
Elang membuka matanya ketika merasa ada yang mengusap kepalanya. Dia mendongakkan kepalanya. Matanya mengerjap melihat Aira tersenyum walau dengan keadaan lemah.
"Sudah bangun Ra?" Suara serak Elang khas bangun tidur. Aira hanya mengangguk. Elang mengusap kepala Aira.
"Apakah ada yang masih terasa sakit?" Aira menggeleng. Elang menyentuh beberapa bagian wajah yang lebam. Meyipitkan mata seperti ikut merasa nyeri akibat lebam itu.
"Sudah tidak sakit mas. Terima kasih."
"Mau minum?" Aira mengangguk. Elang mengambilkan minum yang berada di atas nakas untuk Aira . Membantu Aira untuk meminum air itu melalui sedotan.
"Mas kok bisa tiba-tiba datang tadi malam?"
"Mungkin itu yang dinamakan jodoh." ucap Elang bangga.
"Sempat-sempatnya ya."
"Itu benar Ra. Sejak sore perasaanku sudah tidak enak. Tapi aku masih ada meeting dengan tuan Nagata. Jadi setelah selesai aku langsung nyusul kesini."
"Terima kasih. Kalau mas nggak datang mungkin aku sudah.." Elang menutup bibir Aira dengan telunjuknya.
"Stt. Kamu nggak boleh ngomong begitu. Mas nggak akan Biarin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu."
"Gombal."
"Nggak papa kan kalau gombalnya sama kamu."
"Aku dijadiin latihan gombal nih ceritanya."
"Ya nggak lah Ra. Aku belum pernah gombalan cewek lain dan nggak akan pernah."
"Pembohong."
"Beneran Ra. Mas sukanya cuma sama kamu."
"..."
"I love you Ra."
"..."
"Kamu dengar mas kan Ra?"
"Aku dengar."
"Jawab dong Ra."
"Emang mas Elang tanya apa sama Aira?"
"Kamu juga cinta nggak sama mas?"
"Penting ya dijawab?" Elang mengangguk dengan antusias. Dia ingin mendengar sendiri dari mulut Aira bahwa gadis itu juga mencintainya.
"Mas Elang pasti sudah tahu jawabannya. Mas Elang pasti bisa merasa dari sikapku. Pandangan mataku.. " Elang segera memeluk Aira. Dia tidak membutuhkan pengakuan langsung dari Aira. Dia sudah tahu jawabannya. Ia sudah yakin sekarang bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Walau Aira tidak mengatakannya secara langsung. Dia tahu dari sikap dan pandangan Aira yang memandangnya dengan penuh cinta. Sama seperti dirinya.
"I Love You too." bisik Aira pelan. Ia mengembangkan senyumnya. Jujur. Dia sangat malu mengakui perasaannya. Tapi dia sendiri tidak dapat mengelak rasa yang hadir dalam hatinya.
"Kamu bilang apa barusan Ra?"
__ADS_1
"Memangnya mas Elang dengar apa?"
"Aku dengar kamu bilang I Love You Too. Apa Mas salah dengar ya?"
"Telinga mas Elang ternyata sangat peka. Padahal Aira tadi cuma berbisik pelan." senyum terkembang di bibir Aira yang masih pucat. Elang tersenyum senang. Dia mengeratkan pelukannya pada Aira. Seperti takut jika gadis itu pergi meninggalkannya.
Bukankah Rasa cinta itu seperti pencuri yang diam-diam mengambil setengah hati yang dimiliki seseorang. Membuatnya tidak berarti tanpa kehadiran pasangannya. Membuatnya lemah jika terpisah.
Aira sudah merasakan tersiksanya hatinya saat memendam rindu pada laki-laki yang kini tengah memeluknya itu. Sekarang dia akan memuaskan perasaan rindunya dengan menghirup aroma tubuh yang sering dia cium ketika berada di dekat Elang sampai puas.
"Jadi mulai hari ini kita jadian Ra?"
"Emm. Mungkin bisa dibilang seperti itu."
Elang mencium kening Aira lama. Membuat gadis itu terdiam membeku. Gelayar aneh yang menggelitik hatinya tiba-tiba terasa saat bibir hangat itu mendarat di keningnya. Aira menutup mata menikmati ciuman lama yang terasa menenangkan jiwa itu.
"Aku sangat mencintaimu Ra."
"Boleh aku tanya kenapa mas mencintai Aira?"
"Kamulah satu-satunya gadis yang membuatku tersenyum. Membuatku menjadi diriku sendiri. Membuatku nyaman. Membuatku kembali bersemangat. Membuat hidupku lebih berwarna."
"Banyak sekali alasannya mas."
"Tentu saja. Sejak pertama kita bertemu, kamu selalu meninggalkan kesan yang menarik untuk mas. Membuat mas terpesona lagi dan lagi. Kalau kamu sendiri?"
"Emm. Aku cuma punya satu alasan."
"Apa?"
Elang menghangat. Gadis tomboy yang sejak pertama bertemu dengannya sudah mampu membuatnya tertarik akhirnya dapat ia luluhkan. Dia sangat bahagia karena ternyata Aira juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Aira dan Elang sama-sama merasakan cinta untuk yang pertama kalinya. Cinta itu manis. Walau kadang akan muncul banyak rasa yang menyertai, namun jika dilalui bersama akan dapat meneguk manisnya hingga kebahagiaan sejati akan dapat dirasa.
Sekarang, Elang sedang menyuapi pacar yang baru dia resmikan satu jam yang lalu dengan keadaan yang sama sekali tidak indah. Gadisnya sedang terbaring sakit dengan kaki di perban. Dengan background kamar rumah sakit serba putih yang cenderung mengerikan. Apalagi dengan bau obat-obatan yang menyengat indra penciuman. Sungguh keadaan yang ama sekali tidak mendukung moment jadian mereka yang seharusnya paling romantis.
Dalam hati Elang berjanji akan memberikan moment yang indah dan romantis untuk Aira suatu hari nanti. Agar gadisnya merasa spesial.
tok tok tok
Tepat setelah Aira menghabiskan makanannya sampai tandas, terdengar ketukan pintu. Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan memperlihatkan Mikaila dan Melati keluar dari balik pintu. Senyum kedua gadis itu terkembang setelah melihat keadaan Aira yang sudah jauh lebih baik. Setidaknya teman mereka sudah tidak sepucat tadi malam.
Elang segera minggir untuk memberi ruang untuk kedua teman Aira mendekat. Dia sendiri meletakkan piring di atas nakas dan pamit keluar untuk menemui dokter.
"Gimana keadaan lo Ra?"
"Hem. Lumayan."
"Seneng banget sih yang dapat perawat tampan." goda Mikaila. Pipi gadis itu merona karena malu. Melati tak luput memperhatikannya.
"Kak Elang itu pacarnya Aira ya?" tanya Melati. Jujur dia masih belum mengerti hubungan antara mereka semua. Terutama Aira, Juna dan sekarang malah muncul lagi satu pria yang juga tampan, Elang.
"...." Mikaila diam. Dia juga tidak tahu sebenarnya ada hubungan apa diantara Elang dan Aira. Keduanya memang kelihatan mempunyai chemistry. Tapi dia tidak bisa langsung memutuskan tentang hubungan mereka bukan? Dia juga belum mendengar langsung dari mulut sahabatnya itu.
"Hehehe." Aira terkekeh. Dia merasa geli melihat ekspresi Mikaila yang penuh selidik memandangnya. Dari tadi dia memang tidak bisa menutupi kegembiraan hatinya. Kaki dan badannya boleh merasa sakit. Tapi hatinya jelas berbunga-bunga sekarang.
"Jangan-jangan Lo?"
__ADS_1
"St. Jangan bilang yang lain dulu oke!"
"Jadi beneran Ra?" Aira mengangguk. Senyum kembali tersungging. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya untuk menahan malu. Seperti anak ABG yang baru saja jadian. Oh ayolah! Itu memang benar-benar terjadi pada Aira. Nyatanya dia adalah ABG yang memang baru pertama merasakan cinta dan baru pertama kali Jadian.
"Selamat ya Ra." Mikaila memeluk Aira. Diikuti dengan Melati.
"Jangan bilang-bilang yang lain duku Mik. Kalau gue sudah siap pasti gue akan cerita."
"Bagaimana dengan Juna Ra?"
"Dia itu sahabat terbaik gue Mik. Gue nggak akan tega menyakitinya. Gue yakin perasaannya hanyalah perasaan sementara dan akan hilang dengan mudah setelah dia menemukan yang cocok di hatinya." Aira melirik sebentar ke arah Melati. Mencari tahu perubahan ekspresi pada teman barunya itu. Nihil. Gadis itu masih terlihat datar dan cuek. Sepertinya benar jika dia sudah menularkan ketidak terpesonaannya atas pesona Juna pada Melati.
"Gue yakin Juna akan segera mendapatkan cinta yang lain. Yang dapat menerima dia sepenuhnya. Iya kan Mel?"
"Ah Iya. Juna kan tipe-tipe cowok idaman. Dia akan dengan mudah mendapatkan cewek." jawab Melati yang mencoba ditebang mungkin.
"Lo tahu Mel, Juna itu tidak sesimple kelihatannya. Dia itu pemilih dan menurut gue pilihannya itu adalah orang yang berbeda."
"Aira benar. Lo tahu Mel. Juna sebenarnya suka pada Aira. Bukankah aneh?"
"Sial Lo! Itu artinya lo jelekin gue." Aira mendengus. Bukankah secara tidak langsung jika Mikaila menganggap Aira aneh. Sial memang temannya satu itu!
"Hahahaha. Yang aneh tu Juna Ra. Dia suka sama lo, tapi masih perlakuin lo kayak teman cowoknya yang lain."
"Tepat! Itulah yang gue maksud. Perasan Juna ke gue itu bukan cinta. Tapi hanya sebatas kenyamanan. Dia merasa nyaman jika ada di dekat gue. Itu saja."
"Benar-benar. Gue juga jadi ngerasa gitu sekarang. Padahal kemarin-kemarin gue pikir Juna itu beneran suka sama Lo Ra."
"Siapa bilang kalau dia benci gue."
"Gimana menurut lo Mel?"
"Aku nggak tahu. Aku kan masih belum kenal kalian terlalu lama."
"Benar juga. Baiklah, jika lo nanti udah kenal kita lebih dalam dan lo udah nemuin jawabannya, Lo bisa bilang sama gue atau Aira."
"Kalian masih mau temenan sama aku?"
"Hahahaha. Mel Mel lo lucu sekali. Tentu saja kami mau. Berandal Sekolah akan semakin berwarna dengan gabungnya lo."
"Benar kata Mikaila."
"Tapi yang lainnya?"
"Mereka juga pasti akan setuju kok. Tenang saja."
"Terima kasih."
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😍...
...Jangan Lupa Like 👍Ea......
__ADS_1