
Tangis haru pecah di Mansion Andra. Kedatangan Elisya disambut dengan pelukan haru semua keluarga. Kecuali Safna tentunya. Hanya sang mantan Kakak baik hati itu yang terlihat kesal hari inj. Apalagi mengetahui bahwa Elanglah yang menemukan adiknya.
Semua orang tidak ada yang pernah membayangkan jika ternyata Aira mereka masih hidup. Siang ini, Rosi langsung pergi ke rumah anaknya setelah mendengar kabar bahagia itu. Begitu pula dengan keluarga yang lain. Keluarga besar Raharja berkumpul disana. Jasson dan Jacky bahkan meneteskan air matanya hari ini. Tak dapat dipungkiri mereka sangat bahagia mendapatkan kejutan bahagia ini. Beberapa kali, mereka mengucapkan terima kasih pada Elang karena telah menemukan dan membawa adik mereka kembali.
Saat ini, Elisya duduk dengan diapit oleh kedua wanita yang berbeda generasi dengannya. Amira dan Rosi tak hentinya mengusap tangan dan punggung gadis itu sedari tadi. Hal ini tentu saja membuat Elisya sedikit tidak nyaman. Dia masih belum mengingat siapapun dan apapun dari kisah masa lalunya.
Para wanita sedang berkumpul di taman belakang. Mereka ingin memiliki waktu tersendiri untuk bersama dengan Aira. Mereka sangat merindukan anggota keluarga mereka. Sedangkan para laki-laki berkumpul di ruang tamu. Mereka tentu saja memiliki pembahasan yang tak jauh-jauh dari pekerjaan mereka.
"Kami sangat bahagia Sayang. Kami seperti kehilangan kehidupan kami saat kamu pergi." Kata Rosi. Elisya hanya tersenyum menanggapi. Ia senang mengetahui banyak keluarganya yang juga merindukan dirinya.
"Maafin mami ya sayang. Mami menyesal."
"Tidak apa-apa tante. Maksud saya mami. Itu hanya masa lalu. Saya sudah baik-baik saja." Elisya tersenyum canggung. Dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh wanita yang ia ketahui berstatus sebagai ibunya. Tapi, semua memabglah hanya masa lalu. Dan semua yang buruk haruslah dilupakan. Tidak perlu mengingat pengalaman yang buruk.
"Kamu benar sayang. Mami lihat kamu hidup dengan sangat baik selama ini. Bahkan kamu menjadi lebih baik sekarang."
"Iya. Aira semakin kelihatan cantik sekarang. Dia sudah dewasa sekarang." kata Naila yang mendapat anggukan dari semua orang.
"Apa kamu sudah punya calon sayang?" tanya Rosi. Cucunya sangat cantik. Pasti banyak laki-laki yang mendambakan pasangan seperti Aira. Cantik dan baik. Perpaduan yang sempurna sebagai pasangan hidup.
Menanggapi pertanyaan itu, Elisya hanya tersenyum.
Safna yang duduk tak jauh di depannya menjadi semakin masam. Dia melihat banyak perubahan pada adiknya yang dulu ia pandang sebelah mata. Sekarang, adiknya bahkan terlihat lebih cantik dari dirinya. Badannya pun lebih bagus dari dirinya, dengan bentuk dan porsi yang sesuai dengan ukurannya. Membuatnya terlihat sebagai kecantikan yang sempurna. Kulitnya terlihat putih terawat. Wajahnya bahkan terlihat sangat bersinar. Kini, dia merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan adiknya itu. Safna lagi-lagi mendengus. Dia akan menggenggam erat apa yang menjadi miliknya sekarang.
"Sayang, apakah laki-laki yang bersamamu itu kekasihmu?" tanya Naila.
"Ah. Iya tante. Dia adalah tunangan saya."
Satu jawaban yang membuat bibir Safna akhirnya terukir sebuah senyuman. Dengan begitu hatinya lega. Adiknya itu ternyata telah ada yang memiliki. Jadi, Elang akan tetap menjadi miliknya sampai kapanpun. Secara alami dia mulai tertarik pada pembicaraan antar wanita yang sedang melepaskan rindu itu.
"Benarkah?" tanyanya antusia. Elisya bahkan baru mendengar kakaknya itu berbicara setelah dia lama berada disana.
"Iya. Kami sudah bertunangan sejak lama. Dan rencananya, dia akan melamar saya secara resmi pada kalian hari ini."
__ADS_1
"Sayang, itu kabar yang luar biasa!" Rosi dan Amira secara bergantian mencium kening Elisya dengan bahagia. Naila memberikan ucapan selamatnya.
"Sepertinya dia bukan orang biasa. Tante pernah melihat wajahnya sebelumnya. Tapi tante lupa dimana." kata Naila. Dia berfikir keras untuk mengingat-ngingat wajah dari pria yang diketahui menjadi tunangan dari keponakannya.
"Namanya Arkana Prabu Al-Barak tante."
"Ah ya. Tante ingat sekarang. Dia adalah pewaris tunggal Al-Barak Grup kan?"
Elisya mengangguk mengiyakan. Sepertinya keputusan yang diambilnya sudah tepat. Melihat keluarganya bahagia membuatnya ikut bahagia. Walaupun dirinya sendiri tidak begitu yakin bagaimana dia akan menjalani pernikahannya kelak. Tapi, dia akan berusaha menerima laki-laki itu sebagai suaminya. Dia tidak mungkin terus hidup dalam bayang-bayang suami kakaknya kan? Hubungan mereka pasti akan canggung kedepannya.
Naila terus menceritakan tentang Arka. Laki-laki itu memang memiliki berjuta pesona. Bahkan membuat para emak-emak menjadikannya idola dan salah satu contoh standar calon menantu idaman. Naila juga membuka tautan di gawainya demi mencari informasi yang lebih banyak mengenai calon keponakannya itu.
Sekarang, ketiga wanita itu, Amira, Rosi dan juga Naila sedang membahas apa saja yang dimiliki oleh seorang pewaris Al-Barak tersebut. Ketiganya sangat puas dan bangga karena anggota keluarga mereka akan menikah dengan orang yang penting dan berpengaruh. Safna lagi-lagi mendengus. Adiknya dari dulu selalu lebih beruntung daripada dirinya. Setidaknya Arka mencintai Aira. Lalu bagaimana dengan dirinya, Elang bahkan tidak sudi hanya untuk meliriknya saja.
Mereka tidak mengetahui perjalanan cinta keduanya sebelumnya. Mereka tidak mengetahui isi hati Elisya untuk Arka yang sesungguhnya. Mereka tidak mengetahui apa yang pernah dia alami dari Devina, calon mertuanya. Tapi mereka bahagia jika Arka yang menjadi suami Elisya di masa depan. Setidaknya, laki-laki itu tidak berbeda jauh dari Elang. Kekasih Aira di masa lalu yang sekarang menjadi kakak iparnya.
"Sayang." Elisya membeku. Seorang wanita paruh baya memeluknya dengan erat. Tangis wanita itupun terdengar pilu. Kalimat yang diucapkannya begitu sendu. Membuatnya menduga-duga apa hubungannya dengan wanita ini di masa lalu. Bahkan dia terlihat dan terdengar lebih menyedihkan daripada tiga wanita yang sebelumnya.
"Aira sayang. Ini Mama nak." Erna menangkup wajah Elisya. Mencium pipi mulus itu bergantian setelah kecupan penuh kasih dan hangat mendarat di keningnya. Elisya membatu merasakan kecupan itu. Terasa familiar dan menenangkan. Tanpa sadar, dia menarik wanita paruh baya yang belum ia ketahui namanya itu dalam pelukannya.
"Putri mama. Mama kangen sayang. Lima tahun ini mama selalu berdoa agar dimanapun kamu berada, kamu selalu bahagia. Mama selalu percaya bahwa kamu masih ada. Tapi mereka semua tidak mempercayai mama sayang. Maafkan mama karena tidak bisa meyakinkan mereka semua."
Erna tidak berbohong. Selama ini dia selalu yakin jika mayat yang mereka kubur bukanlah Aira, tapi tidak ada yang percaya padanya. Andrian bahkan selalu mengingatkannya agar tidak membahas Aira dengan Elang. Andrian diam-diam membawa Erna mengunjungi psikiater. Khawatir akan kesehatan mental aistrinya. Cukup anaknya yang mengalami depresi akibat kepergian Aira. Setelah Elang sembuh, ia tak akan lagi membiarkan anaknya masih larut dalam masa berkabung jika mendengar ucapan dari Erna. Ia takut anaknya itu juga masih belum menerima.
Melihat keakraban keduanya, lagi-lagi Safna merasa cemburu. Ibu mertuanya dari dulu belum bisa menerimanya. Dia tidak mendapat kasih sayang seperti yang didapat oleh Aira dari ibu mertuanya. Malahan, ibu mertuanya itu selalu bersikap sinis padanya. Dia tidak pernah memperlakukan dirinya sebagai menantunya.
"Pelet apa yang kamu gunakan sehingga ibu mertuaku sangat menyayangimu?" Mendengar kalimat itu, semua orang menatap sinis pada Safna. Pertanyaan bodoh itu terdengar menyakitkan.
Elisya sadar jika wanita yang memeluknya dengan erat itu adalah ibu dari laki-laki yang dia cintai di masa lalu. Dia jadi berfikir, sejauh mana hubungannya dengan Elang di masa lalu hingga membuatnya begitu akrab dengan ibu dari laki-laki itu.
"Safna! Apa yang kamu katakan?Tidak baik berkata seperti itu pada adikmu!" hardik Rosi.
"Lalu apa? Sudah lima tahun aku menikah. Tapi aku belum pernah merasakan pelukan dari ibu mertuaku. Jadi, aku harus bilang apa?" kata Safna cuek.
__ADS_1
"Aku lebih mengenal Aira daripada kamu Safna. Jadi, jangan pernah membandingkan dirimu dengan Aira. Kamu tidak ada apa-apanya." mendengar perkataan Erna, Safna mencelos tidak suka.
"Sudahlah. Jangan membahas yang tidak berguna. Ini adalah suasana yang menyenangkan, jangan merusak suasana yang membahagiakan ini." kata Rosi.
Erna segera duduk di samping Amira. Mengabaikan menantunya yang sering bertindak tidak sopan padanya. Itulah yang membuatnya tidak bisa menerima kakak dari calon menantu idamannya. Keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda. Dan sifat yang dimiliki Safna sangat tidak disukai oleh Erna.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Tiga belas🍃...
...🌸Pada malam ke Tiga belas, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari keburukan apapun🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...