Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 77. Menjadi Stalker 2


__ADS_3

Matahari belum menampakkan sinarnya. Namun, seorang gadis sudah melakukan pemanasan di tepi pantai. Gadis itu tak lain adalah Elisya. Sudsh menjadi kebiasaanya untuk melakukan olahraga pagi selagi menyambut sinar mentari.


Elisya begitu kaku berada di dapur. Semua orang tahu itu. Jadi tidak ada yang pernah memaksanya untuk membantu masak. Toh, semua akan percuma. Elisya hanya akan merepotkan. Sepertinya otak Elisya benar-benar menolak semua nama-nama bumbu dapur beserta perlengkapannya.


Bahkan untuk membuat secangkir teh saja ia tidak bisa. Sampai sekarang, gula dan garam saja ia tidak bisa membedakannya jika tidak merasakannya lebih dulu. Berkali-kali bunda Fatma maupun Naina mengajarinya sedikit demi sedikit masalah dapur. Tapi entah mengapa begitu sulit untuk masuk ke dalam otak Elisya.


Setelah melakukan pemanasan, Elisya mulai melangkahkan kakinya untuk berlari menyusuri luasnya pantai. Menyambut datangnya pagi dengan semangat.


Sedangkan di kamar penginapannya, Elang sedang bersiap menjalankan misinya. Kumis pasangan sudah tertempel di atas bibirnya. Sebuah Wig kribo terpasang rapi di kepalanya. Kacamata besar berbentuk kotak terpasang di hidungnya. Sebuah tompel hitam besar pasangan tertempel di pipi sebelah kiri.


Pakaian yang dia gunakan juga sangat bertolak belakang dengan kesehariannya. Kemeja kotak-kotak kebesaran dimasukkan dalam celana kain sedikit di atas mata kaki. Ikat pinggang besar melingkar di perutnya.


Saat ia keluar, Tedi bahkan tidak mengenalinya jika saja bukan dia sendiri yang memilihkan barang-barang itu untuk dipakai oleh Elang.


"Bagaimana?" tanya Elang sambil membenarkan posisi ikat pinggangnya.


"Anda sangat sempurna. Dengan penampilan anda. Tidak akan ada yang mengenali anda."


"Bagus. Bagaimana dengan rencanamu?"


"Saya akan memulai dari warga sekitar. Panti asuhan ada di sekitar pemukiman, jadi saya rasa sedikit banyak mereka akan mengetahuinya."


"Setelah itu?"


"Saya sudah menghubungi rumah sakit kita yang ada disini jika sewaktu-waktu ada yang kita butuhkan."


"Maksudmu? Kenapa sampai butuh rumah sakit?"


"Saya baru menduga ini tadi malam. Jika ada seseorang yang begitu mirip dengan seseorang. Kemungkinan mereka memang kembar atau bisa saja dia memang benar-benar orang itu. Bisa saja dia selamat dari kecelakaan itu dan terdampar sampai disini. Mengingat seberapa parahnya kecelakaan itu, korban yang selamat paling tidak akan terluka dan dirawat di rumah sakit."


"Jadi menurutmu, jika Aira masih hidup dan hilang ingatan?" Elang terlihat antusias. Dia tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Pernah ia mengira bahwa Aira masih hidup karena jenazah yang ditemukan tidak memakai kalung liontin yang ia berikan. Tapi, sampai sekarang penyelidikan itu tidak pernah menghasilkan sesuatu kemajuan.


"Itu benar."


"Semoga itu memang yang terjadi. Baiklah. Aku mengandalkanmu Tedi. Lakukan dengan betul dan teliti tugas ini."


"Baik tuan." Tedi meninggalkan Elang yang sedang mendapatkan harapan baru untuk hidupnya. Ia tak pernah sebahagia ini mempunyai sebuah harapan.


Dengan senyum yang terpancar di bibirnya, Elang melajukan mobilnya ke tempat Elisya tinggal. Hari ini ia akan menguntit keseharian Elisya. Mencari tahu kegiatan kesehariaanya. Melihat dengan siapa saja ia bertemu. Yang paling penting adalah mencari tahu hububgan yang sebenarnya antara dia dan Arka.


Elisya berdiri di depan tujuh belas anak panti yang berbaris rapi di depannya. Mereka menggunakan kaos dan juga training untuk memudahkan mereka bergerak. Elisya memberi contoh gerakan-gerakan silat kepada anak-anak di depannya.


Setelah selesai memberi contoh, Elisya berjalan diantara mereka sambil memberi aba-aba gerakan. Elisya juga membenarkan jika ada gerakan yang kliru.


Sedangkan Elang bersembunyi di balik sebuah pohon kelapa tak jauh dari sana. Memperhatikan kegiatan Elisya yang sangat semakin ia dalami, semakin sama dengan Aira.


Setelah latihan silat selesai. Anak-anak itu masuk ke dalam panti untuk membersihkan diri. Mereka harus berangkat sekolah. Sedangkan Elisya sendiri, memilih berjalan ke arah karang dan menceburkan dirinya ke dalam dinginnya air laut.

__ADS_1


Awalnya Elang kaget melihat Elisya bersiap terjun ke laut, namun setelah mengingat jika Aira sangat pandai berenang, ia mulai tenang. Dari tempatnya, Elang bisa melihat jika Elisya berenang kesana kemari berbaur dengan ikan-ikan di dalam sana.


"Kak Elis! Dipanggil Kak Naina!" teriak seorsng gadis kecil berusia dua belas tahun dari atas karang yang semalam digunakan Elisya untuk duduk.


Mendengar panggilan itu, Elisya segera keluar dari dalam laut. "Terima kasih sayang" kata Elisya saat menerima handuk yang diberikan oleh gadis kecil bernama Zahra itu.


Zahra mengikuti langkah Elisya untuk kembali ke panti. Elang mendekat. Dia mendekatkan diri dengan bangunan panti. Mencari tempat strategis untuk menguping.


"El, pagi ini barang akan datang. Apakah toko sudah dibersihkan?" kata Naina ketika melihat Elisya baru masuk dengan pakaian yang basah melalui pintu belakang di sebelah dapur.


"Iya. Nanti aku bersihkan."


"Ck. Main air mulu. Cepat mandi."


"Siap maaak." Elisya segera berlari memasuki kemarahan mandi yang ada di samping dapur. Bunda Fatma menggelengkan kepalanya. Dia selalu merasa jika Elisya mempunyai banyak sisi yang belum ia ketahui. Seperti mempunyai kepribadian ganda. Bersikap anggun dan elegan di satu kesempatan, bersikap bar bar dan kekanakan di kesempatan yang Lain.


"Berubahlah El. Jangan jadi gadis jorok. Bisa-bisa sampai kapanpun, Nyonya Devina tidak akan menerimu sebagai menantu." teriak Naina sambil memotong bawang merah.


"Aku tidak peduli."


"Elis."


"Iya Bunda maaf." lirih Elisya.


Sebenarnya ia memang benar tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Ia juga tidak begitu peduli dengan restu dsri nyonya Devina.


Meja makan yang panjang sudah penuh dengan anak-anak panti. Mereka bersiap untuk sarapan bersama. Mereka terdiri dari berbagai usia, yang paling kecil dari mereka masih usia empat tahun, dan yang paling tinggi sudah SMA.


Suasana meja makan sangat ramai, karena tidak hanya denting sendok dan Piring yang beradu. Puluhan mulut yang sedang mengunyah makanan pun tak segan mengeluarkan suaranya di sela aktifitas mereka.


Bagi anak panti, saat makan adalah saat berkumpul paling menyenangkan. Semua penghuni panti akan berkumpul dan bercerita banyak hal, mengeluh dan mengutarakan keinginan dan juga mimpi mereka.


"Anak-anakku." suara lembut Bunda Fatma menghentikan suara bising mereka. Mereka memberikan waktu untuk Bunda yang telah merawat mereka sejak kecil.


"Hari ini, akan ada orangtua yang datang. Mungkin akan mengadopsi satu diantara kalian." ucap Bunda Fatma sendu. Ia tentu saja akan merasa kehilangan jika salah satu anak asuhnya dibawa pergi.


Tak berbeda dengan anak-anak yang masih di bawah usia sepuluh tahun karena kebanyakan di usia merekalah mereka akan diadopsi.


Sementara Elisya da Naina juga terpaku di tempat. Sudah banyak ia melihat anak-anak dibawa pergi dari sana. Mereka selalu diiringi tangisan kesedihan dan kebahagiaan yang bercampur menjadi satu. Diiringi do'a agar kehidupan anak asuh yang telah dilepas menjadi lebih baik. Mendapat orang tua angkat yang menyayangi mereka.


"Baiklah. Sebaiknya kalian cepat berangkat sekolah. Hari semakin siang." kata Bunda Fatma. anak-anak pun bergantian pamit pada Bunda Fatma, Elisya dan Naina


"Kali ini siapa yang akan pergi?" tanya Naina. Air mata sudah menggenang di sudut matanya.


"Kita hanya bisa mendoakan mereka. Panti ini tidak akan mungkin mengasuh mereka selamanya. Akan ada yang datang dan pergi."


"Bunda benar. Mereka berhak hidup lebih baik di luar sana." tambah Elisya.

__ADS_1


"Begitu juga denganmu nak. Kamu berhak bahagia."


"Elis bahagia tinggal disini Bunda." Elisya mengalungkan tangannya pada Bunda Fatma.


"Sudah waktunya kamu menikah."


"Bunda. Elis masih betah disini. Kenapa diusir?"


"Nak Arka sangat baik Elis. Dia juga sangat mencintaimu. Bunda melihatnya mencintaimu dengan tulus."


"Tapi Bunda.. "


"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Jika kamu masih terjebak dalam masa lalumu, kamu tidak akan dapat membuka hatimu untuk Nak Arka." Bunda Fatma menepuk bahu Elisya sebelum beranjak dari duduknya. Menyusul Naina yang mencuci peralatan masak dan makan mereka.


Sepeninggal Bunda Fatma, Elisya meletakkan kepalanya di atas meja. Bertopang pada kedua lengannya. Memikirkan perkataan yang baru dia dengar.


Tidak ada yang kurang dari Arka. Semuanya sempurna. Tapi, ini sulit untuk dijalani. Tidak ada cinta, tidak ada restu. Itulah masalahnya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😉


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke delapan🍃...


...🌸Pada malam ke delapan, Allah Ta'ala memberinya apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim As. 🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2