Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 123. Wildan Dan Mikaila


__ADS_3

Sore harinya Mikaila memutuskan untuk menemui Wildan di kantornya. Namun sayangnya Wildan sedang tidak ada di kantor. Ia ke kantor polisi untuk menangani kasus terbarunya.


"Hai Mik, lama nggak main kesini." sapa Dito, salah satu pengacara rekan Wildan.


"Akhir-akhir ini aku sibuk Dit."


"Ya ya ya kamu sekarang udah jadi artis terkenal."


"Hahaha bisa aja kamu."


"Cari Wildan?"


"Iyalah. Nggak mungkin juga cari kamu." Mikaila terkekeh. Begitu juga dengan Dito. "Tapi dia nggak ada. Katanya ke kantor polisi."


"Owh. Dia dapat kasus pembunuhan lagi kali ini. Oh ya Mik, gosip itu nggak beneran kan?"


"Nggak lah."


"Baguslah kalau gitu. Wildan seminggu ini uring-uringan gara-gara gosip itu."


"Hemm. Ya sudah aku pulang dulu. Bye."


"Bye."


Sepanjang perjalanan Mikaila memikirkan omongan Melati, Aira dan Dito. Sepertinya ia memang sudah kelewatan. Dia yakin pasti saat ini Wildan sedang sakit hati.


Biasanya Wildan lah yang akan menghubungi terlebih dulu. Itu karena Wildan memang terkadang sangat sibuk. Jadwalnya banyak. Jadi di saat ada waktu luang ia akan menyempatkan diri menghubungi Mikaila. Tapi Mikaila ingat bahwa dua hari ini mereka sama sekali tidak saling bertukar kabar. Mungkinkah Wildan marah padanya?


"Kamu kenapa Mik?" tanya Dila yang melihat Mikaila terdiam semenjak dia masuk ke dalam mobil.


"Dil apa nanti malam kita ada jadwal?"


"Kenapa? Kamu sakit?"


"Tidak. Tapi aku harus bertemu dengan Wildan."


"Nanti malam kita Free Mik. Tapi besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat ke Bandung untuk syuting iklan teh." kata Dila sambil melihat jadwal Mikaila di dalam tablet yang ia bawa.


"Hem. Bagus lah."


"Kamu lagi nggak ada masalah kan dengan Wildan karena gosip itu?"


"Entahlah. Sepertinya dia marah. Bahkan sudah dua hari dia nggak ada kabar. Aku telfon juga nggak diangkat." Mikaila mendesah. Semenjak siang tadi ia beberapa kali berusaha menelfon Wildan. Namun tidak ada jawaban. Bahkan pesan Whatsapp hanya dibaca saja.


"Kamu ngomong baik-baik sama dia. Aku yakin Wildan akan mengerti."


"Semoga. Aku takut dia salah faham. Itulah kenapa kemarin awalnya aku menolak permintaan Tuan Seno. Tapi bisa apa aku jika dia maksa."


"Ya sudah. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah temui Wildan. Ajak bicara baik-baik."


"Hem. Pak Farhan tolong antarkan saya ke apartemen Wildan."


"Baik Non."


Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil yang dikendarai Pak Farhan berhenti di depan gedung apartemen yang dihuni Wildan. Saat tiba di apartemen itu


"Pak Farhan, setelah mengantarkan Dila pulang bapak langsung pulang saja."


"Baik Non."

__ADS_1


"Bye Mika. Jangan lupa besok kita berangkat jam enam."


"Sip. Bye"


Setelah mobil melaju, Mikaila segera masuk ke dalam gedung apartemen itu. Mikaila sering masuk ke dalam apartemen ini, jadi dia dapat dengan mudah masuk. Apartemen ini termasuk apartemen elit, jadi privasi disini sangat terjaga.


"Selamat malam Nona Mika." sapa seorang petugas security bernama pak Amin.


"Malam pak Min. Apakah Wildan sudah pulang?"


"Sepertinya belum Non."


"Baiklah. Kwlau begitu saya masuk dulu."


"Siap Non."


Mikaila segera masuk ke dalam dan menaiki lift. Apartemen Wildan berada di lantai tiga. Wildan tidak begitu menyukai lantai atas karena waktu yang ditempuh untuk sampai akan lama.


Setelah sampai di depan apartemen milik Wildan, Mikaila segera membuka pintu itu dengan menggunakan kartu. Wildan memberikan salah satu kartu yang merupakan kunci dari pintu apartemen miliknya pada Mikaila agar memudahkan kekasihnya jika sewaktu-waktu Mikaila berkunjung.


Mikaila menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Memandangi setiap inci ruangan yang sudah satu bulan lebih tidak ia kunjungi.


Ruangan itu masih sama. Sofa berwarna biru dongker dengan sebuah nakas tepat di sebelahnya. Di atas nakas tertata rapi beberapa foto. Kebanyakan adalah foto dirinya dan Wildan.


Mikaila menjadi tertarik dan mengambil salah satu foto yang ada di sana. Sebuah foto yang memperlihatkan kebersamaan keduanya di zaman putih abu-abu.


"Masa yang indah. Ternyata sudah sangat lama kami berhubungan. Selama ini hubungan kami selalu baik-baik saja. Dan aku tak akan membiarkan masalah ini merenggangkan hubunganku dan Wildan." kata Mikaila menerawang jauh.


Mikaila menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Wildan masuk dengan wajah datarnya. Jas yang sedari pagi ia kenakan juga tersampir di tangan kirinya.


Dengan terampil Mikaila melepaskan dasi dari leher Wildan. Wildan hanya diam sambil memandang lekat wajah kekasih yang membuat harinya kacau seminggu ini.


Wildan hanya diam. Dia berjalan melewati Mikaila dan meletakkan jasnya di atas sofa sebelum dia duduk disana.


"Kamu marah?" Mikaila ikut duduk di samping Wildan. Menjatuhkan kepalanya di dada laki-laki yang menjadi kekasihnya itu. Wildan masih saja diam. Dia ingin melihat sejauh mana Mikaila berusaha mendapatkan maaf darinya.


"Jangan diemin aku gini dong beib." Mikaila memainkan jari-jarinya di atas dada bidang Wildan.


"Jangan main-main Mik. Aku ini laki-laki normal. Jika kamu menggodaku seperti ini aku takut tidak akan bisa mengendalikan diri."


"Kalau kamu nggak tahan aku akan dengan senang hati melakukannya." kedua tangan Mikaila dengan cekatan melepas kancing kemeja Wiildan. Namun belum sempat satu kancing terlepas, tangan Wildan menangkap tangan Mikaila yang sedari tadi menggodanya.


"Mika, aku tidak akan melakukan hal di luar batas sebelum kita menikah."


"Ayolah Beib. Lagipula kita juga akan menikah."


"Kapan?" pertanyaan Wildan membuatnya bungkam. Meskipun ia sangat mencintai Wildan, tapi untuk membangun rumah tangga sepertinya masih belum ada dalam daftar sesuatu yang akan ia lakukan dalam waktu dekat.


"Kamu diam kan?"


"Maafkan aku Beib."


"Sudahlah. Kita memang masih belum siap untuk semua ini."


"Sebenarnya aku kesini ada yang mau aku bicarain dengan kamu." Mikaila mengganti topik pembicaraan.


Karena Wildan hanya diam, Mikaila melanjutkan ucapannya.


"Mengenai gosip yang beredar di luar sana..."

__ADS_1


"Kamu senang kan bisa dsandingkan dengan Roki? Artis terkenal yang tampan. Yang bisa membuat kaum wanita meleleh." emosi Wildan seketika memuncak saat mendengar Mikaila membahas masalah yang memang mengganggu fikirannya.


"Aku minta maaf Beib. Aku tahu kamu pasti risih mendengarnya."


"Kalau kamu tahu kenapa kamu tidak meluruskan semuanya? Apa susahnya bilang jika kamu dan dia tidak ada hubungan apa-apa?"


"Produser melarangku Beib. Setidaknya sampai film yang kami mainkan rilis."


"Ck. Dan selama itu aku harus menutup telingaku dari gosip-gosip murahan itu? Atau jangan-jangan kamu juga menyukainya?"


"Tidak Beib. Tidak." Mikaila menjadi panik. Masalah ini sudah semakin tidak terkendali. Wildan mendengus.


"Percayalah padaku Beib. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu yang ada di hatiku. Saat peluncuran film ini, ikutlah denganku Beib. Aku akan mengenalkanmu pada masyarakat luas."


"Aku tidak butuh pengakuan dari masyarakat luas. Yang aku butuhkan hanya pengakuan darimu Mika. Itu saja sudah cukup untukku."


"Tapi kamu kan memang kekasihku Beib. Mau pengakuan yang bagaimana lagi?"


"Aku ingin kita segera meresmikan hubungan kita Mik."


Lagi-lagi Mikaila hanya diam. Dia harus berfikir serius untuk masalah ini.


"Tuh kan. Kamu saja masih ragu. Bahkan untuk sekedar tunangan saja kamu masih enggan."


"Aku bukannya ragu Beib. Tapi ini masih terlalu cepat. Kita masih terlalu muda untuk menikah."


"Benarkah? Bukankah Melati, Juna dan Aira juga seumuran dengan kita? Kenapa mereka tidak merasa masih terlalu muda?"


Mereka semua memang seumuran. Tapi pemikiran semua orang tidak ada yang sama. Menurut Mikaila dirinya masih terlalu muda. Dia masih merasa butuh kebebasan berekpresi. Apalagi kariernya sedang berada di atas puncak sekarang.


"Sudahlah. Sebaiknya kamu pulang." Wildan berdiri. Dia meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas nakas dan berjalan keluar diikuti Mikaila.


Sepertinya cukup untuk malam ini. Jika pembicaraan dilanjutkan mungkin akan mengakibatkan masalah yang lebih besar bagi keduanya. Mungkin memang benar keduanya masih membutuhkan waktu untuk melangkah pada hubungan yang lebih serius. Keduanya harus sama-sama dewasa dan siap.


Bagi Mikaila yang terpenting saat ini, ia telah menjelaskan pada Wildan alasannya membiarkan gosip itu simpang siur tertiup angin. Dia yakin Wildan percaya padanya seratus persen meskipun kelihatannya dia masih marah.


*


*


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...🍁🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...


...***...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2