
“Safna.”
“Kak Safna”
Semua orang yang ada disana terlihat tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mereka. Safna berdiri tak jauh dari mereka dengan ditemani Frans yang menggenggam tangan Safna.
“Apakah benar kak Sachel tidur di dalam sana Mi?” tanya Safna melihat makam kecil dengan nama yang sudah dua puluh tahun lebih tidak pernah dia dengar dan sebut lagi.
Amira hanya menangis tanpa bisa menjawab. Andra memeluk istrinya erat. Mengelus kepala Amira.
“Kenapa tidak ada yang memberitahukannya padaku?” suara Safna bergetar menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
“Kata kalian, kak Sachel pergi ke asrama. Setia aku menanyakan kapan dia pulang, kalian selalu bilang jika sebentar lagi. Bertahun-tahun aku menungu Mi, Pi....” Air mata Safna akhirnya lolos. Ia tak dapat melanjutkan ucapannya akibat tangisnya yang pecah.
“Maafkan Mami sayang. Mami hanya tidak ingin kamu bersedih.”
“Apakah kalian tahu, ketika aku masih kecil setiap ulang tahun kami. Aku selalu membagi hadiah yang aku dapatkan menjadi dua. Berharap jika ia kembali aku akan memberikannya padanya. Tapi ternyata...hiks hiks dia tidak akan pernah kembali.” Safna menghambur memeluk batu nisan bertulis nama kembarannya.
“Kak, kenapa kakak meninggalkan Safna hah? Kakak bilang akan melindungiku kan? Tapi kenapa kakak pergi?”
Semua orang hanya bisa diam. Mereka fah betul apa yang dirasakan Safna. Ketika kecil, Safna sangat dekat dengan Sachel. Dimana ada Safna, disana pasti juga ada Sachel. Sebagai saudara kembar, keduanya seperti mempunyai ikatan bathin yang kuat. Jika Safna sakit, Sachel juga seperti ikut merasakan sakitnya.
“Apa yang terjadi sebenarnya Mi? Kenapa kakak bisa meninggal?”
Mengalirlah cerita dari mulut Andra karena Amira sudah tidak sanggup bercerita. Safna mendengarkan carita itu dengan cermat. Air matanya tak berhenti mengalir dari kedua buah mata cantik milik Safna.
“Jadi, jantung yang berdetak di dalam tubuhku adalah milik kak Sachel?” tanya Safna setelah Andra selesai menceritakan kisah tentang kematian Sachel.
“Iya nak. Sachel menepati janjinya. Dia menjagamu sepanjang waktu.”
“Kak Safna, kak Sachel pasti bahagia disana.” Aira mengusap lembut bahu Safna yang bergetar menunduk di atas makam.
“Dia pasti sedih saat aku ngekahatin kamu Sa. Dia pasti kecewa padaku. Dia memberikan jantungnya padaku agar aku bisa melindungimu menggantikannya. Tapi apa yang aku lakukan? Aku malah berbuat jahat padamu. Maafkan aku Sa.” Safna meraih kedua tangan Aira. Penyesalah jelas terlihat dari kedua matanya.
“Semua sudah menjadi masa lalu kak. Mari kita lupakan masa lalu yang menyakitkan. Kita mulai lagi kehidupan kita yang indah.” Safna mengangguk antusias.
“Maafkan aku Mas Elang. Aku tahu kamu lah yang telah membebaskanku. Aku tahu kebesaran hatimu. Aku tahu kesalahanku begitu besar untuk dimaafkan. Tapi kamu telah memberikan kata maafmu. Kamu juga telah merubah hidupku. Berkatmu aku menyadari jika ada laki-laki yang memberikan cintanya tulus kepadaku.”
“Jadi mas yang...”
"Aku memenuh janjiku kan." Aira mengangguk dan memeluk Elang.
“Iya Sa. Mas Elang yang membebaskanku. Tiga bulan Aku dipenjara Wildan dan Reno datang untuk mencabut tuntutannya. Aku tahu semua itu atas perintah mas Elang.”
__ADS_1
“Aku memerintahkan orang untuk mengawasinya di dalam penjara. Jika ia memang menyesal, aku memang berniat untuk membebaskannya. Kita semua keluarga. Jika saling terpecah kebahagiaan tidak akan sempurna. Jadi saat aku mendengar perubahan Safna selama satu bulan terakhir aku yakin jika hukuman itu sudah cukup.” Elang menghela nafas.
“Yah walaupun prosesnya lama dan alot karena sudah dipustuskan hukuman, namun karena aku menjaminnya, Safna akhirnya bisa bebas. Tapi untuk berjaga-jaga dan untuk mengetesnya sekali lagi, aku memintanya bersembunyi selama ini.”
“Aku mengucapkam terima kasih banyak atas kesempatan kedua yang diberikan padaku. Aku akan memperbaiki hidupku dengan sebaik-baiknya. Tidak akam ada lagi orang yang akan mengeluh akan sikapku.”
Semua orang tersenyum lega. Orang yang baik akhirnya kembali baik.
“Maafkan Mommy ya sayang. Selama ini mommy sering jahat sama kamu.” Safna berlutut di depan Naira. Anak kandungnya yang sedari lahir ia telantarkan demi mengejar Elang.
Naira menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus sang ibu. “Nai sudah maafin Mommy kok. Bunda bilang, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Jadi Nai mggak boleh marah sama mommy.”
“Wow. Princess Naira sudah bisa bilang R rupanya.”
“Iya Mom. Bunda yang ajarin Nai. Kata Bunda jika aku latihan dengan sungguh-sungguh pasti Nai bisa.” Safna memeluk erat Naira.
Kemudian dia kembali menghampiri adiknya. Memeluk erat Aira.
“Terima kssih telah menjadi Bunda yang baik untuk Naira Sa. Dia memang pantas mendapatkan ibu yang baik sepertimu.” Kata safna sambil memegang bahi Aira. “Aku memang ibu yang telah melahirkannya. Tapi, ibu Naira yang sesungguhnya adalah kamu.”
“Kak. Bagaimanapun Naira tetap putri kakak.”
“Ya. Itu memang kenyataan. Tapi yang lebih pantas disebut ibu oleh Naira adalah kamu. Aku sering memperhatikan Naira saat bersamamu, dia terlihat bahagia. Kamu menyayanginya dengan tulus. Hal yang ditak bisa aku berikan.”
“Lupakan masa lalu kak. Biarkan jadi pelajaran kita. Bukankah dengan masa lalu hidup kita menjadi seperti nano-nano, banyak rasa. Jika hidup kita flat kayak keju batang pasti hidup kita membosankan.”
“Ah ya. Aku faham maksudmu meskipun aku heran dengan perumpamaan yang kamu pakai. Sejak kapan kamu tahu rasanya keju? Bukannya kamu tidak suka keju?”
“Oh. Entahkah kak. Sejak aku hamil si kembar, aku jadi doyan keju. Kenapa jadi bahas makanan. Aku kan jadi lapar sekarang. Ayo kita pulang. Aku kelaparan disini. Nggak ada yang ngertiin ibu hamil apa?”
Semua orang geleng-geleng kepala. Aira hamil sangat berbeda. Dia...ugh! cerewet.
Elang segera menuntun kembali Aira. Memenuhi kebutuhan perut ibu hamil menjadi hal terpenting sekarang.
“Kamu bilang kamu tadi hamil bayi kembar Sa?” tanya Safna yang berjalan di belakang Aira dan Elang yang menggandeng Naira di tengah mereka.
“Iya kak. Makanya udah gede kayak sembilan bulan.”
“Aku kira tadi juga udah sembilan bulan. Sekarang sudah masuk berapa bulan?”
“Tujuh akhir mau delapan.”
“Wah sebentar lagi lahiran donk keponakannku. Sudah tahu jenis kelaminnya?”
__ADS_1
“Belum kak. Mereka pada ngumpet. Hehehe.” Aira tekekeh dengan jawabannya. Sebenarnya berulang kali dokter menyarankan agar mereka USG tiga dimensi agar dapat melihat jenis kelaminnya. Tapi Aira dan Elang menolak. Toh apapun jenis kelamin mereka, keduanya tetaplah darah daging Aira dan Elang. Buah cinta keduanya.
“Berarti nanti kamu operasi Sa?”
“Pengennya sih normal kak. Tapi lihat kondisinya nanti.”
“semoga lancar.”
“Aamiiin. Oh ya kak. Boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kakak dan Kak Frans?”
“Ya. Kami sepasang kekasih sekarang. Jika diizinkan kami akan menikah tahun depan.” Kata Safna sambil menunduk. Ia malu.
Ini bisa dibilang cinta pertama yang tulus. Semakin kesini, Safna semakin menyadari jika cintanya pada Elang bukanlah cinta, namun hanya obsesi semata. Dia awalnya tidak rela jika Aira mendapatkan Elang yang menjadi idola.
Sedangkan perasaannya pada Frans mulai tumbuh saat laki-laki itu dengan sabar menemaninya dalam persembunyian selama hampir tujuh bulan belakangan terasa beda. Dia merasakan bahagia ketika bersama dengan Frans.
Inilah cinta yang sejati, yang bukan obsesi....
*
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...🍁🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...