
Sudah di like kan ya? 😊
Kasih VOTE yang banyak. Jangan kayak orang susah!
#
Di lain tempat, seorang Elang Dirgantara Mahes tengah dilanda galau. Satu bulan belakangan ini, dia sedang disibukkan oleh kerjasama antara perusahaannya dan PT. RK.
Kerjasama itu terjalin dengan tujuan berbeda pada masing-masing pihak. Di pihak Elang, dia hanya ingin menyelamatkan salah satu anak perusahaan dari Raharja Grup. Dia tidak ingin Aira sampai bersedih karena perusahaan milik keluarganya hancur.
Tapi, di pihak lain mempunyai misi berbeda. Mereka, atau lebih tepatnya Roy menyetujui syarat yang diajukan oleh Elang bahwa akan ada orang kepercayaannya yang akan dia masukkan ke dalam perusahaan itu dengan tujuan untuk mendekatkan anaknya dengan sang CEO incaran calon mertua.
Roy dengan sengaja mengajak Delia untuk mengikuti setiap pertemuan yang berpotensi besar kehadiran Elang disana. Delia juga tidak akan tinggal diam ketika dapat bertemu dengan Elang. Dia akan selalu berusaha menempel dan bersikap akrab pada Elang.
Elang yang merasa risih selalu berusaha menghindari Delia. Tapi gadis itu seperti lem yang selalu punya cara untuk berdekatan dengan dirinya.
Ingin rasanya menceritakan yang terjadi pada Aira. Tapi dia tidak mau Aira sampai terganggu memikirkan hal ini.
Hari ini akan ada meeting dengan PT RK. Sedangkan Reno yang bisa saja ia minta untuk menggantikannya sedang berada di luar kota untuk meninjau perkembangan pembangunan hotel disana.
tut... tut... tut... Elang memutuskan untuk menghubungi Aira. Hari ini hari terakhir ujian. Jadi, kemungkinan besar Roy akan mengajak Delia ikut bersamanya. Jadi kenapa dia tidak mengajak Aira juga?
"Assalamualaikum mas." Elang tersenyum mendengar suara gadisnya di seberang sana.
"Wa'alaikum salam, sayang. Gimana ujiannya?"
"Lancar dong!"
"Baguslah kalau begitu. Sedang apa?"
"Lagi nongkrong aja di kantin ama yang lain. Ada apa?"
"Ada yang ingin mas bicarakan sayang."
"Apa?"
"Ketemuan yuk? Sudah boleh pulang kan sekarang?"
"Udah sih. Mas nggak kerja?"
"Ini lagi kerja sayang. Kamu kesini dong. Kangen nih, temenin mas kerja sambil makan siang." Elang penuh harap. Sebenarnya pekerjaan nya sedang menumpuk sekarang. Jadi kalau dia harus ketemu Aira di luar, akan banyak waktu yang akan dia habiskan.
"Baiklah. Aku pamit teman-teman dulu."
"Oke. Hati-hati di jalan sayang. Jangan ngebut." Aira terkekeh. Mana bisa dia tidak ngebut? Elang tersenyum mendengarnya. Dia tahu betul bagaimana cara Aira berkendara.
"Nggak janji. Assalamualaikum mas."
"Wa'alaikum salam, sayang."
...*****...
Setengah jam kemudian, Aira sudah berada di depan kantor AMT. Motor yang ia kendarai diambil alih oleh seorang satpam untuk diparkirkan. Aira sudah biasa keluar masuk kantor pacarnya itu. Para karyawan juga sudah mengetahui betul siapa Aira dan apa posisinya bagi atasan mereka. Mereka bersikap baik pada Aira karwna mereka merasa jika Aira memang cocok dengan Elang. Apalagi Aira selalu bersikap ramah pada mereka.
"Siang mbak Yosi."
"Siang Ra. Ada apa nih? Mau ketemu pak Bos ya?" tanya resepsionis cantik itu.
"Ya. Ada kan?" Aira tersenyum.
__ADS_1
"Ada. Di ruangannya deh kayaknya."
"Oke mbak. Terima kasih."
"Sama-sama."
Penampilan Aira masih sama seperti waktu pertama datang ke kantor ini. Hem santai berwarna coklat tua dan jeans dia kenakan. Baju seragamnya sudah dia masukkan ke dalam ranselnya. Rambutnya juga dia ikat tinggi supaya rapi.
Jajaran Sekretaris Elang yang berada di luar ruangan berdiri dan membungkukkan tubuh mereka menyapa Aira. Walaupun Aira sering kesal diperlakukan seperti itu dan menegur mereka, tapi mereka tetap melakukannya.
Aira masuk setelah mengetuk pintu ruangan kekasihnya. Elang sedang konsentrasi saat Aira masuk. Jadi dia tidak menyadari jika yang datang Aira, bukan sekretaris seperti yang dia kira.
Elang terlihat sangat tampan ketika bekerja. Kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Tangannya sibuk menari di atas keyboard komputer di depannya sedangkan matanya fokus pada angka-angka dan tulisan yang tertera di layar. Dia sedang mempelajari neraca laba yang baru dikirimkan oleh orang kepercayaan di kantor milik Roy.
"Ehem." Elang terkesiap membuat Aira terkekeh.
"Kapan datang sayang?" Elang berdiri setelah melepaskan kaca matanya dan meletakkan benda itu di atas meja. Dia berjalan menghampiri Aira dan memeluknya dengan erat.
"Kangen." bisiknya di telinga Aira.
"Aku juga mas."
"Gimana ujiannya?" Elang menggiring Aira duduk di sofa.
"Tadi kan sudah tanya."
"Oh iya. Hehehe."
"Lagi sibuk?"
"Lumayan. Setelah ini tuan Roy akan kesini."
"Iya. Mas memutuskan untuk menerima pengajuan mereka."
"Tapi... "
"Mas punya syarat untuk itu."
"Apa?"
"Mas menempatkan orang kepercayaan mas disana. Mereka akan mengawasi dan ikut mengatur jika terjadi kesalahan."
"Itu bagus. Terima kasih mas."
"Peluk." Pinta Elang. Aira segera memeluk kekasihnya itu. Dia sangat merasa bersyukur telah dipertemukan dengan Elang. Laki-laki itu selalu ada untuk dirinya.
"Kamu duduk dulu ya. Mas mau lanjut kerja dulu."
"Oke."
Ruangan kembali senyap. Elang melanjutkan pekerjaannya. sedangkan Aira bermain handphone. Bermain permainan tebak gambar yang satu bulan terakhir menjadi kegemaran untuk merefresing otak ketika lelah berfikir serius.
Ketukan pintu menyadarkan keduanya dari kegiatan mereka. Dua orang office boy masuk dengan membawa makan siang untuk keduanya. Mereka menata makanan yang dibawa ke atas meja di depan Aira.
"Makan dulu yuk mas. Lapar." rengek Aira setelah OB itu keluar. Elang menghentikan pekerjaannya dan segera menghampiri Aira. Dia sangat tahu jika selain tidak suka diganggu saat makan, Aira juga tidak suka jika dia makan sendirian sedangkan ada orang lain disana.
"Nanti ikut mas meeting yuk."
"Kenapa?" Aira mengernyit. Tidak biasanya Elang mengajak dirinya. Padahal laki-laki itu tahu jika Aira kurang menyukainya.
__ADS_1
Elang mendesah. Ia ingat kabar yang diberikan orang kepercayaannya bahwa akan Delia ikut dalam meeting kali ini. Dia tahu betul apa yang akan terjadi nantinya. Delia akan berusaha dekat dengannya bagaimana pun dia menolak dan menghindar.
"Ini meeting dengan tuan Roy, sayang. Tidakkah kamu mau ikut?"
"Tapi aku malas. Pasti membosankan ikut meeting serius kayak gitu."
"Mas janji tidak akan membosankan. Bahkan akan menyenangkan."
Mendengarnya Aira memanyunkan bibirnya, mengerutkan dahinya dan berfikir. Apa yang akan terjadi dalam meeting kali ini? Melihat wajah Elang yang penuh harap terkesan memohon.
Ketika Aira masih berfikir, sekretaris Elang masuk dan memberi tahu bahwa Roy sudah sampai dan menunggu di ruang meeting.
Elang menarik tangan Aira untuk mengikutinya. "Ayo."
Di ruang meeting, Roy dan Delia tersenyum senang. Delia dengan dalih menjadi sekretaris papanya selalu berusaha mencari perhatian Elang. Itu rencananya. Tapi mereka dibuat kaget saat Elang datang dengan menggandeng Aira di sisinya.
"Selamat sore tuan Roy." sapa Elang ketika dirinya masuk. Roy dan Delia segera berdiri untuk membalas sapa dari Elang.
"Silahkan duduk." Elang bicara tapi pandangannya pada Aira dan memberikan kode agar Aira duduk di sebelah kanannya, sedangkan di sebelah kirinya di duduki oleh sekretaris Elang.
"Maaf tuan Elang. Kenapa Salsa ikut?"
"Apa boleh buat tuan Roy. Saya masih rindu dengan kekasih saya saat ini. Maklum lah tuan, beberapa hari ini kami tidak bertemu karena Aira sedang sibuk."
"Tapi dia akan bosan berada disini. Iya kan Sa?" Delia ikut bicara.
"Tidak akan. Jika ada mas Elang, tentu saja aku tidak akan bosan." kini Aira tahu maksud Elang. Ia memeluk lengan Elang. Ia harus ikut masuk dalam drama ini. Benar kata Elang. Ini akan menyenangkan.
Delia mendengus. Usahanya kali ini tidak akan berhasil jika Ada Aira disini. Apalagi Aira berada diantara dia dan Elang.
Meeting pun berjalan. Aira yang kelihatan diam, diam-diam sedang mempelajari keadaan dan juga apa yang mereka bicarakan. Tepat saat Roy menolak usulan yang Elang utarakan, Aira mulai buka suara.
"Maaf menyela om. Tapi aku setuju dengan rencana mas Elang. Akan banyak konsumen yang akan tertarik dengan tema itu. Apalagi di saat seperti ini, diskon sangat dinikmati."
"Itu benar tuan Roy."
"Tapi laba perusahaan akan berkurang."
"Ini adalah bisnis om. Strategi pemasaran sangat menentukan. Jika kita menjual barang yang belum diketahui konsumen kualitasnya, mereka akan berfikir dua kali jika akan membeli dengan harga yang mahal."
"Tapi tuan Elang. Ini akan merugikan perusahaan saya."
Aira menggeser laptop milik sekretaris Elang. Kemudian memberikan cara hitung cepat untuk mengetahui laba yang akan mereka dapatkan. Aira menjelaskan dengan detail apa yang ia lakukan dengan neraca itu. Elang dibuat takjub pada kekasihnya yang dengan begitu mudah memberikan penjelasan secara terinci.
"Bagaimana?" Delia dan Roy dibuat terdiam. Apa yang Aira tunjukkan memang benar adanya. Dengan memberi diskon pada produk mereka, perusahaan masih memiliki laba yang besar.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
...Jangan lupa like👍, VOTE😁...
...dan rate⭐ lima ya...
...Salam sayang😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...