
Aira duduk di ruang tamu apartemen Jasson dan Jacky dengan mengayunkan amplop yang berisi undangan untuk rapat walimurid untuk pembagian rapot semester satu. Saat inilah saat dimana Aira Salsabila Raharja merasa khawatir.
Sama dengan semester-semester sebelumnya, Papinya akan meminta nilai terbaik dari Aira. Namun selama ini belum pernah satu kalipun Aira dapat mendapatkan juara umum di sekolah.
Siang ini sepulang sekolah dia memutuskan untuk pergi ke apartemen sepupu kembarnya itu. Walaupun keduanya sedang tidak berads di sana, tapi Aira mengetahui kode kunci apartemen itu.
Lama dia disana hingga dia merasa haus. Aira berdiri dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dari sana. Kemudian dia membuka laci dan mengambil beberapa makanan ringan yang memang disediakan oleh sepupu kembarnya untuk dirinya.
Aira duduk di sofa dan menonton televisi disana. Sesekali tangan Aira masuk ke dalam toples camilan untuk selanjutnya memasukkan camilan itu ke dalam mulutnya.
Tanpa berkata apapun, Aira menyambar ransel dan handphone miliknya d atas meja setelah mengembalikan toples camilan yang tadi di ambilnya ke tempatnya semula.
Aira menuju pintu dan keluar setelah mengunci pintu apartemen itu. Hatinya sudah sedikit tenang sekarang. Lagi pula ini juga sudah sore. Dia memutuskan untuk tidak memberikan surat undangan dari pihak sekolah.
Buat apa memberikan surat yang tidak akan dianggap oleh kedua orangtuanya. Daripada mendapatkan jawaban penolakan untuk datang menghadiri rapat itu, lebih baik tidak perlu memberikan surat itu.
Aira melajukan motornya ke taman kota. Tempat dimana dia dan teman-temannya biasa mengamen. Di sekitar tempat itu banyak berjejer penjual makanan kaki lima. Setelah memesan sepiring nasih pecel, dia mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan.
"Sendirian aja." Aira mendongak ke arah suara. Dia sedikit kaget mengenali siapa ya g ada di depannya saat ini. "Boleh duduk?"
"Silahkan."
"Mbak tolong satu porsi dan teh hangatnya."
"Kok mas Elang bisa sampai disini?"
"Lapar Ra. Aku mau cari makan. Ee aku lihat kamu tadi di pertigaan. Tapi kamu kencang bener bawa motornya. Jadi sempat kehilangan jejak."
"Mas Elang ngikutin aku?"
"Ya. Aku kangen sama kamu." Aira jadi salah tingkah mendengar gombalan Elang. Laki-laki sering sekali membuat Aira nervous.
Elang pun ikut makan saat pesanannya sampai. Mereka berdua makan dengan tenang. Aira sudah selesai terlebih dahulu. Tapi dia memutuskan untuk menunggu Elang juga selesai.
"Mas Elang dari kantor?"
"Ya. Tadi kelewatan makan siangnya. Jadi sore ini rasanya laparnya udah nggak bisa ketahan. Cacing-cacing di perut juga sudah pada demo minta jatah."
"Aku nggak nyangka jika di perut seorang CEO ada cacing nya." Aira terkekeh setelah mengejek Elang. Elang sendiri tersenyum kecut.
"Bukan itu maksud ku. Masak iya ada cacingnya sih."
"Ayo mas aku antar ke dokter. Kita periksa. Jangan-jangan emang ada cacing nya."
__ADS_1
"Tidak-tidak. Dari pada ke dokter mending kita ke KUA aja. Gimana?"
"Jangan mulai lagi deh mas."
Elang meminum teh di gelasnya sampai habis sebelum dia membayar makanan miliknya dan juga milik Aira. Elang mengajak Aira jalan-jalan sebentar di taman.
"Mas nggak balik ke kantor?"
"Nggak ah males. Jarang-jarang kan ketemu cewek cantik, masak ditinggal sih."
"Aku ini cewek jadi-jadian lho mas. Masak iya cantik?"
"Cantik itu bukan hanya soal penampilan Ra. Cantik di luar tidsk akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan cantik di dalam. Cantik wajah itu relatif. Dan akan pudar seakan bertambahnya usia. Wajah gadis yang masih muda tentu saja terlihat cantik karena masih mukus dan kencang. Tapi kalau sudah tua dan keriput. Apakah masih akan terlihat cantik? Berbeda dengan kecantikan hati, mau sampai kapanpun akan tetap cantik."
"Hati itu sesuatu yang sangat mudah berubah mas Elang. Bisa saja sekarang hati itu memiliki kecantikan atau kebaikan. Tapi siapa tahu suatu saat karena suatu hal bahkan hal kecil sedikitpun akan merubah kecantikan hati menjadi keburukan yang bahkan lebih buruk dar Uuuuhh siapapun."
"Ya itu benar. Maka dari itu kita perlu seseorang yang bisa mendampingi kita agar hati akan selalu berisi dengan kebaikan. Bergaul dengan orang-orang yang baik."
"Aku percaya kata-kata bijak jika wanita yang baik untuk pria yang baik. Dan wanita yang buruk untuk pria yang buruk pula."
"Zaman sekarang baik buruk itu sangat mudah di setting mas."
"Ya. Banyak yang kelihatan baik di luar tapi busuk di dalam. Dan sebaliknya. Menurutmu aku seperti apa Ra?" Elang memandang lekat Aira yang duduk di sebelahnya.
"Mas Elang baik kok. Tentu saja baik."
blush.....
Aira merasakan pipinya panas sekarang. Dia memang selalu berkata bahwa dirinya wanita jadi-jadian. Tapi dia tetaplah seorang wanita yang jika dipuji oleh lawan jenisnya akan merasa malu.
"Kenapa malah tersenyum Ra? Itu juga kenapa pipi kamu. Demam?" tanpa aba-aba, punggung tangan Elang sudah mendarat di kening Aira. Merasakan suhubtubuh gadis di sampingnya. Tak tahukah dia bahwa dialah yang menyebabkan merabanya pipo Aira sekarang?
"Nggak demam kok." Elang masih terus fokus pada perubahan wajah Aira. Itu semakin membuat Aira salah tingkah.
"Ah lebih baik kita pulang deh mas. Udah mau magrib." suara Adzan memang sudah terdengar dari masjid yang berada di seberang jalan. Suasana yang tadinya terang juga sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Wajah Aira terlihat semakin bersinar saat sorot lampu mengarah ke wajahnya. Elang sampai tidak berkedip melihat kecantikan Aira saat itu.
Elang memperhatikan Aira mulai memakai helmnya dan melajukan motor hijau itu dengan kencang. Elang geleng-geleng kepala. Dia berani bertaruh jika dia dan Aira berlomba motor, dia pasti akan kalah dengan gadis tomboy itu.
Setelah motor Aira tidak terlihat, Elang pun segera masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Elang berbelok ke halaman salah satu masjid yang berada di pinggir jalan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sejak kecil dia selalu diajarkan untuk menjaga solat lima waktu sebagai tiang agama. Jadi kesibukan apapun yang dia lakukan, jika tiba waktu sholat dia harus tetap menjalankannya.
Setelah mengambil air wudlu, Elang segera masuk ke dalam masjid dan ikut dalam Shof untuk sholat berjamaah.
__ADS_1
Elang Pov....
Setelah aku berdo'a setelah sholat, aku berniat untuk segera meninggalkan masjid dan kembali ke kantor. Pekerjaanku banyak Akhir-akhir ini, jadi aku sering lembur. Apalagi aku tadi sedikit jalan-jalan dengan Aira.
Tapi sebelum aku bangun dari dudukku. Sayup-sayup aku mendengar suara merdu seorang perempuan sedang mengaji dari bilik perempuan. Akupun kembali duduk dengan tenang. Mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang tersengar begitu menenangkan.
"Shodaqollahul Adziim." setelah mendengar suara itu. Aku tahu dia sudah selesai. Tak teras sudah satu jam aku duduk mendengarkan gadis itu mengaji.
Akupun keluar dan menunggu di teras masjid. Aku penasaran dengan gadis itu. Ini bukanlah masjid yang terletak di pemukiman. Jadi tidsk mungkin dia adalah warga sekitar. Aku yakin dia juga sama seperti diriku, sekedar mampir untuk menunaikan Sholat. Tapi aku kagum bahkan saat perjalanpun dia menyempatkan mengaji. Jika tidak karena kebiasaan tidsk Mungkin dia melakukan itu.
"Mas Elang." suara itu adalah suara yang aku kenal. Aku mendongak untuk memastikan bahwa telingaku tak menghianatiku.
Benar itu adalah suara Aira. Jadi dia gadis yang tadi mengaji di dalam. Sebab aku sudah memastikan hanya ada gadis itu tadi di dalam sana. San hanya Aira yang ada disini. Bersamaku tentunya.
"Ya." aku sampai bingung harus berkata apa Sekarang. Lengkap lah sudah kriteria wanita idaman menurut versiku. Semua ada pada diri Aira.
"Mas Elang juga sholat disini?"
"Ah ya Ra. Tadi lewat sekalian mampir. Kalau nunggu sampai rumah nggak akan sempat."
"Benar mas. Waktu Sholat maghrib sangat singkat."
"Aku nggak nyangka kamu pandai mengaji Ra?"
"Oh itu belum pandai-pandai amat sih mas. Sekedar bisa saja. Aku diajari oleh mbak Ida. Baru dua tahun ini lah."
"Tapi kamu kedengaran lancar tadi."
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh ya mas. Sudah malam. Aku pulang duluan ya."
"Ya. Hati-hati di jalan Ra."
"Hem. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Memang benar-benar gadis yang patut diperjuangkan. Aku akan menunggumu sampai siap untuk menjadi milikku Ra. Kamu adalah sosom wanita idaman. Cantik, baik, sederhana dan sholihah. Satu paket komplit menantu perfect untuk mama.
*
*
*
__ADS_1
...Terima kasih sudah mampir π...
...Jangan lupa Like π VOTEπ dan Rate β...