Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 85. Jati Diri


__ADS_3

Bunda Fatma dan Naina duduk di depan Elang. Kedua orang itu dijemput oleh Tedi untuk dibawa menemui Elang. Saat ini mereka bertiga sedang duduk di dalam ruang kepala rumah sakit. Ruang itu saat ini sedang dalam kekuasaan Elang yang menjadi pemilik rumah sakit.


"Jadi, sebenarnya apa hubungan anda dengan Elisya?" tanya Naina. Dari tadi mereka hanya diam. Berulang kali laki-laki di depannya itu mengambil nafas berat. Ia tahu ada yang serius terjadi .


"Sebelumya, perkenalkan. Saya Elang Dirgantara Mahes. Saya ingin memastikan sesuatu pada kalian."


"Apa?"


"Ini mengenai Elisya."


"Ada apa dengan Elisya?"


"Apakah kalian yang menemukan Elisya lima tahun yang lalu?"


"Iya. Kami menemukanya di pantai lima tahun lalu dengan luka di kepala yang cukup parah. Dan akibat kejadian itu, Elisya hilang ingatan sampai sekarang."


"Itu cukup. Sebenarnya Elisya adalah Aira. Aira Salsabila Raharja. Putri dari Tuan Andra Wicaksana Raharja." Elang mengeluarkan beberapa lembar foto Aira. Bunda Fatma dan Naina mengamati foto-foto itu. Kemudian, Elang mengulurkan Laptopnya yang menampilkan beberapa vidio kenangan tentang Aira.


Dalam video itu, Mereka melihat bagaimana kegembiraan Aira bersama berandal sekolah, Kebersamaanya dengan Elang yang sering membuat video receh mereka berdua. Dan yang terakhir adalah video dimana Elang memberikan Kelung itu pada Aira. Keduanya saling memandang untuk memastikan apa yang mereka lihat memang benar.


"Saya dulu adalah kekasih Aira."


"Lalu, kenapa baru sekarang anda mencarinya?" tanya Naina mengintimidasi. Dia sangat kasihan setiap kali Elisya berharao bahwa akan ada keluarganya yang akan mencarinya.


"Karena kami semua menyangka jika dia telah tiada. Bahkan kami juga telah mengubur mayatnya. Tapi setelah kami selidiki, yang terlibat dalam kecelakaan itu bukan hanya Aira. Tapi seorang gadis dengan keterbatasan komunikasi bernama Elisya Anandita. Putri Tuan Bima."


"Apakah kami bisa mempercayainya?"


"Tentu." Elang kemudian memberikan amplop yang tempo hari ia baca. Informasi mengenai kecelakaan yang menimpa Aira dan juga data diri Elisya Anandita. Naina memeriksanya dengan teliti. Ia kemudian memberi tahu Bunda Fatma jika itu memanglah benar.


"Lalu apa yang anda inginkan?"


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini kalian telah merawat Aira dengan sangat baik. Mendapatkan keluarga yang menyayanginya adalah keinginannya dari dulu." Elang menghela nafas lega. Ia masih ingat bagaimana pengakuan Andra dan Amira mengenai pertengkaran mereka sebelum kecelakaan tragis itu terjadi.


"Sama-sama Nak. Kami juga ikut senang mengetahui jika Elisya. Oh maksud saya Aira masih mempunyai keluarga."


"Ibu sangat baik. Aira pasti sangat senang berada disini." Elang tersenyum. "Namun, disana ada keluarganya yang juga sangat merindukan Aira. Mereka sampai sekarang belum mengetahui kebenaran ini. Mereka pasti sangat bahagia mendengar kabar baik ini."


"Jadi, anda meminta Elisya untuk kembali ke keluarganya?"


"Saya hanya ingin meminta agar kalian mengizinkan saya membawa Aira untuk menemui keluarganya. Jika dia tidak ingin tinggal. Saya juga tidak memaksa."


"Kami mengizinkan Nak. Kami tahu pasti keluarganya juga sangat merindukannya."


"Terima kasih Bu." Elang meraih tangan Bunda Fatma.


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kamar rawat Aira. Di dalam, Aira sudah sadar. Namun dia masih belum mengingat apapun. Dia juga masih bingung mengenai perasaannya.


"Elisya." Naina segera memeluk Elisya dengan erat. Kebenaran yang baru saja ia dengar membuatnya takut kehilangan sahabatnya itu. Tiba-tiba saja air matanya luruh.


"Hei Nai, kenapa? Aku baik-baik saja. Sungguh." tanya Elisya khawatir.


"Nak, ada yang perlu bunda sampaikan." bunda Fatma duduk di tepi brangkar Elisya. Si pasien bahkan sudah duduk karena dia sudah baik-baik saja sekarang.


"Ada apa bunda?" Elisya melirik Naina yang terlihat sendu sebelum pandangannya mengedar ke arah semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Mereka semua juga berwajah sendu. "Ada apa ini?"

__ADS_1


"Bunda tahu Kamu selalu menanti keluargamu menemukanmu kan? Dan sekarang mereka telah menemukanmu sayang. Mereka semua adlah orang-orang yang menyayangimu. Sebenarnya mereka semua datang kesini untuk menemuimu." Elisya terkesiap. Menatap mata bunda Fatma yang penuh keseriusan dalam berbicara Elisya tidak bisa membantahnya. Elisya memandang semua orang. Mereka semua memiliki ekspresi wajah yang aneh. Air mata mengalir, Namun terlihat lega.


"Lo ingat gue Ra? Gue Jones. Yang selalu lo piring pakek ketek lo yang baunya minta ampun." Aira menggeleng. Ia benar-benar tidak ingat.


"Maaf." lirihnya.


"Tak apa. Kita masih bisa membuat kenangan baru yang lebih indah kan?" Elisya tersenyim dan mengangguk. Dia merasakan kehangatan dalam pancaran mata Juna.


"Aku Mikaila, teman sabangkumu yang paling cerewet."


"Aku Wildan. Pacar Mikaila yang selalu kamu bilang pasangan pecinta Rupiah."


"Gue Ridwan. Playboy cap ikan teri yang sering lo sumpain kena karma. Dan gue udah kena karma itu Ra."


"Aku Melati. Gadis culun yang kamu rangkul dan kamu beri keberanian. Aku harap kamu bisa mengingat kami semua."


Elisya mengangguk. Kemudian secara bersama-sama kelima teman masalalunya memeluknya.


"Kita semua sering melakukan ini kan? Sudah lama kita tidak melakukannya kan?" kata Juna.


"Apakah sekarang tidak kekanakan melakukan itu?" tanya Mikaila.


"Tentu tidak. Kita kan sahabat selamanya." jawab Wildan.


"Oke. Ayo kita lakukan!" teriak Ridwan semangat.


"Pelukan Teletubbies. Berandal Sekolah. Hahahaha" tawa kelima sahabat itu menggema. Menghangatkan hati Elisya yang hanya bisa diam karena dia tidak ingat sama sekali.


"Aku harap aku akan segera mengingat kalian. Sepetinya kalian adalah sahabat yang ramai." kata Elisya saat mereka sudah melepaskan pelukannya.


Elang kemudian menyerahkan laptopnya. Mereka akhirnya melihat video yang tadi disaksikan oleh Bunda Fatma dan Naina. Beberapa kali Elisya mengusap air matanya. Dia senang mengetahui jika ia mempunyai kenangan yang begitu indah dia jadi tidak sabar untuk mengingatnya.


"Kamu masih menyimpan kalung itu?" Tanya Bunda Fatma ketika ia selesai menonton video, Elisya mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan kalung itu dari dalam celananya. Ia memang tidak digantikan dengan pakaian rumah sakit karena dia tidak akan menginap.


"Kamu benar sayang. Liontin itu adalah pemberian dari orang yang spesial." Elang memalingkan wajahnya. Air mata menggenang di sudut matanya. Dia sudah menghianati cinta mereka. Mendengar Bunda Fatma menyebutnya sebagai orang yang spesial membuat hatinya tercubit akan kenyataan.


"Ra, kamu ingat tentang kisah yang kami pernah ceritakan?" Mikaila maju. Elisya mengingat cerita yang dia hari lalu ia dengar.


"Itu adalah cerita tentangmu dan kak Elang." Mikaila mengalirkan air matanya. Dia menyadari jika kisah cinta yang ada tidaklah seindah yang dia ceritakan. Elang sudah bertiga sekarang. Dan tak ada yang bisa mengelaknya.


"Jadi?"


"Liontin itu adalah simbol cinta kita. E untuk Elang dan A untuk Aira. Kalung itu adalah hadia kelulusan dariku." Elang maju. Meraih tangan Elisya. "Maaf. Karena kesalahan aky menghianati cinta kita."


Aira tahu maksud Elang. Dia juga sudah mendengar cerita yang disampaikan oleh Mikaila tempo hari. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula dirinya juga sudah bertunangan.


"Itu tidak masalah. Tapi kenapa Baru sekarang kalian semua mencariku? Ini bahkan sudah lima tahun berlalu."


"Mereka fikir kamu sudah tiada El." Naina kemudian memberitahukan apa yang tadi ia dengar.


"Sekarang. Setelah kamu tahu kebenarannya. Apakah kamu mau ikut kami kembali ke ibukota?" tanya Juna.


"Tapi aku nyaman berada disini."


"Aku tahu. Kami hanya akan membawamu menemui keluargamu. Mereka semua merindukanmu." kata Elang.

__ADS_1


"Tidak bisa!" Suara lantang itu mengejutkan semua orang. Arka sudah berdiri di ambang pintu. Begitu Ia mendapat kabar bahwa Elisya pingsan setelah didatangi Devina, ia menjadi panik dan segera mencari keberadaan tunangannya. Tapi apa yang ia temukan bahkan lebih mengejutkan. "Kalian tidak bisa membawa Elisya begitu saja." Arka merasa terancam sekarang. Ia dari tadi telah mendengar apa yang mereka bicarakan. Kebenaran tenntang hubungan antara Elisyanya dan Elang di masa lalu.


"Kenapa Tuan Arka?"


"Karena saya tunangannya. Saya tidak mengizinkannya pergi." Arka segera melepas tangan Elang dari tangan Elisya. Menggantikan tangan itu dam segera mencium tangan yang tadi digenggam Elang.


"Anda tidak berhak melarang seorang anak yang akan menemui orangtuanya Tuan Arka. Lagipula anda masih sebatas tunangan. Bukan suaminya." kata Juna.


"Baiklah. Saya mengizinkannya pergi asalkan saya yang akan menemaninya."


"Tidak masalah tuan. Anda bisa ikut kami kembali."


Aira sangat senang. Akhirnya dia akan menemui orang tuanya. Sudah lama dia menantikan moment ini. Dia juga ingin menemui orangtua dan keluarganya.


Tidak masalah jika Arka akan menemaninya. Setidaknya ada orang yang ia kenal sekarang. Walaupun dia tahu bahwa Elang dan yang lainnya bukanlah orang jahat. Tapi setodaknya dia akan ada teman bicara disana.


Dan untuk Elang. Elisya juga tidak mengenalnya sekarang. Jadi, dia dapat mengabaikan hubungan dengan orang yang menggetarkan hatinya itu. Tidak masalah jika pria itu telah menikah dengan kakaknya sendiri.


*


*


*


Jangan Lupa TINGGALIN jejak 🙏


Like 👍VOTE 😘 Rate ⭐ komentar 😍 kalian adalah sesuatu yang Wow bingits buat Akoh....


Lop yu ol... ❤


Terima kasih sudah mampir 😍


Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Duabelas🍃...


...🌸Pada malam ke Duabelas, ia datang pada hari kiamat dengan wajahnya yang bagaikan bulan di malam purnama🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2