Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 131. Wanita Hamil Selalu Benar


__ADS_3

Aira patut bersyukur atas kehamilannya yang sama sekali tidak membuatnya repot. Tidak mengalami morning sickness sama sekali hingga kandungannya menginjak lima bulan. Untuk selera makan juga tidak banyak berubah, hanya saja kadar toleransinya pada rasa pedas berkurang. Bisa dibilang Aira yang sekarang anti pedas. Dia menyukai makanan manis. Sangat berbeda di saat dia belum hamil.


Ngidam makanan juga tidak susah. Dia hanya ingin jika ada yang makan di dekatnya. Jadi siapapun yang makan di dekat Aira harus menyiapkan menu doble.


Masalah tenaga Aira juga tidak ada masalah. Jika kebanyakan wanita hamil muda akan lemas sepanjang hari, berbeda dengan Aira yang energic menjalani hari-harinya.


Namun, yang menjadi ngidam Aira ini kadang adalah hal aneh yang harus dilakukan oleh orang lain atas kemauannya. Seperti hari ini misalnya, setelah tiga bulan tidak pernah dibahas karena mungkin lupa. Entah siapa yang mengingatkannya lagi akan ngidam anehnya yang pertama yang belum kesampaian.


Sekretaris handal serba bisa sore ini adalah menjadi debut pertamanya mengawali karier sebagai seorang badut. Dan sebagai solidaritas sesama jomblo, Ridwan ikut memakai kostum badut dan bernyanyi di depan puluhan anak asuh rumah baca dan juga sesama konco-konconya yang kesemuanya sialnya berpasangan.


Dua hari sebelum acara pentas seni rumah baca, calon ibu itu mengungkapkan keinginannya pada sang suami. Ia berkata jika sekarang keinginannya tidak bisa ditahan. Dan andalan ibu-ibu hamil memaksa suamu menuruti keinginannya pun digunakan.


“Mas mau anak kita nanti ileran? Ngeces?”


Kata-kata Aira saat Elang pamit berangkat bekerja untuk menyakinkannya masih terngiang di telinganya. Elang ingin menolak. Ia tak enak hati meminta Reno melakukan hal konyol itu. Tapi sebelum ia mengeluarkan kata-kata penyejuk jiwa yang mungkin bisa membuka hati sang istri untuk mengurungkan niatnya, wajah Aira sudah terlihat sedih. Air mata menggenang di atas kantong matanya.


“Kalau mas nggak mau bilang ke kak Reno juga nggak papa.” Kata Aira sambil mencium punggung tangan Elang. Wajahnya penuh dengan kekecewaan.


“Bukan mas nggak mau sayang. Tapi kasihan kalau Reno pakai baju badut. Kita kan bisa sewa badut untuk memeriahkan acara pentas seni. Bukan Reno juga yang harus jadi badut.” Elang berusaha sehalus mungkin memberi pengertin pada istrinya. Namun Elang tidak pernah menyangka jika kata bijak banyak berkembang di zaman modern ini. Dan yang paling pas untuk kondisi Aira dan Elang saat ini adalah “wanita hamil selalu menang.”


Ini juga berlaku pada Aira. Aira dengan kekuasaan ibu hamil juga memenangkan hati Elang. Dengan berat hati ahkirnya mengiyakan keinginan aneh Aira.


Dan disanalah para jomblo-wan itu berada. Berjoget dan menyanyi lagu anak-anak di depan panggung. Keduanya terlihat menikmati peran yang mereka bawakan.


Rwno memakai kostum badut berwana merah bergaris putih. Pasa bagian perut dan ****** di desain besar. Wajahnya juha dipoles mirip badur asli dengan wajah putih dan kedua pipi bergambar bulatan merah. Belum lagi bibirnya yang dibentuk melewati bentuk aslinya. Rano memakai wig berwarna pelangi yang ikal besar seperti menelan kepalanya.


Sedangkan partnernya, Ridwan. Memakai kostum yang tak jauh beda dari Reno. Namum berwarna hijau dan orange. Dengan wig berwarna biru cerah. Keduanya berulang kali saling mendorong dengan perut dan ****** mereka yang besar.


Di saat keduanya terhuyung akibat dorongan lawan, para penonton tergelak akan aksi para badut dadakan itu. Belum lagi tarian mereka saat bernyanyi benar-benar lucu. Sukses mengocok perut menikmat acara yang berlangsung malam itu.


Untuk saat ini, apa yang kedua badut nyanyikam di atas panggung tidaklah menarik. Yang menarik adalah perilaku keduanya.

__ADS_1


“Huahahaha. Mereka lucu banget.” Komentar Aira yang puas mendapatkan apa yang ia inginkan.


Aira mengelus lembut perutnya sambil berkata, “Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai anakku menurini mereka berdua.”


Elang yang berada di sampingnya jelas dalap mendengar apa yang ia bicarakan. Laki-laki itu menautkan alisnya. ‘Bukankah dia yang meminta Reno berpakaiam badut. Lalu kenapa sekarang dia diolok?’ pikir Elang pasrah.


“Udah mas. Suruh kak Reno dan Ridwan turun. Kelamaan anakku melihat mereka aku takut kekonyolan mereka menurun ke anak kita.” Ujar Aira tanpa dosa.


Dia sepertinya melupakan siapa dalang dibalik tingkah konyol kedua jomblo itu. Namun Elang sudah pintar dalam menghadapi ibu-ibu yang hamil tapi kelihatan tidak hamil. Sehingga ia hanya diam, menghela nafas dan melakukan apa yang istrinya itu lakukan.


“Sudah puas Ra?” tanya ridwan sambil membuka wig warna biru dari atas kepalanya


“Sepertinya kamu sangat terpaksa melakukannya ya Rid?”


“Tidak. Aku sangat menyukai kostum ini. Juga dandanan yang seperti ini.” Sungut Ridwan kesal. Sebagai teman yang mengenal Aira dari zaman putih abu-abu tentunya membuatnya mengerti jika apa yang diinginkan Aira harus dia dapatkan.


“Baguslah kalau begitu. Lain kali jika ada pentas seni lagi bisa tampil bareng anak-anak.”


Hari ini adalah hari kematian Sachel. Karena Aira sudah mengetahuinya, Andra dan Amira mengajaknya untuk ziarah ke makamnya. Biasanya mereka hanya akan datang berdua.


Aira datang bersama Elang dan Naira yang menemani. Kebetulan ini adalah hari Minggu. Aira ditubtun oleh Elang berjalan melewatu puluhan batu nissan yang terjajar rapi. Usia kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan membuatnya sedikit kesusahan melihat ke bawah. Apa lagi ini adalah kehamilan kembar. Jadi besar perut Aira seperti sudah berusia sembilan bulan.


Makam kecil dengan inisial Sachel Ahmada Raharja terletak tak jauh dari makam Elisya Anandita. Andra dan Amira sudah terlebih dulu sampai. Merkw berdua sudah duduk di depan makam kecil itu.


“Mam, Pi.” Sapa Aira ketika sdah berada di belakang kedua orang yang duduk sambil mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas tanah makam berbentuk persegi panjang itu.


“Salsa, perkenalkan ini adalah kakak sulungmu. Sachel. Disinilah tempat peristirahaatan terakhirnya dua puluh lima tahun terakhir.” Kata Amira sambil menuntun Aira agar lebih dekat.


“Di bawah sana, anak laki-laki kami terbaring. Dia sangat hebat. Dia sangat pemberani. Dia pernah berjanji jika ia akan melindungi Safna dan kamu yang saat itu masih di dalam kandungan mami. Namun kenyataan membawanya pergi.”


“Kak, aku Salsa. Adik bungsu kakak. Aku yakin kakak pasti bahagia disana kan? Kakak pasti mendapatkan tempat yang sangat indah. Tidur yang nyaman. Suatu saat nanti kita bertiga pasti akan disatukan kembali.” Aira mengusap batu nisan di depannya

__ADS_1


“walaupun kakak tidak bisa melindungiku secara langsung, tapi kakak melindungiku melalui kak Safna. Dia sering membelaku saat di sekolah. Dia juga membelaku saat aku dimarahi mami dan papi.”


“Sachel pasti sangat senang kamu bisa mengunjunginya hari ini. Pasti dia akan senang jika...”


“Mi, Pi.” Semua orang menoleh....


*


*


*


On the way end.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...🍁🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...


...***...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2