
Keseruan camping masih berlangsung. Setelah kembali dari acara mendaki, para peserta digiring ke sebelah kiri lapangan. Disana ada sebuah sungai yang airnya masih sangat jernih. Setelah lelah mendaki, mereka disambut oleh segarnya air sungai. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menceburkan diri di dalam sungai. Atau hanya mengambil beberapa pose untuk diupload ke sosmed mereka.
Juna dan Wildan sudah basah kuyup di dalam sungai. Dia memercikkan air pada Aira, Mikaila dan melati yang duduk pada batu besar di pinggir sungai.
"Woy Woy!" teriak Aira saat merasakan dinginnya air sungai. Melati dan Mikaila sudah menjauh lebih dulu. "Berhenti Na Wil!" kedua cowok tampan yang dipanggil terus mecipratkan air pada Aira.
"Lo udah basah Ra. Mending masuk sini sekalian." Juna keluar sungai. Menghampiri Aira.
"Mau Ngapain lo?" Aira mulai waspada saat melihat senyuman devil terlihat di bibir Juna.
"Bantuin lo." ucapan Juna membuat Aira merinding. Ini pasti bantuan yang tidak benar.
Aira yang sadar posisinya terancam perlahan mundur dari tempatnya berdiri. Sial! Batu yang dia pijak basah karena terkena air sehingga membuat Aira kehilangan keseimbangan dan oleng.
"Aaa" teriak Aira. Ia menutup matanya saat dirinya oleng dan merasa akan jatuh. Tapi dia segera membuka matanya saat merasa seseorang memeluknya. Smirk Juna menyambut Aira saat pertama membuka mata sebelum sedetik setelahnya, Aira sudah diseret masuk ke dalam sungai dengan masih berada di dekapan Juna.
"Huahahahahaha." tawa Juna meledak saat telah berhasil membuat Aira basah kuyup masuk ke dalam sungai.
"Senang lo ya!" Aira berkacak pinggang. Kemudian melempari Juna dengan air. Mereka berdua akhirnya perang air di sungai.
"Wil bantuin gue" Wildan segera ikut menyerang Juna. Akhirnya Juna kelabakan terkena begitu banyak air.
"Lo nggak berb...boleh berb.. curang Ra berb...!" Juna kesulitan bicara karena beberapa kali mulutnya kemasukan air.
"Biarin. Ayo terus Wil."
Mereka bertiga membuat sungai yang tadinya tenang menjadi penuh dengan gelak tawa. Semua yang berada disana melihat betapa ketiganya bersenang-senang. Banyak yang iri dengan Aira akan perlakuan yang Juna berikan padanya. Para panitia pendamping hanya tersenyum melihat tingkah ketiganya. Mikaila merekam kejadian menyenangkan itu. Kenangan indah tidak boleh sampai dilupakan. Bisa ditunjukkan kepada anak cucu mereka kelak tentang indahnya persahabatan. Hehehe sudah berfikiran kesana saja.
"Waktu untuk menikmati sungai sudah habis. Sekarang kita ke permainan selanjutnya." ucapan Pandu membuat semua peserta keluar dari sungai. Begitu juga ketiga remaja yang bermain air seperti anak kecil tadi.
Panitia membawa mereka ke sebuah empang di pinggir sawah.
"Permainan kali ini akan menyenangkan. Kalian akan menangkap ikan untuk kelompok kalian sendiri. Jadi siapa yang dapat banyak ikan akan menang dan sekaligus kenyang." jelas Pandu saat semua sudah berada di tepi empang yang luas.
__ADS_1
"Nggak ada permainan lain kak? Ini menjijikkan." seru Bella.
"Hahaha hey kalo lo nggak mau nggak ikut juga nggak papa kali. Lo ikut juga belum tentu bisa tangkap ikan. Mending lo duduk manis di pinggir kolam. Atau kalo nggak joget-joget buat hiburan juga boleh." kata Mikaila disambut gelak tawa dari semua yang mendengar. Bella tentu saja terpancing. Dia tidak mungkin membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan dan kalah dari kelompok Aira.
"Oke gue ikut! kita buktikan siapa pemenangnya!" seru Bella.
"Baiklah. Kalian bisa mengambil peralatan untuk menangkap ikan di sana! Setelah dapat boleh langsung turun ke empang." Pandu menunjuk tempat di pinggir empang yang terdapat timba dan juga jaring.
Mikaila, Aira dan Melati sudah masuk dan mulai menangkap ikan. Mikaila bertugas memegang timba, sedangkan Aira dan Melati menangkap ikan menggunakan jaring. Aira kesulitan menangkap ikan. Beberapa kali dia mencoba tapi tidak berhasil. Sedangkan Melati sudah seekor ikan nila dan seekor ikan patin yang berhasil dia tangkap.
"Mel gimana nafkah ikannya? Nggak kelihatan gini ikannya."
"Kamu perhatikan baik-baik Ra. Di permukaan air mulut ikan itu bergerak-gerak. Seperti itu!" tunjuk Melati pada ikan yang mulutnya terlihat di permukaan di sebelah Aira. Dengan sigap Aira mengarahkan jaringnya disana. Dan benar saja, seekor ikan patin berhasil dia tangkap.
"Berhasil!" seru Aira setelah melihat ikan berukuran cukup besar itu berada dalam jaringnya.
"Mik. Pegang betul-betul. Jangan sampai lepas." pesan Aira setelah memasukkan ikan ke dalam timba Mikaila.
"Iya-iya bawel." Mikaila segera menutup timba agar ikan yang sudah dengan susah payah dikumpulkan tidak melompat kembali ke dalam empang.
Kemudian mereka kembali ke lapangan untuk memasak ikan hasil tangkapan mereka. Ketika mereka kembali ke lapangan, banyak alat pemanggang berisi bara api yang menyambut mereka. Mereka semua terlihat antusias. Setelah membersihkan tubuh mereka dan berganti pakaian, mereka segera memanggang ikan tangkapan mereka.
Kelompok Aira mendapatkan delapan ekor, dua ekor mereka berikan pada kelompok Juna yang hanya mendapatkan empat ekor. Setelah ikan mereka matang, mereka membawa ikan mereka ke kantin untuk meminta tambahan nasi yang memang sudah disediakan.
Juna, Wildan dan Ridwan berkumpul di depan tenda Aira untuk makan bersama ketiga gadis sahabat mereka. Mereka duduk melingkar di atas tikar.
"Gue belum pernah makan ikan hasil tangkapan gue sendiri." kata Ridwan dengan mulut penuh makanan.
"Tangkapan lo yang mana? Lo nggak dapat seekor ikanpun." dengus Wildan.
"Iya. Lo malah asik godain cewek mulu." tambah Juna.
"Hehehe. Sambil menyelam minum air."
__ADS_1
"Lo menyelam di empang Rid? Baru tahu gue kalo empang bisa diselami." cibir Mikaila.
"Perumpamaan aja Mik."
"Perumapaan itu nggak cocok sama sekali Rid. Cocoknya biar badan bau empang, tepe-tepe tetap berjalan." ucap Aira.
"Hahaha itu benar Ra. Lo tau dari mana kalo gue tadi bau empang? Jangan-jangan diam-diam lo sukanya sama gue? Perhatiin gue... "
"Ogah. Siapa pun tadi juga bau empang kali Rid. Lo bisa menaklukkan cewek manapun selain gue, Melati dan Mikaila. Jurus tepe-tepe lo nggak bakalan mempan."
"Dasar tukang narsis." cibir Mikaila.
"Melati diam aja. Jangan-jangan dia terpesona sama gue." Ridwan menit turunkan alisnya. menggoda Melati. Melati masi diam. Dia masih canggung jika berbicara pada berandal sekolah. Merasa tidak pantas.
"Dia nggak bakalan tergoda sama lo!" ucap Juna.
"Kenapa?"
"Dia ini sudah ketularan Aira. Sama gue aja dia nggak terpesona."
"Uhuk!" Melati tersedak mendengar ucapan Juna. Dia bahkan berusaha untuk menetralkan jantungnya setiap kali ketiga cowok tertampan di sekolahnya berada di sekitarnya. Mana mungkin dia tidak terpesona pada Juna. Tapi dia tidak percaya pada dirinya sendiri dan menganggap tidak pantas untuk berharap lebih.
"Hahahaha akhirnya tambah satu lagi cewek yang menolak pesona lo Na!" girang Ridwan. Juna melengos. Secara tidak langsung dia dihina oleh Ridwan.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😍...
...Tinggalin jejak dengan like 👍 dan...
__ADS_1
...komentar🗨...