
"Apakah aku masih belum ada di dalam hatimu El?" tanya seorang pria tampan pada gadis cantik di depannya. Sang gadis hanya terdiam mendengar pertanyaan dari tunangannya.
"Maafkan aku Mas. Kamu tahu kan perasaan tidak bisa dipaksa. Aku sudah berusaha menerimamu. Tapi jujur aku belum bisa mencintaimu."
"Saat ini bahkan tahun ketiga pertunangan kita. Apa kamu masih belum siap mengikat hubungan denganku?"
Elisya menghela nafas. Tiga tahun lalu dia menerima pinangan dari laki-laki di depannya itu karena dia merasa tidak enak hati menolak permintaan ibu panti yang telah merawatnya dengan ikhlas.
Arkana Prabu Al-Barak adalah seorang pria tampan berusia tiga puluh tahun. Sudah empat tahun dia menanti cinta seorang Elisya. Dia sama sekali bukan orang biasa. Dia adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Al-Barak Grup yang ada di kota A, kota di pesisir ibu kota. Sebuah perusahaan yang hampir setara dengan AMT Globalindo.
Sebenarnya, bukan hanya tidak adanya cinta di hati Elisya yang membuatnya berulang kali menolak rencana pernikahan mereka. Tapi karena Devina, ibu dari Arka menolak dengan tegas hubungan mereka. Devina bahkan tak pernah mengakui bahwa Elisya adalah tunangan anaknya selama tiga tahun ini.
Tidak hanya sekali dua kali wanita paruh baya yang masih kelihatan sangat cantik itu menemuinya. Meminta pada Elisya untuk meninggalkan anaknya. Anaknya terlalu sempurna untuk gadis kampung seperti Elisya. Devina selalu mengancam Elisya menggunakan panti asuhan yang selama ini menampungnya. Devina akan meratakan panti jika sampai Elisya menerima pernikahan nya dengan Arka.
Banyak gadis yang sederajat yang sudah dikenalkan oleh Devina pada Arka selama ini. Tapi, pria itu masih setia menanti tumbuhnya cinta dari gadis panti asuhan sederhana seperti Elisya yang entah sampai kapan penantian itu akan berlangsung.
"Aku yakin alasanmu bukan hanya itu El." Arka memegang tangan Elisya yang ada di atas meja. Mengelus punggung tangannya. Menatap mata gadis di depannya. Mencoba mencari kebenaran disana.
"Sudahlah Mas. Jangan dibahas." Elisya memalingkan wajahnya.
"Aku hanya ingin kepastian darimu El."
"Sudah pernah aku bilang mas. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Hubungan ini tidaklah benar. Ini sangat sulit untukku."
"Kita jalani bersama El. Jangan pernah berniat untuk memutuskan hubungan ini Elisya. Kamu tahu kan aku sangat mencintaimu." ucap Arka tulus. Elisya bisa merasakan kesungguhan cinta di mata pria tampan di depannya.
Jika dia wanita yang lain, pasti akan sangat senang menerima perlakuan manis itu. Tapi Elisya tidak sama dengan gadis yang lain. Dia hanyalah gadis panti yang tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan. Ia merasa tidak pantas untuk Arka yang sangat sempurna.
Pria yang menjadi tunangannya itu adalah laki-laki yang paling baik yang pernah ia temui. Mereka bertemu empat tahun lalu saat Elisya mencari donatur untuk mengobati salah satu anak panti yang memiliki penyakit bawaan langka.
Saat itu Elisya bersama Naina kehujanan saat sampai di depan kantor Al-Barak. Banyak yang memandang sinis kepada mereka. Tapi siapa sangka, sang bos mereke sendirilah yang membantu kedua gadis itu. Membawanya masuk dan memberikan baju ganti kepada keduanya.
Tak sampai disitu, Arka juga bersedia membantu membiayai pengobatan adik mereka. Namun sayang, setelah menjalani dua tahun pengobatan, Anak itu kalah dengan penyakitnya.
__ADS_1
Karena jasa itulah Elisya menerima pinangan Arka walaupun belum mencintainya. Dulu dia menyangka cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun sampai kini cinta itu belum ada untuk Arka. Elisya masih terjebak dengan kisah masa lalunya.
"Hubungan ini tidak akan berhasil mas. Carilah wanita yang tepat untukmu."
"El.. "
"Maaf mas. Aku harus bekerja." Elisya berdiri. Elisya dan Naina bekerja di kafe itu menjadi penyanyi dari sore sampai malam hari.
Arka memandangi punggung Elisya yang berjalan ke arah panggung di sudut ruangan. Di sana teman-teman nya yang lain sudah menunggu.
"Aku tahu Mommy lah yang membuatmu menjauhiku Elisya. Mengapa kamu menyerah? Kita akan mendapatkan restu mommy jika kita bersama." gumam Arka.
Gadis cantik yang sedang bernyanyi itu selalu membuatnya terpesona. Sikap lemah lembutnya selalu meluluhkan hatinya. Kesempurnaan gadis itu selalu membuatnya bangga karena dialah tunangannya.
Arka sangatlah baik. Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengantar pulang Elisya dan Naina yang juga tinggal di panti.
Arka duduk di teras panti setelah mengantar Elisya. Dia duduk ditemani Bunda Fatma, pengasuh panti asuhan Kasih Bunda tempat tinggal Elisya.
"Bagaimana Nak?" tanya Bunda Fatma setelah beberapa lama keheningan menguasai keadaan.
Bunda Fatma mengetahui alasan penolakan Elisya. Tapi dia juga tidak bisa membantu. Di sisi lain dia kasihan terhadap Arka yang sangat setia menunggu. Di lain sisi dia juga khawatir terhadap panti asuhan yang telah lama ia kelola. Selain itu, ia juga tahu bahwa Elisya masih terjebak dengan kisah masa lalunya. Bunda Fatma yakin bahwa saat ini gadis yang mereka bicarakan pasti sedang berdiam diri di tepi pantai yang ada di belakang Panti.
Setelah Arka pulang, bu Fatma menyusul Elisya di pantai. Dan memang benar dugaanya bahwa gadis itu berada disana. Dia tahu betul jika Elisya sedang banyak fikiran gadis itu akan menyendiri.
"Elis." Elisya menoleh mendengar suara lembut itu.
"Bunda." Elisya segera memasukkan kalung yang dari tadi dia pandangi ke dalam saku celananya.
"Kamu masih terikat dengan kalung itu?"
Elisya meraba liontin kalung yang ada di sakunya. Tangannya bahkan belum rela melepaskannya.
"Ikhlaskan semuanya Nak. Kasihan Nak Arka." Elisya diam. "Jika kamu masih terikat dengan kalung itu, kamu tidak akan bisa membuka hatimu untuk nak Arka."
__ADS_1
"Maaf bunda. Tapi ini sulit. Aku merasa ada yang istimewa dengan liontin ini."
"Ini sudah lima tahun berlalu setelah kejadian itu. Dan seseorang bahkan tidak pernah mencarimu. Bunda yakin liontin itu bukanlah sesuatu yang penting seperti selama ini kamu yakini. Jika memang benar kalung ini pemberian dari orang yang spesial seperti yang kamu yakini, dia pasti sudah mencarimu dan menemukanmu."
Elisya hanya diam. Yang diucapkan Bu Fatma mungkin juga benar. Tapi dia selalu meyakini jika kalung dengan liontin bertuliskan E dan A itu adalah pemberian dari seseorang yang sangat spesial.
Ya, Elisya Anandita tidak lain adalah Aira Salsabila Raharja. Yang dikira meninggal lima tahun yang lalu.
Flash Back on....
Saat perjalanan ke apartemen Jasson dan Jacky, di tengah jalan Aira bertemu dengan seorang gadis yang sedang berjalan di tepi jalan. Aira membawa gadis itu bersamanya karena saat ditanya ternyata gadis itu tidak lancar berbicara.
Maka dari itu, gadis itu menuliskan namanya di lengan Aira. Elisya Anandita adalah nama gadis dengan keterbatasan kemampuan berkomunikasi yang dibawa Aira. Dialah yang meninggal saat kecelakaan itu. Sedangkan Aira masuk ke dalam sungai dan terbawa sampai ke pantai dan diselamatkan oleh Bunda Fatma.
Aira tidak sadarkan diri selama satu minggu. Saat Aira sadar ternyata dia mengalami amnesia karena kepalanya mengalami benturan yang keras. Akhirnya Bunda Fatma membuat pengumuman bahwa dia menemukan gadis bernama Elisya Anandita sesuai dengan yang tertulis di lengan gadis itu ke kantor polisi. Tapi sampai saat ini belum ada yang mencarinya.
Flash Back off....
"Lupakanlah masa lalumu nak. Kamu berhak bahagia." Bunda Fatma menepuk pundak Elisya sebelum pergi dari sana. Meninggalkan Elisya dengan kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya terjadi dalam masa lalunya yang terlupakan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
...Jangan lupa like👍, VOTE😁...
...dan rate⭐ lima ya...
...Salam sayang😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...