
Nama Mikaila kian melambung setelah film yang dibintanginya sukses di pasaran. Dalam sekejab, nama Mikaila bertengger sebagai artis pendatang baru paling berbakat. Wajahnya kian memenuhi segala media informasi nasional. Dari mulai televisi, medsos dan juga banyak papan baliho yang menampakkan wajahnya.
Bisa dibilang, karier Mikaila sedang bagus-bagusnya. Jadwal yang harus dilakukan Mikaila juga sudah menumpuk menunggu untuk dijalankan.
Hari ini, Aira mengajak Mikaila untuk meeting mengenai pemasaran perumahan yang sedang dikerjakan oleh Raharja grup. Kedekatan Aira dengan Mikaila lah yang tentunya membuat dengan mudah Mikaila mau menjadi Brand Ambasador. Tapi bukan hanya Mikaila yang terlibat.
Mikaila akan berpasangan dengan Roki dalam iklan ini, pasangannya dalam film yang telah sukses melambungkan nama Mikaila. Dan Aira meminta bantuan Mikaila untuk menghubungi Artis papan atas seperti Roki. Besar harapan Aira agar iklan ini sukses dan dapat menyelamatkan Raharja Grup.
"Terima kasih, Mik." kata Aira setelah temannya itu setelah selesai melakukan tugasnya.
"Kita temenan sudah lama. Jadi pasti aku akan sangat senang bisa membantu." Aira tersenyum.
Aira mengalihkan pandangannya pada Laki-laki yang datang bersama Mikaila. "Terima kasih tuan Roki." ucapnya sambil tersenyum.
"Ah. Panggil Roki saja. Saya jadi merasa tua kalau dipanggil seperti itu." kelakar Roki. Dia memang orang yang ramah. Aira kembali tersenyum mendengarnya.
"Ya. Baiklah Roki. Sesuai keinginanmu. Mari silahkan duduk." Aira mengajak kedua artis itu untuk duduk. Mereka lebih memilih bertemu di kantor Aira agar tidak repot. Mengingat Mikaila juga sudah terkenal sekarang. Jadi, jika keduanya terlihat bersama akan menimbulkan bahan gosip yang hangat di masyarakat.
Mereka membicarakan segala sesuatunya mengenai syuting yang akan mereka lakukan. Setelah semua setuju. Hendro memberikan surat kontrak sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat kepada Aira. Aira membacanya dengan teliti sebelum diberikan kepada Mikaila dan juga Roki.
"Silahkan anda pelajari." kedua artis itu membaca Surat kontrak mereka dengan teliti sebelum membubuhkan tanda tangan mereka.
"Baiklah. Mulai sekarang kita adalah rekan kerja. Semoga kerja sama kita berjalan lancar." kata Aira. Aira menjavat tangan keduanya sebagai bentuk tanda jadinya kontrak mereka.
"Aamiin." jawab semua yang ada disana.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri. Sampai jumpa dua hari lagi." pamit Roki sambil berdiri.
"Silahkan Roki. Hati-hati di jalan." Aira dan Mikaila segera berdiri dan bergantian berjabat tangan dengan Roki sebelum laki-laki tampan itu berlalu dengan asistennya.
Aira menghela nafas lega sambil kembali mendudukkan dirinya di kursi kebesaran yang seharusnya diduduki oleh Safna. Mikaila segera menghampiri Aira yang tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa hem?" Mikaila memegang pundak Aira. Seperti ikut merasakan beban berat yang saat ini sedang dipikul sahabatnya itu.
"Gue capek Mik." Sudah satu minggu ini Aira Memang kurang istirahat. Waktunya ia habiskan di perusahaan. Bahkan dalam seminggu ini, dia hanya pergi ke rumah sakit dua kali. Saat hari pertama ia sampai dan tiga hari setelahnya karena mendapat kabar bahwa Andra telah siuman.
"Bertahanlah sebentar lagi Ra. Semua akan segera selesai. Satu masalah sudah teratasi kan?" Aira mengangguk. Benar. Dalam seminggu ini, masalah mengenai jus kemasan sudah selesai. Dan sekarang jus itu sudah sukses beredar di pasaran. Sedangkan pihak yang telah membocorkan rahasia pada perusahaan lain sudah ditangkap dan diproses secara hukum.
"Kamu harus ingat Ra. Kami semua ada untukmu. Kapanpun kamu butuh pertolongan, buanglah pada kami."
Aira menatap sahabatnya itu. Menangkap ketulusan dari sorot matanya.
"Terima kasih Mik."
"Sini peluk." Akhirnya, kedua sahabat itupun berpelukan dengan erat. Saling memberi dukungan dan kekuatan. Itulah gunanya sabahat bukan? Jika yang satu dalam masalah, yang lainnya akan berusaha meringankan beban yang lain.
...🎬🎬🎬...
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Syuting dilakukan di lokasi perumahan yang sudah jadi. Para pihak yang berhubungan dengan syuting untuk iklan sudah berkumpul.
Artis dan pemeran pendukung juga sudah di make up. Peralatan sudah siap untuk mengabadikan moment. Sutradara yang disewa sudah selesai memberikan breafing kepada para artisnya.
__ADS_1
Saat styuting dimulai, Aira ditemani Juna dan Ridwan secara langsung melihat prosesi syuting disana. Mereka bertiga duduk di sebelah sutradara.
Akhirnya, syuting yang melelahkan itu selesai dengan hasil yang memuaskan. Chemistry Mikaila dan Roki sebagai pasangan dalam-dalam film sebelumya memudahkan mereka untuk berakting menjadi pasangan muda dengan seorang anak mereka.
Ridwan yang sangat senang melihat Akting Mikaila segera menghampiri temannya itu. Dia segera menepuk bahu Mikaila sebelum mengalungkan lengannya disana.
"Ck ck Ck. Gue nggak nyangka punya temen keren kayak lo Mik." ucap Ridwan seketika.
"Sono-sono. Jauh-jauh dari gue. Gue tahu akal bulus lo. Lo mau bujuk gue buat jadi iklan pasta gigi lo kan? Ogah... " Mikaila menggedikkan bahunya dan segera meninggalkan mantan playboy itu.
Ridwan menggaruk tengkuknya seketika. Secepat itukah niat terselubungnya ketahuan? Papanya memang memintanya untuk membujuk Mikaila untuk iklan pasta gigi mereka. Dan kenapa bisa Mikaila mengetahuinya?
"Ayolah Mik. Lo kan sahabat gue. Masak lo nggak mau sih?" Ridwan segera menghampiri Mikaila yang sudah bergabung dengan Aira dan yang lainnya. Artis yang sedang naik daun itu sedang menikmati jus dinginnya setelah lelah beradu Akting dengan Roki.
"Salah siapa dulu ngolok-ngolok gue hah?"
"Gue kan cuma bercanda Mik. Masa lo tega sih lihat gue kena omel papa gue yang kalo ngomel panjangnya udah ngalahin gerbong kereta aja. Bisa dua hari tiga malam kuping gue dengernya?."
"Cih. Gue nggak peduli." Mikaila memalingkan wajahnya.
Ridwan masoh dibukak berusaha membujuk Mikaila. Sedangkan Juna dan Aira menggelengkan kepalanya melihat kedua teman mereka itu. Kalo ketemu selalu saja ada yang diributkan.
"Boleh gabung?" Roki datang sendiri tanpa asistennya. Sang asisten dan asisten Mikaila sedang berbicara dengan sutradara mengenai gambar yang telah mereka ambil. Keempat orang yang ada disana segera mempersilahkan artis itu duduk diantara mereka.
"Ternyata teman-teman Mikaila mempunyai wajah yang membuat iri ya." ucap Roki setelah memperhatikan Aira dan yang lainnya.
"Kamu bisa saja. Masak iya artis papan atas iri pada wajah pasaran kayak gini."
"Lo sensi amat sih sama gue Mik. Lagi dapet lo!" Mikaila memukul Ridwan dengan bantal kecil.
"Tuh tuh. Kalo fans lo ampek liat kelakuan bar bar lo gue yakin mereka pada kabur."
"Makin lama lo makin ngelunjak ya." Mikaila semakin geram rasanya.
"Biarin! Mumpung penjaga Lo nggak disini."
"Kalo lo mau gue jadi artis lo, mending lo baik-baikin gue deh mulai sekarang." Mikaila memicingkan matanya. mencoba mengancam Ridwan. Sekarang dia punya sesuatu untuk melawan Ridwan.
"Baiklah yang mulia Ratu Mikaila. Sesuai dengan titah yang mulia." Ridwan berdiri dan membungkukkan badannya di depan Mikaila sambil menekuk tangannya di depan dada.
"Oke-oke. Karena Ratu Mikaila yang cantik jelita ini sedang baik hati. Akan aku pikirkan penawaran dari pangeran teri."
"Mik, ngelunjak lo ya! Untung gue ada perlu ama lo. Coba kalo nggak. Udah gue... "
"Gue apa? Apa? Berani lo?"
"Udah-udah. Malah pada ribut. Kalian nggak malu sama Roki?" mendengar ucapan Juna, kedua orang yang sudah bersiap berperang itu segera sadar jika bukan hanya mereka yang ada disana.
"hehehehe" Ridwan segera kembali duduk tenang di tempatnya.
"Lo sih mancing gue."
__ADS_1
"Siapa juga yang mancing. Orang gue nggak bawa kail juga. Lo lihat gue bawa alat pancing?" Mikaila menggertakkan giginya. Kedua tangannya mengepal menahan marah.
"Berhenti nggak kalian?!" kata Aira dingin. Kedua orang itu diam seketika. Aura Aira memang masih sering mendominasi. Membuat Ridwan dan Mikaila diam di tempat mereka. Keduanya saling melirik dan melempar pandangan tajam.
"Lama-lama gue bolongin tuh mata pake sendok. Mau?!" lanjut Aira. Kedua temannya yang kekanak-kanakan segera menggelengkan kepalanya cepat. Ancaman Aira mengerikan.
"Maaf ya Roki. Beginilah kalo kami lagi kumpul. Padahal ini masih belum lengkap. Kalo udah lengkap bakal lebih rame." kata Aira kembali lembut. Mencoba memecahkan kecanggungan yang mereka buat.
"Pasti akan menyenangkan bisa melihat kalian semua kumpul."
"Ya. Begitulah. Lain kali, kalo kamu lihat kami. Jangan sungkan buat gabung." kata Mikaila.
"Ingat laki." cibir Ridwan.
"Sirik! Noh urusin Laila. Belajar ngaji sama Sholat. Ntar suruh jadi imam lo baca surat pendeknya aja nggak apal?"
Ridwan diam. Jika sudah membahas masalah Laila. Dia tidak bisa mengelak. Gadis Sholihah yang jadi idamannya itu begitu sempurna. Hingga ia sendiri ragu untuk bisa bermimpi dapat bersanding dengannya.
"Diam kan lo akhirnya." ucap Mikaila sambil menyesap kembali jus miliknya. Aira dan Juna hanya menghela nafas panjang. Mereka berdua memang masih kayak bocah. Gambang ngambek dan saling olok.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Dua puluh tujuh🍃...
...🌸Pada malam ke dua puluh tujuh, ia akan dapat melewati Shirothol Mustaqim pada hari kiamat dengan kecepatan bagaikan kilat yang menyambar🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1