Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 116. Prosesi Pernikahan


__ADS_3

Melati sudah dirias dengan sangat cantik memakai pakaian khas jawa berwarna hitam. Awalanya keluarganya meminta agar memakai pakaian basahan, tapi Melati menolaknya. Ia tentu saja malu jika memperlihatkan bahunya yang akan ter-ekspose. Belum lagi belahan dada yang juga akan terlihat. Membayangkannya saja Melati sudah bergidik ngeri.


Rambut Melati dipasang gelungan yang besar dengan tusuk konde yang indah berbentuk kipas. Masih banyak lagi perhiasan berwarna emas yang terpasang digelungan rambut itu. Beberapa bunga Mawar dan Anggrek asli tersemat di lipatan gelungan itu. Sedangkan di bagian belakang gelungan terpasang rangkaian bunga melati yang terjuntai hingga ke punggung. Untaian bunga melati beserta mawar yang ujungnya diberi bunga kantil juga tertata apik di bagian kanan gelungan yang tersampir hingga ke bagian dada.


Dahinya digambari bentuk setengah lingkaran berwarna hitam yang indah. Di atas alis juga diberi gambar bunga kecil berwarna emas dan merah. Belum lagi alis yang telah dibentuk sedemikian rupa hingga kelihatan tegas namun tetap anggun dan agung.


Bedak tebal yang terdiri dari berbagai macam foundatision terasa berat untuk Melati yang tak terbiasa dengan bedak tebal. Belum lagi pemilihan bush on yang semakin mempertegas kecantikan khas seorang ratu. Lipstik berwarna merah cerah menampilkan bibir tipis yang menggoda.


Juna tampil tak kalah menawan. Pakaian adat yang sepasang dengan Melati sudah terpasang pas di tubuhnya dengan kemeja jawa berwarna putih, sedangkan bagian luar pakaian itu berwarna hitam dan emas dengan bagian belakang yang kebih pendek. Blangkon berwarna senada juga terpasang di kepalanya.


Kalung emas dan juga kalung melati juga terlihat menjuntai di lehernya. Ada sebuah broch terpasang di bajunya. Kain jarik yang sama dengan yang dipakai Melati membebat kedua kakinya dengan sebuah keris yang terselip di bagian punggung. Pada gagang keris juga terjuntai beberapa untaian bunga melati yang ujungnya berupa bunga kantil.


Wajah Juna juga tak luput dari polesan make up. Dia dipaksa memakai bedak dan juga sedikit lipstik di bibirnya. Sekarang Juna tampil gagah layaknya seorang pangeran. Wajah tampan Arjuna Andipa Diwangka yang biasa terlihat dingin kali ini terlihat agung dan berwibawa dengan penampilannya yang sekarang.


"Diam! Jangan sampai ada yang mengolok!" kata Aira pelan sambil mengepalkan tangan kanannya di depan perutnya.


Awalnya Ridwan dan Wildan berniat menggoda pengantin baru itu. Namun sebuah kod berupa bogem dari Aira berhasil membungkam kedua mulut lemes yang gemar mengolok itu. Dua teman durjananya awalnya ingin menertawakan penampilan Juna yang dipoles habis oleh perias pengantin yang berhasil mengaplikasikan bedak dan juga lipstik di wajah Juna yang biasanya terlihat cuek itu.


Aira sebenarnya juga ingin tertawa, namun ia harus menjaga perasaan temannya. Akan jahat jika mengolok Juna dengan penampilannya sekarang.


Setelah kedua pengantin siap dengan penampilan mereka, lagu gending jawa berupa gamelan terdengar. Membuat suasana terasa sakral. Papa dan Mama Juna menggandeng putranya untuk menjalani acara temu. Di depan merera, seorang penari laki-laki berlenggak lenggok dengan pakaian adat seperti yang Juna pakai namun lebih sederhana.


Di belakang mereka, semua pengiring pengantin dari pihak Juna berjalan pelan dengan membawa banyak seserahan yang berupa bermacam-macam jajanan tradisional, buah-buahan dan juga berbagai barang yang biasa dibawa untuk seserahan. Aira juga membawa buket buah yang akan diserahkan kepada patugas yang sudah berjajar di depan.


Dari arah berlawanan, Melati juga berjalan dengan digandeng oleh papa dan mamanya. Di depan Melati, seorang penari wanita juga sedang menari dengan anggunnya sambil sesekali melemparkan kelopak bunga mawar.


Di saat sudah berdekatan, Melati dan Juna saling melempari dengan beras kuning yang mereka genggam. Ketika jarak hanya tersisa dua meter, kedua penari menari berpasangan beberapa waktu hingga mereka menyelrsaikam tarian mereka dan menjauh dari kedua pengantin.

__ADS_1


Setelah kedua penari pergi, perias pengantin menuntun prosesi selanjutnya. Dia meletakkan sebuah nampan berisi sebutir telur dan sebuah wadah dari kuningan yanh berisi bunga tujuh rupa. Di sebelahnya ada gayung dari tempuring kelapa yang dihias dengan bunga melati yang diletakkan di atas kain merah.


Juna diarahkan untuk menginjak telur yang berada di atas nampan yang berisi berbagai macam bunga. Kemudian Melati dibantu untuk duduk bersimpuh dan dibimbing untuk membersihkan kaki Juna yang terkena pecahan telur dengan air bunga tujuh rupa. Setelah itu, Melati juga mengusap kaki Juna yang basah dengan kain berwarna merah hingga kering.


Melati jugalah yang harus memakaikan sepatu untuk Juna. Setelah itu Melati dibantu Juna untuk berdiri dan berjalan mengelilingi Juna sebanyak tujuh kali sebelum berdiri berdampingan dengan suaminya.


Setelah kedua mempelai berdampingan, sebuah kain berwarna merah diletakkan di belakang keduanya dan ayah Melati menarik ujungnya untuk menuntun kedua mempelai ke atas pelaminan.


Kedua orang kedua pengantin sudah duduk di kursinya di atas pelaminan. Juna dan Melati diarahkan untuk acara sungkeman kepada kedua orang tua secara bergantian. Melati duduk terlebih dahulu dengan memegang kain merah. Juna berdiri dengan membawa kain merah berisi beras kuning. Dengan posisi berdiri, Juna menuangkan beras kuning yang dibawanya ke atas kain merah Melati hingga habis.


Akhirnya, Juna dan Melati bisa duduk. Namun prosesi belum selesai. Mereka masih harus saling menyuapi nasi kuning dan air putih. Barulah setelah itu keduanya bisa duduk tenang sambil menikmati acara resepsi yang masih berjalam setengahnya.


"Gila Bro! Panjang banget prosesinya." komentar Ridwan yang merasa lelah hanya dengan melihat prosesi yang harus dilakukan Juna di depan sana.


"Yang lihat aja capek, apalagi yang jalaninnya." saut Mikaila.


"Iya Beib. Besok kita cukup ijab sama resepsi biasa aja."


"Emang kalian kapan mau nikah?" tanya Aira yang medengar obrolan pasangan kekasih itu.


"Masih lama Ra. Aku masih pengen kejar karir." jawab Mikaila santai sambil menyesap minumannya. Wildan hanya menghela nafas mendengar jawaban dari Mikaila. Dia sudah bosan terus mendapat penolakan dari Mikaila.


"Sabar Bro. Kita senasib." Ridwan menepuk bahu Wildan.


"Jangan lama-lama Mik. Kasian Wili." kata Elang.


"Iya Mik. Cepetan nikah. Salip tuh playboy cap ikan teri." kata Aira.

__ADS_1


"Emm aku belum siap." Mikaila memang masih belum berfikir sejauh itu untuk hubungannya dengan Wildan. Dia merasa masih perlu waktu untuk semuanya. Ia dan Wildan masih muda dan masih perlu waktu untuk membuat karir mereka sukses.


"Tenang Beib. Aku akan selalu menunggumu siap." kata Wildan.


"Terim kasih untuk mengerti sayang." kata Mikaila sambil mencium pipi Wildan.


*


*


*


Mohon maaf jika ada prosesi pernikahan yang tidak sesuai dengan yang berlaku di daerah kalian....


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...


...**...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2