
Elang memandangi wajah pucat putrinya. Kebenaran yang beberapa jam terungkap tidak akan merubah apa yang selama ini terjadi. Walaupun ia sangat membenci ibu dari anaknya, Namun gadis itu tidak bersalah sama sekali. Dia hanya korban. Seorang anak yang dijadikan alat oleh ibunya untuk menjebak seseorang seperti Elang.
Flash Back on....
Dokter yang menangani Naira keluar dari ruang UGD dengan wajah yang panik. Elang dan yang lainnya segera mengerumuni dokter itu.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?"
"Ada penggumpalan darah pada otaknya. Jadi harus segera dioperasi."
"Lakukan yang terbaik dok."
"Itu pasti tuan. Tapi, ada sedikit masalah. Putri tuan kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan banyak darah. Dan sayangnya golongan darah yang dibutuhkan Naira adalah golongan darah O negatif yang sangat jarang dan pihak rumah sakit maupun PMI tidak memiliki stoknya. Kami juga telah menghubungi rumah sakit lain. Tapi masih belum menemukannya. Jadi, mungkin dari pihak keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Golongan darah saya A dok." jawab Elang.
Dan dari semua yang hadir disana tidak ada yang mempunyai golongan darah yang sama.
"Jika ayahnya tidak sama. Pasti sama dengan ibunya. Bagaimana dengan ibunya?" tanya dokter.
Andra dan Amira dari tadi membeku di tempatnya. Merekalah yang pertama mengetahui hal ganjil disana.
"Apa golongan darah wanita itu?" tanya Elang pada Amira yang sedari tadi menangis semakin terisak mengetahui kebohongan yang dilakukan oleh sang putri.
"Golongan darah Safna B."
"Bagaimana bisa?!" teriak Elang marah. "Ridwan! Suruh Wildan menyeret wanita itu ke hadapanku sekarang!"
Semua orang terdiam. Mereka kini mengetahui kebohongan yang dilakukan oleh Safna tanpa ada yang berani berucap.
Elang berwajah gelap. Kedua tangannya mengepal. Dia duduk dengan ditemani Reno yang berusaha menenangkan amarahnya walupun itu akan sulit. Dia sudah dibohongi selama lima tahun. Hidupnya hancur akibat pernikahan konyol yang ternyata hanyalah sebuah jebakan untuknya.
"Bagaimana keadaan Naira mas?" tanya Safna saat dia baru sampai.
Elang berdiri dan berjalan menghampiri wanita yang telah menipunya selama bertahun-tahun. Elang mendorong tubuh Safna hingga menabrak tembok rumah sakit dengan keras. Membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"Kenapa kamu melakukan ini mas?"
"Seharusnya aku yang tanya! Naira anak siapa hah?"
"Tentu saja anak kita."
"Masih berani berbohong kamu?!" Elang mencekik leher wanita itu. Semua yang ada disana hanya melihat dan mendiamkan. Mereka tahu Elang tidak akan melakukan hal lebih. Mereka juga merasa sangat kecewa atas kelakuan Safna. Amira dan Andra hanya tertunduk malu mengetahui kelakuan jahat anaknya.
"Mak-sud-mu a-pa mas?" Safna kesulitan berbicara dengan tangan Elang yang mencekik lehernya.
"Siapa ayah biologis Naira! Katakan!"
Safna terdiam. Dia membeku ditempatnya. Apakah artinya kebohongan yang lima tahun ini ia simpan rapi sudah terbongkar sekarang? Apakah mereka tahu bahwa Naira bukanlah anak kandung Elang?
"Jawab aku wanita jal*ng!"
"Ma-af-kan ak-ku maas. Ak-ku men-cin-ta-i-mu."
"Bod*h! Cepat katakan!"
__ADS_1
"Aku ayahnya." semua menoleh ke arah laki-laki yang baru saja datang. Semua terkejut mengetahui kebenaran yang baru saja terkuak.
"Aku ayah biologis dari Naira. Dokter bisa ambil darah saya. Golongan darah saya O negatif."
Elang segera melepaskan cekikan tangannya dari Safna dan menghampiri Laki-laki itu dan menghadiahi bogem pada perut laki-laki itu.
"Kalian Brengs*k! Berani-beraninya menipuku!" Sekali lagi, sebuah pukulan keras diarahkan Elang dan mengenai pipi laki-laki itu.
"Lang, tenangin diri lo. Yang terpenting sekarang keselamatan Naira. Biarkan dia memberikan darahnya untuk Naira. Hanya dia yang bisa menyelamatkan nyawa Naira sekarang." ucap Reno berusaha menenangkan Amarah Elang. "Silahkan bawa dia dok." lanjut Reno saat melihat Elang sudah tenang.
Semua orang menunggu di depan ruang operasi. Dengan darah yang diambil dari ayah biologis Naira, gadis itu akhirnya bisa dioperasi.
"Jelaskan padaku sekarang! Apakah benar Naira itu anak Frans?" tanya Elang memecah keheningan. Dia sudah tak tahan ingin mengetahui kebenaran langsung dari si pembuat kebohongan.
"Iya." jawab Safna lirih.
"Lalu kenapa kamu melakukan ini padaku?"
"Karena aku mencintaimu. Aku sudah berusaha keras untuk menarik perhatianmu. Tapi kamu masih sulit disentuh. Aku melampiaskan hasratku pada Frans saat aku frustasi. Dan saat aku menemukan celah aku menjebakmu agar aku bisa memilikimu."
"Hebat! Rencana yang sangat hebat. Kamu membuat hidupku hancur lima tahun ini. Kamu benar-benar wanita ibl*s Safna."
"Itu karena aku mencintaimu." Safna menangis. "Aku melakukan segala cara untuk mendekatimu. Tapi tidak ada yang aku dapatkan. Aku bahkan telah menghilangkan nyawa..." Safna menutup mulutnya. Hampir saja dia keceplosan.
"Kamu mau mengaku sekarang jika kamu yang telah membuat Aira kecelakaan lima tahun lalu?" Elang segera memojokkan Safna.
"Kalau iya kenapa? Memang aku yang melakukannya! Memang aku yang menyuruh David untuk merusak rem motor Aira. Gadis Bod*h itu tidak pantas bersanding denganmu. Hanya aku! Safna Tsania Raharja yang pantas mendampingi Elang Dirgantara Mahes yang sempurna. Bukan Aira!"
Plak...
Safna terdiam di tempat. Dia menatap nanar laki-laki paruh baya di depannya yang biasanya akan selalu mendukungnya.
"Kenapa Pi? Demi adik sialan itu papi tega tampar Safna seperti ini? Dia itu cuma Jal*ng! Dia me.. "
Plak....
Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi mulus itu. Meninggalkan jejak merah yang lebih kecil. Pelakunya kali ini adalah sang ibu. Amira yang sejak tadi mencoba menahan amarahnya tidak sanggup jika mendengar anaknya direndahkan oleh seseorang, apalagi dia adalah anaknya yang lain.
"Mi... "
"Diam kamu! Kamu tidak berhak memanggilku mami. Ya Allah... Anak macam apa yang selama ini aku besarkan dengan penuh kasih sayang? Kenapa kamu tidak memiliki hati nurani hah? Aku malu menyebutmu anakku! huhuhu." tangis Amira semakin menjadi. Membuat Erna maju dan meraih besannya dalam pelukannya.
"Saya mohon semua bisa tenang. Ini rumah sakit. Tidak baik membuat keributan." kata Reno. Para dokter tidak ada yang berani ikut campur dalam urusan keluarga pemilik rumah sakit itu. Jadi mereka meminta Reno untuk mengingatkan mereka semua.
Mendengar perkataan Reno, semua orang kembali duduk. Mereka larut dalam fikiran mereka masing-masing.
Semua orang terpukul atas kebenaran yang baru sekarang terungkap setelah lima tahun. Amira berulang kali mengucapkan kata maaf kepada Erna karena kelakuan anak sulungnya.
Ketegangan semakin meningkat saat lampu di atas pintu ruang operasi terbuka. Semua orang berdiri. Elang dan yang lainnya segera maju saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Elang. Sedikit nyeri ia rasakan saat menyebut anak yang telah ia ketahui bukan darah dagingnya sebagai anak. Tapi, kasih sayang yang ia rasakan dan berikan pada gadis kecil berusia empat tahun itu lebih besar. Elang memutuskan akan mempertahankan Naira menjadi bagian dari anggota keluarga Mahes. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya. Baik Safna atau Frans.
"Alhamdulillah operasi berhasil. Namun pasien masih belum sadar. Masa kritisnya belum lewat. Sebentar lagi pasien akan kami pindahkan ke ruangan ICU."
"Iya dokter. Lakukan yang terbaik untuk putri saya."
__ADS_1
"Itu pasti Tuan Elang. Mari. Saya permisi."
"Terima kasih Dokter."
"Sama-sama."
Elang menghampiri Safna yang duduk dengan terus terisak sendiri. Safna mendongak saat melihat Elang berdiri di depannya.
"Mulai hari ini, kamu aku talak. Sebentar lagi bersiaplah menerima surat cerai dariku."
"Tidak mas. Jangan lakukan itu. Naira itu anakmu."
"Naira memang anakku. Empat tahun ini akulah yang merawatnya. Yang memberikannya kasih sayang. Dan Kamu jangan harap dapat bertemu dengan Naira lagi setelah ini. Aku pastikan hak asuh Naira akan jatuh ke tanganku." kata Elang penuh penekanan.
"Tidak. Aku tidak mau bercerai denganmu mas." Safna segera memeluk kaki Elang. "Maafkan aku. Maafkan aku."
"Wildan! Bawa kembali wanita jal*ng ini ke dalam penjara. Pastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan. Kalau perlu, biarkan dia membusuk disana." Wildan mengangguk. Ia meminta anak buahnya untuk segera menarik Safna menjauhi mereka semua.
"Maafkan saya tuan Andra. Hari ini Saya mengembalikan anak anda. Mulai sekarang saya bukan menantu anda. Dan untuk masalah Naira. Saya minta kalian membiarkan anak itu tumbuh bersama keluarga kami."
"Saya yang harusnya meminta maaf atas kelakuan anak saya. Anda berhak mengambil keputusan itu. Dan untuk Naira. Dia memang paling tepat tumbuh di tengah keluarga anda. Asalkan kami tetap bisa menemuinya dengan bebas. Kami berjanji tidak akan mempermasalahkannya."
"Terima kasih."
Flash Back off.....
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Dua puluh🍃...
...🌸Pada malam ke Dua puluh, Allah SWT memberikan padanya pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan Sholihin (orang-orang yang Sholeh)🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...