
Di kantornya, Safna sedang uring-uringan. Pasalnya, sudah hampir dua bulan usahanya untuk dekat dengan Elang tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Berulang kali Elang mengirim Reno untuk mewakilinya meeting dengan perusahaan yang dipegang Safna. Elang merasakan gelagat aneh dari kakak pacarnya itu. Elang sangat risih saat Safna berusaha mencari perhatiannya, bahkan hampir setiap hari berusaha mengajaknya untuk makan siang atau makan malam bersama.
"Gue harus gimana Frans?" tanya Safna pada Frans. Sekretaris sekaligus sahabatnya. Frans lah yang tahu betul usaha yang dilakukan Safna selama ini.
"Menurut gue mending lo nyerah aja Saf. Gue rasa tuan Elang tahu rencana lo. Dia terus menghindari lo."
"Gue nggak akan nyerah gitu aja Frans. Gue lebih segalanya dari Salsa. Gue nggak mungkin kalah dari dia."
"Ingat Saf, Salsa itu adek lo."
"Gue nggak mau tahu. Gue nggak peduli yang pasti gue harus dapetin Tuan Elang. Udah lama gue ngincar dia. Cuma gue yang pantas buat tuan Elang. Bukan Salsa yang nggak bisa apa-apa itu."
"Serah Lo deh Saf. Yang penting gue dah ingetin lo."
...*****...
Di tempat lain, Aira juga sedang bersama dengan para sahabatnya. Aira, Melati dan Mikaila sedang menyemangati ketiga cowok tampan bermain basket yang sedang bertanding dengan SMA Budi Pertiwi.
Kedua SMA yang sejak lama menjadi rival di lapangan itu sedang melaksanakan pertandingan persahabatan sekaligus perpisahan. Pertandingan ini akan menjadi pertandingan terakhir sebelum mereka meninggalkan sekolah mereka masing-masing dan melanjutkan pendidikan mereka ke bangku kuliah.
Melati yang awalnya hanya diam kini ikut teriak histeris saat Juna berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring. Kedua gadis di sampingnya tak kalah heboh dengan Melati.
"Bagus Na!" teriak Aira. Juna memberikan jempolnya pada ketiga gadis yang memberinya semangat.
Permainan masih berlanjut. Kedua team merasakan semangat yang membara. Mengingat pertandingan ini akan menjadi yang terakhir, mereka harus memberikan kemampuan terhebat mereka. Apapun hasilnya nanti, yang penting Happy.
"Yah. Kalian gimana sih." gerutu Mikaila saat team lawan berhasil mencetak nilainya.
Doni, kapten team lawan memberikan jempolnya pada Aira dan kedua gadis di sampingnya. Dia tahu bahwa ketiga gadis itu mempunyai tempat istimewa untuk team basket lawannya.
"Ngapain lo Don?" teriak Aira judes. Doni selalu menggodanya selama ini.
"Kasih gue semangat Ra!" teriaknya. Sambil mendekat ke arah Aira dan teman-temannya.
"Ogah. Gue bukan fans lo. Ngapain lo kesini? Balik sono!" usir Aira. Doni selalu berhasil membuat Aira kesal.
"Masih galak aja Ra." ucap Doni sambil berlari kembali ke lapangan.
Setelah beberapa waktu, pertandingan selesai. Pertandingan kali ini dimenangkan oleh Team Doni dengan selisih satu poin.
"Kita Impas Na." ucap Doni saat Juna memberinya selamat.
__ADS_1
"Ya. Team lo emang hebat."
"Team lo juga hebat. Gue pasti kangen tanding sama team lo."
Saat ini, di lapangan basket kedua belah pemain duduk bersama. Ditambah Aira, Melati dan Mikaila. Pemain lain juga mengajak pasangan mereka masing-masing. Mereka saling bicara dan bercanda.
Walaupun di lapangan mereka adalah rival bebuyutan, di luar lapangan mereka akrab seperti sahabat lama.
"Sebelah lo siapa Ra? Kenalin ke gue dong." kata Doni setelah mendudukkan dirinya di samping Aira.
"Oh ini. Kenalin, Doni ini Melati, Melati ini Doni." keduanya saling berjabat tangan.
"Manis. Anggota baru ya?"
"Yo'i. Tapi udah sold out dia." Dusta Mikaila. Dia tak akan membiarkan Melati digangguin cowok lain. Dia sudah di teken buat Juna.
"Yah sayang banget. BTW kalo lo udah jadian belum ma Juna?" tanya Doni pada Aira. Kedekatan Juna dan Aira memang sudah terkenal.
"Eh Don, Aira sudah sold out tauk. Tapi bukan sama Juna." jawab Mikaila. Doni melihat ke arah Juna yang sedang bercanda dengan teman-temannya yang lain.
"Bukan Juna?" tanyanya tidak percaya.
"Bukanlah. Gue ma Juna tuh dari zaman alif Sampek zaman ya' ya cuma mentok jadi sahabat." Aira ikut memperhatikan Juna. Tawa Juna yang lepas ikut membuatnya senang.
"Cowok ganteng zaman sekarang pada karatan kali ya matanya." cibir Aira. Doni menautkan alisnya.
"Karatan gimana maksudnya?"
"Kagak bisa bedain cewek kualitas premium sama kualitas subsidi." Doni semakin mengerutkan dahinya.
"Udah nggak usah dipikirin. Bisa-bisa botak pala lo." ucap Aira melihat ketidak fahaman cowok itu. Dia tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang merendahkan dirinya sendiri secara terinci.
"Kalo lo emang udah Sold out, pacar lo mana?"
"Nggak disini. Lo nggak perlu tahu."
"Eh Don, anak-anak ngajakin kumpul malam ini. Anak-anak pengen ngadain pesta perpisahan." Juna datang dan duduk di sebelah Aira, sehingga gadis itu berada di antara dua kapten tim basket dari dua sekolah yang berbeda.
"Kuy lah. Kumpul dimana malam ni?"
"Karena malam ini spesial, gimana kalo kita booking kafe Growth?"
Ini kedengaran bagus. Kafe Growth adalah kafe milik kakak Doni. Dan kafe itu mengusung konsep remaja, jadi sangat sesuai untuk pestanya para remaja seperti mereka.
__ADS_1
"Oke. Gue setuju. Soal kafe jadi urusan gue. Lo bilang sama yang laen kumpul disana jam tujuh."
"Oke."
"Tapi Sorry gue nggak bisa ikutan kali ini. Soalnya gue ada urusan penting." ucap Aira menyesal. Dia sudah mempunyai janji dengan Elang untuk pergi malam ini. Acara malam ini spesial karena ini adalah acara dinner yang disiapkan khusus untuk mereka berdua untuk merayakan selesainya ujian Aira.
"Nggak asik dong Ra kalo nggak ada lo." ucap Juna.
"Ya Sorry. Kalian buat acaranya mendadak sih. Kan aku udah duluan janjian sama mas Elang." mendengar nama Elang disebut. Hati Juna sedikit kecewa. Dulu sebelum Aira jadian dengan Elang, Dia tidak akan pernah melewatkan satu kalipun pesta yang mereka buat.
Tapi sekarang dia tidak boleh egois. Juna dapat melihat dengan jelas bahwa Aira bahagia saat bersama Elang. Dia juga melihat seberapa besar perasaan keduanya. Dan Juna ikut bahagia akan hal itu.
"Ya sudah nggak papa." Juna menepuk bahu Aira sebelum berdiri dan berjalan ke arah teman-temannya tadi.
"Gue juga mau kasih tau teman-teman dulu Ra." pamit Doni.
"Hem."
"Aira aja yang dipamiti? Gue dikacangin gitu?"
"Eh nyonya Wildan, Sorry nggak kelihatan, abis mungil gitu." ejek Doni sambil mencondongkan tubuhnya untuk melihat Melati yang tak terlihat karena tertutup oleh tubuh Aira dan Melati yang keduanya lebih tinggi dari dirinya.
"Doniiiii!" Melati yang tidak terima dengan ejekan dari Doni segera berdiri dan berkacak pinggang sambil berteriak yang membuat para pendengar tutup telinga. Suara Mikaila auto cempreng kali ini.
"Huahahahaha. Sorry-sorry, jangan marah-marah. Ntar badan yang udah mau tambah tinggi takut denger teriakan lo." ucap Doni sebelum dia berlari meninggalkan Mikaila yang emosi.
Aira yang hafal jika Doni akan selalu menggoda Mikaila hanya menggelengkan kepalanya sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Mel, lo nanti ikut kan?" tanya Mikaila setelah kembali duduk.
"Kayaknya aku nggak bisa deh. Udah malam. Pasti nggak diizinin keluar."
"Nanti gue jemput. Gue yang minta izin ke bonyok lo." ucap Mikaila, Melati hanya mengangguk mengiyakan. Dia belum pernah sekalipun keluar malam untuk pesta dengan temannya. Ini pertama kali baginya. Jadi dia belum tahu apakah akan mendapat izin atau tidak. Tapi untuk menolak permintaan Mikaila juga tidak enak. Apalagi Aira juga tidak ikut acara itu. Pasti nantinya Mikaila tidak punya teman.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Salam sayang😍...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...