
Amira dan Andra merasa keberatan mendengar kepustusan Aira malam itu. Baru kemarin Naira diizinkan untuk pulang. Tapi hari ini, Aira berkata bahwa besok ia akan kembali ke panti sampai hari pernikahannya satu bulan lagi.
Hal ini membuat Amira merasa sangat sedih. Andra bahkan tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bagaimana mungkin anaknya yang terbiasa hidup mewah sejak kecil lebih memilih hidup di dalam panti yang sederhana. Bahkan dia yakin bahwa Airanya akan berbagi kamar dengan orang lain.
Andra mulai berfikir bahwa kejadian sebelum kecelakaan lima tahun lalu lah yang menjadi perubahan sikap Aira sejak ia mengingat semuanya. Mungkinkah Aira merasa sakit hati akibat ucapan dan tindakannya yang membuatnya menyesal selama ini?
“Kenapa kamu ingin Kembali kesana Sayang?” tanya Amira.
“Disana nyaman Mam.”
“Disini juga nyaman sayang. Semua yang kamu butuhkan ada disini.”
“Aku tahu. Tapi kenyamanan tidak dinilai dengan mewahnya suatu tempat. Tapi kenyamanan hadir dari dalam hati yang tenang.”
“Apa kamu merasa tidak nyaman disini?”
“Iya. Jujur aku sedikit takut jika suatu saat aku diminta untuk mengganti semua yang aku terima dari sini.” Sindir Aira. Ia bukanlah tuhan yang Maha Pengampun. Ia bukanlah malaikat berhati mulia.
Perkataan yang dia dengar dari mulut orang tuanya lima tahun yang lalu begitu menyakiti perasaannya. Mulutnya bisa saja mengucapkan bahwa dia telah memaafkan dan melupakan kejadian pahit itu. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Hatinya masih sakit mengingatnya.
Rumah yang terasa nyaman sebelum dia mengingat segalanya sekarang tinggal kenangan pahit yang dia lihat di setiap sudut ruangan. Bagaimana ketidak adilan yang sering ia alami sejak kecil terngiang di kepalanya. Kenangan itu seperti menari-nari di benaknya setiap dia melihat setiap sisi dari Mansion mewah milik keluarganya.
“Safna dan Naira tidak ada disini Sayang. Apakah kamu juga akan pergi meninggalkan kami?”
“Bukankah aku telah melakukan apa yang kalian minta? Bukankah aku telah menyerahkan harta paling berharga pada anak tercinta kalian?” tanya Aira dengan lirih. Namun kedua orangtua itu dapat mendengarnya dengan jelas. Kedua orang tuanya terdiam. Mereka sungguh-sungguh menyesal pernah berkata seperti dulu. Permintaan mereka terlalu konyol untuk diucapkan. Perkataan yang mereka ucapkan sudah pasti menyakiti anak mereka.
“Aku rasa itu sudah cukup untuk mengganti apa yang telah keluarga ini berikan untukku. Seharusnya, hutangku karena dalam tubuhku mengalir darah seorang Raharja sudah terbayar lunas. Jadi, tidak ada alasan aku untuk tinggal.”
“Ini rumahmu sayang. Maafkan Mami dan Papi. Kami menyesal.”
“Kata maaf itu mudah Mam. Tapi luka di hati yang sulit untuk diobati. Jadi aku mohon izinkan aku pergi. Aku juga ingin bahagia tanpa harus menjadi bayangan.” Aira berdiri dan berjalan meninggalkan ruang keluarga untuk pergi ke kamarnya. Dia harus bersiap-siap untuk besok.
“Sayang.” Tangan Amira hanya meraih udara saat tubuh Aira melewatinya begitu saja.
“Pi, jangan biarkan Salsa pergi.” Amira menarik lengan kokoh suaminya.
“Lebih baik kita biarkan anak itu menenangkan diri untuk sementara waktu. Biarkan hatinya sembuh seiring berjalannya waktu. Luka yang kita Torehkan terlalu dalam menyakiti hatinya.” Andra mengelus lembut kepala Amira. Mendekap tubuh tua istri tercintanya.
Andra juga sedih. Tapi dia rasa keputusan untuk melepaskan Aira adalah keputusan yang terbaik. Aira akan merasa sakit hati dan terluka jika dia terus berada disini.
“Tapi Salsa Pi....”
__ADS_1
“Yakinlah bahwa suatu saat Salsa akan kembali kesini entah itu dalam waktu dekat ataupun jauh.”
Kedua orang tua itu saling berpelukan. Saling memberikan kekuatan untuk mampu menjalani hari-hari Selanjutnya. Menyesal sekarang tidak ada gunanya. Anaknya akan pergi meninggalkan mereka berdua di dalam rumah besar itu. Kata-kata yang menjadi menyebab hancurnya hubungan antara mereka kembali terngiang di telinga mereka. Membuat yang mendengarnya ikut merasa sedih.
Malam ini tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak. Mereka memikirkan kepergian Aira. Mikaila, Melati dan yang lainnya jelas merasa sangat sedih. Baru beberapa saat mereka berkumpul kembali setelah lima tahun berpisah akhirnya harus kembali berpisah.
Elang juga gusar. Dia hanya menggulingkan tubuhnya di atas kasur beberapa kali karena gelisah. Hal ini bahkan lebih menyakitkan dari saat ia mengantar jasad Elisya yang dia kira Aira.
Naira yang tidur satu ranjang dengan Elang ikut terganggu akibat ulah Daddynya.
“Dad, belum tidul?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Maaf sayang. Daddy pasti membangunkan kamu. Ayo tidur lagi.” Akhirnya Elang membawa anaknya dalam pelukan hangatnya hingga kembali terlelap. Hingga tanpa sadar dirinya ikut terlelap bersama Naira.
Pagi ini, sopir yang akan menjemput Aira sudah sampai di halaman mansion Andra. Semua orang yang satu bulan lalu menyambut kepulangan Aira kembali berkumpul untuk mengantar gadis itu. Tidak ada wajah yang terlihat baik-baik saja.
Juna dan yang lainnya bahkan tidak pergi bekerja akibat semua ini. Mereka masih belum rela melepas kepergian Aira untuk yang kedua kalinya.
“Mana Kak Elang?” tanya Mikaila berbisik pada Wildan.
“Dia tidak kesini, perasaannya pasti hancur sekarang.” Wildan juga menjawabnya dengan cara berbisik.
Aira berpamitan pada semua orang. Mengucapkan maaf dan juga terima kasih. Kembali, Mansion mewah itu kembali dibanjiri oleh hujan tangis. Namun kali ini bukan tangis haru yang terjadi, namun tangis kesedihan yang mereka rasakan.
“Jika kamu tidak nyaman tinggal disini, kamu bisa tinggal bersama nenek sayang. Jangan pergi lagi ya.” Bujuk Rosi saat Aira memeluknya. Cucu kesayangan baru saja kembali. Dia tidak ingin kembali berpisah.
“Maafkan Salsa Nek. Tapi keputusan inilah yang terbaik untuk Salsa saat ini. Salsa akan kembali saat pernikahan Salsa nanti. Selama itu, biarkan Salsa menenangkan diri disana.”
“Baiklah sayang. Jika itu memang yang terbaik untukmu. Nenek akan merindukanmu.” Rosi melepaskan pelukan mereka. Mencium kening Aira.
“Maafkan mami sayang. Apakah memang tidak bisa jika kamu tetap tinggal disini?” ucap Amira bahkan sebelum Aira berada di depannya.
“Maaf Mam. Itu tidak mungkin. Setiap aku melihat rumah ini, aku akan mengingat kejadian pahit itu.”
Amira tak dapat menghentikan tangisnya. Bahkan sekarang terdengar semakin pilu dan menyayat hati. Mata wanita itu bengkak dan merah. Aira yakin bahwa maminya itu tidak dapat tidur dan menangis semalaman.
“Maafkan Salsa Mam. Salsa hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Setelah Salsa merasa lebih baik. Salsa akan kembali berkumpul bersama kalian.” Aira memeluk tubuh renta wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Kini, keduanya menangis. Aira sebenarnya juga tak menginginkan ini. Namun hatinya masih sakit jika kejadian itu kembali teringat olehnya.
Andra hanya diam. Dia tak mampu mengucapkan apa-apa terhadap anak bungsunya. Namun dari wajahnya, dapat disimpulkan bahwa laki-laki itu juga merasa sedih dan menyesal.
“Salsa pamit Pi.” Tanpa diduga. Andra segera memeluk Aira dengan erat. Tangis laki-laki paruh baya itupun akhirnya pecah.
__ADS_1
“Maafkan papi Salsa. Papi banyak salah terhadapmu selama ini. Papi menyesal, Nak.” Aira merasa sangat terharu mendengarnya. Laki-laki yang selalu ia lihat begitu tegas dan berwibawa kini menangis saat memeluknya.
“Salsa juga minta maaf. Salsa belum bisa menjadi anak yang membanggakan untuk papi.”
“Tidak Nak. Kamu adalah anak papi yang hebat. Papi saja yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa papi mempunyai berlian yang sangat indah ini.” Aira menghangat. Ingin rasanya untuk tinggal. Tapi keputusan yang dia ambil sudah bulat.
Kehidupannya disini sudah berubah. Hidupnya dulu bahagia karena bersama Elang. Tapi sekarang, ia tak mungkin lagi bahagia bersama Elang. Jadi, biarkan dia mencari kehidupannya yang lain. Tanpa Elang. Semakin lama dia disini, dia akan semakin sulit menerima kenyataan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Dua puluh Dua🍃...
...🌸Pada malam ke dua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesusahan dan kesedihan 🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1