Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 73. Identik


__ADS_3

Di luar sedang hujan deras. Elisya sedang manggung bersama Naina dan Romi. Dari sore sampai malam, ketiganya bekerja disana sebagai band lokal. Sedangkan paginya, Elisya dan Naina lebih banyak tinggal di panti sambil jualan Online. Mereka mempunyai sebuah ruangan yang mereka gunakan sebagai toko untuk menampung barang-barang dagangan mereka.


Beberapa pengunjung kafe meminta mereka untuk membawakan lagu yang mereka inginkan. Karena di luar sedang hujan deras, kafe sore ini terlihat penuh karena pelanggan yang sudah ada di dalam kafe enggan untuk keluar, sekalian berteduh. Ditambah lagi yang baru datang.


Banyak yang berdiri di depan panggung untuk melihat lebih dekat penampilan Elisya dan teman-temannya.


...***...


Sore ini, Elang baru saja menghadiri meeting dengan perusahaan Al-Barak. Kedua perusahan raksasa itu akan bekerja sama mengeluarkan produk kecantikan.


"Kita cari kafe dulu Tedi. Tidak baik berkendara di saat hujan yang begitu deras." perintah Elang pada sopirnya. Sejak lahirnya Naila, Elang mulai memanfaatkan jasa sopir.


"Baik tuan."


Tak lama, mobil yang dikendarai Tedi berbelok ke sebuah kafe yang cukup besar di kanan jalan. Tedi memberikan payung pada Elang sebelum majikannya itu turun. Dia sendiri lebih memilih untuk istirahat di dalam mobil mengingat perjalanan lumayan jauh dari kota A ini ke ibu kota.


Dengan tergesa-gesa Elang masuk ke dalam kafe setelah meletakkan payungnya di tempat payung yang disediakan. Suara yang merdu menyapa pendengaran Elang ketika dirinya baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kafe itu.


Elang berniat memesan tempat VIP, tapi sudah penuh. Dengan terpaksa Elang duduk di tempat pelanggan reguler. Duduk sekenanya di meja yang kosong.


"Tuan ingin memesan apa?" tanya pelayan ramah. melihat penampilan Elang, bisa disimpulkan dia bukanlah orang biasa.


"Kopi hitam."


"Ada lagi?"


"Tidak."


"Baik. Tunggu sebentar tuan." pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan Elang.


Elang mengambil handphone miliknya di saku celananya. Memeriksa beberapa email yang masuk dari Reno. Kali ini, sekretaris serba bisanya itu sedang ia tugaskan untuk mengatasi masalah yang terjadi di salah satu Hotel miliknya luar kota.


Tak menunggu lama, kopi hitam pesananya sudah datang. Elang langsung menikmati kopinya untuk menghilangkan rasa dingin yang masih tersisa.


Saat Elang masih fokus pada gadgetnya sambil sesekali menyesap kopinya ketika sebuah suara yang familiar masuk ke dalam telinganya.


"Apakah ada lagi yang mau request lagu?" suara seseorang yang sangat Elang rindukan terdengar lagi. Kali ini semakin jelas. Suara itu berbicara dengan beberapa pengunjung. Elang akhirnya menyadari jika suara itu berasal dari panggung kecil yang ada di pojok kafe. Tempat yang dari tadi dia abaikan.


Elang berusaha melihat ke arah panggung, namun banyaknya pengunjung kafe membuatnya hanya melihat punggung-punggung yang berdiri di sekitar panggung.


Elang menegang. Lagu ini, lagu yang sangat disukai oleh Aira. Elang sering mendengar Aira diam-diam menyanyikan lagu ini.Dia hafal suara ini.


Christina Perry "Thousand Years"


Heart beast fast


(Jantung berdetak kencang)


Colors and promises


(Warna-warna dan janji-janji)


How to be brave?


(Bagaimana untuk menjadi berani)


How can I love When I'm afraid to fall?


(Bagaimana aku mencintai saat aku takut jatuh)


But watching you stand alone


(Tapi, melihatmu berdiri sendiri)


All of my doubt suddenly Goes away somehow


(Semua keraguanku tiba-tiba hilang entah bagaimana)


Tanpa sadar, Elang mendekat ke arah panggung. Menyibak beberapa orang yang berdiri di depan. Elang telah berada di barisan paling depan sekarang.


Elang seketika linglung melihat apa yang ada di depannya, wajah itu, senyum itu, mata itu, pipi itu, hidung itu, kening itu, bibir itu, semua itu adalah sesuatu yang paling ia rindukan. Sesuatu yang paling ingin ia lihat.


One step closer


(Satu langkah lebih dekat)

__ADS_1


I have died every day waiting for you


(Aku telah mati setiap hari menunggumu)


Darling don't be afraid


(Sayang jangan takut)


And I have love you, for a thousant years


(Dan aku telah mencintaimu selama seribu tahun)


I'll loved you for a thousant more


(Aku akan mencintaimu untuk seribu tahun lagi)


Time stand still


(Waktu berhenti)


Beauty in all she is


(Kecantikan dalam dirinya)


I will be brave


(Aku akan jadi berani)


I will let anything take away


(Aku tidak akan membiarkan apapun diambil)


What's standing in front of me


(Apa yang ada di depanku)


Every breath


(Setiap nafas)


(Setiap jam telah tiba)


Kaki Elang tiba-tiba kaku. Dia berdiri kaku di tempat. Waktu seakan berhenti untuk dirinya. Membiarkan dirinya menikmati apa yang dia lihat dengan kedua matanya.


Elang bahkan tak membiarkan matanya berkedip Sedetikpun karena takut jika sampai ia berkedip, apa yang ada di depannya akan hilang. Ia tak akan membiarkan itu terjadi.


Lima tahun berlalu, tapi tak sekalipun wajah itu mampir menghiasi menghiasi mimpinya. Jadi, saat halusinansinya mempermainkannya, biarkan dia menikmati apa yang ada. Biarkan sedikit Mengobati kerinduan.


Reff....


One step closer


(Satu langkah lebih dekat)


I have died every day waiting for you


(Aku telah mati setiap hari menunggumu)


Darling don't be afraid


(Sayang jangan takut)


And I have love you, for a thousant years


(Dan aku telah mencintaimu selama seribu tahun)


I'll loved you for a thousant more


(Aku akan mencintaimu untuk seribu tahun lagi)


And all along I believed I would Find you


(Dan selama ini aku yakin aku akan menemukanmu)


Time has brought your heart to me

__ADS_1


(Waktu telah membawa hatimu padaku)


Back to Reff...


Elisya, gadis itu kini menyanyikan sebuah lagu lagi permintaan dari salah satu pelanggan kafe. Sebuah lagu romantis untuk pasangan yang sedang kasmaran. Duduk memangku gitarnya, memejamkan mata untuk menghayati lagu yang sedang ia nyanyikan.


Elang masih disana. Mencoba mendapatkan kesadarannya sendiri. Jika tidak, ia akan malu atas ulahnya.


Namun, saat beberapa kali mengerjapkan matanya, bayangan itu masih ada. Wajah itu masih bisa ia lihat. Halusinansi ini sungguh seperti kenyataan. Mungkinkah itu memang Airanya?


Tapi logikanya mematahkan anggapannya. Mana mungkin orang yang lima tahun telah meninggal bisa hidup lagi. Elang duduk di dekat panggung saat melihat meja kosong disana. Meninggalkan kopinya yang masih ia minum beberapa teguk. Lebih memilih memahami apa yang terjadi disini.


Pikiran Elang mulai bekerja. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di depannya. Memikirkan apakah wanita di depannya ini hanya seseorang yang memiliki wajah yang mirip dengan Aira. Tapi ini sangat identik. Seperti pinang dibelah dua. Hanya saja penampilannya yang membedakan. Elang seperti melihat Aira dalam versi anggun. Bukan tomboy yang sering ia lihat.


"Elisya ada telfon." kata manager kafe saat Elisya selesai menyanyikan satu lagu. Dia berdecak. Dia tahu betul siapa yang menelfonnya di saat-saat sekarang.


Siapa lagi kalau bukan Arka. Biasanya, saat ini laki-laki itu sudah duduk manis di barisan paling depan. Namun sampai saat ini, batang hidungnya saja belum kelihatan.


Setelah pamit pada pengunjung, Elisya turun dari panggung. Romi yang menggantikannya menyanyi dan bermain gitar. Romi sendiri awalnya memegang drum.


Elang kini mengetahui jika nama gadis yang mirip Aira itu adalah Elisya. Nama yang cantik, pikirnya. Ekor mata Elang masih mengikuti kemana gadis itu pergi setelah melewatinya begitu saja. Elang merasakan perasaan aneh saat angin yang dihasilkan dari gerakan Elisya menyapa tubuhnya. Sesuatu seperti ada yang membuncah tiba-tiba ia rasakan.


Elang memperhatikan gerakan tubuh Elisya saat menerima telfon yang sepertinya penting hingga manager kafe itu sendiri yang memberitahunya. Namun, jika dilihat dari sudut pandang manapun, sang penerima telfon seperti memaksakan diri untuk bicara dan menanggapi lawan bicaranya di seberang sana. Lama berkecimpung di dalam dunia bisnis membuat Elang sedikit banyak faham arti mimik wajah seseorang. Dan gadis yang sedang ia perhatikan jelas memperlihatkan wajah terpaksanya.


"Sudah ya Mas."


(...)


"Iya nggak papa. Aku nanti bisa pulang sama Naina." suara Elisya sangat jelas terdengar oleh Elang. Gadis itu sepertinya sudah tidak sabar mau naik ke atas panggung.


(....)


"Iya-iya." Elang melihat dengan jelas wajah kesal itu. Wajah yang ia rindukan. Sangat menggemaskan.


(....)


"Iya. Ya sudah ya. Aku mau kerja lagi. Nggak enak sama yang lain."


(....)


Huft.... terdengar helaan nafas lega dari bibir mungil yang sekarang berwarna Nude itu.


Elang masih memperhatikan Elisya, gadis itu kembali berkumpul bersama teman-temannya.


"Aku harus mencari tahu siapa dia" gumam Elang sebelum dia beranjak dari duduknya dan pergi dari kafe.


*


*


*


Jangan lupa di like ya teman 😉


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ketujuh🍃...


...🌸Pada malam Ketujuh, Seolah-olah ia telah mencapai derajat Nabi Musa AS dan kemenangan Beliau atas Fir'aun dan Haman🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2