
Setelah lelah seharian belanja, siang ini Aira dan yang lainnya memutuskan untuk istirahat di pinggir pantai. Menikmati Pantai yang tiga hari ini menjadi pemandangan pertama yang mereka lihat di pagi hari ketika bangun tidur. Suara deburan ombak yang menamani hari-hari mereka selama tinggal di vila mewah itu. Suasana yang akan mereka rindukan setelah mereka kembali disibukkan dengan kegiatan mereka.
Aira, Mikaila dan Dela memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Melati tidak bisa ikut karena kakinya masih belum pulih. Dia memilih duduk santai di tepi pantai.
Elang dan Reno pergi ke Resort karena ada urusan yang harus mereka selesaikan sebelum kembali ke Jakarta. Sedangkan para cowok berandal sekolah menghabiskan waktu dengan berenang di kolam. Hari ini ombak lebih besar, jadi mereka memilih berenang di kolam daripada harus menantang maut di laut.
Setelah cukup lama ketiga cewek yang jalan-jalan di siang yang terik akhirnya kembali. Duduk santai di sebelah Melati yang terlebih dulu merebahkan diri di kursi pantai yang santai.
"Haus." keluh Dela.
"Ambil minum dong." kat Aira.
"Kita minta tolong miss Tasya aja buat antar kesini." usul Mikaila.
"Benar. Mana nomornya?" Mikaila mengaktifkan handphone miliknya dan memberikannya pada Dela. Dia sendiri terlalu malas untuk sekedar menekan-nekan benda pipih itu.
"Lo mau minum apa?"
"Jus jambu." seru Aira. "Minta tambahin lemon Del." lanjutnya. Jus jambu resep milik Elang yang satu itu sekarang menjadi favoritnya. Sudah dua hari ini dia tidak merasakan manis asamnya jus jambu favoritnya. Dela langsung mengetiknya.
"Kalo gue... "Mikaila mengetuk dagunya. "Es kelapa muda ada nggak ya?" ucapnya ragu.
"Lo pikir ini restoran?"
"Itu banyak pohon kelapa." tunjuk Mikaila pada pohon kelapa yang tumbuh subur di sekitar sana.
"Kalo lo mau yang itu, mintanya sama pak Paijo." kata Dela. "Ayo jadinya apa?"
"Emmm. Sirup leci aja deh. Banyakin es nya."
"Oke. Lo Mel?"
"Aku sama kayak Mikaila aja."
"Oke."
Pesan pun terkirim. Kini, ketiganya hanya menunggu diam sambil. berbaring santai setelah mendapatkan jawaban dari miss Tasya.
...🌴🌴🌴...
Dela dan Mikaila mendongakkan kepalanya ke atas. Di pucuk pohon kelapa tak jauh dari mereka berdiri, seseorang bersusah payah memisahkan kelapa muda dari tangkainya. Dia adalah pak Paijo, dia yang kebetulan sedang berjalan di sekitar tempat itu dipanggil oleh Dela yang tak sengaja melihatnya. Akhirnya, atas permintaan kedua gadis yang sekarang mendongakkan kepalanya itu pak Paijo segera memanjat pohon.
Bagi pak Paijo sendiri, hal panjat memanjat pohon kelapa bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Dia sudah sering melakukannya untuk memanen buah kelapa untuk dia jual dengan seizin pemilik Villa.
Aira memejamkan matanya. Angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk. Tak menunggu lama, Aira sudah masuk ke dalam alam mimpi. Sedangkan Melati hanya duduk sambil melihat kedua temannya yang berjingkrak-jingkrak senang ketika beberapa butir kelapa berhasil mendarat di atas pasir pantai.
"Ye! Semangat pak Paijo!" teriak Mikaila ketika pak Paijo masih berusaha mengambil lagi kelapa dari sana.
Tak berapa lama, beberapa butir kelapa kembali berjatuhan. Pak Paijo segera turun setelah dia berhasil menjatuhkan lima belas butir kelapa. Setelah sampai di bawah, pak Paijo mengumpulkan kelapa-kelapa itu dan melakukan tugas selanjutnya, membuat lubang pada butir kelapa berkulit hijau itu.
Mikaila memasukkan es batu, sedotan dan juga sendok ke dalam lubang kelapa muda sebelum dia berikan kepada teman-temannya.
__ADS_1
"Widiih enak nih!" seru Ridwan ketika dia, Wildan dan Juna bergabung dengan keempat gadis yang sedang menikmati menuman tambahan mereka.
Mikaila meletakkan telunjuknya di bibir. Menginteruksi Ridwan dan yang lainnya untuk diam. Dia kemudian menunjuk Aira dengan dagunya.
"Si nyonya nggak dibangunin?" tanya Juna.
"Biarin dia istirahat." ucap Mikaila.
Elang dan Reno datang tak lama setelah itu. Pak Paijo yang mengetahui bertambahnya jumlah orang segera membukakan kelapa untuk keduanya. Memberinya semua perlengkapannya sebelum diberikan kepada dua orang pria tampan yang baru datang itu.
Setelah semua mendapatkan kelapa muda mereka, semuanya duduk di kursi pantai. Menikmati laut yang terlihat berkilau memantulkan sinar matahari.
"Sayang bangun." Elang mengelus lembut lengan Aira. Kelopak mata yang semula terpejam perlahan terbuka. Senyuman menawan tampak pada saat mata itu terbuka dengan sempurna. Aira pun memberikan senyuman yang tak kalah indah.
"Udah kembali mas? Hoam." tanya Aira sambil menutup mulutnya yang menguap lebar. Aira bahkan tak malu melakukan hal yang dinilai tabu oleh sebagian besar gadis untuk menjaga imejnya di depan seorang pria. Aira perlahan menegakkan tubuhnya.
"Em. Nih." Elang menyerahkan kelapa muda pada Aira setelah gadis itu sudah duduk dengan nyaman. Aira langsung menerimanya.
"Segarnya." Aira beberapa kali menyesap air kelapa di dalamnya. Daging Kelapa muda yang lembut dan manis dia masukkan ke dalam mulutnya. Terasa segar dan mengembalikan semangat. Elang memandangi gadisnya yang dengan asik mengorek isi kelapa itu dengan sendok.
"Yah... Abis." keluh Aira sambil membalik kelapa miliknya yang isinya sudah kosong.
"Kapan lo bangunnya? Tiba-tiba udah abis aja milik lo?" Ridwan yang berada paling jauh dari kursi Aira mencondongkan tubuhnya untuk dapat melihat Aira.
"Jangan salah. Aira kalo makan tuh kayak kebo." kata Juna.
"Mana ada kebo jago silat kayak gue." cibir Aira.
"Dasar cewek nggak ada manis-manisnya." ejek Juna.
"Udah-udah. Kalian ini selalu aja bertengkar kalo ketemu." Melati menengahi. Dia yang posisinya berada di tengah-tengah keduanya mendadak sakit telinga mendengar perdebatan unfaedah yang sering terjadi. Selama hampi dua bulan bersama mereka, Melati sudah hafal tabiat kedua sahabat itu jika sudah berdebat. Tidak ada yang mau mengalah.
"Dengerin tuh Melati."
"Yang harusnya Dengerin dia tuh lo Jones. Gue kan anak baek. Kalo lo kagak mulai. Kagak mungkin gue usil." Aira tak mau kalah.
"Sebaiknya kita siap-siap. Nanti kita berangkat jam tiga sore." Elang melihat jam tangannya. "Ada waktu satu jam."
"Kita nggak nunggu sunset?" tanya Dela.
"Besok kita sudah harus kembali aktifitas. Nanti kecapekan. Kalian besok harus masuk. Ujian nasional sebentar lagi." kata Reno mengingatkan ketujuh remaja itu.
"Baiklah."
Satu persatu mulai beranjak dan masuk vila untuk bersiap-siap. Meninggalkan Aira dan Elang disana.
"Kenapa belum masuk?" Aira tidak menjawab. Dia berdiri dan berjalan ke arah pantai yang panas. Elang mengikuti dari belakang.
"Disini panas sayang." Elang memeluk Aira dari belakang.
"Disini memang panas. Tapi, ada angin sepoi yang akan mengobati." Aira mengambil nafas dalam. "Pantai selalu indah dinikmati kapanpun. Di pagi hari, keindahan laut berpadu dengan Sunrise tidak ada duanya. Dinginnya pagi terobati dengan hangatnya sang surya. Di siang hari, laut terlihat indah seperti ada jutaan berlian yang menghiasi. Pantai dan sunset selalu jadi primadona sejak dulu. Selalu Mempesona. Dan pada malam hari, cahaya bulan membuat laut berkelip seperti bintang di depan mata."
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat menyukai pantai?" Dagu Elang kini bertengger di bahu Aira. Ikut menikmati indahnya laut pada siang hari. Memang indah.
"Ya. Pantai selalu membuat tenang. Deburan ombaknya merupakan relaksasi alami anti depresan terbaik sepanjang sejarah."
"Baiklah. Kalau begitu kita nikmati pantai ini bersama."
"Bagaimana dengan barang-barang mas?"
"Apa gunanya mas bawa si Reno?" ujar Elang sombong. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau barang-barangmu?" lanjutnya.
"Melati adalah sahabat yang paling pengertian. Tanpa dimintapun dia akan melakukannya untukku." ujar Aira tak kalah sombong. Elang boleh menyombongkan kekayaannya. Tapi Aira tak kalah kaya akan sahabat yang mengerti dirinya. Elang terkekeh mendengarnya.
"Sayang, sebentar lagi kamu sudah lulusan."
"Hem."
"Bagaimana kalau kita nikah?" Aira mencubit lengan yang melingkar di perutnya.
"Aduh sayang. Sakit." Elang mengusap cetakan kebiruan hasil karya Aira.
"Biar mas bangun dari mimpi."
"Kamu nggak mau nikah sama mas?"
"Emm... Aku masih terlalu muda mas. Target nikah aku kayaknya masih lama deh." Mulut dan mata Aira menunjukkan ekspresi yang aneh.
"Keburu buluk dah si Pedro."
"Pedro?"
"Iya."
"Kenapa Pedro yang bulukan. Emang Pedro siapa sih?"
"Senjata aku Aira sayang."
"Hah?"
Omegaaat!!! Otak Aira yang tomboy ternodai sama si Pedro!
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😍...
...Jangan lupa like👍, VOTE😎...
...dan rate 😉nya ya...
__ADS_1
...Salam sayang😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...