Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 114. Keberuntungan Dan Kesialan


__ADS_3

Salah satu ruangan di bagian keuangan terlihat sangat sibuk. Berkas-berkas berserakan di atas beberapa meja di ruangan itu. Di dalam sana, sepuluh orang sedang bekerja dengan banyak file keuangan yang baru saja datang dari pabrik.


Produk pasta gigi yang akan diluncurkan oleh perusahaan itu bisa dipastikan akan sukses di pasaran setelah iklan yang mereka buat dengan melibatkan Mikaila sebagai bintang iklan mereka. Sehingga bagian pabrik membuat pngajuan penambahan dana untuk produksi.


"Punyaku sudah selesai. Apa masih ada yang perlu di rekap?" tanya Laila yang merupakan salah satu dari sepuluh orang tersibuk di kantor saat ini.


"Ah ya La. Yang di meja Bu Rindu tadi masih ada." kata Dea.


"Ok. Aku antar yang ini dulu." Laila segera berdiri dan keluar ruangan. Rindu yang merupakan kepala bagian keuangan sedang berada di ruangan sekretaris Ridwan sehingga ia harus menyusulnya kesana untuk menyerahkan hasil kerjanya sesuai perintah atasannya.


Laila segera masuk ke ruangan sekretaris yang memang tidak berpintu. Di dalam ruangan yang berada di depan ruang CEO di perusahaan itu ternyata tidak ada orang yang ia cari. Disana hanya ada lima orang yang merupakan staff sekretaris. sedangkan sekretaris utama juga tidak berada di tempatnya.


"Ada apa La?" tanya salah satu orang disana.


"Saya mencari bu Rindu. Tadi beliau berkata mau kesini."


"Iya. Tadi memang kesini La, tapi dipanggil sama pak Ridwan. Tadi beliau juga pesan kalau anak bagian keuangan cari suruh kesana langsung."


"Kesana ya?" tanya Laila memastikan.


"Ya. Tunggu apa lagi? Bukannya sudah ditungguin?"


"Huft. Baiklah. Aku akan segera kesana."


Laila segera meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya dia merasa canggung jika harus memasuki ruangan Ridwan. Laki-laki yang menjadi CEO nya itu dengan terang-terangan beberapa kali mengungkapkan rasa suka padanya.


Banyak karyawan di perusahaan itu membencinya gara-gara hal ini. Mereka tidak terima jika CEO mereka memberikan perhatian khusus padanya. Kabar tentang perasaan Ridwan padanya juga bukanlah rahasia. Sebab, Ridwan dengan terang-terangan mengejar Laila sejak ia datang ke perusahaan ini.


Laila terlebih dulu menghilangkan perasaan canggung. Ia mnghembuskan nafasnya beberapa kali demi menjaga kestabilan emosinya. Bertemu dengan Ridwan membutuhkan stok kesabaran ekstra. Ridwan seringkali menggodanya di segala kesempatan.


"Masuk."


Terdengar suara Ridwan dari dalam. Laila mengucapkan basmalah sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


Wajah Ridwan seketika berubah cerah setelah melihat jika Laila lah yang masuk ke dalam ruangannya. Pembahasan dengan Rindu dan sekretarisnya yang serius mendadak lenyap ketika matanya menatap gadis cantik berhijab itu.


"Permisi. Saya mau menyerahkan ini Bu Rindu." Laila maju dan mengangsurkan file yang ia bawa pada Rindu.

__ADS_1


"Terima kasih La" Rindu, ibu satu anak yang telah bekerja di sana selama lima tahun ini menerimanya dengan senyuman. Segera ia membuka file yang diterimanya.


"Bu Rindu. Lebih baik ibu kembali ke ruangan ibu. Anak buah ibu pasti sedang membutuhkan bantuan ibu." kata Ridwan.


"Baik pak. Saya permisi." Rindu segera berdiri. Ia memberi kode pada Laila untuk mengikutinya. Dan Laila paham. Ia segera mengikuti atasannya.


"Bu Rindu."


"Ya pak." Rindu mnghentikan langkahnya dan berbalik. Begitupun dengan Laila.


"jika saya meminjam anak buah anda sebentar tidak masalah kan? Saya ada sesuatu yang harus diurus dengan Laila sebentar."


"Tentu saja Pak. La kamu disini dulu." Rindu menepuk bahu Laila sebelum gadis itu mengatakan protes ketidak setujuannya.


"Nela segera kamu buat berkas yang akan diserahkan ke AMT."


"Baik Pak." Nela segera berbalik dan memandang sinis Laila yang baru saja ia lewati.


"La tolong buatin aku kopi."


"Hanya sebentar La. Kamu nggak kasihan padaku? Sejak pagi otak kecilku ini sudah harus berjuang." kata Ridwan dengan wajah melas. Akhirnya Laila menyerah. Gadis itu segera masuk ke dalam pantry di dalam ruangan dan melaksanakan tugasnya.


Ridwan tersenyum penuh kemenangan di kursinya melihat Laila yang sedang menyiapkan kopi untuknya.


Ridwan mendekat ke arah pantry di dalam ruangannya. Dia mendudukkan diri di kursi minibar disana. Memandangi gadis pujaan hatinya yang sedang menuangkan air mendidih ke dalam cangkir. Ridwan tidak menyukai jika membuat kopi dengan mesin kopi. Jadi meskipun disana disediakan, dia lebih suka membuatnya secara manual. Apalagi kopi buatan Laila terasa pas di lidahnya.


"Kamu tahu La, kopi buatanmu sangat enak, sangat pas di lidahku. Ini pasti karena kamu membuatnya dengan penuh cinta." kata Ridwan setelah secangkir kopi terhidang di depannya. Uap panas yang menguarkan aroma kopi yang kuat menyapa hidungnya.


Laila diam tanpa menanggapi. Dia meletakkan kembali peralatan yang ia gunakan.


Menyadari tak menerima tanggapan, Ridwan segera mencari ide lain agar gadis itu berada di dalam ruangannya lebih lama. Akhirnya otak kecilnya berhasil menemukan ide. Dimintanya Laila mengambilkan bolu di dalan kulkas yang kebetulan baru dimasukkan tadi pagi oleh ofice boy sesuai perintahnya.


Bolu berwarna hijau itu masih dalam keadaan utuh. Belum diiris sehingga Laila dengan terpaksa harus mengerjakannya sendiri. Setelah itu, ia mengambil piring kecil dan meletakkan satu slice kue dan segera di letakkan di depan Ridwan setelah ia memberikan sendok di sana.


Ridwan segera memasukkan potongan kue itu ke mulutnya. Ia mengernyit menyadari ada yang salah. Namun ia melanjutkannya hingga habis.


"La, coba kamu rasain deh kuenya. Kayaknya rasanya aneh."

__ADS_1


"Aneh bagaimana?" Laila memperhatikan Kue yang baru saja ia masukkan ke dalam kulkas.


"Rasanya kayak lain. Ini bukan rasa pandan ya?"


Laila mengendus kue itu. Dan memang bukan pandan yang tercium. Dia segera tersadar dan dengan panik ia segera mengambil piring dari depan Ridwan.


"Ada apa?" Ridwan bingung melihat reaksi Laila yang segera menyodorkan segelas air putih padanya.


"Ini bukan bolu pandan Pak. Tapi pisang." lirih Laila di akhir kalimatnya.


"Apa?!"


Laila tidak bisa berbuat apa-apa. Ridwan alergi pisang. Lambungnya tidak akan cocok dengan kandungan dalam pisang hingga membuatnya akan menderita diare. Dan benar saja. Sang korban merasakan mulas pada perutnya.


Ridwan harus bolak balik ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya yang terasa mengobok-obok isi perutnya. Ridwan merasakan lemas. Laila merasa khawatir dan bersalah karena tidak sadar ia telah menyebabkan Ridwan begitu tersiksa.


Sebotol isotonic diulurkan Laila untuk mengganti cairan Ridwan yang terkuras habis. Ridwan menerimanya dan segers meminumnya. Saat ini dia duduk dengan lemas di sofa. Di depannya Laila berwajah menyesal.


"Maafkan saya pak. Saya tadi tidak mengeceknya terlebih dahulu."


"Bukan salahmu La. Lagian warnanya hijau. Biasanya kan kalau rasa pisang warnanya coklat."


"Tapi tetap saja saya merasa bersalah. Saya tidak teliti. Padahal saya tahu jika bapak alergi pisang."


"Tidak masalah La. Aku malah senang. Aku senang mengalami ini. kesialan selalu datang bersama dengan keberuntungan."


"Maksud bapak?"


"Ya. Karena kesialanku aku mendapat keberuntungan dengan kamu ada disini menemaniku. Hehehe." Jurus playboy masih manjur. Laila jadi salah tingkah mendengarnya. Bagaimana mungkin sang bos rela menderita hanya demi bersama dengannya...


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😉

__ADS_1


__ADS_2