Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 68. Terhubung Dengan Rumit


__ADS_3

Malam ini, setelah acara selesai, Elang dan yang lainnya berbincang-bincang di halaman belakang rumah singgah. Naila sudah tidur bersama mbak Weni.


"Penampilan anak-anak tadi luar biasa ya." Mikaila mengganti topik setelah dari tadi yang mereka bahas hanyalah masalah bisnis dan pekerjaan mereka yang membosankan.


"Benar. Kita sekarang malah sibuk sendiri-sendiri dan jarang bersama mereka." Kata Juna. Setelah bekerja tentu saja waktu yang tersisa sangatlah sedikit dan itu hanya cukup untuk waktu istirahat.


"Tak terasa rumah singgah ini sudah lima tahun berjalan." Ridwan memindai rumah singgah yang sepi karena malam.


"Terima kasih kak Elang. Jika bukan karena kakak, kami tidak akan bisa membawa anak-anak itu keluar dari sana." kata Wildan. Elang lah yang berjasa besar mewujudkan rumah singgah itu. Elang bahkan membawa serta para preman untuk dijadikan anak buahnya. Meski awalnya mereka menolak dan hendak melawan, namun dengan iming-iming gaji yang besar mereka akhirnya bersedia.


"Ini adalah impian Aira. Aku hanya ingin mewujudkannya." suasana mendadak sunyi. Semua orang disana sangat tahu bagaimana perasaan Elang. Sampai saat ini perasaan itu masih ada. Tersimpan rapi di dalam hati Elang. Mereka yakin jika pernikahan Elang dengan Safna adalah sesuatu kesalahan.


"Dulu Aira pernah bilang sama aku, 'suatu hari gue akan bawa mereka pergi dari sini Na.' Dan aku ketawain dia. Aku bilang dia terlalu berhayal. Saat itu masih belum yakin bagaimana dia akan melakukannya. Tapi aku dapat melihat kesungguhan dalam matanya." kenang Juna.


"Saat awal rumah baca berdiri, Aira lah yang dengan lantang akan menghadapi para preman jika negosiasi yang kami lakukan tidak berhasil. Berkat Aira pula kami mendapatkan kesepakatan yang tidak memberatkan waktu itu." timpal Wildan.


"Gue ingat saat masih sulit dulu. Walaupun dalam keadaan capek seperti apapun, dia akan selalu ada untuk rumah baca. Gue sebagai laki-laki saja kalah jika dibanding dengan Aira. Dia dengan semangat mendatangi satu persatu kantor untuk mencari donasi. Merendahkan diri untuk meminta belas kasih. Gue dan Aira sering dihina saat masuk ke dalam kantor. Tapi dia selalu menenangkan gue." ujar Ridwan.


"Kalian benar. Aira adalah gadis terhebat yang pernah ada." Elang memandang jauh. Kerinduan yang mendalam terlihat dalam manik matanya.


"Aira tidak pernah terganti." ucap Melati. Semua mengangguk setuju.


...☘️☘️☘️...


Setelah mengantar Naira pulang, Elang kembali melajukan mobilnya. Malam ini kerinduan pada Aira telah mencapai batasnya. Dia harus mencari ketenangan nya. Jika tidak, kejadian lima tahun yang lalu saat dia depresi bisa saja terulang.


Elang benar-benar membuktikan perkataan Aira. Suara Ombak adalah anti depresan yang paling baik. Jika hati Elang sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang, Pantailah yang menjadi temannya.


Berdiri memandang luasnya laut. Permukaan laut bersinar memantulkan cahaya bulan. menciptakan keindahan yang sempurna. Matanya terpejam mendengarkan deburan Ombak yang menghantam karang. Membuat hatinya perlahan mulai tenang.


Entah mengapa, ketika dia berada di pantai dia selalu merasa terhubung dengan Airanya. Aira sangat menyukai pantai. Di saat Elang berada di pantai, dia selalu merasa ada Aira hadir di sisinya. Itulah yang membuatnya betah berlama-lama di pantai.


"Sudah lima tahun kepergianmu, sayang. Apakah kamu merindukan mas?" Elang mulai. bicara. Hatinya sudah mulai tenang.


"Kenapa kamu tidak pernah hadir dalam mimpi mas? Apakah kamu tidak rindu?"


"Naira semakin lama semakin mirip denganmu." Elang mulai berbinar. Jika ia menceritakan Naira, dia akan mengingat Aira mengingat keduanya mempunyai sifat yang hampir sama. Liar dan manja Disaat yang bersamaan.


"Kamu tahu Ra, Naira bahkan dengan terang-terangan menggoda Ridwan." Elang terkekeh. Mengingat betapa lucunya sikap anak itu jika mulai genit menggoda Ridwan.

__ADS_1


"Sudah lima tahun sayang. Apakah kamu lelah menunggu mas? Jika mas bisa, mas ingin sekali menyusulmu kesana. Jika tidak ada Naira, mungkin sudah lama mas menyusulmu." Elang tidak bohong. Beberapa kali dia mencoba bunuh diri di awal kematian Aira. Dia baru berhenti berusaha mengakhiri hidupnya saat mengetahui jika anak yang ada dalam kandungan Safna perempuan. Elang bertekad akan mendidik anak itu menjadi kuat seperti Aira.


"Aku merindukanmu, sayang." gumamnya sambil memejamkan matanya yang menyababkan setetes air mata mengalir dari sudut matanya.


...🌴🌴🌴...


Di pantai yang lain, di malam yang sama. Elisya kembali mengambil kalungnya setelah Bunda Fatma pergi. Elisya mengeluarkan kalungnya. Meraba liontin indah yang bersinar di bawah sinar bulan.


Perasaannya selalu hangat saat dia memperhatikan tulisan yang ada dibingkai indah. Walaupun hanya dua huruf yang ada disana, nyatanya mampu membuat hatinya tenang.


Dalam kehidupan kedua ini, kehidupan Aira sebagai Elisya juga tak jauh berbeda. Kisah cintanya terlalu rumit untuk dijelaskan. Bertunangan dengan laki-laki yang sama sekali tidak dicintainya. Dirinya sendiri terjebak dalam cinta masa lalu yang dia sendiri bahkan tidak mengetahui siapa sebenarnya sosok yang sering hadir dalam mimpinya. Yang membuatnya merasa dicintai dan mencintai tanpa ia harus mengerti.


Dalam mimpi itu terlihat dengan jelas bahwa dia sering bersama dengan seorang laki-laki. Menghabiskan waktu dengan laki-laki itu walaupun hanya untuk sekedar berbicara santai. Mimpi itu seperti kenyataan yang pernah terjadi. Sayangnya dia tidak pernah bisa melihat wajah laki-laki yang kerap mengisi Malam-malam nya dalam mimpi.


"Ya" Aira tanpa sadar menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Sebutan yang sama dengan yang ada dalam mimpinya.


Aira memindai sekitar pantai, namun tak didapati siapapun disana. Hanya ada dia seorang di sekeliling pantai.


"Ah. Aku mulai berhalusinasi. Lebih baik aku kembali. Ini sudah sangat larut."


Elisya berjalan dengan santai ke arah panti yang tidak jauh dari sana. Di dalam panti, ada sekitar dua puluh anak yang tinggal bersama dengannya. Dua orang yang seumuran dengannya dan juga Bunda Fatma.


Sampai di panti dia segera masuk ke dalam kamarnya yang satu ruangan dengan Naina. Merebahkan tubuhnya di kasur sempit miliknya.


"Dari mana El?" suara parau Naina mengagetkannya. Ternyata gadis yang tertidur di ranjang sebelahnya terbangun setelah mendengar dia datang.


"Dari pantai. Kamu belum tidur?"


"Sebenarnya aku menunggumu tadi. Tapi ketiduran."


"Kenapa menungguku?"


Naina bangun dan duduk di ranjangnya. Menatap Elisya yang berbaring dengan menutup tubuhnya sampai ke leher.


"El aku penasaran dengan isi hatimu."


"Maksudnya?" Elisya kini memandang lekat wajah sahabatnya.


"Perasaanmu pada tuan Arka."

__ADS_1


"Jika aku boleh jujur, sebenarnya Aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya."


"Itu tidak mungkin El. Dia sangat sempurna dan mudah untuk dicintai."


"Entahlah. Tapi itu kenyataannya Nai."


"Kamu masih memikirkan Liontin itu?"


"Hem. Aku rasa aku terhubung dengan seseorang melalui liontin ini." Aira duduk dan menggantung kalung itu di udara. Membiarkan liontin itu berputar di udara, membuat berlian yang menghiasi liontin itu bersinar.


"Itu memang sangat indah dan terlihat mahal El."


"Ya. Ini memang indah. Sepertinya ini di desain khusus."


"Kenapa kamu tidak memakainya daripada hanya mengantonginya sepanjang hari?"


"Aku tidak ingin kalung ini sampai hilang. Hanya kalung ini yang Mengingatkanku jika aku mempunyai kehidupan yang aku lupakan di masa lalu."


"Apa kamu tidak puas dengan hidupmu yang sekarang? Bahkan aku sendiri sangat iri padamu."


Aira yang sekarang menjadi Elisya memang berbanding terbalik dengan Aira di masa lalu. Elisya sangatlah anggun dan lemah lembut. Namun dengan ketegasan dalam sikapnya. Dia selalu bisa bersikap bijaksana dalam menentukan sikapnya. Dengan tubuh yang ideal dan wajah yang cantik saja dapat memikat hati siapa saja yang dia kehendaki. Apa lagi dengan suara yang indah disertai keahliannya dalam memetik senar gitar dia punyai membuat para wanita iri dengan semua yang dimiliki oleh Elisya.


Inilah jati diri Aira yang sesungguhnya. Yang ia sembunyikan di balik penampilan tomboy yang selalu ia tunjukkan. Aira sebenarnya adalah gadis manja seperti gadis pada umumnya. Namun, tekadnya untuk tidak menjadi bayangan Safna membuatnya merubah penampilan yang berbanding terbalik dengan sang kakak.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Jangan lupa like👍, VOTE😁...


...dan rate⭐ lima ya...


...Salam sayang😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2