Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 82. Kebuncinan Arka


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar dari Juna, mereka semua berkumpul di dekat taman itu. Mereka memutuskan untuk melihat dari jauh. Mereka harus membuat kesan jika ini bukanlah sebuah kesengajaan. Jadi mereka akan datang bergantian untuk menemui Elisya.


Setelah makan siang bersama, Juna dan Melati mengikuti rombongan anak panti. Ikut bermain bersama dengan mereka.


Saat ini mereka sedang menaiki wahana roler coaster. Juna dan Elisya duduk bersama. Melati tidak berani menaiki wahana itu. Dia juga memberi kesempatan untuk Juna agar dapat berdekatan dengan Elisya. Mereka bersenang-senang saat ini.


"Teriak aja Ra! Gue tau lo takut!" teriak Juna tanpa sadar saat melihat Elisya disampingnya yang menutup mata sebelum wahana itu melaju.


"Anda bicara dengan siapa tuan Juna?" tanya Elisya bingung.


"Ah tidak. Lupakan saja. Ngomong-ngomong lain kali tidak usah pakai Tuan ya. Kita sepertinya seumuran. Jadi panggil nama saja." Juna harus mengalihkan pembicaraan. Bisa-bisa Elisya curiga padanya.


"Baiklah."


Keduanya berteriak heboh saat wahana mulai melaju dengan kencang. Kemudian tertawa bersama. Baik Juna maupun Elisya melupakan bahwa mereka sudah lama tidak bertemu. Keduanya saling merasa nyaman.


Rombongan panti pulang menjelang sore hari. Begitupun dengan Juna dan melati. Mereka juga berpamitan untuk kembali ke hotel.


"Kami berterima kasih karena telah mengizinkan kami untuk bergabung." kata melati pada mereka.


"Tidak nak. Kami yang seharusnya berterima kasih." bunda Fatma mengusap tangan Melati.


"Baiklah. Kami pamit. Semoga kita dapat bertemu kembali. Kami sangat senang menemukan keluarga Seperti kalian." kata Juna. Bunda Fatma dan Elisya tersenyum.


"'Hati-hati nak."


Juna dan Melati mengucapkan salam sebelum mereka pergi. Mereka sangat bahagia hari ini. Mereka menghabiskan hari dengan Aira. Walaupun Aira sendiri tidak mengenal mereka, namun Juna dan Melati sudah meyakinkan diri bahwa Elisya memanglah Aira mereka. Sifat dan sikapnya yang menunjukkan demikian.


Sampai di hotel, mereka menceritakan pada teman-temannya bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan Aira. Kegembiraan dan kelegaan terpancar dari raut wajah mereka.


Bukannya meragukan informasi yang telah mereka terima. tapi, mendapatkan sendiri buktinya adalah sebuah kepuasan.


...☘️☘️☘️...


Sesuai kesepakatan antara dirinya dengan Arka, begitu keluar dari taman bermain, Elisya dijemput Arka untuk makan malam dengannya. Namun sebelum itu, gadis itu mengikuti kemauan tunangannya untuk melakukan perawatan. Elisya awalnya enggan melakukan semua itu. Tapi mau bagaimana lagi, setiap ada anak yang akan diadopsi, Arka lah yang memberikan akomodasi untuk mereka pergi berlibur, dengan catatan, Elisya harus melakukan perawatan setelahnya.


Kini, Arka dengan setia menunggu tunangan cantiknya yang sedang di Facial wajahnya setelah dia melakukan perawatan tubuh dan spa. Arka bahkan ikut memperhatikan setiap detail apa yang dilakukan manager salon pada wajah Elisya. Dia tidak akan membiarkan ada satu hal pun yang tidak sesuai.


Beberapa kali, Arka mengkritik cara maupun bahan yang digunakan. Elisya mendengus beberapa kali. Jika disana tidak ada orang lain, mungkin Elisya akan berteriak 'Daripada terus mengeluh dan mengkritik, mengapa tidak melakukannya sendiri?' Tapi lagi-lagi kalimat itu tercekat di tenggorokannya. Dia tidak akan mempermalukan tunangannya di depan orang lain.


Ayolah, Elisya sampai malu mendengar gerutuan dari tunangannya. Dia bahkan sangat tahu cara yang tepat dan bahan yang paling bagus yang harusnya digunakan. Seharusnya Arka membuka salonnya sendiri.


"Hei, bukan begitu caranya!" teriak Arka saat melihat posisi tangan manager yang keliru saat dia sedang mengatur bentuk alis Elisya.


Manager bernama Lita itu gemetaran. Dia tahu betul siapa Arka. Salah satu pelanggan eksklusif yang harus diprioritaskan. Disini, kariernya sedang dipertaruhkan.


"Maaf Tuan." Lita hanya bisa membungkukkan badannya seraya meminta maaf sebelum melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kau mau lakukan apa!? Kalau seperti itu, wajah tunangan saya akan kelihatan lebih tua!"


"Maaf tuan."


"Warna lipstik apa yang kau pakaikan? Itu terlalu merah! Cepat ganti."


"Maaf tuan."


"Maaf-maaf! Daritadi bisanya hanya minta maaf. Lakukan dengan benar. Kalau tidak akan saya laporkan pada Dea untuk memecatmu!"


Pemilik salon itu memang teman dekat Arka. Pegawai disana tahu betul hal itu. Mereka juga sudah tahu sikap Arka jika menyangkut kecantikan tunangannya. Semua harus sempurna untuk Elisyanya.


"Sudah lah mas. Lagipula kita hanya akan makan malam biasa." Elisya sudah jengah. Dari tadi dialah yang merasa menjadi kelinci percobaan. Menuruti kemauan tunangannya itu membuatnya lelah. Sedikit kesalahan saja dia akan meminta mengulangi lagi, mengganti warna yang tidak sesuai menurutnya sampai Berkali-kali hingga ia nilai sempurna.


"Tidak bisa sayang. Malam ini adalah malam spesial kita. Kita jarang menghabiskan malam bersama. Jadi semuanya harus sempurna."


"Hem." baiklah. Memang Elisya akan selalu kalah jika adu argumen dengan laki-laki yang menjadi tuangannya itu. Dia adalah hukum yang harus dipatuhi.


"Au." teriak Elisya saat Kita menata rambutnya yang kusut. Lita tidak sengaja menarik rambut dengan sisir yang dia gunakan hingga si empunya terkejut dan berteriak.


Arka yang mendengar itu langsung menghampiri Elisya dengan sedikit mendorong Lita agar menyingkir dari langkahnya. Diusapnya kepala Elisya yang sedang diusap oleh pemiliknya. Mencium bagian itu Berkali-kali.


"Sudah tidak sakit kan?" tanyanya lembut.


"Tidak. Aku hanya kaget saja."


"Maaf tuan. Saya tidak sengaja."


"Sudahlah mas. Ini tidak apa-apa."


"Kamu sampai menjerit kamu bilang tidak apa-apa? Aku tahu itu pasti sakit."


"Tidak. Sudah aku bilang aku hanya terkejut. Itu saja."


"Hei kau! Aku benar-benar akan meminta Dea


untuk memecatmu!" mendengar itu, Lita menitikkan air mata. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. "Hei! Siapa suruh kau menangis? Keputusanku sudah bulat. Air matamu tidak akan merubah keputusanku"


"Mas. Jangan seperti itu. Aku tidak suka seseorang yang memanfaatkan kekuasaan nya untuk menindas seseorang. Ini hanya masalah kecil. Tidak perlu dibesar-besarkan."


"Tapi sayang..."


"Lakukan semaumu. Dan aku juga akan melakukan semauku." Elisya hendak bangkit. Dia mulai muak dengan semua ini. Orang yang tidak bersalah tidak boleh menderita karenanya. Mencari pekerjaan tidaklah mudah. Elisya sangat tahu hal ini. Dia tidak akan membiarkan orang kehilangan pekerjaan hanya karena dirinya.


Arka mencekal tangan Elisya. Menciumnya mesra. "Baiklah sayang. Jika kamu tidak suka, aku tidak akan melakukannya. Kamu duduk lagi ya. Kita selesaikan dulu riasannya." bujuknya. Elisya dan Lita menghela napas lega.


"Hari ini kamu selamat karena kebaikan Elisya. Lain kali jika aku menemukan kesalahan lain. Siapapun tidak akan dapat menyelamatkan mu. Sekalipun itu Elisya."

__ADS_1


"Terima kasih tuan. Terima kasih Nona."


Arka hanya diam. Dia masih jengkel mengingat wanita itu telah menyakiti Elisyanya. Lita memandang penuh terima kasih pada Elisya. Wanita itu tahu jika tunangan dari orang yang berpengaruh itu telah membelanya dan melakukan itu semua untuk membantunya. Elisya yang dipandang seperti itu memberikan senyuman tulus untuknya.


"Sudah. Tunggu apa lagi? Cepat selesaikan tugasmu!" Lita gemetaran mendengarnya. Dia takut kembali melakukan kesalahan.


"Mas. Daripada mbaknya yang menyelesaikannya. Apakah kamu tidak ingin melakukannya untukku?" Elisya harus menyelamatkan Lita sekarang. Arka sedang dalam emosi yang tidak stabil. Kesalahan sedikit saja yang ia lihat akan berakhir fatal.


"Baiklah jika itu kemauanmu sayang." Arka mendekati Elisya yang sudah kembali duduk di kursi di depan meja rias. Penampilannya sudah hampir sempurna, tinggal merapikan rambutnya dengan memakaikannya jepit rambut yang terbuat dari mutiara yang telah belikan Arka sebagai oleh-oleh dari Jepang beberapa hari yang lalu.


Lita yang menyadari itu segera berlalu dari situasi mencekam itu. Menemui teman-temannya yang ikut deg-degan melihat dia disana tadi.


Kini, Lita dan teman-temannya hanya bisa melihat dari jauh interaksi dari keduanya. Arka melakukannya dengan lembut. Beberapa kali dia mencium kepala dan pipi Elisya dengan mesra. Membuat yang melihatnya ikut baper.


Sosok Arka yang mengerikan yang tadi mereka lihat sudah tidak ada disana. Yang ada hanyalah Arka yang tampan, lembut dan perhatian. Sangat terlihat jika laki-laki itu sudah bucin pada gadis cantik itu. Elisya memang cantik. Sangat cantik. Jadi mereka tidak boleh iri dengan sembarangan. Mereka tidak lah pantas untuk itu.


Selain memiliki wajah yang cantik, Elisya juga memiliki sikap yang baik. Dia ramah dan perhatian. Dia juga tidak pernah sombong dan pemaaf. Elisya sering menyelamatkan karyawan disana yang sedang dimarahi oleh Arka. Jadi mereka mengerti mengapa Arka sampai bucin pada hadis cantik itu. Tidak ada yang sebanding dengannya. Elisya adalah sosok yang sempurna di mata mereka.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Sepuluh🍃...


...🌸Pada malam ke Sepuluh, Allah Ta'ala memberi dia karunia di Dunia dan di Akhirat🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...

__ADS_1


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2