
Sore ini, seperti biasa Elisya sudah berdiri sambil bernyanyi dan memetik senar gitarnya. Naina dan Romi juga melakukan tugasnya untuk mengiringi Elisya dengan memainkan alat musik mereka.
Saat menyelesaikan lagunya, Elisya menangkap beberapa sosok yang dia kenal sedang tersenyum padanya. Ya. Mereka adalah Elang beserta rombongannya. Elisya membalas senyum mereka dengan senyum yang tak kalah manis.
Setelah menyanyikan beberapa lagu, Elisya dan teman-temannya istirahat sebentar. Kesempatan ini digunakan Elisya untuk menemui orang-orang yang dia kenal kemarin malam. Ia merasa nyaman berada diantara mereka.
Namun, belum sempat dia mendekat, sebuah tangan mencekalnya. Tak lama setelah itu, seseorang yang sangat ia kenal menghadang langkahnya.
"Nyonya. A-ada perlu apa nyonya datang kemari?" tanya Elisya panik
"Hahahaha." Devina tergelak. Dia tidak pernah melihat wajah Elisya yang panik seperti ini sebelumnya. Tentu saja ia panik, jangan sampai Elang dan yang lainnya mendengar apa yang akan dibicarakan oleh calon mertuanya itu.
"Nyonya, sebaiknya kita bicara di tempat lain. Disini banyak orang." Elisya Sebenarnya tidak peduli dengan orang lain. Tapi disini ada orang-orang yang baru saja ia kenal. Ia tidak ingin mereka mendengar hal yang buruk mengenai hubungannya dengan Arka yang tampak baik dari luar.
"Kenapa? Apa kamu malu karena kamu adalah upik abu yang berharap mendapatkan pangeran sempurna hah!?" nada bicara Devina mulai tinggi. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mempermalukan Elisya di tempat umum seperti ini. Kini, mereka pengunjung memperhatikan keduanya.
Elang dan yang lainnya mengepalkan tangan mereka ketika mendengar hal itu. Elang meminta mbak Weni untuk mengajak Naira kembali ke hotel sebelum ia dan yang lainnya mendekati Elisya yang saat ini berwajah merah.
"Lebih baik kita bicara di luar Nyonya."
"Tidak! Saya hanya ingin mengingatkan pada jal*ng seperti kamu untuk menjauhi anak saya. Kamu hanyalah wanita rendahan! Tidak pantas bersanding dengan anak saya."
"Maaf nyonya. Saya sudah lakukan semua kemauan nyonya. Tapi, anak nyonya yang sempurna itu yang tidak mau pergi. Lalu saya bisa apa jika memang anak nyonya mencintai saya?"
Plak...
Sebuah tamparan keras meninggalkan bekas pada pipi mulus Elisya. Tamparan itu bahkan membuatnya jatuh jika saja Elang tidak menangkapnya. Elisya memandang lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya. Kemudian secara bertahap dia mengenali wajah yang berada di belakangnya. Seketika ia bergeming. Perasaan yang aneh kembali muncul. Jantungnya berdegub tidak sesuai iramanya. Ini pertama kalinya untuk Elisya.
Keduanya terdiam beberapa waktu hingga Elisya tersadar dan segera melepaskan diri dan menjauh.
"Lihat! Kamu memang seorang jal*ng. Kamu sudah mempunyai tunangan tapi masih melancarkan rayuanmu pada laki-laki lain hah?!"
"Cukup nyonya. Anda tidak bisa berkata kasar pada orang lain." kata Elang setelah maju di depan Elisya. Elisya bergeming menatap punggung lebar yang terasa familiar untuknya. Punggung itu seperti pernah ia lihat sebelumnya.
Kini, Devina semakin mengeluarkan kata-kata jahatnya untuk Elisya. Dan wanita di belakang Elang masih saja terdiam. Dia bahkan tak mendengar sedikitpun yang dikatakan Devina tentang dirinya. Ia hanya fokus pada punggung yang melindunginya.
__ADS_1
"Dia hanya Jal*ng! Kenapa kalian melindunginya?" Devina Terpojok setelah Mikaila dan yang lainnya maju ikut membela Elisya. Anak buah Tedi, atas perintah Elang sudah mengosongkan Kafe tak lama setelah keributan terjadi agar tidak ada yang menyaksikan keributan tersebut. Bahkan sahabat Elisya dan juga karyawan disana sudah keluar.
"Kami akan selalu melindunginya. Dia adalah teman kami. Dan kami lebih mengenal dia dari pada siapapun disini!" kata Mikaila.
"Kalian hanya mengenalnya sebentar dan aku yakin kalian telah dipengaruhnya." sinis Devina.
"Nyonya tidak berhak bicara kasar tentang Aira! Dia adalah sahabat kami." kata Juna. Ia tidak terima ada yang mengolok-olok Aira. Dia sudah menahan amarahnya dari tadi. Tapi Devina terus saja mengolok Aira dengan kata-kata yang menjijikkan.
Kini, Elisya menatap Juna yang menyebutnya dengan panggilan lain. Dia menatap satu persatu orang yang menurutnya baru dia kenal dia hari yang lalu dengan tatapan penuh arti.
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Elisya tiba-tiba. Ia mengabaikan tatapan Devina yang melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.
Semua orang memandang Elisya. Gadis itu terlihat sangat bingung dengan keadaan ini. Perasaannya mengatakan mereka semua tidak asing untuknya. Tapi siapa? apakah mereka adalah bagian dari masa lalu yang sudah lima tahun ini ia lupakan?
"Kami adalah sahabatmu." kata Mikaila.
"Berandal sekolah. Lo ingat Nyonya Jones?" Juna menatap Elisya penuh arti. Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin Aira sahabatnya kembali.
Seketika, Elisya membeku. Panggilan itu begitu familiar. Kepalanya tiba-tiba sangat sakit saat kilatan ingatan berputar di kepalanya. Elisya pun pingsan. Beruntung Elang berhasil menangkapnya dan segera membawanya pergi dari sana diikuti oleh kelima adiknya.
Devina diam di tempatnya. Dia memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. Devina tahu betul beberapa wajah yang membela Elisya tadi. Mereka bukan orang sembarangan. Apalagi pria yang membawa Elisya pergi. Setelah ia memperhatikan dengan seksama. Dia adalah Elang Dirgantara Mahes. Pemilik perusahaan yang sedang bekerja sama dengan perusahaan milik keluarganya. Dan Devina tahu betul jika orang itu tidak bisa sembarangan diprovokasi.
...πΊπΊπΊ...
Elisya terbaring masih belum sadarkan diri setelah dokter mengobatinya. Melati duduk di kursi sebelah brangkar. Kempat sahabatnya duduk di sofa di ruang VIP tempat Elisya dirawat.
Sedangkan Elang sedang berada di ruangan dokter yang merawat Elisya. Dokter itulah yang merawat Elisya sejak ia dibawa ke rumah sakit itu lima tahun lalu.
"Elisya mengalami amnesia berat lima tahun lalu Tuan." kata Dokter.
"Aku tahu. Sekarang apa yang terjadi padanya?"
"Kemungkinan besar, dia melihat atau mendengar sesuatu yang berkesan di masa lalunya sehingga secara tidak sadar alam bawah sadarnya merespon dengan memberikan ingatan masa lalu yang membuat kepalanya sakit."
"Apa itu berbahaya?"
__ADS_1
"Tidak. Ini sangat normal terjadi saat seseorang baru menerima ingatannya. Kemungkinan sebentar lagi Elisya akan mengingat masa lalunya Tuan."
"Baiklah. Rawat dia dengan baik. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpanya."
"Baik tuan."
Elang keluar dari ruangan itu. Dokter merasa lega. Sejak pemilik rumah sakit itu datang tadi. Wajah gelapnya tidak dapat dia lupakan. Para petugas rumah sakit yang lain juga merasakan was-was dalam hatinya. Mereka tidak tahu apa yang membuat Elang sampai seperti itu.
Mereka pernah melihat Arka yang melakukan hal yang sama. Tapi ketakutan mereka terhadap Elang jauh lebih besar daripada rasa was-was yang mereka rasakan pada saat Arka yang melakukannya.
Dan yang membuat mereka tak habis fikir. Kedua orang yang memiliki kedudukan tinggi dengan kadar ketampanan yang sempurna mempunyai respon yang sama terhadap gadis yang sama. Gadis yang benar-benar istimewa
Sampai di ruangan Elisya, kelima adiknya berdiri. Melati bejalan ke sebelah Juna. Membiarkan Elang untuk duduk di tempatnya tadi.
"Bagaimana keadaan Aira kak?" tanya Juna saat Elang berada di depan mereka.
"Dia tidak apa-apa. Kata dokter ini normal saat dia mendapatkan ingatannya sedikit demi sedikit sebelum semua ingatannya kembali."
"Jadi, sebentar lagi Aira akan mengingat kita?"
"Belum bisa dipastikan juga. Kita hanya bisa berdo'a." kata Elang sebelum dia menghampiri Elisya dan duduk di sebelahnya.
Elang hanya bisa diam. Tangannya bahkan ragu untuk ia gunakan untuk menggenggam tangan Aira. Dia merasa telah mengkhianati gadis itu dengan menikah dengan kakaknya.
Kelima orang yang melihat itu mengerti betul apa yang ada di fikiran Elang saat ini. Rasa bersalah itu sangat terlihat jelas bagi mereka yang selama ini selalu berada di samping Elang.
"Kata dokter, ia baru akan sadar setelah satu jam kak." kata Juna menghilangkan keraguan Elang.
Segera ia rengkuh tubuh itu. Menguarkan rasa rindu yang selama ini ia tahan dengan keras. Air mata itu luruh juga akhirnya. Kerinduan yang selama ini mengoyak hatinya akhirnya terbayarkan.
"Maafkan mas sayang. Mas tidak mencarimu selama ini. Maafkan mas." Elang menciumi setiap inci wajah yang selama ini ia rindukan.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir π