
"Tolong sampaikan surat ini pada Salsa Mi." Safna meletakkan sebuah amplop putih di atas meja saat Amira akan pulang. Waktu kunjungan sudah habis. Sudah cukup banyak hal yang mereka bicarakan. Amira mengambil amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Baiklah. Mami dan Papi pulang dulu. Minggu depan Kami akan kembali berkunjung. Jaga kesehatanmu Nak.” Amira dan Andra bangkit bergantian memeluk Safna sebelum mereka meninggalkan bangunan tahanan itu.
Sesampainya di rumah, hari sudah berubah menajadi gelap. Amira segera masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah bingkai dari sana.
Dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, Amira memeluk bingkai berisi sebuah foto. Andra yang baru masuk ke dalam kamar menatap nanar istrinya.
"Mi..." panggilnya lembut. Amira hanya menoleh sekilas.
"Mereka pasti sangat menderita Pi. Mami udah nggak kuat lihat mereka menderita."
"Sabar Mi. Anak-anak kita adalah anak-anak yang tangguh. Mereka akan mampu menghadapinya." Andra memeluk Amira. Ia juga melirik potret yang ada di dalam bingkai dengan pandangan yang sendu.
...🐦🐦🐦...
Aira sedang menemani Naira belajar di kamarnya. Biasanya Mbak Weni yang melakukan tugas yang mulia ini. Namun semenjak Aira resmi menjadi ibu sambung untuk Naira, hal-hal mengenai Naira menjadi tanggung jawab Aira.
Naira adalah gadis kecil yang menggemaskan. Ia juga tipe anak yang penurut dan tidak mempunyai keinginan yang macam-macam. Dia juga termasuk gadis kecil yang cerdas. Dapat menerima hal baru dengan mudah.
Apalagi Naira sangat penurut pada Bundanya. Apapun yang diperintahkan oleh Aira akan dengan senang hati ia lakukan. Seperti saat ini, Naira sedang menerima perintah dari Aira untuk menulis sebuah kalimat dalam dua lembar folio bergaris yang diberikan oleh Aira. Gadis kecil itu hanya menurut.
"Bagaimana bunda?" tanya Naira sambil menunjukkan hasil tulisannya yang baru memperoleh setengah halaman. Aira memperhatikan hasil tulisan Naira.
"Sayang, ini masih belum rapi. Cobalah menulis dengan pelan. Bunda yakin tulisan Naira akan menjadi tulisan yang paling indah." Naira mengangguk dan menurut. Melanjutkan menulis kalimat "Princess Naira sedang belajar menulis."
Bukan apa-apa Aira memerintahkan anaknya menulis kalimat itu. Sebelumnya gadis kecil itu pulang dalam keadaan menangis. Kemudian ia bercerita jika ia menjadi bahan olokan teman-temannya dikarenakan tulisannya yang dikatakan seperti tulisan cakar ayam. Tentu saja olokan itu sangat melukai harga diri Naira yang sudah di atas awan.
Aira juga langsung bertanya pada Melati mengenai kebenaran tentang tulisan Naira. Dan Melati bilang jika akar masalah dari tulisan Naira yang terlihat tidak rapi dikarenakan kecepatan tangan Naira tidak secepat kemampuan berfikir gadis itu, jadi tulisan yang dihasilkan terlihat berantakan. Cara menulis Naira terbilang sangat cepat. Di saat teman sekelasnya yang lain baru menulis sepertiganya, maka gadis ini sudah menyelesaikan semuanya.
Gadis kecil ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Namun sayangnya gerak motoriknya tidak dapat mengimbangi kecepatan otaknya. Itulah mengapa Aira memberikan latihan agar Naira menulis dengan perlahan. Jika tangannya tidak secepat otaknya, maka kecepatan otaknya bisa disesuikan dengan gerakan tangannya.
"Hati-hati saja sayang menulisnya." Aira mengingatkan sekali lagi saat gerakan tangan Naira sudah mulai tidak seimbang. Naira akhirnya mengurangi lagi kecepatan tangannya.
"Nah selesai!" teriak Naira girang. Ia menatap hasil tulisannya. Memang indah. Tulisan yang paling rapi yang pernah ia hasilkan. Naira sudah sangat puas dengan hasilnya. Kini ia harus lebih giat berlatih untuk menulis. Melatih gerakan tangannya agar sesuai dengan kecepatan otaknya tanpa membuat tulisannya jelek. Ia yakim suatu hari pasti bisa melakukannya.
"Bagaimana dengan ini bunda?"
"Indah. Benar kan apa kata Bunda. Tulisan kamu pasti sangat indah. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang mengejek tulisanmu." Aira tersenyum. Ia senang akhirnya dapat menyelesaikan masalah Naira.
"Sedang apa kalian? Sepertinya seru sekali." Elang masuk. Ia baru saja pulang. Ada meeting dengan klien mendadak malam ini.
__ADS_1
"Dad lihat tulisan Nai." Naira menunjukkan da kertas folio bergaris yang sekarang penuh dengan tulisan Naira.
"Ini tulisan kamu sayang?"
“Tentu saja Dad. Tulisan siapa lagi?"
“Tumben nggak kayak cakar ayam?" seketika wajah ceria Naira berubah muram. Bolehkan dia patah hati? Bahkan daddynya sendiri mengejek tulisannya. Bahkan ekspresi Aira yang dari tadi tersenyum mendadak muram. Menatap tajam sang suami yang bahkan tidak menyadari kesalahannya telah melukai hati sang putri.
Tanpa bicara sepatah katapun Naira keluar dari kamarnya. Meninggalkam kedua orang tuanya yang saling memandang. Namun cara pandang keduanya jelas berbeda. Yang satu tatapan mata yang tidak mengerti dan meminta penjelasan, yang satu tatapan tajam yang menghakimi.
"Ada apa?" pertanyaan polos yang keluar dari mulut Elang seperti sebuah pertanyaan bodoh yang terdengar di telinga Aira. Dasar laki-laki tidak peka, cibirnya dalam hati.
"Apakah mas tidak sadar dengan apa yang baru saja mas lakukan?"
"Memang apa yang aku lakukan?"
"Bukankah baru saja kamu melukai hati Naira? Bagaimana mas sampai tidak sadar jika kata-kata yang mas ucapkan bisa melukai hatinya?"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti." Aira memijit pelipisnya. Apakah laki-laki begitu tidak pekanya terhadap hal yang sensitif? Bagi kaum wanita, diejek merupakan hal yang sangat memalukan. Bahkan jika itu hanyalah seorang gadis kecil. Tapi mengingat tingkat kematangan Naira sangat dimaklumi jika gadis kecil itu memikirkan hal mengenai dirinya dengan dalam.
Aira mendesah sekali lagi. Elang masih belum juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia sama sekali merasa tidak ada yang salah dari kata-kata yang ia ucapkan.
"Hari ini Naira pulang dalam keadaan menangis. Hatinya terluka...." Elang langsung menatap tajam Aira.
"Dengarkan aku dulu mas. Nanti kamu akan paham."
"Baiklah. Apa yang terjadi?" suara Elang melembut.
"Ada masalah pada perkembangan Naira." Aira mengangkat tangannya mengisyaratkan agar laki-laki yang masih dalam mode Daddy Posessif itu mau mengeluarkan kalimat protesnya itu diam.
"Baiklah-baiklah silahkan dilanjut bunda."
"Aku sedang tidak ingin bercanda ya mas." nada suara Aira naik satu oktaf. Ia ingin menyampaikan masalah tentang Naira, namun sepertinya Elang malah lebih tertarik untuk menggodanya.
"Maaf sayang. Abisnya kamu gemesin banget." telapak tangan Aira menghalangi bibir Elang yang hendak mendarat di atas pipi.
"Aku sedang serius mas. Ini masalah Naira. Jangan bercanda terus."
"Baikalah."
"Begini, Naira mempunyai kecerdasan di atas rata-rata." belum sempat Aira menyambung ucapananya. Lagi-lagi Elang memotong seenaknya.
__ADS_1
"Bukankah itu bagus?"
"Diam dulu mas. Aku belum selesai." Aira mencebik. Sepertinya ia butuh lakban sekarang. Entah mengapa ia merasa jika setelah menjadi istri Elang, Aira menemukan hal baru dalam diri Elang. Cerewet! Laki-laki ini kadang sangatlah cerewet. Apalagi yang menyangkut Naira.
Aira hanya menembakkan pandangan matanya yang tajam untuk membungkam suaminya yang terus saja memotong ucapannya.
"Kecerdasan yang dimiliki Naira memang sanhat bagus mas. Tapi sayangnya,gerak motorik Naira tidak secepat otaknya. Hal ini membuat tulisan yang dihasilkan oleh Naira menjadi tidak rapi dan terkesan jelek." Aira menjeda. Saat ini Elang hanya diam. Mencerna informasi yang baru saja diucapkan oleh Aira.
"Dan karena itulah hari ini Naira menangis. Ada teman sekelasnya yang menyebut jika tulisan Naira seperti cakar ayam. Dan pasti mas tahu sendiri siapa lagi yang menyebutnya begitu kan?" sindir Aira di akhir kalimatnya. Kini ia faham apa yang membuat wajah Naira yang tadinya cerah seketika meredup.
"Yah. Kini aku tahu apa salahku. Tapi aku kira masalah tulisan Naira itu hal biasa. Anak kefil yang baru saja belajar menulis pasti tulisannya jelek."
"Itu tidak berlaku pada Naira mas. Coba perhatikan!" Aira membuka buku pelajaran Naira. Tulisan disana terlihat kacau. Sangat berantakan. Tapi bentuk tulisannya jelas. Namun karena ditulis dengan kecepatan tinggi hingga membuat tata letaknya tidak rapi bahkan saling tumpang tindih.
"Kamu benar sayang. Tulisan ini aslinya indah. Tapi ini jelas ditulis dengan cepat. Lalu bagaimana?"
"Dengan terus berlatih menyeimbangkan keduanya aku yakin tulisan Naira akan jauh lebih baik. Dan ini hasilnya." Elang kembali memperhatikan kertas yang disodorkan oleb Aira.
"Kamu benar. Sekarang cepat siap-siap!"
"Siap-siap untuk apa mas? Masakah Naira saja belum selesai."
"Hanya satu cara yang akan sangat ampuh mengembalikan mood sang Princess." Aira mengerti sekarang. Ia segera bangkit dan dan pergi ke kamarnya disertai Elang di belakangnya.
*
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...
...***...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...