
Ketiganya manikmati bakso yang mereka pesan. Naira juga makan sendiri. Gadis cilik itu juga pecinta makanan dari daging yang digiling dan dibulatkan itu.
Aira sendiri sudah berwajah merah. Peluh terlihat muncul di pelipisnya. Rasa pedas yang membakar lidah semakin membuatnya bersemangat untuk memasukkan potongan bakso dengan cabai yang terlihat lebih mendominasi. Beberapa kali Aira mengipasi wajahnya dengan tangan. Namun dia tidak bermiat menghentikan makannya walaupun sudah sangat kepedasan. Bakso mercon selalu membuatnya lebih semangat untuk makan.
Elang tidak tahan melihat peluh yang sedikit mengalir itu. Diambilnya tisu dan diulurkan tangannya untuk mengusap keringat pada gadis yang sangat ia cintai itu.
Merasakan usapan lembut pada pelipisnya, Aira menghentikan makannya dan melihat ke arah wajah pelaku yang membuat jantungnya kembali berdegub kencang.
"Maaf." Elang menarik canggung tangannya.
"Tidak apa-apa kak. Aku yang minta maaf." Aira mengambil tisu yang lain dan kembali mengusap keringatnya sendiri. Elang menunduk dan kembali menikmati Baksonya.
"E Ciee. Ada yang glogi nih!" Dan gadis yang terlampau matang itu kembali membuat sang Daddy tersedak. Elang terbatuk akibat kuah yang panas dan pedas melewati tenggorokannya dengan terpaksa. Membuat hidungnya terasa panas. Tersiksa.
Aira segera mengangsurkan botol air mineral yang sudah ia bukakan. Elang segera menegak isi di dalam botol dengan cepat. Membuat air belepotan di sekitar mulutnya. Dan itu berhasil membuat bahan lelucon bagi sang putri untuk mengejeknya kembali.
"Hahaha! Daddy lucu kayak anak kecil."
Aira bisa apa? Dia hanya diam dengan wajah bersemu merah karena menahan malu. Ia lebih memilih kembali fokus pada Baksonya yang entah kenapa rasanya jadi tidak seenak tadi.
Saat ini, Aira sedang mengantri untuk membeli es campur di pinggir jalan untuk Naira, gadis itu belum puas walupun sudah menghabiskan satu mangkok bakso. Elang sendiri pergi ke kamar mandi setelah makan tadi dan belum kembali. Jadi dengan terpaksa Aira meninggalkan Naira untuk membelikan gadis itu es campur yang ia inginkan.
Sambil menunggu gilirannya, Aira selalu melihat dan melambaikan tangan ke arah Naira yang duduk tak jauh dari tempatnya. Gadis itu melarang Naira ikut mengantri karena yang mengantri cukup banyak. Jadi, anak kecil seperti Naira bisa saja terjepit.
"Itukan mobil Mommy!" kata Naira saat melihat sebuah mobil. Dia juga mengenali wanita yang tengah mengendarai mobil yang mengarah ke arah mereka. Naira tersenyum mengetahuinya. Dia senang karena berfikir jika Safna kesana untuk menemuinya dan menemaninya bermain di taman. Namun detik berikutnya perasaan senangnya berubah menjadi takut saat melihat Safna melajukan mobilnya dengan kencang mengarah ke arah Aira yang sedang mengantri es di pinggir jalan. Kebetulan Aira berada di barisan paling luar.
"Onty cantik Awaaas!" teriak Naira yang segera berlari menghampiri Onty cantiknya.
Brak!
"Aaaaaa"
Bagian depan mobil itu menabrak tubuh manusia dan terpental beberapa meter dari mobil. Seorang lagi terpental di atas trotoar.
Sedangkan si pengemudi mobil terdiam ditempatnya. Banyak orang langsung mengerumuni mereka. Sebagian menolong korban, sebagian lagi mendesak pelaku untuk segera keluar.
Elang yang baru datang terpaku di tempatnya. Gadis kecilnya mengalami kecelakaan tragis tepat di depan matanya. Ya, yang tertabrak oleh mobil yang dikemudikan oleh Safna adalah anaknya sendiri. Naira. Sedangkan Aira selamat tanpa luka yang berarti.
Aira terduduk di atas trotoar dengan keadaan linglung. Melihat tubuh kecil yang menyelamatkan dirinya terbaring dengan banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Aira merasakan Kepalanya semakin pusing. Ia memegang kepalanya saat Ingatan saat kecelakaan yang menimpanya lima tahun lalu bermunculan di dalam pikirannya. Seketika tubuh Aira tidak memiliki kekuatan dan terjatuh begitu saja.
__ADS_1
Elang segera berlari menghampiri Naira. Memeluk gadis itu. Safna yang baru saja keluar tak kalah panik. Dia melihat anaknya sendiri terluka parah karenanya. Orang-orang yang melihat Safna keluar dengan wajah penuh penyesalan membiarkan saja dia lewat untuk mendekati Naira.
"Tunggu pelajaran dariku!" teriak Elang sambil menunjuk Safna dengan tatapan membunuh. Kemudian ia melihat tubuh Aira yang juga tergolek lemah di atas trotoar.
"Tolong bantu saya memasukkan dia ke dalam mobil itu." kata Elang sambil menunjuk Aira dan mobil yang digunakan Safna. Elang segera membawa anaknya masuk ke dalam mobilnya dengan seorang wanita yang bersedia menjadi bantal Naira yang kepalanya terluka. Sedangkan Aira didudukkan di kursi sebelah kemudi dengan seatbeltnya yang terpasang erat.
"Mas. Biarkan aku ikut!" rengek Safna.
"Puas kamu melukai anak dan adik kamu sendiri hah?!" Bentak Elang mengibaskan lengannya yang dipegang erat oleh Safna.
Semua orang mengerti hubungan antara mereka sekarang. Mereka menyimpulkan bahwa si pelaku dan korban saling mengenal. Jadi mereka hanya melihat dan membiarkan saja wanita itu menangis karena menyesali perbuatannya. Diam-diam mereka mencibir dan memaki wanita cantik itu. Mereka segera membubarkan diri meninggalkan Safna yang manangis dan berteriak histeris saat dibawa polisi yang datang setelah beberapa menit Elang pergi dari sana.
Flash Back on....
Safna sangat marah saat mengetahui bahwa David dan anak buahnya telah gagal dan ditangkap. Bukannya menyesal, dia malah semakin keras mencari cara untuk melukai Aira hingga ia memutuskan bahwa dia sendirilah yang akan melakukan perbuatan tercela itu.
Tiga hari sudah ia memikirkan cara untuk menghilangkan nyawa adiknya, hingga siang itu dia mendapatkan informasi dari anak buahnya yang ia minta untuk mengawasi Aira bahwa Aira sedang bersama anak dan suaminya bermain di taman. Emosinya memuncak saat itu juga.
Dengan kecepatan penuh, Safna membawa mobilnya melaju menuju taman yang dimaksud anak buahnya. Hingga saat ia tiba disana, sangat kebetulan Aira berada di pinggir jalan. Tanpa menunggu banyak waktu, Safna menambah kecepatan dan berniat menabrak Aira. Namun dia tidak melihat bahwa anaknya telah melihat dan mengetahui niatnya hingga anak kecil itu berniat menolong Ontynya dengan meneriaki Aira.
Tapi sayangnya Aira tidak faham maksud dari Naira. Jadi, Naira memutuskan untuk berlari dan mendorong Aira agar selamat dari ancaman Mommy gadis kecil itu.
Dengan kekuatan penuh, Naira berhasil mendorong tubuh Aira hingga jatuh ke atas trotoar, namun sayangnya, tubuh kecilnya tidak sempat menyusul Aira dan malah tertabrak. Tubuhnya terpental beberapa meter dengan kepala yang terluka, kaki serta tangannya penuh dengan luka yang mengeluarkan darah.
Naira terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang pada tubuhnya di dalam ICU. Suara Alat pendeteksi detak jantung membuat Elang semakin tersiksa melihat tubuh kecil putri kesayangannya dalam keadaan yang menyedihkan itu.
Darah dan luka yang diderita sudah dibersihkan dan diobati. Namun, luka di kepalanya berdampak serius. Ada darah yang menggumpal di dalam otaknya dan harus segera di operasi. Dan walapun sekarang sudah dioperasi, nyatanya keadaan Naira masih belum bisa dikatakan baik-baik saja. Gadis kecil itu masih dalam keadaan kritis.
Sedangkan Aira sendiri sudah sadarkan diri dengan ingatan yang juga ikut kembali. Ia mengingat semua kejadian saat kecelakaan itu terjadi. Tentang apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Tentang semua masa lalu indahnya yang telah ia lalui bersama dengan Elang dan teman-temannya.
Saat ini dia dikelilingi oleh Teman-temannya. Amira dan Andra Menemani Elang yang menunggu Naira di ruang ICU.
Teman-temannya bersyukur bahwa Aira tidak apa-apa dan mendapatkan kembali ingatannya. Tapi mereka juga bersedih karena keadaan Naira yang jauh dari kata baik-baik saja. Gadis kecil itu belum sadarkan diri sampai sekarang.
"Bagaimana keadaan Naira?" tanya Aira kepada Melati.
"Terjadi penggumpalan darah dalam otaknya. Tapi sekarang sudah dioperasi dan dipindah ke ruang ICU."
"Seharusnya aku yang berada disana. Bukan Naira. Bagaimana anak sekecil itu mengalami hal yang sangat buruk ini." Aira menangis. Ia merasa bersalah. Dia tahu betul bahwa gadis kecil itu terluka karena menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
"Ini bukan salahmu Ra. Ini semua takdir." Mikaila mencoba menenangkan sahabatnta itu.
"Harusnya aku yang terluka Mik. Bukan Naira."
"Sebaiknya kita Do'akan supaya Naira baik-baik saja." kata Juna.
"Aku mau kesana."
"Tubuhmu masih terlalu lemas Ra."
"Bantu aku kesana." Aira memelas. Juna melirik Ridwan dan meminta mantan playboy itu mengambilkan kursi roda yang akan mereka gunakan untuk membawa Aira. Sedangkan Wildan, dia sendirilah yang akan mengurus kasus ini. Jadi dia sedang berada di kantor polisi untuk melengkapi berkas.
Mikaila dan Melati membantu Aira duduk di atas kursi roda. Juna yang mendorong kursi roda itu. Setelah itu, mereka beriringan ke ruang inap Naira.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Sembilan belas🍃...
...🌸Pada malam ke Sembilan belas, Allah SWT akan mengangkat derajat-derajatnya di surga Firdaus🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...