Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 69. Jones Dan Nyonya Jones


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang melelahkan untuk Melati. Entah mengapa Anak didiknya yang rata-rata masih balita itu seperti sedang menguji kesabarannya hari ini.


Masih sepuluh menit dia memulai pelajaran, seorang siswa laki-laki sudah buang air besar di celana. Membuat kelas yang harusnya nyaman ditempati menjadi bau dan membuat mual hingga menyebabkan anak-anak yang lain muntah.


Akhirnya, Melati mengajak anak didiknya untuk belajar di aula sekolah. Memindahkan mereka bukanlah perkara yang mudah. Drama senggol menyenggol, serta rebutan tempat duduk mewarnai drama pindah kelas. Beberapa anak menangis karenanya.


Sebenarnya, Satu kelas diajar oleh tiga orang guru, tapi karena kekacauan yang terjadi membuat Melati sebagai guru inti meminta dua orang rekannya yang bekerja dibagikan TU untuk membantu.


Baru selesai dengan proses pindah yang cukup menguras tenaga dan kesabaran. Putri kesayangan Elang yang menjadi salah satu muridnya membuat ulah. Melati dibuat geleng-geleng kepala mendengar alasan tidak masuk akal yang keluar dari bibir kecil Naira.


Flash Back on....


Naira sedang berada di kantor setelah membuat seorang temannya menangis karena dijambak olehnya. Dia sedang diinterogasi sekarang. Tapi lihatlah watados (wajah tanpa dosa) yang dia tampilkan. Duduk ditemani Weni, Naira bahkan tersenyum penuh kemenangan melihat teman di sofa sebelahnya yang sedang dipeluk untuk ditenangkan oleh seorang guru.


"Naira, sekarang bilang sama bu Mel kenapa kamu menarik rambut Tia?" tanya Melati dengan lembut. Khas guru taman kanak-kanak.


"Abisnya Tia bilang Nai pacalnya Dion. Kan Bu Mel tau kalo Nai itu istlinya om Lidwan." Alasan macam apa ini yang keluar dari bibir anak usia empat tahun. Main jambak rambut teman karena alasan receh seperti ini.


Semua guru yang mendengar alasan Naira tidak habis fikir dengan pola pikir gadis cilik berusia empat tahun di depan mereka itu.


"Lain kali Naira tidak boleh seperti itu lagi ya. Kan kasihan temannya kesakitan." nasihat Melati lagi.


"Nai nggak janji Bu Mel. Kalo ada yang bilang Nai selingkuhi om Lidwan ya Nai malah."


Melati menepuk dahinya pelan. Sejauh apa pemikiran yang diserap gadis kecil ini. Apakah selama di rumah dia ikut menemani pengasuhnya menonton serial drama di televisi? Atau Apakah selama dia berada diantara dia dan teman-temannya membuat tingkat kematangan pola pikir Naira jauh melampaui batas anak seumurannya.


"Ya sudah, sekarang Naira minta maaf dulu sama Tia."


"Nai nggak mau. Enak saja dia menuduh Nai selingkuh." Haduh.... ini anak dikasih makan drama kali ya? Kak Elang tolong anaknya dikondisikan.


"Kalau Naira nggak mau minta maaf, nanti Bu Mel akan bilang sama Om Ridwan kalau Naira nakal. Biar Om Ridwan nggak mau main sama Naira."


"Jangan dong Bu Mel. Kalo Om Lidwan cele-in Nai gimana? Nanti Nai jadi pelakol Om Juna lho! Bu Mel mau?"


Tak!


Haduh nih anak. Diancam ganti ngancam. Pake nyebutin merek segala. Padahal kan Melati selalu merahasiakan masalah pribadinya.


Kini semua dewan guru melihat Melati dengan tatapan butuh penjelasan. Kehidupan Melati selalu menarik bagi mereka. Mengingat guru cantik itu tidak pernah ketahuan jalan bersana laki-laki.


Flash Back off....


Melati masih bersantai di dalam kantor sambil mengerjakan beberapa laporan penilaian yang dilakukan minggu ini. Besok adalah hari Sabtu, anak-anak pulang lebih awal dan begitu juga dengan gurunya, maka dari itu Melati harus menyelesaikan laporannya agar besok dia memiliki waktu senggang untuk me time nya. Apalagi dia dan Mikaila sudah janjian akan nge-mall besok.


"Bu Mel, lagi dekat sama laki-laki ya?" tanya Dila, rekannya sesama guru. Pertanyaan yang mewakili lima belas wanita yang ada disana. Buktinya, semua memandang Melati menunggu jawaban yang keluar dari mulut guru cantik itu.


"Tidak. Kan saya dekatnya sama kalian. Emang kalian disini ada yang laki-laki ya?" jawab Melati asal tanpa menoleh sedikitpun. Dia hanya fokus pada laptop di depannya sehingga tidak mengetahui tatapan tajam dari para fans yang menunggu jawabannya.


"Bukan dekat seperti ini yang saya maksud Bu Mel."


"Lalu dekat seperti apa maksudnya?" Melati menjawab sekenanya. Dia masih terus memindahkan tulisan di catatannya ke dalam laptop.


"Siapa tadi kata Naira ya? Oh ya Juna. Ya. Namanya Juna." lima belas orang lainnya semakin menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


Melati berhenti sebentar. Nama itu selalu membuat hatinya bergetar. "Dia hanya teman."


"Benarkah?"


"Em." Melati mengangguk. Memang "dia" hanya teman. Meskipun dia sangat ingin lebih dari itu. Tapi sampai sekarang hubungan mereka tidak jelas. Teman, rasa pacar. Bisa dikatakan seperti itu.


"Bu Mel. Saya punya anak cowok yang ganteng lo. Udah mapan. Kerja di kantor Diwangka sebagai manager. Kalau ibu mau jadi menantu saya, nanti saya kenalkan dengan anak saya." kata Bu Retno, kepala sekolah taman kanak-kanak itu.


"Maaf bu Retno, saya masih belum kepikiran ke sana. Baru juga kerja bu. Masih ingin bahagiain orang tua." tolak Melati halus. Banyak rekan guru yang ingin menjodohkan Melati, entah itu dengan anaknya, keponakannya atau bahkan anak temannya.


"Yah sayang sekali. Padahal Bu Mel tipe menantu idaman banget lho. Kalau suatu saat Bu Mel sudah ada rencana bisa langsung hubungi saya ya." Melati tersenyum. Wanita paruh baya di depannya menawarkan anaknya seperti menawarkan barang saja.


Wanita cantik yang lemah lembut, sopan, pintar dan juga keibuan selalu jadi menantu idaman bagi setiap mertua. Itulah Melati sekarang. Namun di usianya yang sudah dua puluh tiga tahun dia masih betah dengan status Nyonya Jones.


"Bu Mel dekat ya sama Daddy nya Naira?" kali ini Bu Agnes angkat suara. Elang memang terlihat menawan. Apalagi dia selalu menyempatkan waktu untuk menjemput putri kesayangannya. Semakin membuat citra Elang sebagai suami idaman tersemat pada dirinya. Sedangkan Safna tidak pernah menampakkan dirinya di sekolah Naira sehingga banyak yang mengira bahwa Elang itu duda.


"Lumayan."


"Kenalin dong!" Bu Agnes semangat.


"Buat apa Bu? Kak Elang itu ada istrinya lho! Galak lagi." Tidak ada yang bisa mengingkari itu. Safna memang selalu galak pada wanita yang mendekati Elang. Dan itulah satu-satunya yang disyukuri Elang tentang pernikahannya. Setidaknya ada yang menjauhkan dirinya dari para wanita genit yang selalu menggodanya secara terang-terangan.


"Tuan Elang itu bukan duda?"


"Bukanlah."


"Yah! Saya kira duda. Sayang banget."


Melati menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan rekannya. Elang memang kelihatan hangat pada Naira dan orang-orang dekatnya. Tapi hanya sebatas itu mereka mengenal Elang. Mereka tidak tahu jika Elang sangat menghindari yang namanya perempuan di luar sana.


"Siapa pak? Kurir ya? saya tidak memesan barang."


"Bukan kurir bu. Orangnya keren, cakep lagi kok dibilang kurir sih." pak Satpam tidak terima jika laki-laki tampan yang tadi sampai membuatnya ikut terpesona dibilang kurir.


"Siapa sih?" tanya Melati pada dirinya sendiri sambil menggeser laptopnya dan bangun dari kursi.


Melati keluar dari kantor diikuti satpam itu. Enam guru yang masih single langsung ikut mengintip dari balik pintu. Melihat siapa tamu tampan yang dibilang pak Satpam bernama Cahyo itu.


"Widiiih. Cakep gila ya..." ucap bu Agnes.


"Iya. Pasti itu deh cowok yang dibilang Naila tadi." ucap Dila.


"Sebelas dua belas ya dengan daddy nya Naira."


"Iya"


Di depan pagar sana, Melati sedang berbicara dengan Juna. Melati tidak menyangka jika Juna akan menemuinya di sekolah. Keduanya duduk berdampingan di bemper mobil.


"Tumben kesini Na." kata Melati sambil menyodorkan minuman yang dia pesan dari penjual es di depan sekolahnya.


"Emang nggak boleh ya?"


"Bukan gitu. Tumben aja."

__ADS_1


"Aku kangen. Udah seminggu nggak ketemu kamu."


"Uhuk Uhuk." Melati tersedak minumannya.


"Hati-hati dong Mel. Kayak anak kecil aja. Naira aja bisa minum dengan baik." Juna menepuk pelan punggung Melati.


Yah. Anak itu selalu menjadi kiblat bagi Melati dan teman-temannya sekarang. Apa-apa selalu saja dihubungkan dengan gadis kecil menggemaskan itu.


"Besok anak-anak mau liburan ke Dirgantara Resort."


"Yang dimana?"


"Di daerah S."


"Mikaila gimana? Soalnya aku sama Mikaila kemarin janjian kalo besok mau nge-mall."


"Kamu ke Mall sama aku aja sekarang. Mikaila tadi juga bilang gitu. Terus sekarang dia juga ke mall duluan sama Wildan."


Melati sedikit kecewa. Tujuan dia ke mall besok bukan hanya untuk mencari barang-barang keperluan. Tapi lebih untuk jalan-jalan dengan teman cewek sambil ngobrol. Mikaila gimana sih.


"Kamu nggak suka ke mall sama aku?"


"Suka kok. Ya sudah aku ambil tas sama laptop dulu." Melati bangun. Juna mengelus kepala Melati sebelum gadis itu pergi.


Juna memandangi punggung Melati yang berjalan menjauhinya. Sudah lima tahun perasaan itu masih ada. Bahkan rasa cinta itu semakin lama semakin bertambah.


Tapi dia masih belum percaya diri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Baginya, yang penting sikapnya pada Melati sudah cukup menunjukkan jika dia memiliki perasaan pada guru cantik itu. Namun berbeda dengan Melati, dia selalu merasa digantung. Merasakan begitu banyak cinta tanpa adanya pengakuan. Membuatnya galau setiap hari.


*


*


*


Hayo Readers. Di like dong! 👍


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Keenam🍃...


...🌸Pada malam Keenam, Allah Ta'ala akan memberikan pahala seperti orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...

__ADS_1


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2