Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 44. Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Pagi ini, ruangan tempat Aira dirawat nampak penuh dengan teman-teman Aira. Juna, Wildan, Mikaila, Melati dan Ridwan datang membawa keceriaan bersama mereka.


Walaupun awalnya mereka direpotkan dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh dua Bodyguard yang setia menunggu di depan kamar Aira. Mereka tetap senang setelah melihat keadaan Aira yang jauh lebih baik.


"Untuk apa sih Ra mereka di depan situ?" tanya Juna.


"Emm. Bodyguard?"


"Tentu saja. Mereka bahkan memeriksa kami sebelum masuk. Sampai menanyakan pada bos mereka segala." gerutu Juna.


"Kata mas Elang mereka akan menjaga gue selama disini. Dia takut jika Keluarga Bella akan balas dendam."


"Oh begitu. Pantas saja mereka ketat banget tadi saat memeriksa barang bawaan kami." ucap Mikaila.


"Gue masih nggak nyangka lo jika Bella mampu melakukan itu semua sama lo Ra." ucap Ridwan. Juna memandang Aira dengan sendu. Dia merasa bersalah pada gadis yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Secara tidak langsung dialah yang membuat Bella bertindak nekat.


"Gue minta maaf Ra. Gara-gara gue lo jadi kayak gini."


"Tenang aja Na. Bukan salah lo juga. Lagian gue baik-baik saja.


"Tapi jika bukan karena gue, Bella nggak akan berbuat nekat."


"Ge er lo Na. Bella nekat bukan cuma gara-gara lo. Dia memang pada dasarnya tidak suka sama gue. Dia tidak suka ada yang lebih baik dari dia." ucap Aira bangga.


"Huuu! Lo juga sama ge er nya dengan Juna Ra!" ucap Mikaila.


"Yang pasti lo sekarang bakal bebas dari Bella Na. Dan gue resmi melepaskan gelar Ratu lalat. Gue udah nggak mau lagi jadi Ratu lalat lo. Gue pensiun!"


"Ratu lalat?" Melati bingung dengan pembahasan mereka sekarang. Sejujurnya, Wildan juga selalu aneh jika Aira dan Juna membahas tentang "Ratu lalat". Tapi entah mengapa julukan itu sepertinya memang tepat.


"Lo pasti tahu kan Mel kalau Arjuna Andipa Diwangka yang paling tampan ini adalah kapten basket idola?" tanya Mikaila. Melati mengangguk. Tentu saja dia tahu. Siapa yang tidak tahu dengan fakta terbesar sepanjang sejarah di SMA Bakti Nusa itu.


"Nah karena dia idola yang enak dipandang, datanglah banyak lalat yang mengerubunginya. Sehingga Juna membutuhkan orang yang bisa mengusir lalat-lalat itu." ucap Mikaila mendramatisir. Juna mendengus mendengar dia disamakan dengan makanan. Huft. Jika Mikaila bukan seorang gadis, sudah dia bungkam mulutnya dengan kaos kaki yang sudah sepuluh hari tidak dicuci milik satpam di rumahnya.


"Lalu Ratu lalat?"


"Tentu saja Aira! Bukankah selama ini Aira yang selalu jadi sasaran fans fanatiknya Juna."


"Tapi gue nggak mau." Aira mendengus. Mendekap kedua tangannya.


"Iya-iya. Udah cukup bahas ratu lalatnya. Lama-lama geli gue dengernya." ucap Wildan sungguh-sungguh. Ini memang penyebutan yang kurang sedap didengar.

__ADS_1


"Benar itu. Sekarang mendingan kita mulai pesta kita!" seru Ridwan senang.


Sejak kedatangan kelima sahabatnya, Aira tak hentinya tertawa. Sofa yang sejatinya berada di pinggir tembok kini sudah bergeser ke samping brangkar Aira. Dengan keenam remaja yang mengelilingi sebuah papan permainan ular tangga. Aira sendiri sudah duduk di atas brangkarnya. Sedang mengocok dadu dalam sebuah gelas kaca.


"Lima!" serunya setelah dadu itu berhenti bergerak di atas selimut yang menutupi kedua kakinya.


Karena Aira tidak dapat menjangkau papan ular tangga itu, dengan terpaksa menggunakan tangan Juna untuk membantunya untuk memainkan pionnya.


"Hahaha lo masuk mulut ular Ra! Turunin Na!" teriak Ridwan. Juna langsung menurunkan pion Aira menyusuri panjangnya gambar ular. Aira kesal sekarang. Pionnya seharusnya sudah berada nomor dua dari atas. Tapi karena ular sialan yang sangat panjang itu, pion Aira menjadi turun sampai empat tingkatan dan berada pada posisi paling bawah sekarang.


"Giliran lo Mel!" seru Juna sambil melemparkan dadu itu pada Melati. Melati segera mengocok dadu itu.


"Aku dapat Empat!" Melati melajukan pionnya. Hari ini mungkin hari keberuntungan Melati. Dia dengan sangat tepat berhenti di angka seratus yang menandakan dialah pemenangnya.


"Hore aku menang!" teriaknya girang. Kini dia mengambil spidol yang berada di atas meja. Membuka tutupnya sebelum berkarya di atas wajah kelima temannya yang kalah.


Aira diberi gambar kumis kucing di kedua pipinya, sedangkan Mikaila diberi bulatan besar di pipinya. Ridwan diberi lingkaran seperti kaca mata. Wildan diberi gambar bunga di kedua pipinya.


Saat hendak memberi gambar pada Juna, Melati kehabisan ide. Dia mengetukkan jarinya ke dagunya tanpa sadar. Membuat dagu Melati mendapat coretan dodol itu. Semua yang melihat pura-pura tidak tahu. Mereka berusaha menahan tawanya saat coretan itu semakin banyak dan Melati belum menyadarinya.


"Aku tahu sekarang. Sini Na. Aku gambarin wajah tampan kamu."


Juna segera maju. Duduk tepat di hadapan Melati. Mendadak kedua orang itu menjadi gugup saat Juna sedikit menundukkan wajahnya agar Melati dapat dengan mudah Menggoreskan hasil karyanya pada wajah Tampannya.


Juna baru kali ini memperhatikan wajah seorang gadis dengan jarak yang sangat dekat. Dia dapat dengan mudah melihat mata indah yang dibingkai bulu mata lentik yang bergerak mengikuti pergerakan mata indah yang meneduhkan mata itu. Selama ini, mata indah itu tertutup oleh lensa kaca mata.


Tanpa sadar, Juna melepas kaca mata yang dari tadi menghalanginya menyelami kedalaman mata yang menghipnotisnya. Kelakuannya jelas membuat semua menjadi kaget.


Mereka terpesona kecantikan mata Melati. Sama seperti Juna.


"Mata lo sangat indah Mel." ucap Juna. Melati segera meraih kaca matanya, namun Juna menjatuhkannya dari jangkauan Melati.


"Mata seindah itu seharusnya tidak ditutupi dengan kaca mata jelek ini." imbuhnya. Melati kini semakin gugup. Semua mata sedang tertuju padanya.


"Juna benar Mel. Tenang saja. Setelah kita pulang dari sini. Gue ajak lo menangani masalah mata lo." ucap Mikaila. Semua temannya tentu saja mendukung Mikaila.


"Ah. Terima kasih Mik."


"Baiklah. Bagaimana kalau kita ambil gambar kita sekarang. Mumpung penampilan kita lagi kacau." usul Aira.


"Eh aku paling cantik sekarang." ucap Melati bangga. Dia belum sadar bahwa dia sendirilah yang telah mencoret dagunya. Kelima sahabatnya tertawa bersama. Mikaila menyodorkan Handphone miliknya dan memperlihatkan bahwa wajah Melati sama hancurnya dengan kelima wajah temannya yang lain. Melati tersenyum canggung sambil menggaruk pucuk hidungnya.

__ADS_1


"Hehehe. Ternyata wajahku juga hancur." tawanya garing.


Juna, Wildan, Mikaila dan Melati sudah mengambil posisi di sekitar Aira.


"Nggak mau gue. Gimana kata penggemar gue nanti kalo lihat penampilan gue hancur kayak gini!" gerutu Ridwan. Dia masih diam ditempatnya.


"Ayolah Rid. Lo tetap ganteng kok. Percaya sama gue." bujuk Mikaila.


"Iya Rid. Ayolah."


Dengan terpaksa, Ridwan mengikuti kemauan Aira dan Mikaila. Keenam remaja dengan wajah yang sudah terlihat indah dengan karya dari Melati mengatur pose mereka. Senyum dan tawa terekam apik dalam lensa kamera.


Mikaila yang memang aktif dalam sosmed langsung meng-upload foto-foto mereka. Banyak komentar tentang itu. Yang paling membuat netizen penasaran adalah gadis cantik di sebelah Juna.


Sebelum mengambil foto, Juna melepas kembali kacamata Melati. Melati juga membuka kepang rambutnya. Membuat gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang bergelombang yang terurai. Dia terlihat sangat berbeda.


Mikaila menunjukkan sebuah komentar yang menanyakan apakah Melati adalah pacar Juna pada Aira. Kedua gadis itu menyeringai mempunyai rencana terselubung untuk keduanya. Namun sekarang bukan waktu yang sesuai untuk membahas rencana itu. Mereka berdua harus sabar.


Hari ini, keenam sahabat itu merasakan hari yang bahagia. Walaupun Aira sakit, dia tidak merasa sendiri. Teman-temannya datang dan memberinya kebahagiaan dengan cara yang sederhana.


Kebahagiaan itu dapat hadir dengan cara yang sederhana sekalipun. Perasaan bahagia akan hadir saat hati kita merasa damai. Merasa cukup. Merasa nyaman.


Keenam remaja itu mendadak kaku saat tatapan tajam seorang dokter mengarah kepada mereka. Ruangan rawat seorang pasiennya sudah berubah menjadi kapal pecah. Sofa tidak berada di tempatnya. Bungkus camilan berserakan di seluruh lantai. Bekas kaleng soda dan minuman kemasan juga sama. Belum lagi penampilan keenamnya yang terlihat konyol.


Dasar Remaja! cibir dokter itu dalam hati.


Jika bukan karena Elang yang membawa Aira, kelima remaja itu pasti sudah dihukum untuk membersihkan tempat itu. Namun dokter itu berusaha meredam amarahnya dan menyuruh suster memanggil petugas kebersihan.


"Maafin teman-teman saya ya Dok. Mereka hanya tidak ingin saya merasa bosan." Aira mewakili teman-temannya meminta maaf. Dan kelimanya hanya memasang senyum termanis yang mereka punya. Membuat Dokter muda itu membuang nafasnya pelan.


*


*


*


...**Terima Kasih sudah mampir ๐Ÿ˜...


...Maaf typo(s) bertebaran ๐Ÿ™...


...Jangan lupa like ya๐Ÿ‘...

__ADS_1


...Salam sayang๐Ÿ˜˜...


__ADS_2