Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 93. Dunia Mikaila 2


__ADS_3

Mikaila dibantu Dita sedang menghafalkan dialog yang akan ia ucapkan dalam take selanjutnya. Saat ini Mikaila sedang syuting film garapan Matheo Suseno. Mikaila alhirmya berhasil mendapatkan peran utamanya.


"Selanjutnya take bagian Mikaila. Ayo siap-siap." kata Sonia, asisten sutradara mengingatkan Mikaila dan Dita. Mendengar perkataan sang astrada Dita segera meminta kru bagian make up artis untuk membenahi penampilan Mikaila yang sedikit berkeringat kerena cuaca yang panas.


Lokasi syutingnya berada di pinggir jalan. Jadi membuat para artis Berkali-kali harus di make up ulang.


Setelah take sebelumnya selesai, Mikaila segera masuk untuk memulai aktingnya. Ini adalah film pertama yang dimainkan oleh Mikaila. Tapi kemampuan akting gadis itu mampu membuat sang sutradara puas. Berkali-kali ia mendapatkan pujian dari sutradara idolanya juga para kru dan artis yang ikut dalam pembuatan film itu.


"Kamu memang hebat Mika." pujian itu Mikaila dapatkan dari Roki setelah adegan berakhir, artis terkenal yang menjadi lawan mainnya. Sifatnya yang ramah dan perhatian membuatnya semakin digilai selain wajahnya yang tampan.


"Terima kasih. Ini semua berkat kalian semua. Aku banyak belajar disini."


"Kamunya yang hebat. Artis pendatang yang berbakat. Aku yakin sebentar lagi karier kamu akan melonjak."


"Aamiin."


"Oke semua. Cukup untuk hari ini. Besok kita kumpul di lokasi berikutnya. Kalau besok lancar. Bisa jadi besok syuting terahir kita." Kata Theo yang disambut penuh sorak sorai oleh para kru. Walaupun terlihat santai, tapi syuting memerlukan energi lebih.


"Oh ya untuk Mikaila dan Roki, kalian harus lebih belajar membangun chemistry kalian hari ini. Jadi besok Akting kalian akan tampak natural dan dapat menyentuh pemirsa." Theo memandang Mikaila dan Roki bergantian. Dia berharap lebih pada kedua artisnya itu.


Mikaila dan Roki baru beberapa hari kenal. Jadi maklum jika keduanya masih ada rasa canggung. Untuk adegan-adegan sebelumnya itu tak masalah karena sifat Niken yang diperankan Mikaila memang sedikit judes, sedangkan karakter Zoe seorang tuan muda yang diperankan Roki bersifat songong. Jadi kebanyakan adegan adalah pertengkaran keduanya.


Tapi mulai besok, mereka harus mulai beradegan romantis. Jadi chemistry keduanya harus terlihat alami.


"Mika, bisakah kita keluar Berdua?" tanya Roki ketika mereka berjalan menuju parkir tempat mobil mereka berada.


"Boleh." jawab Mikaila ragu. Dia belum pernah berjalan berdua dengan laki-laki lain selain Wildan dan teman-temannya.


"Aku ingin kita saling mengenal Mika. Besok kita harus melakukan adegan romantis. Kalau kita tidak saling kenal, aku ragu kita bisa memenuhi kemauan bang Theo." Roki mengerti ketidak nyamanannya Mikaila.


"Baiklah. Ini juga penting untukku." Roki tersenyum mendengarnya.


"Dit, kamu pulang naik taksi aja ya."


Belum sempat Dita menjawab, Roki sudah menjatuhkan keputusannya. "Nggak perlu. Dita biar bawa mobil. Nanti aku yang antar kamu pulang. Gimana?"


"Baiklah." Mikaila pun masuk ke dalam mobil Roki setelah dibukakan pintunya oleh si empunya mobil.


Dita memandang mobil yang membawa Mikaila pergi sebelum dia juga masuk ke dalam mobil Mikaila yang akan mengantarnya pulang.


Di dalam mobil Roki, Mikaila meminta izin untuk menghubungi Wildan. Dia berfikir daripada merepotkan orang yang baru ia kenal, ia lebih baik memibta tolong Wildan untuk menjemputnya. Sekalian untuk memberitahu kekasihnya itu. Ia tidak mau jika Wildan salah faham terhadapnya.


"Iya Beib. Nanti jemput aku disana ya." kata Mikaila setelah meminta izin dan memberitahukan restoran yang akan ia datangi.


"See you." Mikaila mengakhiri panggilannya dengan tersenyum. Dia sangat bersyukur mempunyai Wildan yang selalu ada untuknya.


"Pacar kamu?" tanya Roki.


"Ya."


"Sepertinya kamu sangat mencintainya?"


"Begitulah. Kami sudah pacaran sejak masih SMA."


"Lama juga ya. Hebat. Jarang-jarang lho ada hubungan yang bertahan selama itu."

__ADS_1


"Ya. Tujuh tahun bersama tidaklah mudah. Kami sering berdebat untuk masalah kecil. Tapi itulah yang membuat hubungan kami terasa manis."


Tak lama mereka sampai di restoran. Roki segera memakai masker dan kacamata hitamnya yang besar. Artis terkenal sepertinya harus mau berepot ria agar tidak ribet oleh fans yang tersebar.


"Kamu juga akan melakukan ini jika film ini sudah realiase." kata Roki saat Mikaila memandang Roki yang terlihat sangat ribet dengan segala perlengkapan menyamarnya.


Mikaila terkekeh. "Untuk itu sekarang aku akan menikmati hari bebasku dengan puas."


"Ayolah masuk. Hidung aku sudah pengap ini pengen bernafas bebas."


Keduanya masuk ke dalam private room yang telah Roki pesan. Mereka makan sambil berbicara banyak hal. Mikaila yang memang gampang akrab mudah saja menyesuaikan diri dengan orang yang baru beberapa kali bertemu dengannya.


Selesai makan, Sambil menunggu Wildan yang akan menjemput Mikaila mereka memilih mengobrol untuk mendapatkan chemistry untuk syuting besok. Mereka membicarakan banyak hal sebelum Handphone milik Mikaila berbunyi.


"Ya beib."


"...."


"Ooh. Ya udah nggak papa. Aku bisa naik taksi."


"...."


"Iya. Semoga lekas selesai."


"...."


"Oke. Miss you too Beib."


Mikaila mendesah. Tiba-tiba saja ada kasus yang harus segera ditangani oleh Wildan. Jadi dengan terpaksa membatalkan janjinya untuk menjemput Mikaila. Padahal mereka berencana akan jalan ke Mall sebelum pulang. Tapi apa daya jika tugas mulia sudah memanggil.


"Iya. Ada kasus yang harus dia selesein." jawabnya lesu.


"Pacar kamu polisi?"


"Bukan. Dia pengacara. Tapi ini kasus pembunuhan yang udah beberapa tahun yang lalu yang baru terungkap. Jadi dia perlu kerja keras sama detektif."


"Hebat ya pacar kamu."


"Hm. Dia emang hebat. Cita-cita dia dari dulu emang pengen jadi pengacara sukses. Katanya ingin bantu banyak orang."


"Mulia."


"hem. Ya sudah aku pulang dulu."


"Daripada naik taksi mending aku antar kamu. Aku kan yang ngajak kamu kesini tadi. Masak iya aku Biarin kamu pulang naik taksi?"


"Nggak ngrepotin nih?"


"Nggak lah. Yuk." Roki berdiri sambil memasang kembali atribut penyamarannya.


...🍃🍃🍃...


Di tempat lain, di sebuah ruangan yang gelap yang hanya diterangi bolam kecil yang menggantung di atap, seorang laki-laki terikat pada sebuah kursi. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh lebam setelah disiksa.


"Sekali lagi gue tanya. Siapa yang nyuruh lo?" tanya seorang pemuda yang duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya di depan laki-laki yang terikat itu.

__ADS_1


"Buat dia mengaku!" lanjutnya saat tak mendapati laki-laki yang terikat itu membuka mulutnya.


"Siap Bos!"


Dua orang yang berdiri di samping kanan dan kiri laki-laki yang terikat itu menghadiahi bogem mentah bergantian.


"Gu-gue nggak a-kan bilang." kata laki-laki itu sambil tersenyum miring.


"Apa susahnya untuk ngomong. Kami sudah tahu siapa pelaku sesungguhnya."


"Gue nggak bo-d*h. Lo berniat merekam pembicaraan ki-ta kan? Lo nggak a-kan dapat apa-apa dari gue." kata laki-laki itu masih dengan senyum miringnya. Hal ini membuat yang pemuda semakin kalut.


Sudah Tiga hari pemuda itu berusaha membuka paksa mulut laki-laki yang berniat mencelakai sahabatnya. Setelah mendapat perintah langsung dari Elang untuk melindungi Aira, Wildan, pemuda itu tahu apa yang harus dia lakukan. Dia meminta Tedi untuk mengirim anak buahnya untuk menjaga Aira dari jauh. Bahkan seorang diantara mereka, mereka masukkan ke dalam rumah Andra dengan menyamar sebagai pembantu tanpa diketahui siapapun.


Dua hari setelah perintah itu dilakukan, hal buruk memang benar terjadi. Laki-laki yang terikat itu berniat menculik Aira jika saja anak buah Tedi tidak berhasil menangkapnya.


Saat itu Aira baru saja keluar dari Mall dengan diantar supir. Namun sebuah mobil dengan tiga orang yang ada di dalamnya sudsh menargetkan akan menangkap Aira. Untung saja niat itu berhasil digagalkan.


"Argh. Sial!" teriak Wildan itu frustasi. Dia bangkit dari duduknya.


"Ikat dia dengan posisi terbalik. Biarkan dia seperti itu sampai dia mau menyebutkan siapa pelaku sebenarnya." perintah Wildan kepada dua anak buahnya sebelum dia keluar dari tempat pengap itu.


Kasus yang dibicarakan Wildan pada Mikaila sebenarnya adalah kasus kecelakaan yang menimpa Aira lima tahun yang lalu. Namun Wildan tidak memberitahukan hal ini pada Mikaila.


Dan adanya fakta baru mengungkapkan bahwa orang yang samalah yang melakukan kejahatan tersebut. Rekan Safna yang sudah tertangkap itulah yang telah merusak rem motor Aira saat di pemilik sedang frustasi di pinggir pantai.


Elang berniat menggali lebih dalam kasus itu. Ia merasa jika anaknya akan mengerti keadaan sekarang. Apalagi Elang yang tidak sengaja mendengar percakapan Safna dengan seseorang di telfon untuk mencelakai Aira sesaat setelah mereka bertengkar untuk kesekian kalinya.


Hal ini yang menjadikan Elang semakin membulatkan tekad untuk mengusut tuntas kasus ini walaupun istrinya harus dipenjara karena itu. Dan yang terburuk dari itu adalah anaknya yang akan merasa sedih mengetahui kelakuan jahat ibunya.


*


*


*


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya


...***...


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Enam belas🍃...


...🌸Pada malam ke Enam belas, Allah Ta'ala tetapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan memberinya kebebasan untuk masuk ke dalam surga...


...🥰...


...Salam sayang 😘...

__ADS_1


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2