
Aira memeluk erat Elang dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut yang terasa keras itu. Elang melajukan motornya dengan kencang. Memimpin rombongan. Hari ini Elang menepati janjinya. Mengajak Aira dan teman-temannya berlibur di vila milik keluarganya. Kebetulan, Jumat libur. Jadi bagi sebagian pelajar seperti Aira, hari Sabtu setelah libur di hari jumat adalah HARPITNAS alias Hari Kejepit Nasional.
Mereka memilih menggunakan motor agar lebih cepat sampai. Motor Elang berada di barisan paling depan, di belakangnya Wildan berboncengan dengan Mikaila, Disusul Juna dan Melati, Ridwan hari ini mengajak Dela. Dan yang paling belakang dari mereka sebuah mobil yang ditumpangi sekretaris multi talenta yang saat ini sedang menikmati perannya sebagai pembawa barang, Reno Danuarga.
Pagi-pagi sekali mereka semua sudah berkumpul di warung nasi uduk mang Ujang. Sebelum berangkat tadi, mereka semua sarapan nasi uduk ditemani teh hangat.
Melati yang dengan terpaksa ikut acara bolos bareng itu terlihat menikmati makanannya. Karena Juna yang bertugas menjemputnya membuat Melati tidak bisa menolak. Jika saja Aira atau yang lainnya yang menjemputnya, bisa saja dia menolak. Tapi, melihat Juna yang dingin membuat lidahnya kelu. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata penolakan yang sudah ia susun semalaman.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, Elang membelokkan motornya ke sebuah pantai yang tersembunyi di balik barisan toko di pinggir jalan. Memang bukan tujuan mereka. Tapi, mengingat mereka menggunakan motor pasti merasakan pinggang yang kaku setelah menempuh perjalanan jauh. Pantai ini juga indah.
Elang menghentikan motornya diikuti semua motor yang mengikutinya.
"Kita istirahat sebentar disini. Masih setengah jam perjalanan." katanya seraya mendudukkan diri di kursi milik penjual es sari tebu.
"Wah pantainya indah." seru Mikaila. Dia menarik tangan Wildan untuk mengikutinya. Tak lama setelah itu mereka sudah bermain kejar-kejaran dengan ombak. Tawa mereka berdua terdengar ceria.
"Na, lo bawain es mereka gih." ucap Aira.
Juna melirik sebentar. Dia mengabaikan perintah Aira. Lebih memilih menyesap es dalam gelasnya yang menyegarkan. Membuat Aira berdecak sebal.
"Biar aku saja Ra." Melati berdiri dan meraih dua gelas berisi sari tebu lengkap dengan es batu. Kemudian membawanya kepada dua orang yang masih asik dengan kegiatan mereka sedari mereka sampai tadi.
"Kita kesana juga yuk mas." ajak Aira sambil menarik tangan Elang. Elang menurut saja dan mengimbangi langkah Aira. Dia kaitkan tangannya di sela jari-jari kecil Aira. Diangkatnya tangan yang saling bertautan itu untuk dia cium.
Aira berusaha menarik tangannya. Dia masih malu menunjukkan perasaannya di depan umum. Namu kekuatan yang dimiliki Aira tidaklah cukup untuk menghalangi Elang melakukan niat awalnya. Elang tersenyum puas mendapatkan apa yang dia inginkan. Sedangkan Aira, wajah gadis itu memerah.
Mereka bahkan masih dikelilingi sahabat-sahabatnya. Walaupun saat ini hubungan mereka sudah tidak mereka sembunyikan lagi, tapi Aira masih merasa malu. Masih merasa aneh dengan perasaan menggelitik dari dalam hatinya yang membuat sudut bibirnya terangkat.
Elang merangkul pundak Aira mencium pucuk kepala gadis SMA itu. Aksinya menimbulka suara cuit-cuit dari teman-temannya. Mereka masih merasa tidak percaya jika Aira kini memiliki pacar.
Wajah Aira sudah merah karena malu. Dengan cepat dia berlari meninggalkan Elang yang geleng-geleng kepala melihat tingkah Aira yang menurutnya menggemaskan.
Aira sudah berada cukup jauh dari tempat teman-temannya berada. Setidaknya disini sepi. Aira suka menikmati pantai dengan caranya sendiri. Berdiri menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, selalu berhasil membuat hatunya tenang.
__ADS_1
Dan inilah yang dia lakukan sekarang. Aira bediri diam di pinggir pantai. Kedua matanya tertutup. Menikmati damainya suasana yang tercipta. Aira tersentak saat merasakan seseorang melingkarkan tangannya di perutnya.
"Kenapa lari hem?" bisik Elang tepat di telinga Aira. Dagunya sudah bertumpu pada pundak Aira.
"Jangan seperti ini mas." Aira berusaha melepaskan dirinya.
"Kenapa?"
"Malu." Aira memerah. Ini adalah pertama kali dia merasakan posisi seintim ini. Perlakuan yang diterimanya sudah cukup membuatnya tidak nyaman.
"Sebentar saja Ra." Aira menurut. Dia tak lagi berusaha untuk melepaskan diri. Dia tahu ada sesuatu yang berat yang sedang difikirkan oleh Elang. Tangannya mengelus lengan Elang yang melingkar di perutnya.
"Ada apa mas?" tanya Aira ketika merasakan hembusan nafas berat di tengkuknya.
"Tidak ada apa-apa."
"Mas tidak bisa membohongi aku. Berbagilah denganku jika mas mempunyai beban."
Elang mendesah. Apakah sangat terlihat jika dia sedang memiliki masalah yang besar. Atau apakah kekasihnya itu begitu sensitif sehingga dapat merasakan sesuatu tanpa dia mengungkapkannya. "Mas minta maaf Ra. Untuk Johan Food mas tidak masalah. Tapi Mas tidak bisa menerima pengajuan kerjasama dengan PT. RK." kata Elang akhirnya.
"Itu tidak masalah Mas. Perusahaan itu memang sudah cacat dari dalam. Jika mas memaksakan diri, perusahaan mas yang akan rugi."
"Kamu tidak marah?" Elang membalikkan tubuh Aira. Menatap mata gadis itu. Dia tidak mau sampai membuat Aira kecewa.
PT. RK yang dipimpin oleh Roy memang sering berbuat curang dalam kerjasama yang mereka sepakati. Dan Aira sudah tahu itu. Walaupun mereka selalu menutupi kecurangan mereka dengan rapi, tapi itu tidak luput dari penyelidikan anak buah Reno.
"Aira tahu seperti apa PT.RK mas. Aku harap mas mengambil keputusan yang benar. Awalnya aku takut jika mas akan percaya begitu saja terhadap mereka."
"Jadi kamu memang berharap jika aku menolak?"
"Aku bukannya berharap mas Elang untuk menolak. Tapi aku berharap mereka dapat merubah cara kerja mereka. Tapi melihat mas menolak aku tahu jika mereka tidak berubah."
"Ya. Waktu mereka memberikan bahan presentasi mereka, mas merasa ada yang tidak beres dengan perusahaan itu. Maka dari itu aku meminta Reno untuk mencari informasi."
__ADS_1
Aira mendesah. Dia juga menyesalkan tindakan omnya. "Sebenarnya semua keluarga sudah berusaha untuk merubah cara om Roy bekerja. Jika dibiarkan seperti ini, lama-lama perusahaan yang dengan susah payah didirikan oleh kakek akan hancur di tangan menantunya itu."
"Tidakkah kamu berharap mas bisa merubahnya sayang?"
"Merubah sesuatu yang sudah mengakar itu sulit mas. Seluruh bagian dari perusahaan itu semuanya tidak ada yang beres. Aku yakin jika karyawan mereka saja sudah memiliki sifat seperti pemiliknya."
"Jadi tidak apa-apa jika mas tidak membantu?" Aira menggeleng.
"Itu bukan urusanku mas. Mereka memang keluargaku. Tapi tugasku sebagai salah satu keluarga mereka sudah aku lakukan. Hasil akhirnya terserah mereka."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang mas tahu apa yang harus mas lakukan." Aira menaikkan alisnya melihat seringaian di bibir Elang.
"Mas tidak merencanakan sesuatu yang buruk kan?" jika terjadi sesuatu pada PT. RK, sedikit banyak perusahaan milik orang tuanya juga akan terkena dampaknya.
"Tentu saja tidak. Mas akan sedikit memberi sentuhan disana." Elang tersenyum. Dia melihat jelas kekhawatiran di wajah Aira. Ditangkupnya wajah sang kekasih. Diciumnya kening Aira dengan lembut.
"Mas tidak akan membiarkan keluargamu repot Ra. Jika PT. RK sampai hancur. Bukankah keluargamu yang akan merasakan dampaknya?"
Aira merasa tenang sekarang. Siapapun juga tahu jika sebuah perusahaan yang berada dalam naungan yang sama selalu berkaitan. PT. RK masih berada dalam satu naungan Raharja Grub. Itu artinya, jika sampai PT. RK hancur, dampak buruk juga akan dirasakan oleh semua perusahaan yang berada dalam satu naungan dengannya.
Jika sampai PT.RK hancur, perusahaan milik orang tua Aira, termasuk juga perusahaan milik keluarga Johan dan restoran Naila akan goyah.
"Tenang saja sayang. Mas tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa keluargamu."
"Terima kasih." Aira memeluk erat Elang. Seoerti apapun perlakuan mereka terhadap Aira. Mereka tetaplah keluarga. Darah Raharja sama-sama mengalir dalam tubuh mereka. Aira juga akan merasa sakit jika keluarganya terluka.
*
*
*
...**Terima kasih sudah mampir 😘...
__ADS_1
...Biasakan sentuh like👍 ya...