Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 106. Marry With Me, Please....


__ADS_3

Aira memakai kebaya putih yang terlihat indah dan elegan untuknya. Dengan make up yang flowles membuatnya terlihat semakin cantik dan bersinar. Melati dan Mikaila menemaninya di kamar hotel yang sudah disediakan untuk merias Aira.


Tak lama setelah ia selesai dirias, Amira datang bersama Devina untuk menjemputnya. Aira diapit kedua wanita paruh baya itu menuju mobil yang akan membawanya ke tempat berlangsungnya akad nikah yang dilaksanakan di masjid yang berada tepat di depan hotel itu.


Di dalam masjid, Arka sudah duduk di depan penghulu dengan memakai pakaian serba putih. Dia terlihat sangat tampan.


Aira dituntun untuk duduk di samping Arka. Amira memasangkan kerudung pada keduanya. Mereka berdua terlihat sangat serasi.


Di depan mereka berdua, andra duduk dengan penghulu yang akan mencatat pernikahan mereka berdua. Disana juga ada dua ornag saksi dari masing-masing pihak. Setelah berbagai acara sebelum akad nikah dimulai, Andra mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Arka.


“Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau Arkana Prabu Al-Barak Bin Bramantio Al-Barak dengan anak kandung saya Aira Salsabila Raharja binti Andra Wicaksana Raharja dengan mas kawin perhiasan emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya....” suara Arka terdengar bergetar dan berhenti mengucapkan kata-katanya. Memandang gadis di sampingnya yang terlihat berwajah datar tanpa ekspresi. “Maaf. Saya sangat gugup.”


“Tidak apa-apa, kita ulangi sekali lagi.” Kata Andra.


Andra mengucapkan lagi kalimat ijab untuk menikahkan anaknya. Namun lagi-lagi Arka berhenti dan menoleh pada Aira.


“Sebaiknya kamu mengambil wudlu dulu nak. Biar kamu tenang.” Kata penghulu yang melihat kegelisahan pada diri mempelai laki-laki itu.


Arka pun menurut. Dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Mengambil wudlu untuk menenangkan hatinya. Setelah ia merasa tenang, ia kembali ke tempat akad nikah.


Baru saja Andra mengulurkan tangannya, Arka mengucapkan sesuatu yang membuat kaget semua orang.


“Mohon maaf. Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.” Kata Arka sambil melepaskan kerudung yang baru saja terpasang di kepalanya dan berdiri di sana. Semua orang menatap Arka dengan pandangan penuh tanda tanya. Bahkan Aira yang sejak tadi berwajah datar dengan cepat merubah ekspresinya menjadi terkejut, sama seperti orang lain yang ada disana.


“Apa maksudmu nak Arka? Kamu mempermainkan putri saya?” tanya Andrs dengan cemas. Kenapa ini terjadi pada putrinya?


“Maafkan saya tuan Andra. Saya benar-benar tidak bisa.”


“Arka apa yang kamu lakukan? Kamu mau membuat keluarga kita malu hah?” Tanya Tio, ayah Arka.


“Apa maksudmu mas?” Aira ikut berdiri. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dilakukan calon suaminya itu.


“Aku tahu kamu mau melakukan pernikahan ini karena terpaksa El, dan aku yakin itu tidak akan membuatmu bahagia.”


“Apa maksudmu Arka? Kamu tidak bisa membatalkan pernikahan ini begitu saja.” Amarah Devina memuncak. Dia akhirnya menyukai Aira sebagai calon menantunya. Tapi kenapa tiba-tiba anaknya ini mau membatalkan pernikahan yang sudah lama ia impikan?


“Pernikahan ini tidak batal. Tapi, pengantin yang sebenarnya bukan aku.” Lirih Arka.


“Ada apa ini sebenarnya?” Tio menatap lekat wajah Anaknya.


“Karena aku tahu jika Menikah bukan hanya menyatukan dua orang saja. Tapi menyatukan hati antara keduanya. Dan hati Aira tidak akan pernah bersatu dengan hatiku sampai kapanpun."Ucap Arka pilu. "Aku baru saja belajar tentang makna cinta yang sebenarnya dari seorang gadis kecil. Dia yang membuatku sadar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Tingkat tertinggi dari Cinta adalah merelakan. Dan aku memang harus berhenti pada tahap ini.” lanjutnya.


Flash Back on....


Arka sedang berdiri di taman masjid sambil menunggu waktu ijab kabul dilaksanakan. Ia memandangi indahnya bunga mawar berbagai warna yang bermekaran di taman itu.


“Indah ya om bunganya?”

__ADS_1


“Iya. Bunganya indah. Sama seperti Naira.” Kata Arka pada Naira yang menghampirinya bersama pengasuhnya. Arka menyejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.


“Seperti Onty cantik juga.”


“Hem. Naira juga suka bunga mawar?”


“Ya. Bunga mawar itu cantik.”


“Naira mau om ambilin bunga itu?”


“Tidak om.”


“Kenapa? Katanya kamu suka bunga?”


“Bunga itu akan indah jika berada di tempatnya om. Jika kita mengambil bunga itu dengan paksa, keindahan itu tidak akan bertahan lama. Lama kelamaan satu persatu kelopak bunga itu akan jatuh dan hanya meninggalkan tangkainya yang tak akan lagi terlihat indah.”


“Tapi Nai, meskipun kita tidak memetiknya, bunga itu juga akan jatuh.”


“Setidaknya, bunga itu akan bahagia karena bisa terlihat indah dalam waktu yang lama. Dapat menyebarkan harumnya untuk sekelilingnya. Dapat bermanfaat untuk serangga kecil yang mengambil madunya. Tapi jika om memetiknya, maka hanya om saja yang bisa menikmatinya. Dan tidak dapat bermanfaat untuk yang lainnya.”


“Kamu benar. Siapa yang mengajarimu Nai?”


“Daddy. Saat Nai ingin memetik bunga, Daddy bilang Kalau kita tidak harus mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan kata orang di televisi, apa yang dikatakan Daddy itu Seperti cinta, jika kita mencintai seseorang dengan tulus, kita akan melakukan apa saja untuk membuat orang yang kita cintai bahagia. Bahkan akan merelakannya bahagia bersama orang lain.”


“Daddy Naira adalah orang yang hebat.”


Setelah kepergian Naira, Arka mulai memikirkan apa yang dikatakan anak kecil itu.


Flash Back off....


Aira mulai menitikkan air matanya. Ia kini tahu alasan dari Arka melakukan aksi yang begitu mengagetkan. Mikaila dan Melati langsung memeluk sahabat mereka untuk menenangkannya.


“Kami ada disini Ra. Semua akan baik-baik saja.” Kata Melati.


Arka berjalan menjauhi Aira yang masih terisak di tempatnya. Pandangan semua orang mengikuti arah yang dituju. Laki-laki itu berdiri di depan Elang yang ikut berdiri bersama tamu undangan yang lain.


“Tuan Elang. Cinta Elisya pada anda tidak akan pernah terganti. Jadi, apakah anda bersedia menggantikan saya untuk menjadi pendampingnya?”


Semua orang kembali tercengang mendengar perkataan Arka. Membuat semua orang berkasak-kusuk membicarakannya. Namun yang ditanya hanya diam. Elang tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari calon pengantin itu.


“Kisah cinta kalian sangat mengagumkan. Saya sangat kagum ketika mendengar kisah kalian berdua. Sejujurnya saya merasa iri dengan kisah kalian. Tapi. Sayang sekali bukan saya yang dicintai Aira. Melainkan Anda. Kisah cinta abadi kalian berdua adalah kisah cinta luar biasa yang hanya dapat dirasakan oleh beberapa orang saja. Dan saya, sebagai orang yang beruntung jika saya dapat menyatukan kembali satu cinta yang pernah terpisah. Saya tahu bahwa anda Dan Elisya sebenarnya adalah satu.”


“Tuan Arka, anda?” Elang masih belum percaya dengan apa yang dibicarakan panjang lebar oleh Arka tadi.


“Ya. Saya mengaku saya kalah. Saya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi anda di hati Elisya.” Arka menoleh pada Aira yang menatap kedua laki-laki yang sama-sama mencintai nya itu dengan tatapan tidak percaya.


“Aira, bisakah aku mendapatkan pelukan darimu untuk yang terakhir?” Aira segera mengangkat kain batik yang membebat kakinya agar dapat sampai dengan cepat ke arah Arka. Dipeluknya erat laki-laki yang telah menjadi tunangannya selama tiga tahun itu.


“Terima kasih Mas Arka.”

__ADS_1


“Sudah-sudah. Lepaskan pelukannya. Jangan buat aku menarik lagi kata-kataku.” Aira segera melepaskan pelukannya pada Arka. Arka memegang tangan kanan Aira dan mengulurkannya pada Elang.


“Tuan Elang, tolong jaga Aira dengan baik. Jangan pernah membuatnya menangis. Jika sekali saja anda membuatnya kecewa, saya tidak akan segan merebutnya kembali dari anda.” Kata Arka dengan senyuman tulus di bibirnya. Arka segera berlalu dari mereka berdua dan menghampiri Naira yang berdiri dengan senyum mengembangnya.


"Apakah ini rencanamu gadis kecil?"


"Ya om. Terima kasih sudah mengerti."


"Terima kasih telah membuka hatiku Naira." Arka memeluk Naira dengan erat. Gadis kecil yang membuka mata hatinya tentang hakikat cinta yang sesungguhnya.


Elang membawa gadis yang sangat ia cintai dalam pekukannya. Keduanya menangis haru setelah mehadapi keadaan yang merubah hidup mereka dalam sekejab. Perasaan bahagia yang mereka rasakan membuat keduanya saling mengeratkan pelukan.


Mereka tidak peduli lagi dengan banyaknya orang yang membuat mereka berdua menjadi bahan tontonan. Semua orang yang mengetahui kisah mereka berdua tentu saja merasa senang. Bahkan orang yang belum mengetahuinya pun ikut merasakan hari dan bahagia dalam satu waktu.


“Married with me, Please.” Bisik Elang di telinga Aira yang hanya diangguki oleh Aira. Tangis Aira semakin terisak. Namun tangisannya merupakan tangisan kebahagiaan.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya


...***...


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Dua puluh tujuh🍃...


...🌸Pada malam ke dua puluh tujuh, ia akan dapat melewati Shirothol Mustaqim pada hari kiamat dengan kecepatan bagaikan kilat yang menyambar🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


 

__ADS_1


__ADS_2