
🗺Jika jarak bisa dilipat. Akan kulakukan apapun untuk mengikis jarak diantara kita🗺
Malam ini Elang mendadak gelisah. Dia tidak dapat konsentrasi pada meeting yang sedang dilakukan. Karena meeting inilah dia tidak jadi pergi menyusul Aira kemarin malam. Dia sangat ingin bertemu Aira, tapi dia tidak boleh egois sekarang. Kata-kata Adrian kembali terngiang di kepalanya.
Flash Back on.....
Seluruh pelayan Mansion keluarga Mahes sedang sibuk menyiapkan acara makan malam untuk anggota keluarga itu. Tidak banyak. Hanya tiga orang. Tapi semua pelayan mansion itu tahu betapa berharganya waktu makan malam untuk tuan rumah mereka. Mempunyai putra tunggal yang gila kerja, dikombinasi dengan tuan rumah yang tidak jauh gilanya dengan sang anak membuat makan malam dengan anggota keluarga yang hanya terdiri dari tiga orang itu jarang terjadi.
Erna, bahkan sudah mengintruksikan apa saja yang akan terhidang di atas meja sejak dia kembali dari kantor anaknya. Bahan masakan pun dia beli secara mendadak saat perjalanan pulang. Dia ingin makan malam kali ini berkesan.
"Ma." sapa Elang saat dia melihat ibu kandungnya yang sudah menunggunya di ruang tamu. Duduk tenang membaca majalahnya.
Erna segera berdiri dan memeluk sang putra setelah Elang mencium punggung tangan ibunya.
"Mama kangen sayang." ucap Erna setelah mengecup kening sang putra.
"Elang juga kangen."
"Omong kosong. Kalau mama tidak memaksamu, mana mungkin malam ini kamu menginjakkan kakimu untuk mengunjungi wanita tua ini." Erna mengerucutkan bibirnya saat mengungkapkan keluhannya.
"Maaf ma. Elang sibuk Akhir-akhir ini."
"Ya ya ya. Mama tahu. Kalian para laki-laki selalu saja sibuk bekerja. Anak dan papa sama saja. Tidak ada yang peduli pada mama."
"Ayolah ma. Sejak kapan mama jadi manja hem?" Elang memeluk mamanya. mengelus punggung Erna.
"Segeralah bawa menantu untuk mama. Jadi mama nggak kesepian lagi."
"Masih lama untuk itu ma."
"Apa papa perlu membantu mu menemukan calon boy?" ucap Adrian ketika dia baru saja sampai dari kantor. Erna segera menghampiri suaminya. Mencium punggung tangannya dengan khidmat sebelum bibir hangat suaminya menempel di kening miliknya.
"Ck. Kalian membuat anak kalian merasa iri." Elang segera meninggalkan kedua orang tuannya yang masih melanjutkan kemesraan mereka. Walaupun mereka sudah tua, kemesraan tetap harus dijaga.
Elang segera menuju kamarnya di lantai dua. Melempar jas dan tas kerjanya ke atas ranjang sebelum melepaskan dasi yang serasa mencekik lehernya sebelum menyambar handuk dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Tuan muda, makan malamnya sudah siap. Tuan dan nyonya sudah menunggu di bawah."
"Ya."
Elang segera turun. Duduk di tempat biasanya. Di depan Erna. Erna mengambilkan makanan untuk suami dan anaknya.
"Boy, kamu harus segera mencari pendamping." kata Adrian sambil mengunyah makanannya.
"Ck. Kenapa? Papa cemburu mama mengambilkan makanan untuk Elang?"
"Ya Iyalah. Mama itu milik papa." Erna mengecup singkat pipi Adrian sebelum kembali duduk.
__ADS_1
"Sudah tua juga."
"Kemesraan harus selalu dijaga sayang. Sudah ayo dimakan."
"Pa, Elang mau cuti dua hari." kata Elang setelah mengelap bibirnya dengan tisu. Dia sudsh selesai makan.
"Besok ada meeting penting Boy."
"Elang ada hal penting yang harus Elang lakukan. Bisa papa gantikan Elang kan sekali ini saja?"
"Tidak bisa Boy. Tuan Nagata minta kamu yang hadir.
"Ya sudah di Cancel lagi saja."
"Boy, kerja sama kali ini sangat penting. Kemarin sudah kamu cancel. Beruntung Tuan Nagata tidak marah dan memberi kesempatan lagi. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Kamu harus ingat kewajiban kamu saat ini. Kamu bertanggung jawab pada kesejahteraan tiga ribu lebih karyawan."
"...." Setiap kata-kata Adrian meresap ke dalam hati. Semuanya memang benar. Diapun tak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Apalagi mengecewakan karyawan yang terlibat langsung dan sudah lama mengusahakan kerja sama dengan perusahaan dari Jepang ini. Mereka sudah bekerja keras.
"Sayang, mama tahu apa yang akan kamu lakukan."
"...." Elang hanya diam. Memang apa yang diketahui mamanya.
"Kamu mau nyusulin gadis itu kan?"
"...." Apa iya mamanya tahu rencananya. Mengabaikan itu, apakah mamanya tahu jika selama ini dia mengejar-ngejar Aira.
"Dia sedang ada acara sekolah Boy. Disana bukan untuk liburan. Biarkan dia lepas dari kamu sementara waktu. Biar dia bisa bernafas lega setelah kamu kejar-kejar dia setiap hari."
"Apa yang tidak kami ketahui tentang kamu sayang?" Erna tertawa terbahak-bahak.
"Ah. Mama benar. Bahkan aku punya detektif pribadi yang siap membuntutiku." sindir Elang. Erna terkekah. Dia ingat hari-hari dimana dia menjadi detektif yang seharian mengikuti anaknya. Awalnya dia hampir putus asa. Tapi, takdir memihak padanya. Pada sore hari, dia menangkap basah Elang mengikuti Aira sampai di taman kota. Dia mengikuti kemanapun kedua anak muda itu. Mengamati interaksi keduanya dari jauh. Dia pun merasa puas dengan calon menantu yang telah dipilih oleh anaknya. Tak lama dia juga mendapatkan informasi detail dari gadis yang sedang didekati oleh anaknya itu.
"Kamu tidak mau jujur sama mama. Kalau rasa penasaran sudah muncul mama bisa apa sayang. Dia gadis yang baik."
"Ya. Mama benar. Berikan pada Elang ma berkasnya."
"Ck. Kamu persis seperti Papamu. Tidak sabaran."
"Memang dia anak ku sayang." Adrian mengecup pipi Erna.
"Tak tahu malu. Menahan anaknya disini untuk menonton adegan mesum!"
"Hahaha. Maaf boy. Gadismu masih SMA. Kamu harus sabar menunggu setengah tahun lagi. Kalau dia sudah lulus, akan papa lamarkan dia untukmu." Elang lagi-lagi hanya mendengus. Papanya benar-benar mesum. Tidak tahu malu mencium bibir istrinya di depannya. Baiklah. Dia memang istrinya. Tapi tidak bisakah untuk tidak mengumbarnya di depan anaknya yang sedang galau ini?
"Sudah jangan hiraukan Papamu. Ini sayang. Jaga caman mama dengan baik." Erna memberikan map yang dia ambil dari Reno sore tadi. Elang segera berdiri dan meninggalkan meja makan yang penuh dengan kemesraan kedua orang tuanya. Malam ini Elang memutuskan untuk tidak menyusul Aira. Dia disana untuk acara sekolah. Elang tidak boleh mengganggunya.
Flash Back off....
__ADS_1
Tapi malam ini, dia sudah tidak bisa menahan diri. Perasaan yang gelisah tidak bisa direndam lagi. Dia merasa tidak nyaman sekarang. Dia merasakan firasat buruk tentang Aira.
Elang segera meninggalkan kantornya setelah meeting dengan tuan Nagata selesai. Dia bahkan meninggalkan Reno yang memandangnya dengan bingung. Mobilnya melaju kencang dijalanan ibu kota dan bergerak menuju puncak. Di lampu merah, Elang membuka file yang berisi alamat dan data-data lengkap mengenai lokasi camping Aira.
Di tempat lain, Aira baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sedang sendirian sekarang. Suasana lapangan juga sudah sepi. Hanya ada dirinya yang ada di luar tenda. Seluruh siswa pasti sudah terlelap dalam mimpi mereka setelah lelah melakukan kegiatan sepanjang hari.
Tiba-tiba suara seorang gadis meminta tolong terdengar dari dalam hutan yang memang tak jauh dari tempatnya berdiri. Aira segera menghampiri arah suara itu.
Dengan bantuan cahaya flash dari handphone miliknya, Aira mulai memasuki hutan. Dia sadar bahaya yang mungkin mengancamnya. Tapi dia tidak bisa mengabaikan suara minta tolong yang bahkan tidak hanya sekali terdengar dari dalam hutan.
Aira memasang sikap waspada untuk hal-hal yang bisa saja terjadi di depan.
Klek... Suara ranting yang patah terinjak terdengar membuat Aira semakin waspada. Dimatikannya flash HP yang menjadikan daerah itu kembali gelap.
Srek... terdengar lagi suara daun yang terinjak. Aira semakin waspada. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan yang terlihat gelap. Hanya sinar bulan yang Samar-samar memperlihatkan tiga sosok laki-laki yang mendekatinya.
"Siapa kalian?" tanya Aira saat ketiga laki-laki itu berada di depannya.
"Kami hanya anak hutan yang kedinginan. Maukah kamu menghangatkan tubuh kamu cantik?"
"Cih jangan mimpi. Pergi kalian!"
"Hahahaha. Baiklah. Kalau kamu tidak mau dengan cara halus. Kami juga bisa saja berganti dengan mode kasar." laki-laki yang berdiri di tengah segera menoleh pada salah satu bawahannya untuk segera menangkap Aira.
Aira dengan sigap melawan preman itu. Preman itu tumbang hanya dengan dua pukulan dan tiga tendangan yang Aira berikan. Tak terima, bos mereka menyuruh anak buahnya maju bersama-sama.
Melawan dua orang sekaligus tidak membuat Aira kuwalahan. Dia malah tambah bersemangat. Apa lagi saat pipinya mendapat stempel biru yamg membuat sudut bibirnya robek membuat Aira semakin beringas. Menyerang dua orang di depannya sehingga keduanya terjatuh.
"Ahk." teriak Aira saat merasakan sakit di tengkuknya. Dirabanya tengkuk itu. Dia berbalik dan mendapati bos preman itu menyeringai ke arahnya, membuang balok kayu yang baru saja digunakan untuk memukul Aira.
"Aku jadi semakin bersemangat manis. Kamu membuat ku semakin tertantang." Aira merasa jijik melihat lidah preman yang dimainkan secara sensual di bibir hitamnya.
"Cepat bawa gadis itu."
"Ayo. Kita begitu beruntung malam ini."
"Kau benar. Selain mendapatkan gadis cantik. Kita juga dapat uang dari bos. Bos pasti senang dengan hasil kerja kita." ucapan satu preman terdengar sebelum kesadaran Aira benar-benar hilang akibat rasa pusing yang terasa berat.
'Siapa bos mereka?' tanya Aira dalam hati.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😍...
__ADS_1
...Tinggalin jejak dengan like 👍 dan...
...komentar🗨...