Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 80. Dia Memang Cantik Sejak Dulu


__ADS_3

Lagu yang terdengar adalah lagu penuh cinta yang ceria, lagu dari Bunga Citra Lestari yang berjudul "Wanita Terbahagia". Lagu itu terdengar merdu mengalun di dalam kafe.


Namun, dua orang gadis yang duduk di sebuah meja disana menitikkan air matanya. Namun jelas ini bukanlah air mata kesedihan melihat senyuman yang terukir di bibir keduanya.


Mikaila dan Melati tak dapat menahan haru setelah melihat Aira setelah lima tahun waktu berlalu. Ini terlalu indah untuk hanya sekedar senyuman. Hati yang penuh dengan kerinduan mengirimkan pesan kepada mata mereka untuk mengalirkan air mata bahagia. Aneh memang. Senyum di sela tangis. Tapi inilah yang terjadi.


Juna dan Wildan menggenggam erat tangan gadis mereka memberi ketenangan. Mereka sendiri juga rak kalah haru dari gadis yang mereka tenangkan.


Ridwan bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari atas panggung sejak ia masuk. Melihat Aira setelah sekian lama merupakan hal yang sangat indah. Yang sangat sayang jika diabaikan.


"Onty Mika, Onty bu Mel kenapa menangis?" tanya Naira tiba-tiba. Sehingga mengalihkan atensi semua ke arah anak kecil yang sedang menikmati Cake Straberry nya dengan khusuk.


"Apa kalian cubit ya?" Naira mengacungkan telunjuknya dengan tatapan mengintimidasi pada Juna dan Wildan mengingat mereka berdua yang berada disamping kedua ontynya yang sedang menangis. Memang dasar pemikiran anak-anak, saat dia dituntut untuk memikirkan masalah sesuai dengan umurnya, dia malah terlalu matang. Dan sekarang, saat dia melihat suatu hal, memikirkannya dari sudut pandang seorang anak kecil. Menangis hanya jika ada yang menyakiti.


"Tidak-tidak. Mata mereka hanya kemasukan debu. Iya debu." jawab Wildan gugup.


"Benarkah?" mata Naira semakin memicing seakan tidak percaya.


"Iya sayang. Tenang saja. Mereka tidak akan berani melakukannya." Kata Mikaila setelah selesai menyeka air matanya dengan tisu.


"Benar Onty. Sebagai pelempuan, kita nggak boleh lemah. Kita halus belani melawan." ujar Naira menggebu. Elang mengusap kepala anaknya dengan gemas. Entah siapa yang mengajarinya bicara seperti itu.


"Apakah cake nya enak?" tanya Melati. Dia harus merubah topiknya.


"Enak. Onty Bu Mel Mau coba?"


"Tidak. Terima kasih ya sayang. Onty seneng kalau kamu suka. Makan yang banyak ya." melati mencubit gemas pipi Naira. Membuat si empunya cemberut.


"Onty, kata Oma Elna, waktu makan nggak boleh cubit pipi. Nanti pipinya melal jadi besal." Naira memasukkan lagi potongan Cake nya. Semua orang selalu terhibur jika Naira ada di sekeliling mereka. Bocah cilik itu selalu bisa menghidupkan suasana.


Suasana kembali hening sejak Naira berhenti bicara dan lebih memilih memakan cake nya. Meladeni para dewasa bicara sering membuatnya lelah. Bagaimanapun dia yang akan rugi. Dicium, dicubit, diberantakin rambutnya, atau yang paling parah, digelitiki sampai ngompol. Itu pernah satu kali terjadi saat dia sedang di gelitik oleh Andrian. Kala itu Naira malu bercampur marah. Satu hari penuh dia mengabaikan kakeknya itu hingga dia mendapatkan stok es krim rasa jagung kesukaannya selama satu minggu.


Sedangkan para dewasa yang lain kembali memusatkan perhatian pada Aira yang ada di atas panggung. Nampaknya, gadis itu baru selesai menyanyikan lagunya dan hendak istirahat.


Mikaila dan yang lain memperhatikan interaksi antara Elisya dengan Romi dan Naina, mereka terlihat sangat akrab. Di satu sisi, mereka senang karena Aira mendapatkan teman-teman yang baik, Namun di sisi lain, hati mereka sedikit tercubit saat menyadari posisi mereka telah terganti oleh orang lain.


Elisya turun dengan segera setelah manager kafe mengangsurkan Handphone ke arahnya. Elisya berbicara dengan orang di seberang sana ketika melewati meja dimana Elang dan yang lainnya berada. Angin yang membawa Elisya berlalu bagaikan sebuah pisau yang mekukai kulit mereka. Sakit.


Melihat orang yang kita sayangi dan kita cintai tidak mengenal kita adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.


"Dad, Naira ingin pipis." mendengar itu, Elang segera berdiri dan mengajak anaknya itu ke toilet di dalam kafe. Sore ini mbak Weni tidak ikut karena mereka hanya akan keluar sebentar, jadi Elang masih bisa mengatasi jika harus mengurus anak kecil itu sendiri. Apa lagi mereka tidaklah pergi berdua. Ada Mikaila dan melati yang juga dapat diandalkan.


Di depan toilet, Naira dan Elang masih ribut. Keduanya terlibat perdebatan kecil.

__ADS_1


"Ayo masuk sayang." Elang dengan wajah frustasinya mencoba membujuk sang anak mengikuti kemauannya.


" Nggak mau Dad. Toilet itu buat cowok. Nai kan cewek. Kan nggak baik." Naira melipat tangannya di depan dada. Mempertahankan pendapatnya.


"Nggak ada mbak Weni Sayang. Ayolah masuk."


"Nai malu Daddy... "


"Kamu masih kecil sayang, Tidak apa-apa. Lagipula biasanya kan juga nggak papa."


"Sekarang Nai sudah sekolah. Jadi Nai nggak boleh lagi masuk ke sana." Naira menunjuk pintu toilet yang bergambar laki-laki. Dia kesal. Dia sekarang tahu bedanya antara perempuan dan laki-laki.


"Lalu sekarang gimana?" Elang semakin frustasi. Gadis kecilnya ini akan sulit dibujuk, pendiriannya kuat.


"Daddy antel Nai ke dalam." Elang memijit keningnya frustasi. Naira memaksa mengajaknya masuk ke toilet perempuan. Yang benar saja? Bisa geger di dalam sana. Dia pasti mendapat umpatan mesum dari para wanita. Huh! Harus bagaimana ini? Otak yang cerdas, berpikirlah!


"Daddy panggilkan Onty Melati dulu ya" pamit Elang. Namun segera dicegah oleh tangan kecil Naira yang menariknya.


"Nai, nggak tahan Daddy... gimana kalo ngompol?" wajah Naira frustasi menahan sesuatu yang hendak keluar di bawahnya. Menyebabkan perasaannya tidak enak.


"Biar saya yang membawanya masuk tuan Elang. Kasihan dia jika terlalu lama menahan pipis." Elang hanya mengangguk mengiyakan. Naila masuk dengan gadis itu. Membuat Elang sangat merasa bersyukur. Untung saja gadis itu datang tepat waktu. Jika tidak, pasti akan terjadi hal yang memalukan dan merepotkan.


Tak lama berselang, Naira sudah keluar dengan pakaian yang sudah terlihat kembali rapi setelah tadi sempat ditarik-tarik oleh daddynya.


"Terima kasih, Nona Elisya." kata Elang sopan. Ya, gadis itu adalah Elisya. Gadis yang dari tadi ia dan teman-temannya perhatikan.


"Iya. Dia putri saya." Elisya mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Gadis itu hendak beranjak, namun...


"Onty." Naira menarik lengan gadis itu. Gadis itu berhenti dan menengok ke arah Naira.


"Kita belum kenalan Onty cantik." Kata Naira sambil tersenyum. Naira adalah sosom gadis yang paling tidak suka mengakui ada yang lebih cantik darinya. Tapi, sore ini dia sangat takjub melihat kecantikan wajah sang penolongnya. Gadis itu berjongkok hingga sepadan dengan tinggi Gadis di depannya


"Nama onty, Elisya. Kalau gadis cantik ini namanya siapa?" Elisya membelai lembut pipi cubby Elisya. Gadis kecil yang biasanya menolak sebelum jika ada yang menyentuh wajahnya dengan sembarang orang kini hanya diam dan menerima. Dia merasa nyaman. Merasa tidak asing dengan tangan Elisya.


"Namaku Naila Onty. Onty bisa panggil aku Nai. Gitu."


"Ya. Baiklah Naila. Nama yang sangat cantik untuk gadis yang cantik." Naira cemberut. Dia merasa sedang diolok oleh gadis cantik di depannya. Elang yang menyadari tatapan kesal anaknya harus segera mengambil tindakan.


"Namanya Naira, Nona Elisya." ucap Elang membenarkan nama anaknya.


"Oh maaf sayang. Onty tidak tahu." Elisya mengusap pipi Naira.

__ADS_1


"Kalna Onty cantik banget kayak bidadali, Nai Maafin Onty deh." Elisya mengusap lembut kepala Naira. "Daddy, Nai kayak pelnah lihat wajahnya Onty Elisya deh." tentu saja, Naira pernah melihat foto Aira di rumah Andra. Naira mengetuk dagunya. Berusaha mengingat-ngingat wajah yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Pasti hanya mirip sayang." Elang mencoba menghentikan anaknya berfikir lebih jauh. Wajah Aira di dalam foto jelas sangat berbeda dengan Elisya. Penampilannya sekarang sudah dewasa dan feminim.


"Mungkin Daddy benar. Orang cantik emang kelihatan mirip. Bukankah Onty Elisya sangat cantik Dad?"


"Iya. Dia memang cantik sejak dulu." Kata elang reflek. Dia tidak bisa menguasai dirinya saat berhadapan dengan Aira yang sangat ia cintai hingga saat ini.


"Hah?"


"Iya Nona. Nona sangat cantik."


"Ah ya. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi. Sampai jumpa cantik." Elisya mengusap lembut kepala Naira sebelum dia pergi meninggalkan pasangan anak dan ayah itu.


*


*


*


**Terima kasih sudah mampir 😘


Like, VOTE, Rate dan komentarnya selalu akoh nantikan Ea... ☺**


Give me Like 👍 Please 🤗🤗🤗


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Sembilan🍃...


...🌸Pada malam ke Sembilan, seolah-olah dia beribadah kepada Allah Ta'ala seperti ibadahnya Nabi Muhammad SAW🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...

__ADS_1


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2