
Elang duduk di kursi taman sambil melihat kedua orang wanita yang sangat ia cintai di dunia ini. Di depannya, tak jauh dari tempatnya duduk, Naira dan Aira sedang berkejaran sambil tertawa gembira. Perasaan Elang menjadi damai.
Ini adalah hal yang paling membuatnya bahagia selama ini. Berkumpul dengan dua orang wanita itu sungguh membuat hatinya merasa bahagia. Ingin rasanya menghentikan waktu untuknya menikmati detik demi detik keadaan ini.
Melihat dua orang wanita yang paling ia cintai bahagia membuat bibirnya tak hentinya tersenyum. Senyim bahagia yang entah kapan terakhir kali ia lakukan.
"Ampun Onty! hahahahha" Naira kegelian saat tangan nakal Aira menggelitiki pinggang Hafis kecil itu. Naira bahkan sampai guling-guling di atas rumput taman.
"Sudah ha? Onty belum puas. hahahaha" Aira terus melakukan aksinya.
"Onty Stop! Nanti Nai bisa ngompol."
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Maafkan Onty." Aira segera membantu Naira duduk dan memeluk gadis itu. Aira ikut duduk di depan Naira. Menyilangkan kakinya disana. Kemudian membawa gadis cilik di depannya ke atas pangkuannya.
"Emmuach Emmuach Emmuach." pipi cubby itupun tak luput dari kecupan Aira.
"Gemesnya nih ponakan Onty yang paling cantik."
"Onty, Nai pengen naik itu." kata Naira sambil menunjuk permainan ayunan.
"Boleh." Aira segera menurunkan gadis itu dan segera menggandengnya menuju tempat ayunan. Naira duduk dan didorong pelan oleh Aira. Mereka berdua kembali tertawa bahagia.
"hosh hosh hosh. Berhenti dulu ya Nai. Onty capek." kata Aira sambil menghentikan gerakan ayunan.
"Ya sudah Onty duduk disini saja. Kita naik ayunan bersama." Naira menunjuk tuang kosong di sebelah tempatnya. Ayunan itu memang ayunan yang cukup untuk tiga orang.
"Oh ya? Main ayunan bersama ya?"
"Iya."
"Kalau kita bersua naik. Siapa yang akan mendorong ayunan ini? Tidak mungkin kan bergerak sendiri."
"Kan ada Daddy."
"Tidak usah Nai. Onty sudah nggak capek kok. Onty bisa dorong kamu lagi."
"Daddy!" teriak Naira lantang sehingga dapat didengar oleh Elang yang duduk agak jauh. Lagipula daritadi pandangan laki-laki itu tak pernah lepas dari pemandangan indah yang terpampang nyata di depannya.
Elang segera bangun dari duduknya dan berlari kecil menghampiri putri kecilnya. Aira sedikit merasa canggung saat Elang mendekat.
"Ada apa sayang?"
"Dolong. Onty cantik udah capek dolongin aku dali tadi. Daddy sih malah duduk aja nggak mau main sama Nai."
"Iya. Maaf-maaf. Ayo pegangan yang kuat. Biar Daddy yang dorong."
Dengan perlahan ayunan itu bergerak majubdan mundur. Semakin lama semakin cepat saja ayunan itu bergerak. Namun inilah yang disukai oleh Naira. Gadis kecil ini suka sekali dengan sesuatu yang bergerak dengan kencang. Ketiganya tertawa bahagia.
'Tuhan, andai aku bisa egois sedikit saja. Bisakan menghentikan waktu ini? Aku sangat merasa bahagia berkumpul bersama mereka.' batin Aira.
'Tuhan, jika aku boleh meminta. Tolong biarkan kami bersama." batin Elang.
__ADS_1
Setelah Naira meminta berhenti karena dia lelah. Akhirnya ketiganya memilih untuk duduk-duduk di taman sambil memakan beberapa camilan yang dijual di sekitar taman.
"Dad, Nai capek. Gendong!" keluh Naira. Akhirnya Elang menggendong putri kecilnya di belakang. Mereka segera berjalan mencari tempat duduk yang nyaman.
Orang-orang yang mereka lewati ikut bahagia melihat mereka bertiga. Mereka sudah seperti keluarga yang sempurna. Dengan suami dan istri yang saling mencintai, dilengkapi oleh anak yang begitu manis dan ceria. Sungguh pemandangan keluarga yang menjadi keluarga impian yang membuat iri mereka yang melihat.
Namun sayangnya, semua yang membuat mereka iri tidaklah sama dengan kenyataan yang ada. Mereka bukan suami istri. Mereka hanyalah sepasang mantan kekasih yang terjebak dalam hubungan sebagai adik ipar dan kakak ipar. Sedangkan anak yang membuat mereka gemas tak lain adalah seorang anak yang mencari sosok ibunya dari ontynya.
Naira tidak pernah dekat dengan Safna. Bahkan Naira memiliki ketakutan tersendiri terhadap wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu. Bahkan wanita itu mewariskan wajah yang sangat cantik untuknya. Tapi, Naira selalu takut saat melihat Safna.
Elang segera menurunkan Naira setelah menemukan tempat duduk yang cocok untuk mereka. Aira juga ikut duduk di sebelah Kiri Naira, sedangkan Elang beranjak pergi untuk membelikan mereka beberapa makanan ringan dan juga es untuk menemani mereka bicara.
Aira kini sibuk dengan plastisin yang coba ia bentuk. Tadi setelah elang pergi, seorang penjual mainan datang dan menawarkan dagangannya. Naira yang tertarik pada salah satu mainan membuatnta merengek untuk dibelikan.
"Emang Nai bisa mainnya?" tanya Aira setelah penjual itu pergi.
"Enggak. Tapi kan ada Onty yang ajaran aku."
"Baiklah." Aira mulai membentuk plastisinnya. Naira memeperhatikan cara Aira membentuk berbagai macam bentuk. Tapi saat dia berniat mau membantu, Elang menghapiri mereka.
Naira berbinar saat melihat Elang menghampiri mereka dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan juga minuman yang ia beli di minimarket di dekat taman.
"Dad, Nai pengen bakso."
"Oke. Biar Dad pesankan dulu. Ra, masih sepeti dulu kan?"
"Hah?"
"Baksonya. Kamu masih suka bakso mercon?"
"Ah iya. Aku masih suka itu."
"Onty cobain deh!" kata Naira sambil mengulurkan camilan dengan rasa keju pada Aira.
"Sayang, Onty Aira tidak suka yang rasa keju." Kata Elang membuat Aira mengernyit bingung. Laki-laki di dekatnya itu benar-benar tahu apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Apakah hubungan diantara memang benar-benar sangat dekat di masa lalu?
"Benal Onty cantik?"
"Iya Nai sayang. Onty suka mules cium bau keju."
"Telus Onty sukanya yang lasa apa?" tanya Naira sambil menunjukkan bungkus snack di depan Elang.
"Yang ini. Onty suka makanan dengan rasa gurih dan pedas. Jadi makaroni rasa pedas ini pasti suka." Elang menarik bungkus snack makaroni yang ia maksud dan menyerahkannya pada Naira.
"Gimana kalo yang ini Onty?" Naira menunjukkan pilihan Elang pada Aira. Kalau dirinya sendiri tentu saja tidak akan suka makanan dengan rasa pedas itu. Jadi dengan melihat gambar di bungkusnya saja ia sudah tidak berani membukanya.
"Boleh. Apa aja asal bukan keju."
"Oke Onty." Naira menyerahkan bungkusnya pada Elang. Membuat kedua orang dewasa itu mengernyit.
"Itukan untuk Onty sayang. Kenapa dikasihkan Daddy?"
"Tangan Onty kotor. Jadi biar Daddy yang suapin. Ya kan Dad?"
"Ha? Oh iya Sayang. Daddy akan suapi Onty Aira."
__ADS_1
"Onty bisa cuci tangan dulu Nai."
"Jangan! Nanti kucingnya Nai nggak jadi-jadi."
"Baiklah-baiklah. Sesuai dengan keinginanmu princess." Aira akhirnya menyerah. Anggaplah ini ujian untuk menyelaraskan detak jantungnya yang selalu berdetak lebih kencang saat berdekatan dengan Daddynya Naira. Aira harus terbiasa dengan keadaan ini.
Elang membuka bungkus snack itu dan mengulurkan satu ke depan mulut Aira. Mulut kecil Aira terbuka untuk menerima suapan. Sepersekian detik tatapan mata keduanya bertemu. Ada binar kerinduan yang dalam disana. Aira segera menundukkan pandangannya dan kembali mencoba fokus pada plastisin yang sedang ia bentuk.
Pandangan itu masih mengarah pada wajah cantik di depannya. Elang selalu saja merasa rindu pada gadis itu meski setengah hari ini trlah mereka lewati bersama.
Naina melihat Daddynya yang terlihat memperhatikan Aira. Padahal makanan di mulutnya sudah habis dan perlu disiapin lagi.
"Aaak Dad. Daddy lama deh!" sungut Naira.
Mendengar itu Elang terbangun dari fikirannya. Dengan segera ia mengambil snack dari bungkusnya dan diulurkan pada Naira.
"Ih Daddy! Ini kan punya Onty. Daddy mau nai kepedasan." Naira cemberut melihat snack berwarna merah yang hendak disuapkan oleh Elang.
"Maaf sayang. Ini." Elang segera mengambil snack yang benar.
Saat ini Aira sedang berlayar dalam angannya sendiri. Bahkan, kucing yang sebenarnya sudah mau jadi malah terlihat berantakan karena dia kurang fokus.
Naira menarik lengan Daddynya. Berdiri dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Daddynya.
"Daddy sama Onty cantik sama-sama aneh. Dali tadi banyak diamnya kayak patung." Elang mendengarkan dengan seksama. "Kalo Nai lihat kalian ini saling mengagumi deh. Kayak di film-film itu. Kalian glogi ya?" Elang terdiam. "Tuh kan benel. Onty cantik emang cantik banget ya dad?"
"Iya." jawab Elang tanpa sadar. Naira bersorak senang.
"Yeeee. Nai udah pintel lihat olang jatuh cinta."
Ucapan itu sontak membuat kedua orang dewasa yang bersamanya tersedak ludah mereka dengan kompak. Suasana canggung antara mereka kembali merenggut.
*
*
*
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Delapan belas🍃...
...🌸Pada malam ke Delapan belas, para Malaikat berseru "Hai Hamba Allah! Sesungguhnya Allah ridho kepadamu dan kepada ibu dan bapakmu...
...🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...