Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 24. Menjadi Artis


__ADS_3

🌸Penampilan memang penting, tapi yang lebih penting adalah karakter yang terdapat di dalamnya. 🌸


Aira dan Juna sampai di tempat pesta. Keduanya menjadi sorotan tamu undangan yang hadir. Keduanya tampak serasi. Juna yang selama ini tidak pernah kelihatan membawa pasangannya sekarang telah menggandeng perempuan cantik yang terlihat anggun.


Ya. Malam ini selain penampilan, Aira juga telah mengubah pembawaannya. Itu semua demi drama yang sedang ia mainkan dengan Juna. Dia tak mau mengecewakan Juna mengingat sudah berulang kali dia menyakiti hati Juna. Setidaknya dia membantu Juna mengatasi masalahnya selama ini. Aira sangat tahu Juna selalu risih jika didekati oleh seorang wanita yang kadang terlalu agresif.


Selama ini banyak ucapan miring tentang Juna yang sering Aira dengar di sekolah. Ia yakin ucapan miring bahwa Juna adalah seorang gay juga menjadi gosip di keluarganya sendiri.


Juna memperkenalkan Aira pada keluarganya yang hadir dalam acara tersebut. Untung saja orang tua Juna sedang berada di luar negeri. Jadi mereka tak harus membohongi orang tua yang pasti akan kecewa dengan drama mereka.


"Wah Juna gue nggak nyangka lo bawa pasangan malam ini." kata Tama dengan nada mengejek. Sepupu Juna yang satu itu selalu berusaha menandingi Juna dalam hal apapun. Juna memutar bola matanya malas. Sebenarnya sebisanya Juna menghindari sepupunya itu. Tapi malah bertemu dengan sepupu tengilnya itu.


"Ya. Sayang ini Tama, Tama ini Salsa." Juna menyebut nama Salsa agar jika suatu saat sepupunya itu menanyakan pada orang tuanya, mereka tak akan tahu jika itu adalah Aira.


"Salsa." Aira mengulurkan tangannya.


"Tama. Senang berkenalan dengan gadis cantik sepertimu." Tama menarik tangan Aira untuk diciumnya. Tapi tangan itu buru-buru ditarik oleh Juna.


"Jangan macam-macam lo!" Juna menatap tajam Tama.


"Eits! Santai Bro. Gue cuma kagum pada kecantikan cewek lo." Tama megangkat kedua tangannya ke atas sambil terkekeh.


"Kita temuin yang lain." Juna meraih tangan Aira dan membawanya ke tempat lain. Aira mengikuti kemana Juna menariknya. Ia juga tidak senang berada di sekitar orang yang melihatnya hanya dari penampilan saja.


"Sorry Ra. Itu sepupu gue yang selalu cari masalah sama gue."


"Mn."


Juna mengajak Aira untuk dikenalkan pada sepupunya yang merayakan ulang tahun malam ini. Gadis cantik dengan balutan gaun mewah berwarna merah dengan tubuh yang proporsional. Dia seumuran dengan Juna dan Aira.


"Happy birthday Re." sapa Juna. Gadis yang disapa segera membalik tubuhnya. Kemudian keduanya cipika-cipiki setelah melihat siapa yang menyapanya.


"Thanks udah datang Jun."


"Nggak mungkinlah gue nggak datang di acara penting lo." Renata tersenyum. Juna mengangsurkan kotak kecil pada Renata. Renata menerimanya dan meletakkan kotak itu di meja di sebelahnya bersama kotak-kotak hadiah lainnya. Detik berikutnya, dia sedikit mengangkat sebelah alisnya saat melihat seseorang di samping Juna. Dia baru sadar jika sepupunya itu tidak datang seorang diri.


"Wow Jun. So beautifull Girls." Renata memindai penampilan Aira. Gadis itu melirik Juna yang terkekeh dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


"Apa ini Re? Nggak biasanya lo terang-terangan ngakui kecantikan Orang lain?" mata Juna memicing seolah tak percaya. Sepupunya adalah seorang model yang sedang naik daun, beberapa film juga pernah dia mainkan. Dia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling cantik. Membangun kepercayaan diri dengan sangat baik.


"Hehehe" Renata terkekeh sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. "Gadis yang lo bawa memang benar-benar cantik Jun. Jadi memang pantas mendapatkan pengakuan dari gue."


"Mm. Benar!" Aira memutar bola matanya malas saat Juna meliriknya sambil mengerlingkan matanya.


"Bye the way. Kami butuh orang untuk memperkenalkan kami." sindir Renata.


"Ups. Sorry Re. Renata, ini Salsa. Salsa ini Renata, sepupuku yang paling jahil." Renata mengulurkan tangannya. Aira menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum.


"Apakah dia...?" tanya Renata menggantung. Juna mengangguk untuk menjawab. Dan sepertinya yang diajak bicara paham arti anggukan ringan itu. Tampak wajah Renata yang kecewa. Dialah orang yang bermiat memperkenalkan Juna dengan temannya.


"Oke. Gue nyerah Jun."


"Harus." Renata terkekeh mendengar jawaban Juna.


"Jun mungkin kita bisa atur double date." Renata mengerling pada Juna.


"Mana Curut satu itu?"


"Namanya Mike, Juna. Em. Dia sedang ada pemotretan di luar negri."


"Lain kali kita akan banyak bicara Salsa. Gue yakin kita bisa jadi teman akrab." Renata memegang lengan Aira. Aira hanya tersenyum menanggapinya.


"Well. Silahkan nikmati pestanya." pamit Renata saat dia mendapat kode untuk memulai pesta itu.


"Ok."


Acara ulang tahunpun berjalan dengan meriah. Sweet seventeen bagi seorang gadis sepertinya adalah sesuatu yang istimewa untuk dirayakan. Apalagi untuk seorang model seperti Renata Zaise Diwangka yang sejak kecil sudah menjadi model.


Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan dengan diiringi oleh grub band lokal yang telah diundang. Acara tiup lilin dengan riuh suara tepuk tangan. Dilanjutkan potong kue dengan ukuran yang Waw. Tiga tingkat kue dengan hiasan yang mewah. Sangat cocok dengan karakter Renata yang menyukai kemewahan. Terlihat wajah bahagia dari arah panggung dimana orang-orang terpenting bagi Renata berkumpul disana.


Pemandangan itu sedikit membuat Aira merasa iri. Kedua orang tua Renata terlihat sangat menyayangi anak gadisnya. Pemandangan indah yang membuat bibir Aira terangkat. Juna memperhatikan perubahan wajah Aira. Digenggamnya erat tangan Aira. Ia tahu apa yang dirasakan Aira. Aira melihat tangannya yang digenggam. Melihat si pemilik tangan yang berdiri di sampingnya.


"Gue yakin suatu saat lo juga bakal tersenyum seperti itu Ra." kata Juna.


"Hem. Gue nggak tahu sampai kapan gue bisa bertahan Na. Rumah gue bahkan terasa asing sekarang." kata Aira sendu. Dia merasa tak nyaman berada di rumah besar itu.

__ADS_1


"Yang terpenting nyokap dan kakak lo sayang sama lo Ra."


"Yah. Itu terpenting. Na, masak lo bawa gue kesini lo anggurin perut gue yang meronta dari tadi?"


"Lo laper?"


"Bukan salah gue. Lo jemput gue sebelum gue sempat kasih jatah yang ada di dalam. Jadi jangan salahkan cacing-cacing di perut gue yang demo minta jatah."


"Hahahaha. Tapi gue puas lihat lo tersiksa kayak gini." Juna terkekeh memperhatikan Aira yang tidak nyaman memakai gaun dan berpenampilan anggun dari tadi. Aira mendengus.


"Lo harus bayar mahal untuk ini Na." Aira menunjuk wajah Juna dengan telunjuknya membuat Juna semakin terkekeh. Inilah Aira, tidak mau dipojokkan dan ditertawakan.


"Oke-oke!" Juna merangkul pundak Aira. Membawa gadis itu duduk di salah satu kursi yang telah disediakan. Kemudian meninggalkan gadis itu untuk mengambil makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Aira duduk sambil memperhatikan tamu undangan. Dia baru sadar jika beberapa tamu yang hadir di acara itu adalah artis dan juga model. Dari arah panggung, Aira melihat Renata berjalan dengan seorang pria muda dengan pakaian formal. Dan sepertinya tujuan mereka adalah bangku dimana Aira duduk saat itu.


"Boleh duduk disini Sa?" tanya Renata saat sudah berada di depan meja Aira.


"Hem." Kedua orang yang baru datang itu duduk di depan Aira.


'Benar-benar dingin seperti Juna. Pantas mereka berdua cocok. Tapi melihat kedekatan mereka berdua tadi sepertinya tak ada hal seperti itu.' pikir Renata. Dari tadi Aira hanya sesekali bicara. Persis seperti sepupunya yang malas bicara dengan orang asing.


"Salsa, perkenalkan ini Tuan Dodi, Dia ini adalah direktur Dod's Entertainment yang menaungi gue." Pria bernama Dodi itu mengulurkan tangannya.


"Salsa."Aira menyambut uluran tangan itu dengan enggan setelah mengetahui identitas pria di depannya itu.


"Sa, sebenarnya tuan Dodi sangat tertarik padamu. Dia berencana mengajakmu untuk menjadi salah satu artis untuk satu film remaja." Aira tersentak mendengar perkataan Renata. Oh ayolah, dia disini sedang menjadi bunglon. Kenapa sampai ada yang tertarik menjadikannya artis. Apakah Aira sangat baik memesankan perannya sekarang? Ini sama sekali bukan hal baik untuknya.


"Ada apa ini?" tanya Juna saat baru saja kembali dan meletakkan Bawaanya ke atas meja mereka.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😍...

__ADS_1


...Jangan lupa Like 👍 VOTE 😎 Rate ⭐lima...


...Maaf 🙏 Typo bertebaran...


__ADS_2