
Mikaila menundukkan kepalanya. Perkataan yang dikatakan Wildan membuatnya berfikir keras. Gosip yang menerpanya semakin panas dan tak terkendali. Di beberapa akun gosip bahkan beredar foto-fotonya ketika dia dan Roki bertemu ketika awal mereka berkenalan. Entah darimana para wartawan itu mendapatkan fotonya. Ini membuat Wildan murka.
Wildan kini memaksanya untuk melangsungkan pesta pertunangan jika Mikaila menginginkan hubungan mereka tetap berjalan. Sebaliknya, jika Mikaila menolak, Wildan meminta mengakhiri hubungan mereka.
Tidak dapat dipungkiri jika Mikaila sangat mencintai Wildan. Tapi dia juga tidak bisa begitu saja meninggalkan karir yang ia raih dengan susah payah. Apalagi menjadi artis adalah cita-citanya dari dulu.
“Aku beri waktu satu Minggu untuk berfikir.”
Kata-kata Wildan terngiang di kepalanya. Film yang dibintanginya baru akan realis dua bulan lagi. Dan Wildan sudah tidak bisa menunggu sampai waktu itu tiba. Mikaila ragu. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Katanya kemarin baru ketemuan sama Wildan. Kenapa masih saja galau?” tanya Dila yang mendapati Mikaila termenung di pinggir kolam di rumahnya.
“Ini buruk Dil.” Kata Mikaila lemas. Dia mengangkat kakinya ke atas kursi. Menenggelamkan wajahnya di atas lutut. Dila kemudian duduk di kursi sebelah Mikaila. Memandang lekat artis cantik yang ada di sampingnya.
“Buruk gimana?”
“Wildan mendesakku untuk segera tunangan Dil. Kalau tidak dia meminta putus dariku dan akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Aku nggak mau itu terjadi.”
“Kenapa dia jadi egois begini sih?” decak sebal Dila.
“Wildan tidak egois Dil. Akulah yang egois. Aku tahu betul bagaimana perasaanya mendengar gosip yang beredar di masyarakat. Dia bahkan jadi bahan gunjingan di kantor.”
“Tapi dia nggak boleh gitu juga dong.”
“Kalau aku jadi dia aku juga pasti akan berbuat seperti ini. Bahkan mungkin lebih parah.” Mikaila menerawang jauh.
“Terus kamu maunya apa?”
“Aku akan menyetujui keinginan Wildan. Toh ini juga hanya pertunangan.”
“Menurutmu apa Produser itu akan setuju?”
“Aku tidak peduli.”
“Jika memang menurutmu itu adalah jalan yang terbaik aku akan mendukungmu.”
“Terima kasih Dila. Sekarang tolong atur jadwal aku ketemu dengan pak Produser.”
🌹🌹🌹
__ADS_1
Pesta pertunangan Mikaila dan Wildan berlangsung mewah di ballroom Dirgantara Hotel satu minggu sebelum lounching film yang dibintangi Mikaila. Acara ini tertutup dari wartawan. Namun Mikaila dan Wildan telah menemui para wartawan dalam jumpa pers yang diadakan.
Awalnya sang produser menolak keras keinginan Mikaila. Tapi, Elang memberinya penawaran menarik, dia akan menjadi sponsor terbesar untuk film itu. Tentu saja akhirnya sang produser luluh. Dengan AMT yang menjadi sponsornya, maka film itu pasti akan laris di pasaran.
Mikaila dan Wildan tampil serasi malam ini. Mereka kompak memakai pakaiam berwarna hitam. Mikaila tampal sangat elegan dengan gaun panjang yang pas melekat pada tubuh seksinya. Gaun tanpa lengan dengan hiasan renda di bagian dada membuat Mikaila tampil menawan. Wajah cantik Mikaila dirias oleh Make Up artis ternama yang memancarkan aura keagungan.
Wildan tampak gagah dan Berwibawa dengan jas hitam berpadu keja dark grey. Dipadukan celana kain berwarna hitam yang membalut kaki panjang milik tunangan Mikaila.
Mereka berdua berjalan beriringan menyapa tamu undangan yang berasal dari berbagai kalangan. Banyak artis dan pajabat pemerintah yang hadir. Wildan yang merupakan seorang pengacara terkenal tentu saja memiliki koneksi banyak orang-orang penting di ibu kota.
Awalnya fans Mikaila tidak setuju jika Mikaila memutuskam untuk bertunangan dengan kekasihnya. Mereka masih mendukung jika Mikaila bersama dengan Roki. Tapi ketila mereka mengetahui dengan siapa Mikaila bertunangan, mereka akhirnya menerima. Apalagi Wildan juga tak kalah tampan dari Roki. Wildan juga merupakan Pengacara favorit.
“Hem siapa sekarang yang kalah?” kata Wildan saat dia dan Mikaila sampai pada kursi dimana Ridwan dan yang lainnya berada.
“Ck sombong!” Ridwan yang merasa diolok segera mencelos. Dia kalah telak. Kabar terbaru yang ia terima, Laila ternyata sebulan lagi akan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Dan Ridwan tidak akan mungkin menjadi perusak hubungan orang. Apalagi ia tahu betul jika Laila tidak mempunyai perasaan padanya. Jadi, Ridwan memutuskan untuk berhenti berusaha sampai disini. Mungkin Laila memang bukan jodoh untuknya.
“Kalau sudah tunangan, nikahnya jangan lama-lama. Nanti nikahnya sama orang lain Lho!” cibir Ridwan sambil mengolok Aira. Sekali tepuk, tiga lalat tepar.
“Nggak apa-apa. Yang penting bahagia.” Jawab Aira santai.
“Benar. Dari pada siapa yang mengejar, siapa yang dapat.” Juna ikut memprovokasi Ridwan. Tentu saja ia tahu mengenai Laila. Calon suami Laila adalah Manager di tempatnya.
“Tenang Rid. Wanita cantik dan seksi masih bertebaran di muka bumi ini. Kita masih bisa berburu mereka.” Sesama jomblo harus saling mendukung. Reno menepuk pundak Ridwan. Kisah cinta mereka tidak jauh berbeda.
“Lo benar Kak Reno. Semangat!”
“Hahahaha.” Tawa menggema dari meja mereka.
“Eh Rid, itu banyak cewek nganggur. Kita bidik yuk!” ajak Reno semangat saat melihat beberapa model wanita yang menjadi tamu undangan Mikaila. Keduanya bersemangat dan bangun menghampiri.
“Woy playboy tobat! Jangan jadi cap ikan teri lagi.” Aira terkekeh melihat Ridwan menjulurkan lidahnya.
“Ini hanya pemanasan Ra. Sebelum mencari yang beneran cocok dihalalin. Hehehe.” Kelakar Ridwan sambil melakukan tos dengan Reno yang merangkul pundaknya.
Setelah kepergian duo jomblo itu, kini tinggalah tiga pasangan ditambah gadis cilik kesayangan mereka. Naira. Mereka banyak bertukar cerita malam ini. Melati menceritakan kehamilannya yang merepotkan Juna. Bahkan malam ini Melati tidak makan selain buah di pesta itu.
Berbeda dengan nyonya Elang yang dengan santainya memakan apa saja yang ada di hadapannya. Kehamilannya yang tak terduga ternyata sudah berusia enam minggu ketika baru diketahui. Dua minggu lebih dulu daripada Melati yang masih berusia empat minggu.
“Bunda makannya banyak Onty Bu Mel. Sampai-sampai kalau Nai beli cilok, bunda juga minta dibeliin.” Kata Naira yang menimpali kata-kata Melati. Itu memang benar. Aira jadi banyak makan sekarang.
__ADS_1
“Abisnya lihat orang lain makan tuh kayak enaaak banget. Terus perut jadi terasa kosong minta diisi. Daripada minta punya Naira kan mendingan beli sendiri.” Kata wanita yang berat tubuhnya naik empat kilo setelah hamil itu. Memang benar itu yang ia rasakan. Ia merasa selalu lapar. Dia bisa makan lima kali dalam sehari belum ditambah berbagai camilannya.
“Enak dong Ra. Melati aja sulit makan. Makan dikit aja udah dikeluarin lagi.” Keluh Juna.
“Iya. Anehnya, hanya dengan lihat Mas Juna makan saja aku kenyang dan bertenaga.” Kata melati. Dan Juna lah yang menjadi korban selama ini.
“Berat tubuhku naik dua kilo dalam sebulan. Bentar lagi ilang deh kotak-kotak perutku.” Juna mengelus perutnya yang mulai kehilangan bentuk kotak yang ia bentuk sedari remaja. Ini akibat Melati yang ngidam, tapi minta Juna yang makan.
“Hebat banget litle baby Na.” Puji Aira.
“Hebat gimana?”
“Hebat dia balas dendamnya. Dulu kamu kan gantungin Melati. Ini nih karmanya.” Jawab Aira santai.
“Hahahaha” lagi-lagi suara tawa meledak dari kursi mereka. Mereka tahu betul bagaimana menggantungnya kisah cinta Melati dan Juna hingga sampai pada tahap ini.
*
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...🍁🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1