Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 75. Bertemu Lagi Denganmu


__ADS_3

Elisya sudah siap dengan penampilannya. Gaun ungu muda yang begitu pas di tubuhnya. Make up natural yang ia aplikasikan pada wajahnya membuatnya semakin terlihat cantik. Rambutnya digelung indah memperlihatkan leher jenjengnya yang menawan. Sebuah kalung cantik yang pernah Arka berikan padanya tergantung menghiasi leher putih itu. Menampilkan keanggunan. Highhills berwarna hitam menghiasi kakinya yang indah.


Ia baru saja selesai mengoleskan liptin merah muda di bibirnya ketika Naina memberitahu bahwa Arka sudah datang.


Naina yang baru masuk ke dalam kamar terpesona pada penampilan sahabatnya malam ini. Bukan hanya sekali dua kali ia melihat Elisya berdandan. Tapi, sepanjang yang pernah ia lihat, penampilan malam ini adalah penampilan terbaik yang pernah sahabatnya tunjukkan. Naina memindai dari atas sampai ke bawah. Mengagumi kecantikan luar biasa yang terpancar.


"Wah wah. Pasti tuan Arka akan menganga dibuatnya. Kamu benar-benar Wow El. Luar biasa!" pekik Naina mengomentari penampilan Elisya.


tak! sebuah sentilan mendarat di kening Naina dari teman durjananya. Dipuji bukannya bilang terima kasih malah memberikan rasa panas yang menjalar.


"Auch. Sakit tau El."


"Jangan berlebihan makanya."


"Tapi beneran kok. Kamu memang terlihat sangat cantik malam ini. Apa ada yang spesial?"


Bukan tanpa alasan Naina bertanya. Tidak biasanya Elisya akan bersemangat seperti saat ini jika hanya menghadiri pesta dengan Arka. Naina bahkan tahu Elisya sangat terpaksa ikut kemana laki-laki yang menjadi tunangannya itu membawanya. Elisya sangat benci pertemuan bisnis. Membosankan dan menguras tenaga walau hanya untuk tersenyum. Ya. Di pesta itu Elisya harus selalu tersenyum ramah pada rekan bisnis Arka.


"Tidak ada. Hanya ingin."


"Oke-oke. Ya sudah cepat keluar. Pangeranmu sudah menunggumu dari tadi. Kalian benar-benar pasangan yang membuat iri." Naina menepuk bahu Elisya. Mencoba meyakinkan pada gadis itu bahwa apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran. Elisya hanya tersenyum ringan menanggapi.


Seperti dugaan Naina sebelumnya, Arka menganga saat melihat Elisya. Memang dari dulu Elisya cantik. Dan itu lah yang membuat Arka bahagia sekaligus bangga menjadikan Elisya sebagai tunangannya.


"Ayo berangkat."


Ucapan Elisya menyadarkan Arka dari keterpesonaannya. Ia kemudian menghampiri Elisya. Menekuk lengan kirinya membiarkan gadis itu mengalungkan lengannya disana. Mereka berdua meninggalkan panti setelah berpamitan pada bunda Fatma.


****


Arka dan Elisya merupakan pasangan yang sempurna. Dilihat dari manapun keduanya tidak ada yang kurang. Arka mempunyai wajah yang tampan di atas rata-rata mempunyai bentuk tubuh yang proporsional. Walapun belum mencoba, semua gadis pasti setuju jika Bahu bidang Arka sangat nyaman untuk bersandar. Wajah yang tampan dsn tubuh yang indah didukung oleh penampilan yang mewah dan elegan. Membuatnya menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada.


Elisya tak kalah dengan Arka. Wajah yang cantik dan tubuh yang seksi membuatnya pantas bersaing dengan model kelas atas. Senyumnya yang manis dan sifatnya yang elegan membuatnya seperti dewi yang sedang berbaur dengan manusia. Dengan penampilannya sekarang, tak akan ada yang menyangka jika ia adalah seorang anak panti. Apalagi dia datang dengan seorang Arkana Prabu Al-Barak. Seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis di kota itu.


Elisya berjalan mengikuti Arka dengan menggamit lengan kekar pria itu seraya tersenyum manis pada rekan bisnis tunangannya yang mereka temui. Arka merupakan orang yang disegani. Tentu saja banyak orang yang laki-laki itu temui disana. Dan Elisya hanya bisa mengikuti setiap langkahnya dengan anggun.


Banyak pasang mata yang menatap memuja pada Elisya saat ini. Tak sedikit rekan bisnis Arka yang mencoba melirik Elisya dengan tatapan pesona yang membuatnya risih. Apalagi saat mereka sengaja menahan tangan halus Elisya saat mereka berjabat tangan, sungguh membuat Elisya merasa tidak nyaman. Tapi, tentu tidak ada yang berani melakukan lebih untuk mendekati milik Arka. Apalagi Elisya sudah diumumkan secara umum sebagai tunangannya.


Keduanya sudah menjadi pusat perhatian sejak pertaman kali datang. Tak berbeda dari orang lain, sepasang mata tajam milik seorang pria dari awal juga memperhatikan kedatangan mereka.


"Apa kabar Tuan Elang." sapa Arka pada seorang pria yang dari tadi memperhatikan mereka. Ah! Sebenarnya bukan mereka, lebih tepatnya wanita yang dibawa oleh orang yang menyapanya.


"Saya baik Tuan Arka. Bagaimana dengan anda." tanya Elang basa-basi.

__ADS_1


"Ya, seperti yang anda lihat. Saya juga baik. Oh ya. Perkenalkan tuan Elang, ini Elisya tunangan saya."


"Elisya."


"Elang." keduanya mempunyai perasaan yang sama. Sama-sama tersentak saat kulit keduanya bersentuhan. Ada perasaan aneh yang familiar yang dirasakan keduanya.


Elisya segera tersadar dan menarik tangannya. Ia sedikit linglung. Tak pernah ia merasakan hal ini sebelumnya. Bahkan saat dia dicium oleh Arka, ia tak merasakan apa-apa selain merasa lembabnya sebuah bibir yang menempel. Tapi sekarang, hanya kulit tangan dari orang asing bahkan memberikan rasa yang aneh untuknya.


"Ah maaf Nona Elisya. Saya terbawa suasana. Anda sangat mirip dengan seseorang yang saya kenal."


"Tidak masalah tuan Elang. Ini hanya masalah kecil." Elisya tahu betul siapa laki-laki di hadapannya. Dia tak boleh memprovokasinya. Elang orang yang penting untuk bisnis tunangannya saat ini. Arka selalu membicarakan masalah bisnisnya dengannya. Tentu saja dia tahu siapa saja yang bekerjasama dengan pria yang menjadi tunangannya itu.


"Anda benar tuan Elang. Wanita cantik memang selalu terlihat mirip dengan seseorang."


Elisya mendengus ringan mendengar ucapan dari Arka. Ia selalu merasa Arka selalu menganggapnya hanya dari wajahnya saja. Arka sangat memuja kecantikan Elisya. Ia kerap memaksa Elisya untuk melakukan perawatan agar menjaga penampilan gadis yang menjadi tunangannya selalu terlihat sempurna.


Dengusan kecil ini tak luput dari perhatian Elang yang ada di depannya.


"Bolehkan kami duduk disini Tuan Elang?" tanya Arka ketika menyadari meja Elang kosong. Hanya ada Elang saja yang ada disana.


"Tentu saja. Meja ini terlalu luas untuk saya seorang diri." Arka terkekeh.


Arka menarik kursi untuk Elisya duduk sebelum dia menarik kursinya sendiri dan menggeser kursinya semakin dekat dengan Elisya.


Tak lama setelah itu acara dimulai. Acara seperti ini selalu bisa membuat Elisya mati kutu. Belum ada sepulu menit acara dimulai, Dia bosan. Apakah tidak ada yang menyadarinya? Dia melihat Arka yang sedang serius mendengarkan apa yang dibicarakan oleh sang pemilik acara di atas panggung.


'Apa menariknya. Mendengarkan orang bicara sepanjang waktu apa dia tidak bosan.' gumam Elisya ketika mengalihkan perhatiannya pada layar handphone miliknya. Lebih baik benda pipih itu yang menemani daripada laki-laki pecinta bisnis di sampingnya.


Gerutuan Elisya didengar jelas oleh Elang. Dari tadi laki-laki itu memang memperhatikan wanita cantik yang berstatus tunangan rekannya itu. Elang masih belum percaya ada wajah yang sangat mirip dengan Airanya.


Walaupun terlihat lebih dewasa dan wajahnya terlihat terawat dengan sangat baik, ia masih bisa mengenali Aira disana. Airanya yang selalu manis.


"Anda bosan Nona?" tanya Elang. Ia masih tidak nyaman memanggilnya dengan nama yang baru. Ini terasa aneh.


"Ha? Oh tidak juga tuan Elang." dusta Elisya. Ia memang sangat bosan sekarang. Sangat, sangat bosan. Tapi apakah harus orang lain yang menyadarinya?


"Tapi saya lihat seperti itu."


"Emm. Saya hanya memeriksa pesan yang masuk. Dan ada sedikit hal yang membuat saya tidak nyaman." alasannya yang tidak sepenuhnya bohong. Pesan yang baru saja ia terima dari salah satu pelanggan Online Shop nya membuatnya sedikit meradang.


Pelanggan itu meminta ganti rugi padanya karena baju yang dibeli dari Elisya tidak sesuai dengan ukurannya. Ia bahkan mengancam akan menyebarluaskan ketidak nyamanannya jika Elisya tidak mau.


"Ada masalah?"

__ADS_1


"Hanya masalah kecil. Tidak apa-apa." Kata Elisya sambil memasukkan handphone itu ke dalam dompetnya.


"Ada apa sayang? Apa ada masalah?" tanya Arka yang baru menyadari jika dua orang yang berada satu meja dengannya terlibat percakapan.


"Tidak. Hanya masalah kecil. Aku akan meminta Naina membereskannya. Aku permisi sebentar ya." pamitnya.


*


Disinilah Elisya sekarang. Duduk sendirian di kursi taman hotel yang menjadi tempat pesta. Ini lebih baik daripada harus ada di tengah-tengah pecinta bisnis yang selalu berbicara formal. Bibirnya terasa kaku terlalu lama bergaul bersama mereka.


Sebenarnya sudah sepuluh menit yang lalu Elisya telah selesai dengan Naina. Namun ia masih betah dan belum ada keinginannya untuk beranjak. Menikmati kesendirian dan ketenangan yang akan terenggut jika ia masuk ke dalam sana.


Namun, keinginannya sepertinya hanya tinggal harapan. Pesan dari Arka sudah mengintruksikan agar dia segera masuk. Tunangannya itu sebenarnya tahu jika Elisya hanya mencari alasan agar bisa keluar.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke delapan🍃...


...🌸Pada malam ke delapan, Allah Ta'ala memberinya apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim As. 🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2