laporan mang Ujang menyadarkan keduanya.


"Baiklah mang."


Elang segera membopong Aira. Keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Elang mendudukkan Aira di kursi belakang. Elang menurunkan Aira dengan Hati-hati. Jangan sampai kakinya yang sakit terbentur sesuatu. Setelah Aira sudah duduk dengan nyaman, dirinya juga duduk di samping gadis itu. Malam ini, mang Ujang yang akan mengantar keduanya.


*****


Aira mendapatkan penanganan dengan cepat berkat surat rujukan dari Dokter Nilam. Dan benar dugaan dokter muda tersebut jika tukang betis Aira retak. Dokter memberi perawatan yang terbaik untuk Aira.


Setelah mendapatkan perawatan, Aira dipindahkan ke ruang VIP. Dia masih belum sadar. Elang duduk di sofa di dalam ruang itu. Dia sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telfonnya.

__ADS_1


"Reno, lo cabut semua saham kita di Bella Hotel."


"Kenapa tiba-tiba Lang? Ini sudah larut malam."


"Anak dari tuan Dirga sudah mencoba menculik dan menyakiti Aira. Dia harus menerima akibatnya."


"Hoahem." Reno menguap. Panggilan telfon dari Elang sungguh mengacaukan mimpi indahnya. "Masalah pribadi jangan dicampur adukkan dengan urusan kantor Lang."


"Bella sudah melakukan tindakan kriminal Ren. Lo mau perusahaan kita ikut merasakan dampaknya hah?"


"Tapi... " Reno menggaruk tengkuknya. Selama ini Bella hotel memberi keuntungan yang cukup banyak untuk AMT. Tapi kehilangan satu dari banyak sumber penghasilan tidak berarti apa-apa untuk perusahaan sebesar PT. AMT Globalindo.


"Lo itu sekretaris gue apa bukan sih? Dari tadi menolak perintah gue."


"Sorry Lang. Tapi tidak ada bukti."


"Ck. Lakukan saja seperti yang gue katakan. Suruh juga pihak rumah sakit untuk menyediakan ruang terbaik untuk Aira. Besok siang gue akan pindahin Aira kesana."


"Lo udah jadi budak cinta Lang."


"Gue bangga. Lakuin sekarang!"


"Siap Boss!"


Malam itu Reno segera melaksanakan tugas dari Elang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dan pekerjaan mendadak datang tiba-tiba saat dia baru saja terlelap. Dia akan minta uang lembur dua kali lipat untuk itu.


Meninggalkan Reno dengan setumpuk pekerjaannya. Sang bos sudah duduk di samping gadisnya. Membelai wajah Aira yang kini terdapat perban di pelipisnya. Memar di pipinya dan plester di sudut bibirnya. Elang menggeretakkan giginya menyadari separah apa preman itu menyakiti Aira.


Gadis yang biasanya selalu tersenyum manis pada Elang kini terlihat tidak berdaya. Elang mencium kening Aira ketika gadis itu melipat keningnya. Mungkin gadis itu merasa tidak nyaman dengan mimpinya. Tangan kanan Elang membelai lembut pipi Aira.


"Semua baik-baik saja sayang." bisik Elang tepat di telinga Aira. Gadis itu kembali tidur dengan tenang. Elang tersenyum. Dia senang karena berhasil membuat Aira tenang. Diapun duduk dan menggenggam tangan Aira. Menciumnya sebelum ikut tidur sambil duduk di kursi sebelah brangkar.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir ๐Ÿ˜...


...Maaf banyak Typo numpuk di sana-sini๐Ÿ™...

__ADS_1


...Jangan lupa like ea๐Ÿ‘...


__ADS_2