
Kaca meja rias pecah, handphone mewah pecah di atas meja rias. Barang-barang berserakan di lantai. Bantal dan seprai berantakan. Kamar yang lima menit yang lalu tampak rapi dan bersih mendadak berubah menjadi seperti bekas perang. Di sudut ruangan, seorang wanita terisak setelah lelah berteriak marah.
Gadis itu adalah Safna. Penampilan Safna siang ini berbanding terbalik dengan penampilan kesehariannya. Rambutnya acak-acakan. Bajunya juga terlihat kusut.
Semua itu disebabkan oleh foto yang dia terima dari anak buahnya yang ia minta memata-matai Aira. Dia sangat marah melihat penampilan Aira dan Elang yang dengan terpaksa dia akui bahwa mereka sangat serasi.
Safna bertambah marah setelah melihat kedua orang tua Elang yang sangat akrab dengan Aira. Dia merasa seharusnya yang berada pada posisi itu adalah dirinya Bukan Aira yang jelas-jelas tidak lebih baik darinya.
"Sayang kamu kenapa? Buka pintunya sayang." Amira menggedor-gedor pintu kamar Safna setelah mendengar teriakan Safna. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Amira hanya mendengar suara isak tangis dari dalam. Dia sangat khawatir. Dia pun menghubungi Andra untuk segera pulang.
"Safna kenapa Mi?" tanya Andra setelah dia berada di depan kamar anak kesayangannya dan mendapati Amira sedang menangis disana.
"Mami juga tidak tahu Pi. Tiba-tiba saja Safna teriak-teriak di dalam."
"Ambilkan kunci cadangan Mi. Kita harus segera masuk. Kita tidak boleh membiarkan Safna menderita." Amira mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kunci cadangan.
Dengan kunci cadangan yang dibawa Amira, Andra membuka pintu kamar Safna. Dia sangat terkejut melihat kamar anak kesayangannya yang berantakan. Dia baru kali ini melihat Safna begitu terpuruk.
"Ada apa sayang? Bilang pada mami, apa yang terjadi?" ucap Amira sambil memeluk Safna.
"Aku ingin tuan Elang Mi." Amira terkesiap mendengar permintaan Safna. Ini rumit. Elang adalah kekasih Aira. Ia juga tidak mungkin memaksa seseorang untuk menjadi kekasih Safna. Amira menatap Andra dengan tatapan bingung. Andra pun sama dengan dirinya yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Tapi sayang, tuan Elang adalah kekasih Salsa." Amira mengelus kepala Safna. Mencoba memberi pengertian.
"Aku ingin tuan Elang Pi. Salsa itu tidak pantas untuk tuan Elang yang sempurna. Aku yang lebih pantas."
"Tuan Elang mencintai Salsa."
"Minta Salsa untuk meninggalkan tuan Elang. Dan aku akan berhasil mendapatkan cintanya."
"Kamu bisa mendapatkan laki-laki lain Safna. Tuan Elang itu tidak bisa sembarangan diprovokasi." ucap Andra. Tidak mungkin dia meminta Elang untuk menjadi kekasih Safna walaupun dia telah putus dengan Salsa.
"Apa kalian sudah tidak menyayangiku lagi? Aku hanya minta satu permintaan. Kenapa kalian begitu pelit."
"Tapi sayang, Salsa tidak mungkin mau."
"Dia harus bersedia. Lagi pula dia masih terlalu kecil untuk tuan Elang. Lakukanlah untukku Pi, Mi."
Kedua orangtuanya diam. Mereka bingung harus berbuat apa sekarang. Safna selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Mereka yakin Safna akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya.
Melihat respons orang tuanya yang telihat ragu, Safna mengeluarkan usaha terakhirnya. Dia berdiri dan meraih ganting di atas meja.
"Kalau kalian tidak mau meminta Salsa menyerahkan tuan Elang padaku. Lebih baik aku mati." Safna mengacungkan gunting pada perutnya. Membuat Amira berteriak. Andra mulai panik. Anak kesayangannya tidak boleh terluka.
"Baiklah sayang. Papi akan minta Salsa untuk memutuskan hubungannya dengan Tuan Elang." Safna menyeringai. Usahanya berhasil.
__ADS_1
"Papi Janji?"
"Iya sayang. Papi janji." Andra kemudian keluar kamar.
Amira menenangkan Safna. Mencoba meminta gunting di tangan Safna. Karena tujuannya tercapai, Safna menyerahkan gunting itu dengan senang hati. Dia juga tidak mungkin melakukan hal yang merugikan dirinya. Ini hanya akting.
"Ayo ke kamar tamu dulu sayang. Biarkan kamarmu dibersihkan pembantu." Safna mengangguk. Ia segera bangun dan berjalan dibantu oleh Amira.
****
Malam hari setelah merayakan pesta kelulusannya di rumah baca, Aira pulang agak larut. Dia Melenggang masuk ke dalam kamar karena tidak ada seorangpun yang dia temui di dalam rumahnya. Setelah membersihkan diri, Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya lelah sekali.
Ketenangannya terganggu karena suara ketukan pintu. Aira membuka pintu kamarnya. Mengernyit mendapati kedua orang tuanya yang terlihat serius berdiri di depan kamarnya.
"Boleh kami masuk Sa?" tanya Amira. Aira sadar nada bicara Amira berbeda. Ini pasti ada sesuatu yang penting. Aira tidak menjawab, hanya menggeser tubuh dan memberikan isyarat mempersilahkan masuk dengan wajahnya.
Aira duduk di tepi ranjang di samping Andra dan Amira. Dia merasa canggung. Kedua orang tuanya tidak pernah bicara serius dengannya.
"Apa kami bisa meminta sesuatu dari kamu sayang?" Amira mengelus lengan Aira.
"Ada apa Mam?"
Amira diam. Dia tidak tega mengucapkan keinginan Safna yang dia rasa tidak adil untuk Aira.
"Maksud Papi?"
"Putuskan hubunganmu dengan tuan Elang."
"Tapi kenapa?"
"Kamu masih terlalu muda untuk pacaran sayang." Amira tidak mau sampai Aira membenci Safna.
"Sebentar lagi aku kuliah."
"Kamu itu tidak pantas untuk Tuan Elang. Kamu akan membuat malu kami jika memaksa untuk tetap bersama tuan Elang." Aira mengerti sekarang. Jika Mereka mulai menyinggung kesempurnaan, ini semua pasti ada hubungannya dengan kakaknya si nona sempurna.
"Kalau Salsa tidak pantas. Siapa yang lebih pantas? Kak Safna?" sinis Aira. Dia muak sekarang. Apa lagi-lagi dia harus mengalah. Apa yang dia miliki harus diserahkan pada kakaknya jika sang kakak menginginkannya?
"Iya. Dia lebih pantas dari kamu. Kamu tidak akan bisa menguntungkan bisnis keluarga kita dengan hubunganmu. Papi yakin tuan Elang bahkan hanya memanfaatkan mu agar tidak ada gosip miring tentangnya."
"Tidak mungkin. Aku sangat mengenal mas Elang. Aku tahu betul bagaimana perasaannya padaku."
"Mami mohon Sa, kakakmu sangat menginginkan tuan Elang." Aira melepaskan tangannya yang digenggam oleh Amira dengan kasar.
"Kenapa aku harus memberikan apa yang aku miliki pada Safna tercinta kalian hah?" ucap Aira dengan nada tinggi. Dia juga sudah berdiri di depan kedua orangtua yang sekarang sedang menjajahnya.
__ADS_1
"Jaga bicaranmu Salsa! Kamu tidak sopan pada kakakmu." bentak Andra.
"Kakak apa yang meminta kekasih adiknya Pi? Jika memang Safna itu kakak Salsa, seharusnya dia mendukung adiknya. Bukan malah merebut apa yang menjadi milik adiknya."
"Salsa, untuk kali ini mami minta padamu Sayang. Mami tidak pernah meminta apapun darimu. Kakakmu mencoba bunuh diri."
"Cih! Kalian percaya dengan aktingnya? Dasar licik!" cibir Aira.
Plak.. sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aira hingga gadis itu terhuyung ke samping dan jatuh ke lantai. Aira menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia memegang pipinya yang nyeri dan panas. Namun rasa sakit yang dia rasakan pada pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit yang sedang menyiksa hatinya. Amira hendak menolongnya. Tapi segera ditepis oleh Aira.
"Tidak perlu Mam. Aku bisa bangun sendiri." Aira berdiri. Menghadap Andra dengan tatapan melawan.
"Apa yang Papi inginkan?"
"Papi ingin kamu meninggalkan Tuan Elang. Anggap saja itu bayaran karena kami telah melahirkanmu ke dunia ini dan membesarkanmu sampai sekarang."
Duar!
Apa ini mimpi? Sejak kapan ada orang tua yang meminta balasan karena telah melahirkan seorang anak ke dunia? Sejak kapan ada orang tua yang tega meminta balasan karena telah membesarkan anaknya?
Air mata Aira luruh sekarang. Pertahanan yang dengan susah payah dia bangun hancur sudah. Dia merasa hancur sekarang. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya dengan tega meminta balasan untuk sesuatu yang memang merupakan tanggung jawab mereka?
"Apa aku bukan anak kalian?" sarkas Aira.
"Tentu saja kamu anak kami." jawab Amira.
"Kalau memang aku anak kalian? kenapa kalian tega melakukan ini padaku hah?"
"Karena kamu anak yang tidak berguna!" jawab Andra dengan lantang. "Kamu tidak pernah membuat kami bangga telah membesarkanmu!" lanjutnya.
Aira sudah tidak tahan lagi. Dia segera pergi meninggalkan kedua orangtuanya disana. Sampai di depan kamar, dia sangat terkejut mengetahui ada Safna disana.
"Puas kak?"
Aira sangat kaget saat melihat kakaknya tersenyum puas. Aira tidak menyangka jika kakak yang sangat ia sayangi tega melakukan semua ini padanya. Aira segera berlari menuju garasi dan pergi dari rumahnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Note: Besok siapkan tisu yang banyak. 😐Episode menguras air mata menunggu di depan 😭
__ADS_1