Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 32. Waktu Yang Sama, Tempat Yang Berbeda


__ADS_3

🌏Sejauh apapun kita berpisah, kita tetap berpijak pada bumi yang sama.🌏


Sejak siang hari, Reno sudah dibuat pusing oleh sahabat sekaligus bosnya itu. Elang yang merasa galau, tapi Renolah yang dibuat repot. Jadwal meeting yang seharusnya dilakukan setelah makan siang dengan klien dari Jepang mendadak dicancel. Padahal, meeting itu adalah meeting penting yang susah-susah diatur jadwalnya oleh Reno. Jika meeting hari itu batal, otomatis dari pihak AMT harus pergi ke Jepang untuk melakukan meeting selanjutnya.


Tugas Reno bukan hanya mengurusi meeting yang ditunda secara mendadak. Tapi juga harus mencari tahu kemana SMA Bakti Nusa camping. Itu aneh menurut Reno.


"Buat apa gue mesti cari info tentang itu Lang?" tanya Reno bingung. Dia benar-benar tak mengerti perintah Elang yang satu itu. Terdengar tidak masuk Akal. "Apa Lo mau ikut acara itu hah? Lo bukan siswa SMA lagi." lanjutnya.


"Lo mampu lakuin apa tidak?" Elang merasa tak senang dengan pernyataan Reno.


"Ck. Setidaknya berilah alasan mengapa gue harus melakukan hal aneh itu."


"Apanya yang aneh?"


"Aneh lah. Lo tiba-tiba aja ikut campur masalah SMA itu."


"Bukannya kita salah satu donatur program beasiswa disana?"


"Iya. Tapi aneh aja lo tiba-tiba ikut campur."


"Kenapa sih lo terlalu banyak tanya sekarang. Lakuin aja apa yang gue minta. Gue nggak mau tau gimana caranya agar lo dapat informasi yang gue minta secara detail. Dan gue minta sebelum malam lo harus sudah bawa apa yang gue minta." titahnya tanpa terbantah.


"Oke-oke. Gue lakuin." dari pada gaji bulanan gue dipotong. lanjutnya dalam hati. Reno pun meninggalkan ruangan bosnya itu.


Di kepalanya kini mesin otak bekerja dengan keras. Mencari cara melakukan apa yang diperintahkan bos anehnya itu. Harus secara detail. Dan itu harus sudah dia terima malam ini. Itu berarti hanya ada waktu tiga jam untuk itu. Untunglah otaknya yang encer vepat bekerja, sehingga dia tidak perlu repot-repot mencari tahu langsung dari lihak sekolah. Dia sendiri yang akan bingung mencari alasan nantinya.


Di dalam ruang CEO PT. AMT Globalindo, Elang menempelkan benda pipih canggih itu di telinganya. Mencoba menghubungi Aira. Sejak siang tadi Handphone milik gadis itu tidak bisa dihubungi.


Itulah satu-satunya alasan yang menyebabkan untuk pertama kalinya meeting dengan klien dicancel oleh Elang semenjak dia duduk di kursi kebesarannya. Apalagi itu adalah meeting yang penting.


Sudah puluhan kali Elang menghubungi nomer Aira. Pesan yang dia kirim ke Handphone gadis itu bahkan sudah mencapai ratusan. Karena rasa khawatir Elang, dia jadi melupakan hal biasa yang terjadi saat kita menghubungi seseorang yang berada di hutan. Susah sinyal. Dan itulah yang dialami oleh handphone Aira.


***


"Ada apa Reno? Sepertinya ada hal penting sehingga kamu terburu-buru seperti itu." tanya Erna saat melihat sekretaris anaknya yang sedang berjalan cepat bahkan tanpa sadar melewati dirinya di koridor dekat lift. Awalnya Erna berniat mengunjungi anak semata wayangnya yang sudah satu bulan tidak menemuinya. Namun dia melihat Reno yang tergesa-gesa.


"Selamat sore tante." Reno segera mencium punggung tangan Erna.


"Ada apa Ren? Sepertinya ada sesuatu yang serius?"


"Ah tidak ada yang serius tante. Elang bikin ulah hari ini." Erna mengernyitkan alisnya.


"Kenapa dengan bocah itu?"


"Dari siang dia uring-uringan. Sampai-sampai membatalkan meeting dengan klien penting dari Jepang secara mendadak. Lalu dia memberi perintah yang aneh."


"Perintah aneh?"

__ADS_1


Ayolah tante? anakmu itu baru saja membatalkan meeting dengan klien yang penting. Membuat gue kelimpungan mencari alasan dan mengatur ulang jadwal yang sudah susah-susah gue buat. Tapi hanya perintah aneh yang mengena di hati? Gue harap Elang dapat jeweran keras di telinganya kali ini! ratap Reno dalam hati. Sungguh dia ingin memukulkan kepalanya ke dinding saat itu juga.


"Perintah aneh apa Ren? Jangan buat tante penasaran." Erna semakin mendekat. Membuat Reno menjadi salah tingkah menjadi tontonan karyawan yang satu persatu keluar gedung karena jam bekerja sudah usai.


"Kita ke ruangan Reno dulu saja Tan. Disini banyak karyawan." Erna akhirnya menuruti Reno. Dengan tidak sabar dia membuntuti sekretaris sekaligus teman anaknya itu. Dia merasa dia akan mendapatkan jackpot sore itu. Dia merasa beruntung dengan datang tepat waktu sore ini.


"Sekarang cepat katakan apa perintah itu?" tanya Erna setelah dia baru saja menempelkan pant*tnya di atas sofa yang ada di ruang kerja Reno.


"Elang meminta saya untuk mencari tahu tentang tujuan camping SMA Bakti Nusa."


"Ha? Untuk apa?"


"Itulah yang membuat Reno bingung tante."


"Ada yang aneh disini. Tapi apa?"


"Hem. Tante benar. Tapi sejak siang tadi Elang terlihat gelisah dan berulang kali menghubungi seseorang tante."


"Seseorang?" Erna mengetuk dagunya berfikir. "SMA Bakti Nusa, Camping." gumamnya.


"Aaa. Tante rasa tante tahu penyebabnya Ren."


"Apa tan?" Reno penasaran apa yang membuat Elang yang biasanya tenang hari ini sampai tidak bisa menguasai diri. Tapi rasa penasarannya harus dia tahan. Bukannya jawaban yang dia dapat dari ibu bosnya itu. Melainkan perintah yang lain yang bisa saja membuatnya kehilangan gajinya bulan ini.


"Mana informasi yang diminta Elang?" Erna menengadahkan tangannya. Meminta map yang dari yadi dipegang oleh Reno. Tanpa menunggu jawaban Erna meraih map Itu.


"Kamu bilang sama Elang. Jika ingin informasi ini, dia harus pulang ke rumah malam ini. Dia sudah lama tidak makan malam bersama. Kamu juga boleh ikut."


"Ah tak apa Tante. Malam ini salah satu maid di rumah ada yang ulang tahun. Jadi mereka mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan."


"Ah manis sekali. Baiklah kalau gitu. Kamu cukup sampaikan pada Elang saja."


"Kalau Elang marah gimana Tan?"


"Biarin saja. Kamu tinggal ngilang. Cling! Beres." Erna menjentikkan jarinya di depan Reno. Di matanya itu semudah dia menjentikkan jari. Dia tidak tahu jika Elang marah akan tambah panjang urusannya. Dia fikir Reno itu tukang sihir yang bisa menghilang begitu saja? Tapi itulah. Mak-mak selalu benar. Kalau salah, kembali ke pernyataan pertama. Dan Mak-mak lah yang akan kembali benar.


Setelah mendapat jackpot miliknya, Erna segera meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Reno yang menata mental menghadapi bosnya.


Setelah mengumpulkan keberanian, Reno melangkah meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju ruang Elang yang berada di samping ruangan miliknya.


"Tente Erna ada di pihak gue" gumamnya sebelum tangannya bergerak mengetuk pintu ruangan Elang.


tok tok tok


Setelah mendengar jawaban dari dalam yang mempersilahkannya masuk, Reno berjalan masuk ke dalam ruangan yang entah mengapa hari ini terasa seperti ruang sidang skripsi baginya.


Elang hanya meliriknya sekilas. Dia masih sama seperti saat Reno meninggalkan bosnya itu. Duduk dan Matanya masih tertuju pada benda pipih canggih di tangannya. Elang hanya melirik sekilas sebelum pandangannya lagi-lagi kembali terpusat pada handphone miliknya.

__ADS_1


"Mana data yang gue minta?"


"Maaf Bos." Elang melirik tajam kali ini. Dia tak mengharapkan kata maaf dari pemuda di depan mejanya itu.


"Tadi tante Erna kesini." lanjutnya. Dia menelan ludahnya kasar melihat tatapan Elang yang terlihat jauh dari kata bersahabat.


"Lalu?" kini tatapan Elang serasa menusuk ke jantung Reno.


"Map yang berisi data yang bos minta dibawa sama beliau. Katanya, kalau bos ingin data itu kembali, bos harus pulang untuk makan malam hari ini." jelas Reno.


"Sial!" umpat Elang. "Kenapa lo kasih?"


"Tante rebut dari tangan gue. Dari pada berkas itu robek kan percuma."


"Ck. Apa lo nggak ingat apa isinya?"


"Mana gue tahu? Gue kan dapat dari bagian humas yang mendapat konfirmasi dari pihak sekolah mengenai itu."


"Gampang kan. Sekarang tinggal minta lagi data itu."


"Mereka sudah pada pulang Bos. Sekarang sudah jam pulang. Dan itu adalah data asli dari pihak sekolah. Kemarin berkahnya keselip, jadi belum sempat disalin."


"Sial. Jadi gue harus pulang sekarang?"


"Apa boleh buat."


"Selama dua hari ini gue cuti. Lo beresin yang ada disini. Dua hari kantor ini jadi tanggung jawab Lo." titahnya membuat Reno membuka mulutnya tidak percaya. Sebegitu mudahnyakan mengambil cuti dan memberikan tanggung jawabnya pada seorang bawahan seperi dirinya? Ini tidak adil!


"Mana bisa seperti itu Lang. Emang lo mau kemana?"


"Bukan urusan lo."


Elang berdiri. Memakai kembali jas yang tadi dia letakkan di punggung kursi miliknya. Meninggalkan Reno yang bermuka masam. Rasanya dua hari kedepan akan menjadi hari yang melelahkan mengingat minggu ini banyak proyek yang sedang berjalan. Dan dengan santainya, sang Nahkoda meninggalkan kapal dan berlayar sendiri menuju antah berantah yang dia juga tidak tahu. Bolehkah Reno menjerit sekarang?


"Aaaaaaa"


Terima kasih sudah bersedia mendengarkan jeritan hatiku....


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 🤩...


...**Maaf Typo bertebaran 🙏...

__ADS_1


...Jadilah pembaca yang budiman Ea 👍...


__ADS_2