
"Assalamualaikum." sapa Aira pada seseorang di seberang sana.
"Ini lo Ra?" seseorang di seberang terdengar terkejut sekaligus lega.
"Jawab salam dulu Na." Ya. Orang yang di hubungi Aira adalah Juna. Satu-satunya nomor yang dihafal Aira. Karena nomornya hanya beda satu nomor dengan nomor handphone miliknya.
"Eh iya ya. Wa'alaikum salam. Lo dimana Ra?"
"Gue sama mas Elang. Tadi nggak sengaja ketemu di warung biasa."
"...." di seberang sana terdengar suara Mikaila dan yang lain menanyakan kabar Aira yang diketahui menelfon Juna.
"Maaf Na udah buat lo sama yang laen khawatir."
"Tapi Lo baik-baik aja kan Ra?"
"Gue baik-baik aja. Tolong bilangin ke yang laen gue minta maaf."
"Kami semua cemas disini. Lo pergi tanpa pamit. Wajah lo tadi kelihatan kacau. Apalagi lo nggak bawa handphone. Nggak bawa apa-apa lagi. "
"Iya maaf. Gue lagi suntuk. Lo tahu sendiri lah. Gue nggak sadar udah sampai warung."
"Kebiasaan lo masih aja. Sekarang yang penting lo baik-baik aja."
"Hem. Na gue bisa minta tolong?"
"Nggak usah minta izin Ra."
"Lo emang sahabat terbaik gue."
"Ya."
"Tolong izinin gue hari ini. Terserah alasannya apa. Lo atur sendiri. Dan tolong bawa peralatan sekolah gue pulang. Ntar gue ambil."
"Motor lo?"
"Aish. Benar. Gue lupa tadi bawa motor."
"Ah biar dipake Wildan aja. Hari ini kan dia bawa mobil. Biar mobil nya dibawa Mika."
"Ok. Ntar ketemuan di kafe C ya. Gue males balik ke sekolah. Nggak bisa mikir gue."
__ADS_1
"Oke. Hati-hati Ra."
"Hem. Makasih Na."
tut tut tut
Aira menghela nafas lega. Untung saja dia punya sahabat yang selalu bisa diandalkan. Juna selalu ada buat Aira.
"Sudah?" tanya Elang melihat Aira kembali duduk di sampingnya.
"Sudah. Makasih mas." Aira mengangsurkan handphone Elang.
Elang siang ini benar-benar memberikan waktunya untuk Aira. Dia tadi meminta pelayan hotel untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Aira. Tidak mungkin dia berkeliaran di luar sana dengan serangannya. Kalau ketahuan satpol PP bisa dipakai nanti. Dia juga sudah mengabari Reno untuk mengcancel pekerjaannya di kantor. Awalnya Aira menolak. Tapi pria memaksa Aira untuk menerima sedikit bantuannya.
Siang ini Elang membawa Aira ke taman bermain. Memanjakan gadis di sampingnya itu dengan berbagai wahana. Untuk menghilangkan stres yang menumpuk di fikiran. Elang tahu gadis ini memepunyai banyak masalah uang disimpannya sendiri.
"Kita naik itu yuk mas!" tunjuk Aira pada roller coaster yang ada di depan mereka. Tanpa pikir panjang. Elang menarik tangan gadis itu untuk mengantre seperti orang lain disana. Untung saja sekarang sedang musim sekolah. Jadi Antriannya tidak begitu panjang.
Elang dan Aira berteriak tanpa beban tanpa merasa ada yang akan terganggu dengan teriakan mereka berdua. Mungkin memang itulah tujuan sebenarnya dari pendirian wahana yang memacu adrenalin itu. Berteriak dan mengumpat sesuka hati tanpa ada yang akan merasa terganggu.
Keduanya turun setelah lebih dari lima belas menit berputar di lintasan panjang yang penuh tantangan itu. Mereka berdua turun dengan tawa lepas mereka. Setelah mereka puas berteriak dan mengumpat. Menghilangkan sesak yang mengganjal di hati mereka.
Belum puas, mereka pun mengantre lagi untuk putaran selanjutnya. Dan selali lagi mereka menaiki wahana yang memicu adrenalin itu. Kini bukan suara teriakan yang mereka luapkan. Tapi suara tawa yang menggelegar. Beban mereka sudah terlempar pada putaran pertama tadi. Kini mereka menertawakan beberapa orang yang berteriak heboh karena ketakutan. Ada juga yang berteriak seperti mereka. Mungkin mereka juga ingin menghilangkan masalah dengan wahana itu. Mereka kini membayangkan betapa konyolnya mereka tadi. Mereka tadi bahkan mengumpat beberapa kali selama putaran pertama.
"Aira capek ketawa mas." kata Aira sambil memegang perut nya.
"Oke. Kita istirahat dulu."
Kini Aira duduk menunggu Elang yang pamit membeli minuman untuk keduanya. Tak lama kemudian Elang datang dengan membawa dua gelas minuman dingin. Terlihat bulir es mengalir dari gelas plastik transparan yang memperlihatkan jus jambu merah kesukaan Aira yang melihat penuh di dalam gelas lengkap dengan bongkahan es di dalamnya. Sungguh menggoda untuk segera di teguk.
"Wiiih segar nih." Aira meraih gelas yang disodorkan Elang padanya.
"Minumlah!" Elang sendiri segera menyedot jus mangganya.
"Lega... " Aira menghabiskan setengah gelas jasnya dengan sekali sedot. Elang mengusap kepalanya yang membuat si empunya memerah dibuatnya.
"Kamu menyukai jus jambu?"
"Ya. Saat aku kecil, aku sering memanjat pohon jambu di halaman rumah nenekku dan meminta mbok Jum untuk segera memblender jambu itu agar tidak ketahuan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku anak perempuan mas. Dilarang memanjat pohon. Para orang dewasa selalu memaksa untuk menuruti kemauan mereka. Aku sangat bandel saat itu. Walaupun sekarang masih sering bandel sih. Hehehehe"
Aira menghela nafas. Elang memperhatikan wajah gadis itu sendu. Mungkin mengingat masa lalunya.
"Aku sangat berbeda dengan kakakku. Dia sangat manis dan selalu menuruti kemauan papi dan mami. Kalau aku lebih suka memberontak. Lebih memilih melakukan apa yang aku sukai daripada terus menuruti kemauan papi dan mami yang membosankan."
"Bukankah semua orang itu berbeda Ra."
"Ya. Itu benar. Semua orang punya sisi dalam dirinya sendiri yang tidak boleh disamakan satu sama lainnya."
"Itu kah yang membuatmu kacau hari ini Ra?" Elang menggenggam tangan Aira. Aira terkesiap. Jantungnya berdetak lebih kencang sekarang. Rasa hangat dari telapak tangan Elang yang menggenggam tangannya sungguh terasa nyaman. Rasa hangat menjalar merasuk ke dalam hatinya.
"Kurang lebih." Aira memejamkan mata.
"Kamu harus ingat Ra. Masih banyak orang yang menerimamu apa adanya. Aku, teman-temanmu, anak-anak jalanan itu. Kamu tidak boleh hancur karena perkataan dari orang yang memandangmu dengan salah kaprah. Biarkan mereka. Yang penting hidupmu harus tetap berjalan. Senyummu harus terus berkembang."
"Mas benar. Masih banyak orang yang menyayangiku." Aira tersenyum. Elang menangkup pipi Aira. Membuat Aira memusatkan pandangannya pada Elang. Mata laki-laki itu sungguh indah penuh keteduhan. Aira merona sekarang. Diam-diam membayangkan jika bibir kissable milik Elang menyentuh bibirnya seperti dalam drama yang pernah Mikaila tonton di dekatnya mengingat jika ia dan Elang dalam posisi sedekat ini. Aira bahkan dapat merasakan hembus nafas beraroma mangga yang baru diteguk pria di depannya itu.
"Senyummu sangat indah Ra. Jangan pernah biarkan senyum itu hilang." kata Elang serius. Rasanya dia telah jatuh terlalu dalam sekarang. Segala sesuatu yang ada pada Aira membuatnya lagi dan lagi menambah kadar cinta pada gadis pertama yang telah menempati tahta tertinggi di hatinya.
Aira memalingkan wajahnya. Dia malu ditatap seperti itu. Dia sendiri merasa perasaan lain yang diam-diam muncul dalam hatinya. Setiap kata-kata yang dia dengar dari bibir tipis Elang membuatnya merasa berbeda. Rasanya ada yang menggelitik tubuhnya hingga bergetar.
"Ra. Izinkan aku masuk dalam hatimu. Izinkan aku ikut mengisi hari-harimu." Elang kembali meraih tangan Aira.
"Beri aku waktu mas. Ini terlalu cepat." Aira menunduk. Ia tak bisa membohongi perasaannya. Walaupun dia adalah gadis tomboy. Pada dasarnya dia juga seorang wanita yang mempunyai rasa cinta terhadap lawan jenisnya. Apalagi pesona Elang sulit ditolak. Belum lagi perhatian yang diberikan laki-laki itu menyentuh hatinya.
Tapi ada hati lain yang harus ia jaga. Juna. Sahabatnya itu juga merasa hal yang sama dengan Elang. Aira menjadi bingung. Masih banyak yang lebih dari dirinya. Kenapa kedua orang pria itu menyukai nya dan mengungkapkan perasaan padanya. Dia sungguh merasa tak enak untuk menolak. Tapi untuk menerima, entahlah. Dia ragu.
*
*
*
...Terima kasih udah mampir Reader π...
...Tinggalin jejak dengan cara like π...
...VOTE π...
...Rate πlima...
__ADS_1
...Dan Ramaikan Komentar biar Author semangat buat Up π€©...