
Udah pada Like kan ya...? 😉
Jangan sampai belum like lho kawan 😁
Akilang (Ayo Kita Berpetualang)
Mobil yang membawa Aira dan teman-temannya melaju kencang. Setelah perut mereka kenyang, mereka memutuskan untuk segera kembali ke resort. Melalui panduan GPS, mereka menemukan jalan kembali ke resort.
"Aaa" teriak Keempat gadis itu karena tiba-tiba mobil oleng karena ban bocor. Aira segera menepikan mobil yang dikemudikannya. Keempatnya turun.
"Kita cari bantuan." usul Aira.
"Disini nggak ada sinyal." Mikaila menggoyang-goyangkan ponselnya. Aira berdecak.
"Terus ini gimana?" Dela panik.
"Coba periksa bagasi. Ada ban cadangan apa tidak?" Aira segera memeriksa ban cadangan. Sayangnya ban itu juga bocor.
"Terus gimana dong? Ini jalanan sepi banget. Kenapa jalannya berbeda dengan yang tadi? "
"Diam dulu lah Del. Jangan bikin tambah panik."
"Gue ngikutin arah GPS. Mana tahu kalo jalannya beda."
"Begini saja. Kita jalan sambil cari tumpangan." usul Melati.
"Lalu mobilnya?"
"Ya sudah ditinggalin saja. Lagian kak Elang nggak bakal jatuh miskin kalo hanya kehilangan satu mobilnya." ucap Mikaila.
"Baiklah. Kita jalan lurus."
"Gue nggak mau. Entar betis gue gendut." keluh Dela.
"Kalo lo mau nunggu disini. Terserah." Mikaila segera berlalu. Menyusul Aira dan melati yang sudah terlebih dulu berjalan. Dela melangkahkan kakinya mengikuti ketiga gadis di depannya. Dihentak-hentakkan kakinya karena sebal.
"Kalo lo jalan kayak gitu. Sampai resort lecet kaki lo." perkataan Aira membuat Dela berdecak. Tapi dia tetap menurut.
Lima belas menit mereka berjalan. Belum ada satupun mobil atau motor yang melintas. Kaki mereka rasanya kebas. Dela beberapa kali mengeluhkan kakinya. Sepatu highhillsnya dia lepas dan dia jinjing. Dia tidak berani berjalan di atas aspal, sehingga dia berjalan di tanah. Kakinya kepanasan dan sakit terkena kerikil.
"Berhenti Woy!" teriak Aira ketika melihat sebuah motor melaju di dekat mereka.
"Ada apa mbak?" seorang pemuda tampan menghentikan motornya.
"Tolongin kami kembali ke Dirgantara Resort. Mobil yang kami tumpangi pecah ban disana." pemuda itu melihat keempat gadis itu.
"Gimana aku membawa kalian semua dengan motor ini?"
"Cukup bawa aku saja. Nanti aku akan kembali ke sini dengan mobil." ucap Aira yang diangguki yang lainnya.
"Baiklah." Aira segera menaiki motor itu dengan dibonceng pemuda tadi. Dia berpesan pada teman-temannya untuk menunggunya disana.
Dirgantara resort tidak jauh dari tempat ketiga gadis itu. Sepuluh menit Aira sudah sampai di resort. Dia segera turun dari motor dan meminta pemuda tadi menunggu. Dia segera masuk ke dalam.
Sampai di dalam, dia langsung mendapatkan pelukan dari Elang. Laki-laki yang menjadi pacarnya itu sangat khawatir.
"Dari mana saja? Dimana yang lain?"
"Ceritanya panjang. Ban mobil meletus, mereka masih disana. Ayo kita jemput." Aira menarik lengan Elang untuk mengikutinya. Dia memang marah pada Aira. Tapi rasa khawatir lebih besar. Dia lega Aira sudah kembali dengan baik-baik saja.
"Aku tadi diantar sama dia mas." Aira menunjuk pemuda yang tadi mengantarnya.
"Mereka tadi dimana?"
"Di jalan tepi hutan sana."
__ADS_1
"Gimana bisa sampai lewat sana sih? Disana daerah rawan"
"Aku cuma ngikutin GPS." Aira merasa bersalah. Andaikan dia tidak menuruti Mikaila dan Dela semua ini tidak akan terjadi.
"Ya sudah ayo kita jemput mereka."
Elang membawa pemuda itu dengan mobilnya. Diantar oleh sopir dari resort Elang pergi menjemout semuanya. Aira tinggal di resort untuk istirahat.
Sampai di tempat ketiga gadis itu, mereka tidak menemukan siapa-siapa. Pikiran Elang sudsh kacau. Bagaimana kalau mereka di culik? Daerah ini rawan kejahatan.
"Mikaila, Melati, Dela!" teriak Elang dengan keras. Sopir yang mengantarnya juga ikut memanggilnya.
Elang memeriksa daerah sekitar. Tidak ada jejak mencurigakan disana.
"Mikaila!"
"Disini kak." terdengar sahutan dari dalam hutan. Elang dan kedua orang lainnya segera berlari ke arah suara. Dari jauh terlihat Dela melambaikan tangannya. Elang segera menghampiri.
"Dela. Dimana Mikaila dan Melati?"
"Mereka di sana. Ayo. Melati terluka." Dela segera membawa Elang ke tempat Kedua temannya.
Di balik semak-semak, Mikaila dan Melati bersembunyi. Kaki Melati terluka. Elang segera membantu Melati berjalan.
Sesampainya di resort, Melati langsung mendapatkan perawatan. Kakinya terluka terkena ranting yang runcing. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam.
"Sekarang ada yang bisa menjelaskan?" tanya Elang setelah keempat gadis itu tenang. Mereka sudah kembali ke Villa. Keempat gadis itu duduk seperti sedang diinterogasi.
Aira menyikut Mikaila. Mikaila membalasnya. Dela menyikut Melati. Yang disikut menyenggol Aira di sampingnya.
"Huh! Kalian disuruh menjelaskan malah asik mainan sikut-sikutan." Keempatnya berhenti.
"Sebenarnya kami cuma pengen jalan-jalan." akhirnya Mikaila membuka suaranya.
"Jalan-jalan?"
"Kenapa tidak bilang. Kalian ini membuat khawatir saja."
"Kami ingin pergi tanpa cowok-cowok. Soalnya Ridwan dan Juna mengejek kegiatan gadis-gadis." jelas Bela yang diangguki Mikaila.
"Astaga. Kalian ini seperti anak kecil."
"Ya maaf. Kami kan nggak nyangka bakal kejadian seperti ini."
"Lalu apa yang terjadi di hutan?"
Flash back on....
Tidak lama setelah Aira pergi, ada dua orang laki-laki berboncengan motor berhenti di dekat tiga gadis itu.
"Siapa kalian?"
"Kami adalah orang yang akan membantu kalian. Bukankah mobil kalian adalah mobil yang disana tadi?"
"Iya. Tapi kami sedang menunggu teman kami menjemput."
"Sambil menunggu. Bagaimana kalau kita enak-enak dulu?"
"Tidak terima kasih. Lebih baik kalian pergi."
"Kami akan pergi setelah kita bersenang-senang." Kedua laki-laki itu mendekati Mikaila dan yang lain. mereka segera berlari menghindar. Mereka berpencar. Untung mereka dapat bersembunyi.
"Kemana perginya mereka?"
"Cepet banget larinya."
__ADS_1
"Ya sudah. Lebih baik kita segera pergi dari sini. Mereka tadi bilang teman mereka sudah mencari bantuan."
"Lo percaya? Bisa saja mereka cuma berbohong."
"Lebih baik kita Hati-hati. Dari pada kita kena masalah."
"Ok. Kita pergi. Kita cari yang lain."
Setelah tidak mendapat yang diinginkan, kedua laki-laki itu segera pergi. Namun sayangnya, saat bersembunyi kaki Melati tertusuk ranting pohon.
Flash back off....
"Ada yang ingin kalian katakan?" tatap Elang tajam kepada keempatnya.
"Maafkan kami. Kami tidak akan mengulanginya lagi." ucap Aira.
"Memang tidak akan. Mulai sekarang kalian akan selalu bersama kami." ucap Elang.
"Iya. Kami menurut."
"Itu bagus. Kalian itu perempuan, di luar sana kita tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Kami mengaku salah."
"Baiklah. Sini." Elang merentangkan tangannya. Meminta Aira menghampirinya. Aira segera menghambur ke dalam pelukan Elang.
"Maafkan aku mas. Aku tidak akan pernah mengulanginya."
"Jangan pernah melakukan ini lagi Aira. Kamu tahu betapa khawatirnya aku ketika tahu kamu tidak ada"
"Maafkan aku."
"Sudahlah, yang penting kamu tidak apa-apa."
Mikaila juga segera memeluk Wildan. Begitu juga dengan Dela, dia sudah terisak dan mengeluh tentang penderitaan yang dialaminya.
Melati dan Juna...
"Bagaimana lukamu?"
"Sudah tidak terlalu sakit. Ini tidak dalam."
"Itu bagus."
"Hem."
"Mel... "
"Iya?"
"Jangan lakukan lagi lain kali."
"ya?"
"Jangan membuatku khawatir lagi." ucap Juna lirih.
"Ha?"
Juna pergi tanpa menjelaskan. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi. Dia juga tidak sadar jika mengatakan kalimat itu pada Melati. Tapi dia memang benar-benar khawatir pada gadis yang selama satu. ulan belakangan berada di antara dia dan teman-temannya.
*
*
*
__ADS_1
...Terima kasih sudah mampir 😍...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...