
Terima kasih sudah setia menunggu up dari cerita saya. Mohon maaf karena sehari hanya bisa up satu episode.
Saya juga minta maaf karena jarang bisa balas chat dari Readers. Semuanya saya baca, tapi kadang sinyal tidak mendukung saya memberi balasan untuk apresiasi kalian semua. Sudah saya ketik tapi tidak terkirim. Jadi mohon Maap semuanya... π
Tapi yang harus kalian tahu, Lov u pull Readers Qiuπππ
Silahkan membaca....
Alunan merdu menggema di ballroom hotel. Lantai dansa sudah dipenuhi dengan banyak pasangan yang menunjukkan kebolehan mereka berdansa dengan pasangannya. Bergerak mengikuti alunan lagu romantis yang merasuk jiwa.
"Mau menemani mas dansa Ra?" tanya Elang.
"Mas nggak lihat kakiku sakit? Berjalan saja susah. Kalau mas mau dansa ajak kak Safna saja sana." Aira masih cemburu. Kakaknya baru saja pergi setelah menawarkan diri untuk menemani Elang berdansa mengingat adiknya tidak akan bisa melakukannya.
"Mas tidak akan berdansa selain denganmu Ra."
"...." Jika kakiku sedang baik-baik saja. Aku akan menerima ajakanmu dengan senang hati mas. Walau aku tidak mengerti cara berdansa, tapi sepertinya akan menyenangkan jika mencobanya denganmu.
"Begini saja. Berdirilah di atas kakiku, mas akan memimpin langkah kita."
"Nanti bisa jatuh mas." itu terdengar sebuah ide buruk. Bagaimana jika Elang tidak kuat dan menyebabkan mereka berdua terjatuh? Pasti memalukan.
"Percayalah." Elang berdiri di depan Aira. Membantu gadis itu berdiri. Meletakkan kaki Aira di atas kakinya, mengalungkan kedua tangan Aira di lehernya. Kini keduanya mepet maksimal.
"Kamu hanya perlu percaya pada mas dan berpegangan yang erat. Oke?" Elang mengerlingkan matanya. Kalau sudah begini Aira bisa apa.
Elang membawa tubuh mereka berdua ke tengah lantai dansa. Bergabung dengan pasangan yang lain. Keduanya bergerak mengikuti irama. Elang dengan posesif memegang erat pinggang Aira, membawa mereka berdua dalam kebahagiaan. Keduanya tersenyum bahagia. Mereka menjadi pusat perhatian. Melihat bagaimana Elang memperlakukan Aira, semua orang sudah tahu seberapa besar cinta CEO muda itu pada pacarnya.
Aira menjatuhkan kepalanya di bahu Elang. tangan kanannya merangkul perut Elang. Elang benar, ide ini bukankah ide yang buruk sama sekali. Ini adalah ide yang romantis.
"Mas rindu." bisik Elang. Mereka berdua masih bergerak ke kanan, kiri, maju dan mundur. Mengikuti lagu.
"Aira juga."
"Juga apa?"
"Juga rindu mas. Mas kemana saja tiga hari ini?"
"Maafin mas Ra. Di perusahaan sedang sibuk mempersiapkan pembangunan Mall. Dan perusahaan mas bekerja sama dengan perusahaan milik keluargamu."
"Kenapa mas tidak bilang?"
"Urusan perusahaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan hubungan kita Ra. Di dunia kita hanya ada kamu dan mas. Tidak perlu yang lain." Aira menghangat. Semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Elang. Menghirup aroma tubuh kekasihnya yang terasa menenangkan.
"Mas capek? Pasti Aira berat."
"Tidak sama sekali. Mas bahkan masih sanggub jika melakukan ini hingga tengah malam."
"Mas gila ya."
"Hahahaha." Elang terkekeh. Inilah Airanya. Tidak takut mengatainya gila. "Apa kakimu sakit?"
"Ya mas. Sedikit nyeri."
"Baiklah. Sekarang kita berhenti saja." Dalam sekejab, tubuh Aira sudah melayang dan berada dalam gendongan Elang. Elang segera mendudukkan Aira di kursi dan segera mengoleskan gel anti nyeri yang dia ambil dari dalam tas Aira.
"Ehem."
Aira dan Elang menoleh ke arah suara. Terlihat dia wanita berbeda generasi mendekati mereka. Keduanya tersenyum hangat kepada Aira dan juga Elang. Elang segera berdiri setelah selesai mengoleskan gel di kaki Aira. Kemudian ikut duduk satu meja dengan ketiga wanita itu.
"Nenek tidak menyangka jika Salsa sudah laku."
"Laku? Emang Salsa dagangan." Aira mencebik. Elang mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Hari ini mami melihat banyak sekali sisi lain dalam diri anak mami."
"Kamu benar Mira, Salsa ternyata bisa manja juga ya. Hahahaha."
"Mama benar. Biasanya dia gadis yang kaku."
"Sepertinya ini memang berkat kekuatan cinta."
"Sudah selesai menggodanya?" Aira sudah dalam Mode on judesnya.
"Hahahaha. Inilah Salsa di depan kami. Judes." Rosi mencubit hidung Aira.
"Nak Elang sudah berapa lama mengenal Salsa?" tanya Amira.
"Sekitar enam bulanan tante."
"Nenek penasaran bagaimana kalian bisa bertemu? Elang adalah seorang pengusaha dan Salsa masih lah seorang pelajar."
"Ah nenek. Pertemuan itu sudah lama terjadi. Biarlah Menjadi kenangan."
"Itu adalah kenangan yang akan aku ingat untuk selamanya."
"Iya mas benar. Aku bahkan masih ingat betapa sakitnya keningku karena menabrak tembok hidup."
"Tembok hidup hah? Kau mau merasakannya lagi sayang?" tanya Elang genit.
"Tidak-tidak. Cukup sekali saja."
"Baiklah. Sini biar jadi bantal saja dari pada tembok."
"...." maksudnya apa jadi bantal?
Elang segera menarik Aira yang ada di sampingnya untuk bersandar di dada bidangnya. Memeluk gadisnya. Mengabaikan dua wanita paruh baya yang ikut menghangat melihat keromantisan keduanya.
"Bukankah lebih baik jadi bantal seperti ini dari pada menjadi tembok?" Elang mengusap pelan kepala Aira yang berada dalam dekapannya.
"Ehem. Kalian ini membuat yang tua-tua ini merasa iri."
"Mama benar. Ya sudah ma. Ayo kita tinggalkan saja kedua anak ini. Sepertinya aku akan segera menjadi nenek."
"Mam! Masa depan Salsa masih panjang. Tidak akan secepat itu menyerah pada Mas Elang."
"Baiklah. Nikmati waktu kalian. Kami permisi dulu."
Setelah Amira dan Rosi pergi. Keduanya kembali berbicara banyak hal. Elang tidak pernah melepaskan tangan Aira dari genggaman tangannya.
"Kamu kenapa tidak mau menceritakan awal pertemuan kita Ra?"
"Keluargaku selama ini menganggapku anak yang bodoh dan tidak berguna. Jadi mereka akan heran jika aku menjadi guru untuk anak-anak jalanan itu."
"Jadi, selama ini orang tuamu tidak ada yang tahu Ra?" Aira mengangguk.
"Bukan cuma keluargaku yang tidak tahu. Keluarga yang lain juga tidak ada yang tahu. Makanya, kami mencari donatur. Kalau keluarga kami tahu, tentu kami tidak akan sampai repot mencari donatur."
"Kalian memang sengaja menyembunyikannya?"
"Bukan begitu. Kami hanya tidak ingin pamer mas. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya."
"Kalian anak-anak yang baik. Pasti sangat susah saat memulai langkah kalian."
"Ya. Awalnya niat kami ditentang preman. Anak-anak adalah anak buah preman yang disuruh untuk mengamen. Dan hasilnya diberikan pada mereka. Jadi preman itu tidak mau jika anak-anak itu sampai tidak bekerja untuk mereka. Kami pun membuat kesepakatan untuk membayar ganti rugi setiap minggu kepada mereka."
"Jadi uang yang kalian dapat masih harus dibagi untuk jatah preman?"
__ADS_1
"Iya. Kalau sekarang sudah ada dari AMT kami sudah tidak pernah kekurangan dana. Bahkan sekarang bisa memberi makan anak-anak itu."
"Memangnya pernah sampai kekurangan uang?"
"Sering. Dulu, Kalau akhir bulan kami sering ngamen di taman kota."
"Ngamen Ra?"
"He em. Untuk menutupi kekurangan dana. Kami tidak mungkin menutupi semuanya dengan uang jajan kami kan? Kami juga belum punya pendapatan pribadi. Jadi, itulah yang bisa kami lakukan."
"Aku salut sama kalian." Aira tersenyum. Dia dan teman-temannya memang berhak mendapatkan penghargaan itu.
"Apakah kalian pernah berfikir untuk membawa anak-anak pergi dari tempat itu?"
"Tentu saja pernah. Tapi kami tidak punya kekuatan untuk itu. Mau dibawa kemana mereka? Kami saja masih tinggal di rumah orang tua. Dan para preman juga tidak bisa dianggap remeh. Mereka berbahaya."
"Sekarang ada mas. Mas akan cari cara bagaimana membebaskan mereka."
"Benarkah?"
"Mas janji. Kita sudah bersama Ra. Dan mulai sekarang mas mau kita melangkah bersama. Kamu bersedia?"
"Oke. Terima kasih mas. Teman-teman yang lain juga pasti senang mendengarnya."
"Baiklah. Kita bisa bahas ini lain kali. Sekarang Sudah malam. Pestanya juga sudah akan selesai. Mau mas antar pulang?"
"Iya. Jadi seperti ini sangat merepotkan mas. Nggak bisa bebas."
"Sabar dulu ya." Elang membantu Aira berdiri. Menghampiri Andra dan yang lainnya untuk pamit pulang.
"Papi. Mami. Salsa pulang duluan ya."
"Iya sayang. Diantar nak Elang?"
"Iya tante. Saya akan memastikan putri tante selamat sampai di rumah."
"Tante percaya."
"Tuan Andra, saya undur diri dulu. Terima kasih untuk pestanya malam ini."
"Sama-sama tuan Elang. Saya harap lain kali kita bisa berbicara lebih santai."
"Saya juga berharap seperti itu."
"Mas, tas dan barang-barangku masih ada di kamar hotel. Kita ambil dulu ya."
"Mana kuncinya, biar diambil Reno."
Aira menyerahkan kuncinya pada Elang dan Elang memberikannya pada Reno. Reno kini merasa jadi tempat penutupan barang. Semua barang Aira, dia yang bawa. Sebenarnya pacar Aira itu Elang atau dirinya.
"Terima kasih kak Reno. Maaf merepotkan."
"...." belum sempat Reno menjawab, suara Elang sudha mendominasi.
"Jangan berterima kasih padanya. Itu adalah tugasnya." Elang segera memapah Aira untuk pergi. Reno mendengus. Andai Elang bukan bosnya, sudah dia tendang sejak tadi. Di dalam tadi, dia menjadi wakil dari Elang yang berbicara pada para penjilat itu. Setidaknya dia mendapatkan penghormatan dari mereka. Tapi sekarang tugasnya hanyalah pembawa barang. Hancur sidah reputasinya.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir π...
__ADS_1
...Salam sayang π...
...β€β€β€Queen_OKβ€β€β€...