
"Daddy ayo naik itu!" rengek Naira dengan menunjuk wahana dengan bentuk kuda yang berputar-putar.
"Oke sayang." Elang mengikuti Naira yang menariknya. Gadis kecil itu sangat bersemangat. Mbak Weni mengikuti kedua majikannya.
Tak menunggu lama, keduanya sudah naik ke wahana. Mbak Weni lebih memilih untuk menunggu majikannya daripada ikut bermain. Dia ingat tugasnya bukan hanya sebagai pengasuh untuk Naira, tapi juga untuk menjaga gadis kecil itu. Mbak Weni adalah Bodyguard khusus yang direkomendasikan oleh Tedi untuk menjaga anak majikannya. Posisi Elang sebagai orang penting membuat keselamatan anggota keluarganya kadang berads dalam bahaya.
Saat Naira masih bayi, dia pernah hampir menjadi korban penculikan. Untung saja dapat digagalkan oleh para penjaga. Mulai saat itu, Elang meminta pengasuh yang bisa merangkap menjadi Bodyguard untuk putrinya. Mbak Weni adalah kenalan Tedi saat masih tinggal di kolong jembatan.
Elang dan Naira menikmati waktu kebersamaan mereka. Tertawa riang menunjukkan kebahagiaan.
Sedangkan yang lain, mereka memisahkan diri ketika sampai disana. Memungkinkan pertemuan dengan Aira akan berjalan dengan alami.
Mata Elang mengawasi sekitar, jika dia melihat Aira, dia harus segera menemukan rencana untuk mendekat.
Di tempat lain, Juna dan Melati duduk berdampingan di sebuah bangku di depan penjual Permen kapas. Melati menikmati sedikit demi sedikit benda berwarna pink yang tadi Juna beli sendiri.
"Apakah itu sangat enak?"
"Enak. Mau coba?" Melati mencubit sedikit permen kapasnya dan menyuapkan pada Juna.
"Ini manis. Tapi kamu lebih manis." Juna membelai sekitar bibir berwarna pink yang selalu minta dicoba. Juna menelan ludahnya kasar. Dia harus menahannya hingga dia mendapat stempel halal untuk Melati. Jika tidak, dia akan kelihatan seperti pria brengs*k untuk Melati yang polos.
Keduanya asik bercengkrama saat melihat seorang anak jatuh di depan mereka. Melihat itu, Melati bangkit dan segera membantu anak kecil berusia sekitar lima tahun itu.
"Kamu tidak apa-apa dek?" tanya Melati lembut. Anak laki-laki itu mengangguk.
Melati memperhatikan bagian lutut anak itu. Dia menemukan luka gores yang mengeluarkan sedikit darah. Melati meringis ngeri melihatnya. Pasti perih.
"Ayo ikut kakak kesana. Kita obati duku lukamu." Melati menggiring anak itu ke bangkunya dan Juna. Mendudukkannya di tengah-tengah mereka setelah Juna bergeser.
"Kenapa?"
"Kakinya terluka Na. Ini harus segera diobati agar tidak infeksi." Melati meminta tasnya yang berada di sebelah Juna. Untung saja dia selalu membawa alat keselamatan sederhana di dalam tasnya. Sebagai seorang guru, ini merupakan hal yang penting mengingat interaksinya dengan anak-anak sangat banyak. Anak kecil lebih sering terluka saat mereka bermain.
Dengan telaten, Melati membersihkan luka anak itu dengan kapas yang telah diberi alkohol.
"Tahan ya. Ini akan sedikit perih." kata Melati sebelum menyapukan kapas itu ke lutut anak laki-laki itu. Dia meringis menahan perih.
"Namamu siapa?" kali ini Juna bertanya. Dia daritadi memperhatikan ekspresi anak laki-laki itu yang menurutnya lucu.
"Dion. Ish." Dion mendesis saat perihnya ia rasa lebih.
__ADS_1
"Kalau kamu mau nangis. Nggak apa-apa. Kakak yakin ini pasti sakit." kata Melati yang melihat anak bernama Dion itu menahan tangisnya.
"Tidak kak. Aku tidak boleh menangis. Jika hanya karena luka kecil seorang pria menangis. Dengan apa aku akan melindungi saudara-saudaraku yang lain?" Juna mengusap kepala Dion. Anak ini diajari dengan baik untuk bertahan hidup. Melihat dari cara berfikirnya, dapat disimpulkan jika anak ini bukan berasal dari keluarga biasa.
"Baiklah anak yang kuat. Ini sudah selesai." Melati mengelus singkat perban yang baru dia pasang untuk menutup luka anak itu agar tidak terkena debu.
"Terima kasih kak." Melati mengangguk.
"Kamu kesini bersama siapa?" tanya Juna. Mereka disana sudah agak lama, tapi belum ada yang mencari anak itu.
"Aku bersana teman-temanku. Tapi aku sepertinya terpisah dengan rombongan."
"Baiklah. Ayo kita ke bagian informasi. Kita melapor agar teman-temanmu tidak khawatir dan segera menemukanmu." kata Melati. Dion mengangguk dan mengikuti mereka. Dion berjalan tertatih-tatih akibat luka di lututnya yang sedikit perih. Dia jatuh diantara kerikil yang tajam tadi.
"Permisi pak. Saya keluarga dari anak yang tersesat tadi." ketiga orang yang berada di dalam ruang informasi menoleh ke arah suara.
Dion segera beranjak dan mendekati Elisya yang berdiri di dekat pintu. Gadis itu sedang memberi keterangan dirinya beserta bukti bahwa dia keluatga dari Dion. Juna dan Melati mengikutinya.
"Mereka adalah orang yang menemukan adik anda." kata petugas saat melihat Juna dan Melati mendekat.
Elisya menatap keduanya dengan perasaan yang aneh. Wajah mereka seperti tidak asing. Apalagi melihat binar mata keduanya yang sarat akan kerinduan.
"Em. Terima kasih banyak. Kalian telah menolong adik saya."
Elisya mendadak linglung. 'Suara ini, mengapa begitu familiar?'
"Em. Perkenalkan, nama saya Elisya. Saya dari panti asuhan Kasih Bunda."
"Saya Melati." Mereka berjabat tangan. Tangan yang terasa familiar. Sedikit getaran menyerang kepala Elisya. Elisya menggeleng menghilangkan rasa tak nyaman itu.
"Anda baik-baik saja?" Melati cemas. Wajah Elisya berubah dengan drastis tadi.
"Ya. Saya baik."
"Saya Juna." Elisya menjabat tangan laki-laki di hadapannya. Nama dan rasa ini sepertinya sangat akrab dengannya. Bahkan perasaan rindu yang mencubit hati entah berasal dari mana.
"Untuk membalas rasa terimakasih kami, Jika kalian berkenan, maukah kalian bergabung dengan kami? Kami sedang makan siang di sana." Elisya menunjuk lokasi yang cukup jauh, tempat anak panti berkumpul. Mereka menggelar tikar dan membuka bekal mereka di tengah taman.
Melati melirik Juna. Mengisyaratkan agar laki-laki itu menerima ajakan dari Elisya. Dengan begitu mereka akan lebih dekat.
"Baiklah. Kami akan bergabung. Sepertinya, makan bersama-sama akan lebih menyenangkan."
__ADS_1
Elisya tersenyum dan mengangguk. Laki-laki di depannya benar. Makan secara bersama-sama sangat menyenangkan.
Juna memberi kabar pada yang lain tentang kaberadaan mereka. Sehingga yang lain bisa mendekat dan Mungkin bisa berkumpul dengan mereka.
Di atas tikar, dua puluh dua anak sudah duduk disana. Membentuk dua kelompok. Melingkari makanan yang ada di tengah mereka. Hari ini Naina tidak ikut karena dia yang kebagian menjaga panti, tidak mungkin membiarkan panti ditinggal Tanpa seorang pun disana.
Anak panti menerima kedua tamu mereka dengan baik. Bunda Fatma tak henti-hentinya berterima kasih pada keduanya.
"Tidak apa-apa Bunda. Kami senang bisa membantu." Melati menjadi tidak enak hati mendengar orang tua itu terus saja berterima kasih dan meminta maaf padanya.
Mereka makan dengan diselingi canda tawa seperti biasa. Namun ada yang berbeda dengan Elisya. Dia sedikit banyak melirik kedua tamu yang ia bawa. Mereka berdua dengan cepat terlihat akrab dengan kelompok mereka.
Tapi bukan itu yang sedang diperhatikan Elisya. Melainkan mencari tahu apa yang sebenarnya ada pada diri mereka sehingga mereka menimbulkan rasa rindu yang aneh untuk ukuran orang asing. Elisya bahkan baru melihat mereka sekarang setelah lima tahun dia ada di kota ini. Tapi dari mana rasa rindu yang aneh ini berasal?
*
*
*
**Terima kasih sudah mampir 😘
Like, VOTE, rate dan komentar ya 🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Sepuluh🍃...
...🌸Pada malam ke Sepuluh, Allah Ta'ala memberi dia karunia di Dunia dan di Akhirat🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...