Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 16. Aura Menakutkan Aira


__ADS_3

Pagi ini, di depan rumah baca Aira, Ridwan dan Juna sedang mengajar delapan belas anak jalanan asuhan Rumah Baca Bintang latihan Silat. Dua diantaranya tidak bisa ikut berlatih karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Dino yang masih berusia tujuh tahun dan Sera yang berusia sembilan tahun itu mengalami lumpuh.


Dino dan Sera duduk di pos samping rumah baca belajar melukis dengan didampingi oleh Mikaila dan Wildan.


Di depan belasan anak itu, Aira sedang mengajarkan salah satu jurus. Aira dan teman-temannya ingin anak jalanan didikan mereka dapat melindungi dirinya sendiri. Mereka ingin suatu saat anak jalanan itu lepas dari preman yang dari dulu menguasai mereka.


Juna dan Ridwan membantu membetulkan gerakan anak-anak yang belum sempurna. Setelah satu jam berlatih, Aira mengajak mereka semua istirahat. Mereka duduk bersama di depan rumah baca.


"Katanya burung Elang mau ikutan? mana?" tanya Juna saat baru mendudukkan dirinya di sebelah Aira.


"Yang sopan ogeb! PMS lo ya?" Aira mengelap pelipisnya yang berkeringat.


"Emang namanya burung Elang kan?"


"Terserah lo."


"Iya Ra katanya pak Elang mau kesini?" tanya Wildan.


"Ini lagi. Emang dia bapak lo?"


"Kenapa lo sewot? Terus kita mesti panggil gimana?" Mikaila juga bingung mau memanggilnya.


"Ntar kenalan sendiri saja."


"Tapi mana?"


"Emm. Bentar lagi juga datang. Dia emang bilang kalau telat."


"Oppa." Mikaila mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di depan mulutnya tak percaya. Dia melihat laki-laki tampan seperti artis korea yang sering dia tonton. Melihat kelakuan Mikaila, keempat remaja itupun mengikuti arah pandangan Mikaila.


Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki berjalan dengan santai sambil tersenyum. Aira tersenyum ke arahnya. Dialah Elang. Laki-laki yang dari tadi mereka tunggu. Juna mendengus kesal melihat senyum Elang yang sialnya ia akui memang terlihat memukau.


"Ganteng banget tu cowok." Mikaila langsung mendapatkan pelototan dari sang pacar. Mikaila nyengir dan merangkul lengan Wildan erat. Mengisyaratkan bahwa hanya Wildan lah yang memiliki Mikaila.


"Dia kesini beb. Uuuh." Dengan reflek Mikaila memukul-mukul lengan Wildan. Wildan meringis di buatnya.


"Hai." Elang melambaikan tangannya saat sampai di depan kelima remaja itu dan juga belasan anak jalanan.


Aira langsung berdiri dan berjalan ke samping Elang. "Akhirnya datang juga."


"Tentu dong." Aku kan kangen sama kamu. Lanjutnya dalam hati.


"Teman-teman ini yang namanya mas Elang." kata Aira memperkenalkan Elang.


Elang mengulurkan tangannya pada Ridwan.


"Elang."

__ADS_1


"Ridwan"


"Elang."


"Mikaila kak." Mikaila senyum-senyum menyalami Elang. Bahkan dia tidak segera melepaskan tangannya jika saja Wildan tidak berdehem.


"Wildan. Pacarnya Mikaila." Wildan menarik tangan Elang. Elang tersenyum melihat reaksi Wildan.


"Elang."


"Sini mas Elang." Aira meminta Elang berdiri di depan anak-anak jalanan. Setelah itu dia mengajak Elang duduk di sebelah teman-temannya.


"Yang ini namanya Jones Mas Elang." Aira menunjuk Juna. Meskipun mereka sudah pernah bertemu, tapi mereka belum kenalan secara resmi.


"Juna, nyonya Jones." Juna membenarkan kalimat perkenalan dari Aira. "Lo kan sama kayak gue nyonya Jones."


"Iya iya kalo itu gue juga nggak bisa ngelak. Ayo tos dulu!" Aira mengangkat tangannya ke udara, Juna menyambutnya.


"Hidup Jomblo!" teriak keduanya sebelum mereka tertawa bersama-sama.


"Kok ini pada di luar?" tanya Elang saat melihat anak jalanan yang duduk di sekitar mereka.


"Kami lagi istirahat. Habis latihan silat bareng." jawab Aira.


"Sekarang kayaknya udah waktunya masuk deh. Anak-anak Capeknya udah hilang belum?" tanya Wildan setelah berdiri di depan anak-anak.


"Belum kak. Tadi kak Aira ngajarnya gerakannya susah." rengek salah satu anak.


Aira berjalan ke depan anak-anak. "Siapa yang masih capek?" tanya Aira dengan nada mengintimidasi. Semua anak itu menggeleng. Mereka memang sudah tidak capek. Tapi mereka merasa sayang jika meninggalkan tempat itu. Mereka senang melihat dan mendengar obrolan Aira dan teman-temannya.


"Kalian ini selalu saja cari-cari alasan."


"Maaf kak."


"Lain kali jangan diulangi. Kakak tidak suka ya lihat kalian malas belajar."


"Iya kak. Maaf. Kami janji kami akan rajin belajar."


"Ya sudah. Sekarang kalian masuk gih. Waktunya kak Wildan kan hari ini?" tanya Aira dengan nada yang lembut kali ini. Mereka pun masuk satu persatu. Aira tersenyum melihat mereka.


"Kak." panggil Dian, salah satu anak didiknya.


"Ya." Aira menatap gadis cilik itu. Sudut matanya berair. "Kenapa kamu?"


"Terima kasih kak. Kakak sudah mau mengajar kami." Dian memeluk Aira. Aira memang paling galak di antara teman-temannya kalau mengajar. Tapi mereka semua tahu jika galaknya Aira itu demi kebaikan mereka.


"Kalau kamu mau berterima kasih. Berterima kasihlah dengan benar. Dengan belajar sungguh-sungguh. Oke?" Aira menepuk lembut gadis cilik berusia sepuluh tahun itu.

__ADS_1


"Ya kak." Dian menghapus air matanya sebelum mengikuti teman-temannya masuk ke dalam rumah baca.


"Anak-anak itu selalu saja ingin tahu apa yang dibicarakan orang dewasa." kata Aira saat berjalan mendekati Elang dan yang lainnya. Dia kembali duduk di tengah-tengah Elang dan Juna. Entah mengapa dia merasa harus menjaga jarak di antara mereka.


"Anak-anak disini diajari apa saja?"


"Banyak. Kami gantian memberi pelajaran pengetahuan umum kepada mereka. Dulu kami mulai dari mengajari membaca. Tapi sekarang mereka sudah bisa membaca, jadi kami tambah dengan pelajaran silat dan juga melukis untuk Sera dan Dino." jelas Aira.


"Kayaknya aku pernah lihat kak Elang deh sebelumnya." dari tadi Mikaila merasa tidak asing dengan wajah Elang. Tapi dimana? Kalau di suatu tempat, pasti dia tidak akan pernah lupa. Dia tak akan melupakan waktu dan tempat jika dia melihat makhluk tampan.


"Masak sih? Kayaknya kita beri saja ketemu." Elang khawatir jika Mikaila mengenalinya. Dia beberapa kali muncul di majalah. Baik majalah Fashion maupun majalah bisnis. Semoga saja Mikaila lupa.


"Tapi beneran. Wajahnya kak Elang tuh kayak nggak asing gitu." Mikaila mencoba memeras otaknya untuk mengingat-ngingat wajah Elang.


"Udahlah Mik. Jangan terlalu dipikirin. Entar kalo misua lo tahu lo mikirin cowok lain bisa gantung diri dia." kata-kata Ridwan langsung dihadiahi pukulan buku yang telah digulung oleh Mikaila.


"Lo nyumpahin cowok gue." Mikaila meneruskan pukulannya. Dia tidak terima jika Wildan dibilang seperti itu.


"Ampun-ampun Mik. Lo jadi bar bar kayak Aira deh. Lo ketularan Aira deh."


"Lo kira gue virus apa?!" Aira berdiri dan berjalan mendekati Ridwan yang berada di sisi lain tempatnya duduk.


"Lo mau apa?" Ridwan curiga setelah melihat senyum Aira yang mengerikan.


"Kemaren gue pengen hajar orang belum Keturutan Rid. Lo mau bantu gue?" Ridwan merinding melihat seringaian Aira.


"Ogah. Mending gue apel Nina." Ridwan segera berdiri. Tanpa pamit dia langsung menaiki motornya dan pergi dari sana. Dia harus segera menyelamatkan dirinya, jangan sampai dia menjadi pelampiasan kemarahan Aira. Dia ingat kemarin sahabatnya itu sekali ingin menghajar preman saat mereka minta tambah jatah untuk minggu ini.


"HAHAHAHAHAHAHAHA" tawa ketiga temannya pecah.


"Eh dia kabur. Emang gue semenakutkan itu ya?" Aira menggaruk tengkuknya.


"Lo itu emang menakutkan Ra. Lo baru sadar?" kata Mikaila


"Hehehehe."


Elang yang melihat wajah Aira tadi juga ikut ngeri. Dia tidak pernah membayangkan jika gadis yang terlihat manis di matanya itu bisa mengeluarkan aura yang membuat bergidik.


*


*


*


...Maaf Typo bertebaran 🙏...


...Jangan lupa sentuh 👍...

__ADS_1


...VOTE akoh 😍...


...Rate juga ya 😎...


__ADS_2