Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 67. Masih Belum Bisa Menerima (Elang)


__ADS_3

Dua bulan setelah kematian Aira, Elang menikah dengan Safna. Dengan licik Safna menjebak Elang yang saat itu sedang depresi akibat terpuruk setelah kematian Aira.


Elang saat itu sedang mabuk berat. Safna yang mengetahui hal itu membawa Elang ke hotel. Satu bulan setelah kejadian itu Safna mendatangi Elang untuk meminta pertanggungjawaban. Safna hamil.


Safna melahirkan anak perempuan yang diberi nama Naira Sayla Mahes. Gadis kecil itu berumur empat tahun sekarang. Tumbuh menjadi gadis cilik yang sangat cantik. Benar-benar menuruni wajah sang ibu.


Naira menjadi cahaya di kedua keluarga setelah kematian Aira. Tawa Naira membuat rumah kedua nenek dan kakeknya menjadi lebih hidup.


Naira tumbuh dengan dicurahi kasih sayang dari semua orang di sekitarnya. Namun sayang, Safna sendiri malah acuh terhadap anaknya. Safna malah sibuk mencari perhatian dari Elang. Sejak menikah dia tidak pernah disentuh oleh Elang.


"Mau kemana mas?" tanya Safna saat melihat Elang bersiap akan pergi.


"Bukan urusanmu."


"Aku istrimu."


"Aku tidak pernah memintamu menjadi istriku."


"Mas. Ini sudah hampir lima tahun kita menikah. Tidakkah ada sedikit saja perasaanmu padaku?"


"Tidak ada dan tidak akan pernah ada."


"Aku minta hakku mas." Safna melepas gaun yang dia pakai. Elang tak menghiraukannya sama sekali. Melirikpun tidsk. Safna berjalan mendekati Elang dengan hanya memakai pakaian dalamnya.


"Jauhi aku." Elang menepis tangan Safna yang hendak meraba lengan Elang.


"Lihat aku. Tidakkah kamu tertarik memyentuhku?" Elang mendecih. Dia menatap Safna dengan penuh rasa jijik.


"Jangan berharap. Aku tidak akan pernah sudi melakukannya denganmu." Elang melenggang pergi.


"Mas! Aku adalah istri sahmu!" teriak Safna frustasi. Dia segera berlari menghampiri Elang.


"Aku tahu. Tapi yang harus kamu ingat adalah kamu adalah istriku hanya di atas kertas." Elang menyentak tangan Safna dengan keras hingga membuat ibu satu anak itu terjatuh di atas kasur.


Elang segera keluar dari kamar. Pergi menghindari istri yang sama sekali tidak dia cintai. Siang ini, dia mendapat kabar bahwa anak-anak di rumah singgah yang kini berubah nama menjadi rumah singgah "Bintang Aira" akan mengadakan pertunjukan seni tari. Mereka mengundang Elang untuk datang.


"Daddy mau kemana?" tanya Naira ketika melihat Elang baru turun dari tangga. Ia dan Safna tinggal di kediaman Mahes setelah menikah. Dia tidak mau tinggal berdua hanya dengan Safna. Wanita yang menghancurkan perasaannya.


Elang mengangkat gadis kecil itu. Diciuminya pipi tembem Naira. Elang sangat menyayangi Naila. Bagaimanapun Naira adalah anaknya. Hanya demi Naira lah Elang bertahan dengan rumah tangganya selama ini. Dia tidak ingin Naira merasakan keluarga yang tidak lengkap walau dia tahu betul jika Safna tidak memperhatikan anak mereka.


"Daddy mau ke rumah Singgah. Apa princess mau menemani?"


"Tentu saja."


"Baiklah. Cepat bersiap!" Elang memberikan Naira pada pengasuhnya dan memintanya untuk mempersiapkan Naira untuk ikut.

__ADS_1


Setelah Naira pergi, Safna menghampiri Elang, duduk di sebelah suaminya.


"Kamu masih sering kesana?"


"Bukan urusanmu."


"Aku minta jangan kesana lagi. Kamu akan terus mengingat Aira jika kesana. Apa memang itu tujuanmu?"


"Bisa juga kamu anggap iya."


"Mas. Hargai aku sedikit saja sebagai seorang istri."


"Sudah sering aku bilang jangan pernah Mengingatkanku bahwa kau adalah istriku. Itu adalah salah satu hal yang paling aku sesali hingga detik ini. Kamu tahu betul karena alasan apa kamu masih bebas berkeliaran disini. Jadi jangan macam-macam!." Ancaman Elang membuat Safna tekesiap. Ia tahu betul alasan yang dimaksud Elang. Tiba-tiba ia menggigil. Safna tidak menyangka jika mendapatkan hati Elang sangatlah sulit walaupun Aira sudah tidak ada lagi. "Aku sudah memenuhi tanggung jawabku untuk semua kebutuhanmu. Dan untuk kebutuhan biologismu, Aku bahkan membebaskanmu jika kamu mau berhubungan dengan laki-laki lain."


"Ini tidak benar mas." Safna semakin terkejut mendengar pernyataan Elang. Apakah selama ini suaminya itu tahu kelakuaanya di luar?


Ia adalah wanita dewasa yang pernah merasakan "itu". Dan jujur ia tidak bisa mengontrol keinginannya setiap saat ketika melihat suaminya yang menawan. Tapi, Elang tidak pernah mau melakukan "itu" dengannya. Jadi dia lebih memilih membayar orang untuk melakukan tugas suaminya.


"Sudahlah. Aku muak melihatmu." Elang segera pergi. Menunggu Naira di teras. Berlama-lama dengan Safna dalam satu ruangan membuatnya ingin meledak.


Setiap melihat wajah Safna, amarahnya akan muncul. Dia tahu jika Safna lah menyuruh orang untuk merusak rem motor Aira sehingga kecelakaan tragis itu terjadi. Sayangnya kebenaran itu ia ketahui ketika usia kehamilan Safna menginjak empat Bulan. Dia tak mungkin membuat anaknya lahir dalam penjara sehingga lebih memilih diam dan menutup kasus itu dengan kekuasaannya.


...🐣🐣🐣...


Sepanjang perjalan, mobil yang dikendarai oleh Elang tidak pernah sepi. Naira selalu mengoceh membahas banyak hal dengan pengasuhnya dengan bahasa yang lucu. Lidahnya yang sedikit cadel membuat siapa saja yang mendengarnya tertawa gemas.


"Daddy dengar kok sayang."


"Kok peltanyaan Nai nggak dijawab."


"Kamu tanya apa princess? Maaf Daddy lagi nyetir. Jadi nggak konsen." Hari ini dia tidak menggunakan jasa sopir.


"Ih Daddy nyebelin" Naira merajuk. Tangannya sudah dia lipat di depan dada. Bibirnya sudah maju beberapa senti.


"Maaf sayang. Tadi princes Daddy tanya apa ya kalo boleh tahu?" Elang mengusap kepala Naira. Membujuk anak itu susah-susah gampang.


"Nanti Om suami datang apa tidak?"


"Om Ridwan sayang."


"Susah Daddy. Pasti diketawain Onty Mika nanti." Naira mengingat jika Mikaila akan menertawakannya saat memanggil nama Ridwan karena akan menjadi Lidwan. Mikaila akan terpingkal-pingkal mendengarnya hingga membuatnya kesal. Jadi dia lebih memilih memanggilnya om Suami. "Jadi Dad, Om Suami datang apa tidak?"


"Pasti datang." Akhirnya Elang mengalah. Membiarkan anaknya memanggil Ridwan dengan kata suami. Daripada nanti Naira ngambek lagi.


"Yee Yee" Naila girang. Naira sangat dekat dengan playboy cap ikan teri yang sekarang sudah tobat. Pertemuan nya dengan seorang wanita muslimah bernama Laila yang bekerja di kantornya satu tahun lalu membuatnya berubah.

__ADS_1


Ridwan yang mempunyai jiwa playboy mulai berbalik arah dan berusaha menjadi pantas untuk Laila. Teman-temannya tentu saja mendukungnya.


Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai. Naira segera berlari masuk ke dalam sesaat dia turun dari mobil. Mbak Weni, pengasuh Naira mengikuti gadis kecil itu dengan berlari kecil. Naira memang sudah terbiasa datang kesana. Setidaknya. satu minggu sekali Daddy nya akan mengajaknya berkunjung ke rumah singgah yang mirip taman bermain itu.


"E... istri om yang cantik ini sudah datang." Ridwan segera mengangkat Naira dan mencium gemas pipinya.


"Om Suami jangan cium-cium aku dong. Aku kan malu." Naira menampakkan wajahnya yang malu-malu hingga membuat kedua pipi putihnya memerah. Membuat para dewasa disana tertawa gemas kerena tingkahnya.


"Malam kak Elang." Mikaila menyapa Elang yang baru masuk. Elang hanya mengangguk, kemudian melihat semuanya sudah berkumpul disana. Kecuali dia... . Semua orang menyadari arti tatapan kosong Elang. Mereka faham.


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak." Wildan mengajak Elang ke halaman belakang. Wildan bekerja sebagai pengacara. Dia juga bergabung dengan para detektif handal. Mereka sedang menyelidiki kecelakaan yang menimpa Aira. Sampai saat ini Elang masih merasa ada yang janggal selain kecelakaan itu disengaja.


"Ih... gemas deh Onty sama nih princess." Mikaila mencubit pipi Naira.


"Onty jangan dicubit pipinya. Nanti kalo pipi Nai gendut Om Suami nggak suka lagi." semua yang mendengar tertawa. Gadis sekecil Naira sudah pandai menggoda. Tingkah genitnya selalu membuat tawa.


"Om Juna juga ganteng. Kenapa Naira nggak suka juga sama om Juna." goda Juna.


"Abisnya om Juna nyebelin. Kalo udah sama Onty bu Mel pasti Nai dicuekin."


Melati seperti udang rebus. Wajahnya memerah karena malu. Bahkan anak kecil seperti Naira sudah melihat perlakuan spesial Juna padanya. Tapi entah mengapa Juna masih enggan memberikan status untuknya.


"Naira nanti mau nyanyi nggak di panggung?" tanya Melati berusaha mengubah topik.


"Mau Onty. Emang boleh?"


"Boleh dong. Emang Naira mau nyanyi lagu apa?" Mikaila sangat suka menggoda gadis kecil itu.


"Emm. Apa ya?" Naira terlihat berpikir keras. Tak lama kemudian tangannya mulai ikut mengabsen lagu-lagu anak yang dia hafal. "Aku tahu Onty, aku mau nyanyi Litel setal. Kemalen Onty bu Mel balu ajalin Nai." Naira adalah salah satu anak didik Melati di taman kanak-kanak.


"Boleh banget. Nanti kamu akan maju paling awal. Mau?"


"yeyeyye!" girang Naira. Acara malam ini bukanlah acara resmi. Acara ini rutin diadakan satu bulan sekali untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jadi mereka bisa bebas mengatur isi acara untuk mengizinkan Naira maju.


Naira sangat berarti bagi kelima sahabat Aira. Dia hadir seperti pengganti Aira yang selalu memeriahkan suasana. Aira yang selalu menghadirkan tawa. Bohong jika mereka baik-baik saja di awal kematian Aira. Mereka semua sama hancurnya dengan Elang. Tapi. kehadiran Naira yang sering Elang bawa ketika mereka berkumpul membuat sedikit demi sedikit mereka bangkit untuk melanjutkan hidup.


Saat ini kelima sahabat Aira sudah bekerja. Mikaila bekerja sebagai model, Wildan lebih memilih menjadi pengacara dibandingkan mengikuti jejak orangtuanya yang pengusaha. Lagipula bukan hanya dia anak laki-laki di keluarga nya, Juna dan Ridwan sama-sama bekerja di perusahaan orang tua mereka. Mulai ikut mengurus perusahaan yang suatu saat akan menjadi milik mereka. Sedangkan Melati bekerja sebagai guru di sebuah Taman Kanak-kanak.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍

__ADS_1


Like like like 👍


VOTE VOTE VOTE 😘


__ADS_2